
"Kak Zaid, maafkan aku karena belum bisa membalas niat baik dan ketulusan mu!" bathin Zahrana dengan perasaan yang berkecamuk. Sebab, dihati dan pikirannya hanya tertuju pada sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy. Meskipun ia tahu wujudnya pun tak nyata dihadapannya kini. Mengsedih ....😢😢
Zahrana nampak terpaku, bubur ayam yang semula ia nikmati, kini hanya diaduk-aduk olehnya. Perasaannya, tiba-tiba tak karuan. Pasalnya, ia merasa tidak nyaman dengan sosok Muhammad Zaid Arkana. Ini untuk yang kesekian kalinya ia menolak niat baik dari pemuda tersebut.
"Ra, kok melamun? kenapa bubur ayamnya hanya di aduk-aduk seperti itu? sini biar kakak suapin?" ucap Zaid dengan menyodorkan sendok yang berisi bubur ayam tersebut ke mulut Zahrana.
"Ja-jangan, Kak!" Zahrana mencoba menolak, namun suapan bubur ayam tersebut telah masuk kedalam mulutnya.
"Kau tidak boleh menolak, ini demi kesehatan mu. Makan yang banyak, biar cepat sembuh dan cepat pulang dari rumah sakit ini. Biar cepat beraktifitas kembali," ucap Zaid dengan terus menyuapi Zahrana.
"Ta-tapi, Kak. Zahra bisa sendiri," ucap Zahrana dengan terus menolak.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, aku peduli pada mu. Jika untuk saat ini dirimu belum bisa menerima ku menjadi sosok yang istimewa di hatimu, setidaknya jangan menolak ku untuk memperhatikan mu!" ucap Zaid dengan terus menyuapi Zahrana.
Zahrana pun terpaksa menuruti permintaan Zaid, ia ingin segera dinyatakan sembuh dan segera perbolehkan pulang oleh dokter.
Zahrana berusaha menetralkan irama jantungnya, oleh sebab perlakuan manis Zaid terhadapnya.
"Ya Allah ... kenapa aku selalu tidak bisa menolak perhatiannya terhadap ku?" bathin Zahrana dengan tertunduk malu.
Pada suapan berikutnya, Pramuja yang baru saja kembali dari Mesjid dan langsung menuju warung kopi didekat rumah sakit pun telah kembali ke ruang rawat inap Zahrana.
"Nyam ... lezatnyaaa!" ucap Pramuja dengan sigapnya menerima suapan bubur ayam dari Zaid, membuat Zaid merasa spot jantungnya.
"Astaghfirullah ... kau! bubur ayam ini spesial aku berikan untuk Zahrana, kenapa malah kau yang menerima suapan dari ku?" ucap Zaid dengan menatap tajam ke arah Pramuja.
"Ma-af, harusnya bubur ayam ini aku yang menyuapi untuk Zahrana, aku abang sepupunya. Jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan, khawatir nanti melampaui batas. Bukankah kau semalam itu--"
Pramuja pun menjeda kalimatnya, sebab Zaid tiba-tiba membekap mulutnya. Zaid khawatir jika Pramuja keceplosan jika semalam dirinya telah mencuri kecupan dijemari dan kening Zahrana.
Pramuja terkekeh geli melihat ekspresi wajah Zaid yang nampak panik.
"Ha ... ha ... kenapa kau kelihatan panik Mas Bro? seperti ketahuan sedang mencuri sesuatu saja!" seloroh Pramuja dengan gaya santainya.
Zahrana yang sama sekali tidak mengerti akan apa yang dibicarakan oleh kedua pemuda yang ada dihadapannya itu pun terlihat bingung dengan tingkah konyol mereka.
"Astaghfirullah ... kalian kenapa? dari kemarin-kemarin ribut melulu?" ucap Zahrana dengan mengerutkan keningnya.
"Zahra sudah kenyang, silahkan kalian lanjutkan makan bubur ayamnya!" ucap Zahrana dengan menyodorkan bubur ayam yang masih tersisa di mangkuknya.
Pramuja dan Zaid pun saling lirik pandang, mereka pun saling menyalahkan satu sama lain.
"Ini gara-gara dirimu Muhammad Zaid Arkana!" ucap Pramuja tak ingin kalah.
"Enak saja, ini salah mu yang datang-datang nyelonong menerima suapan bubur ayam dariku untuk Zahrana." Zaid pun membela dirinya.
__ADS_1
Di tengah keributan yang mereka ciptakan perawat pun datang untuk memeriksa keadaan Zahrana.
Pramuja pun dengan sigap mengambil mangkuk bubur ayam yang ada di brankar Zahrana.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi Nona Zahra? apa kabar? bagaimana keadaannya?" tanya salah seorang suster yang hendak mengecek keadaan Zahrana.
"Alhamdulillah ... sudah lebih baik, Sus!" ucap Zahrana dengan binar wajah bahagia.
Salah satu perawat mengecek suhu Zahrana, sedang yang satunya lagi mengecek tensi Zahrana. Perawat yang satu lagi menggantikan botol cairan infus Zahrana.
"Alhamdulillah ... sungguh suatu keajaiban, kondisi Nona Zahra semakin membaik," ucap salah satu suster mewakili teman-temannya.
