
"Astaghfirullahal'adzim ... kak Zahra," ucap Raihan panik disertai kebingungan.
"Kenapa Dek? ada masalah apa lagi?" tanya Zahrana serius disela-sela perjalanan mereka menuju ke rumah mereka yang tinggal beberapa langkah lagi.
"Ini kak ... Raihan lupa membayar uang pelet ayam kak Aslan. Tadi kan, kita fokusnya membahas kejadian yang terjadi antara kak Zahrana dan kak Aslan, habis kak Aslan serahkan pelet ayamnya ke Raihan. Raihan lupa memberikan uang belanjanya ke Kak Aslan," ujar Raihan sembari menepuk jidatnya pelan.
"Oh, iya Dek. Uangnya juga masih tersimpan disaku rok mini kakak. Gimana ni Raihan atau kakak yang antar balik uangnya?" tutur Zahrana dengan gaya melownya.
"Nanti saja deh,kak. Bentar lagi sudah sholat Ashar, lebih baik kita bersiap-siap sholat dulu. Raihan mau ke Mesjid dulu. Yang penting pelet ayamnya sudah ada, hampir satu jam loe kita nimbrung di Toko kak Aslan. Kakak sich pakai acara begituan, sudah lah berdosa berduaan. Ayah sampai menunggu kelamaan," ucap Raihan dengan wajah masamnya.
"Mana kakak tahu dek, kejadiannya juga refleks begitu saja. Siapa yang bisa menolak jika takdir telah tertulis dalam cerita hidup manusia? kakak juga tidak bisa menghindari segala sesuatu yang sudah terjadi dalam hidup kakak, lagian wanita mana yang tak tergoda jika disanjung oleh pemuda tampan sekelas kak Aslan," tutur Zahrana dengan suara setengah berbisik, sebab Bunda Fatimah sudah berdiri tegak di pintu ruang tamu menyambut kepulangan Raihan dan Zahrana.
"Zahrana, Raihan ... kalian kemana saja? Kenapa lama sekali ke Tokonya? kasian Ayah menunggu lama dari tadi. Ayam-ayam sudah pada riuh di kandang belakang, menunggu santapan sorenya," tutur Bunda Fatimah dengan wajah yang memerah, menahan rasa kalut dihatinya. Menunggu kedua anaknya, yang dari tadi belum tampak batang hidungnya.
Zahrana dan Raihan terdiam saling berpandangan, tidak berani mengemukakan pendapatnya pada Bunda Fatimah.
"Bun-bunda ... ma-afkan Zahra Bun," ucap Zahrana gelagapan.
"Tadi Zahra tidak sengaja bertemu Nandini, kita ke asyikan ngobrol, sehingga lupa waktu," jawab Zahrana sambil tertunduk lesu.
"Iya Bun, Raihan juga minta maaf, tadi Raihan pun ikut Nimbrung, soalnya cerita nya seru," ujar Raihan dengan gaya santainya, menyelamatkan kakaknya dari omelan bundanya.
__ADS_1
Bunda Fatimah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan kedua anaknya yang nampak sangat kompak sekali saling melindungi satu sama lain.
"Nak,lain kali jangan kalian ulangi lagi yang seperti ini, amanah itu harus di jaga dan secepatnya di tunaikan, apalagi dalam keadaan darurat,. Bagaimana kalau Ayam-ayam peliharaan Ayah mati kelaparan akibat telat memberikan makan? tentunya Ayah akan merasakan kehilangan dan sangat sedih sekali." Nasehat Bunda Fatimah dengan sedikit rasa kecewa.
Bunda Fatimah pun, menurunkan nada tingginya, melihat Puterinya yang nampak sedih dan tertunduk lesu, lantaran rasa bersalahnya.
"Baiklah,Nak. Bunda minta maaf, karena telah membuat Zahra sedih, Bunda hanya ingin Zahra menjadi anak yang berbakti dan bertanggung jawab, ketika Ayah dan Bunda menitahkan Zahrana atau pun Raihan untuk mengemban tugas, sebaiknya lakukan dengan semestinya. Jangan lagi melakukan hal yang lain dulu, jangan keluyuran kemana-mana. Seperti tadi contohnya, Bunda dan Ayah sangat khawatir sudah hampir satu jam kalian tak menampakkan diri," ujar Bunda Fatimah sembari memeluk dan mengecup pucuk kepala Puterinya.
"Tu kak,dengar nasehat Bunda! udah gede juga manjanya nggak ketolongan. Lihat Raihan anak mandiri,tegar dan kuat,tak mudah di tindas,tak mudah tergoda." Kalimat terakhir adalah sindiran untuk Zahrana karena terlalu mudah terbuai oleh makhluk yang bernama laki-laki, seperti kejadian dengan pemuda bernama Aslan Abdurrahman Syatir.
Zahrana melirik ke arah Raihan, ia masih bersembunyi di balik pelukan Bunda Fatimah.
"Raihan, Zahra ... sebentar lagi Azan sholat Ashar sebaiknya kalian bergantian membersihkan diri, segera lah untuk menunaikan kewajiban sholat Ashar!"
"Siaappp ... Bunda! Raihan yang mandi duluan, sebab mau berjama'ah di Mesjid."
"Iya deh,adek kakak yang baik, terimakasih untuk semuanya" ujar Zahrana melirik ke arah Raihan, masih mengisyaratkan kisah yang terjadi di Toko, khawatir ketauan Bundanya, kalau-kalau Raihan keceplosan.
Raihan hanya membalas dengan senyuman getir, Bunda Fatimah sendiri tidak mau ambil pusing, kemudian berjalan menuju dapur meletakkan pelet ayam pada nakasnya.
Buya Harun sudah kembali dari kandang belakang, sudah selesai memberikan Ayam-ayamnya makan dengan sisa pelet yang ada, Alhamdulillah tercukupi walaupun harus berbagi, lantaran menunggu Raihan dan Zahrana yang tak kunjung muncul dari Toko, membuat Buya Harun putar haluan memberikan makan Ayam-ayamnya dengan porsi lebih sedikit dari biasanya.
__ADS_1
"Ayah, maafkan Zahra karena membiarkan Ayah menunggu lama, maafkan jika sekali ini Zahra tidak amanah," ucap Zahrana dengan wajah sendunya kemudian menghamburkan diri memeluk Ayahnya dengan gurat wajah sedihnya.
"Tidak apa-apa nak,Ayah maklumi. Zahra pasti sedang asyik berkelakar dengan Nandini Puteri Bungsu Pak Anjasmara kan? teman baik Zahra di Sekolah," ujar Buya Harun menatap penuh kasih pada Puteri kesayangannya.
"Maafkan Zahrana Ayah Bunda, karena berbohong pada Ayah dan Bunda," bathin Zahrana dalam hati. Ingin menangis, namun ia tahan. Khawatir akan membuat Ayahnya bertanya-tanya.
"Ya Allah kak, sudah gede juga. Tadi sama Bunda, sekarang sama Ayah. Dasar gadis manja! Kapan tuh bisa bertumbuh jadi dewasa? jika masih berada di bawah kungkungan Ayah Bunda," sindir Raihan sekenanya masih terus mengungkit masalah di Toko, dengan tujuan agar kakaknya bisa merenungi kesalahannya.
"Raihan, jangan begitu pada kakak mu, ucap kanlah hal-hal yang baik-baik, ya Nak!"
" Wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, untuk meluruskannya nasehati lah atau ucapkan dengan kata-kata yang lemah lembut agar hatinya bisa menerima segala bentuk nasehat, Karena dengan kelemah lembutan itu dapat melunakkan hati yang keras," tutur Ayah penuh kasih.
"Iya Ayah maafkan Raihan," patuh Raihan.
"Ayah mau membersihkan diri dulu, nanti Raihan ikut bersama Ayah ke Mesjid. Zahrana sholat Ashar di rumah bersama Bunda ya, Nak?" tutur Ayah lembut sambil mengelus lembut pucuk kepala Puterinya.
Zahrana memang lebih manja.Ia dididik dengan lembut dan kasih oleh Ayahnya. Bak Ratu di sanjung dan di turuti oleh Ayahnya segala inginnya, sebab Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, sebelum nantinya mereka di persunting dan jatuh hati pada lelaki lain. Sudah sewajarnya Buya Harun memperlakukan Puterinya bak seorang Ratu, agar merasa terus dikasihi dan di sayangi.
Berbeda dengan Raihan. Ia di didik laksana tawanan perang, di pacu dan terus di cambuk agar bertumbuh menjadi sosok pemimpin yang bertanggung jawab, agar bisa mengayomi di masa depannya nanti.
Begitu lah cara Buya Harun dan Bunda Fatimah dalam mendidik putra-putrinya, agar bertumbuh menjadi anak-anak yang berbakti. Sholih dan Sholihah sesuai dengan karakternya, terlepas dari itu semua semoga Allah kabulkan segala bisikan hati dan do'a agar Zahrana dan Raihan benar-benar bertumbuh menjadi anak-anak yang baik, seperti Ayah dan Bundanya harapkan," Aamiin ya Mujibassailin ... "
__ADS_1