"Syukurlah jika begitu Sus, apakah hari ini saya sudah diperbolehkan pulang?" tanya Zahrana dengan ekspresi wajah penuh bahagia.
"Insya Allah ... nanti kita menunggu keputusan dari dokter ya? sudah diperbolehkan apa belum?" ucap salah satu suster.
"Baiklah, Sus. Terima kasih!" ucap Zahrana dengan menampakkan senyuman manisnya.
Para perawat tersebut pun keluar dari ruangan rawat inap Zahrana, menuju ruang pasien lainnya.
Selang berapa menit kemudian, petugas yang mengantarkan sarapan pagi untuk para pasien pun datang mengantarkan sarapan untuk Zahrana dan menaruh tampah yang berisi bubur nasi beserta lauk-pauknya di meja khusus pasien yang ada di dekat brankar Zahrana.
Setelah saling berbasa-basi petugas pelayanan itu pun pergi keruangan pasien lainnya.
"Alhamdulillah ... menikmati bubur ayam dan sendok bekas makanan mu, nampak manis sekali, Ra!" bathin Pramuja dengan menghabiskan bubur ayam tersebut sampai sendokan terakhir.
Zahrana melirik aktivitas kedua pemuda tersebut, "Maa syaa Allah ... ini baru kompak," ucap Zahrana dengan senyum bahagia.
Kedua pemuda tersebut pun menoleh ke arah Zahrana dengan nyengir kuda. Keduanya pun kembali berdamai demi menyenangkan hati Zahrana.
"Nah, beginikan enak lihatnya, nggak berantem-berantem lagi!" pungkas Zahrana.
Pramuja pun menghampiri Zahrana, ia ingin menyuapi sepupunya tersebut sarapan pagi.
"My sepupu my bidadari, di makan dulu sarapan paginya. Khawatir nanti keburu dingin," ucap Pramuja.
"Oh, Ya. Terimakasih Kak."
"Sama-sama cantik!" ucap Pramuja dengan memandangi wajah ayu milik Zahrana.
Zahrana nampak terus menikmati suapan demi suapan dari Pramuja, sang kakak sepupu. Sesekali, keduanya pun saling bercanda-ria.
Sementara, Zaid nampak termangu melihat kebersamaan kedua sepupu tersebut.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, andai dirimu bisa kumiliki seutuhnya, betapa aku merasakan menjadi lelaki yang paling bahagia," bathin Zaid dengan terus memandangi wajah Zahrana dari tempat duduknya, yang berjarak 1.5 meter darinya.
__ADS_1
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, Zahrana nampak bersandar dibrankarnya dengan membaca buku-buku realigi yang selalu ia bawa di tasnya kemana pun ia pergi.
Sedangkan, Zaid dan Pramuja tampak asyik bercerita, kedua sahabat sejati itu pun saling kompak kembali. Ada saatnya, keduanya saling bercanda, berdebat dan saling bercengkrama satu sama lain.
Di tengah asyiknya mereka dengan kesibukan masing-masing, pintu ruangan rawat inap Zahrana pun ada yang membuka.
Ceklek
"Assalamu'alaikum ... princess Zahra, kami sangat merindukan mu!" pekik teman-teman Zahrana yang terdiri dari Cinta Kiara Khoirani, Kirana Larasati, Nandini Sukma Dewi dan Fadhillah.
Zahrana nampak takjub dengan kedatangan teman-temannya yang begitu tiba-tiba.
"Maa syaa Allah ... kalian!" ucap Zahrana dengan penuh suka cita.Teman-temannya pun menghamburkan diri memeluk Zahrana.
Zahrana pun menyambut teman-temannya dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku pun merindukan kalian semua my best friends!" ucap Zahrana dengan air mata yang mengalir di pipinya. Begitu pun teman-temannya pun ikut menangis, antara rasa haru dan bahagia.
Kelima sahabat sejati itu pun masa terus berpelukan erat, temu kangen antara Zahrana and friends membuat siapapun yang menyaksikannya ikut terharu dibuatnya. Tak terkecuali, Zaid dan Pramuja juga sosok pemuda yang ikut mengantarkan dan menemani Nandini dan teman-temannya pun ikut terkesima menyaksikan interaksi Zahrana dan teman-temannya.
"Ehemmm ... yang sedang temu kangen, kami disini dikacangin!" ucap pemuda tersebut memecahkan keheningan.
Zahrana yang tidak asing dengan suara pemuda tersebut pun melerai pelukannya.
"Kak Aslan Abdurrahman Syatir!" ucap Zahrana pelan, ia pun mengedarkan pandangannya pada sumber suara tersebut.
🌷🌷🌷
Untaian mutiara hikmah 👉 "Allah selalu memberikan senyum di balik kesedihan. Allah juga selalu memberikan harapan di balik keputus-asaan. Biarlah aku di sini menantimu dengan penuh harapan. Sebab jarak akan selalu ada prasangka. Namun ketika doa telah terucap, maka ia akan sigap mengubahnya. Sungguh indah ketika kita saling mencintai karena Allah. Bahkan, rindu yang kurasakan saat ini pun karena anugerah yang Allah berikan kepada kita."
🌸
🌸
🌸
Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya my BESTie kak, tentunya dengan cerita yang tak kalah menarik dan serunya lho?😊😘
Judul karyanya : Tirai Kehidupan Sang Ceo
Authornya : EL
__ADS_1