
Buya Harun pun ikut mendongakkan wajahnya, melihat siapa gerangan yang datang bersama Zahrana putrinya.
"Bun, sepertinya Buya tidak asing lagi dengan sosok pemuda yang sedang bersama putri kita tersebut!" terang Buya Harun dengan coba mengingat-ingat kembali wajah pemuda yang pernah menjadi santrinya dahulu.
"Yang benar saja, Yah. Maa syaa Allah ... entu pemuda cakep pisan, Yah. Seperti pangeran Arab," pungkas Bunda Fatimah dengan rasa takjub melihat sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy dengan jubah putih dan sorban yang melingkar di atas kepalanya.
Bunda Fatimah seolah membayangkan sosok pemuda yang di lihat olehnya tersebut seperti layaknya pangeran Arab berkebangsaan timur tengah.ππ
Bunda Fatimah hampir-hampir tidak mengenali sosok Yusuf, setelah 4 tahun terakhir ini tidak pernah lagi melihat pemuda tersebut. Semenjak kepergiannya ke negara Piramida guna menuntut ilmu di universitas Al Azhar kala itu.
Sedangkan Buya Harun seolah memiliki firasat, jika pemuda itu memang Yusuf. Namun, ia pun berpikir sejenak. "Tidak mungkin itu nak Yusuf, bukankah ia sedang menuntut ilmu di universitas Al Azhar Mesir? Mungkin ini hanya perasaan ku saja, yang terlalu mengingatnya," bathin Buya Harun dengan terus bertanya-tanya didalam hatinya.
Di tengah ketermenungan Buya Harun dan Bunda Fatimah, mereka tidak menyadari jika Zahrana dan Yusuf pun telah berdiri tepat di depan pintu teras rumah dengan tak lupa mengucapkan salam pada pemilik rumah.
"Assalamu'alaikum ... " ucap Zahrana dan Yusuf hampir bersamaan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " ucap Buya Harun dan Bunda Fatimah bersamaan. Keduanya, nampak tertegun dan terpana melihat kehadiran seorang pemuda tampan nan religius yang kini sedang bersama dengan putrinya tersebut.
"Maa syaa Allah ... benar-benar seperti pangeran Arab!" ucap Bunda Fatimah dengan setengah histeris, ketika melihat sosok Yusuf dari jarak dekat.
Sementara, Yusuf nampak tersenyum mendengarkan Bunda Fatimah yang begitu histeris melihat kehadirannya di sisi Zahrana.
"Buya, Bunda, Zahra kangen." Zahrana mencium punggung tangan kedua orangtuanya dan bergantian memeluk erat keduanya.
Bunda Fatimah dan Buya Harun masih tertegun dengan kehadiran Yusuf, "Siapa gerangan pemuda tampan nan religius ini?" ucap Bunda Fatimah di dera rasa penasaran.
"Ayah dan Bunda pasti akan merasa senang dan takjub dengan kehadiran pemuda yang sedang bersama Zahra saat ini?" pungkas Zahrana dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
Buya Harun dan Bunda Fatimah pun tertegun sejenak, melihat sosok pemuda yang kini sedang berdiri di hadapannya.
Yusuf tersenyum ia pun segera menyapa kedua orang tua Zahrana.
"Buya, apa kabar?" ucap Yusuf dengan memeluk erat seorang yang pernah menjadi gurunya tersebut.
Buya Harun dapat menyimpulkan dari gaya bahasa dan perawakan pemuda tersebut, ia sangat meyakini jika pemuda tampan itu adalah Yusuf, santri yang sangat dirindukan olehnya setelah 4 tahun tak melihatnya.
"Benarkah, jika dirimu adalah Nak Yusuf?" tebak Buya Harun dengan mata yang mulai berkaca-kaca, antara rasa haru dan bahagia pun bertaut menjadi satu melihat kehadiran santrinya tersebut.
"Benar, Buya. Saya Yusuf Amri Nufail Syairazy, santri Buya." Yusuf pun merangkul erat sosok guru yang sangat dihormatinya tersebut.
"Maa syaa Allah ... kau sudah dewasa Nak, kau terlihat sangat tampan dan religius sekali, Nak. Buya bangga pada mu," ucap Buya Harun dengan merangkul dan menepuk-nepuk pundak Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Buya Harun benar-benar merasa haru dan bahagia dengan kehadiran Yusuf di kediamannya. Air matanya pun perlahan menetes sebab rasa harunya yang mengharu biru. Buya Harun benar-benar tidak menyangka bisa bersua kembali dengan santri kesayangannya itu.
"Maa syaa Allah ... jadi, pemuda yang berperawakan seperti pangeran Arab ini adalah nak Yusuf?" pekik Bunda Fatimah dengan rasa tak percaya.
"Maa syaa Allah ... silahkan masuk, Nak Yusuf!" ucap Bunda Fatimah dengan penuh rasa bahagia menyambut kedatangan Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"Terima kasih, Bunda." Yusuf pun segera masuk ke dalam rumah dengan membawa ransel yang berisi barang-barang Zahrana. Juga tas punggungnya yang berisi segala perlengkapan dan buku-buku penting terkait ilmu syar'i yang selalu di bawa olehnya kemana-mana.
"Maa syaa Allah, banyak betul bawaannya, Nak. Biar Buya bantu," ucap Buya Harun ingin segera membantu barang-barang bawaan Yusuf.
"Tidak apa-apa, Buya. Biar Yusuf saja!" Yusuf tidak mengizinkan jika sosok Buya Harun yang sangat dihormatinya membantu mengangkat barang-barang bawaannya.
Zahrana nampak terkesima dengan tata krama dan sopan santun Yusuf terhadap ayahnya.
"Maa syaa Allah, betapa bersyukurnya wanita yang bisa menjadi makmum mu, Kak. Semoga saja kita segera berjodoh dan tidak ada satu rintangan pun yang menghalanginya." Zahrana bermonolog di dalam hatinya, seakan tidak sabar lagi untuk menghalalkan hubungannya dengan sosok pemuda Sholih tersebut.
__ADS_1
Yusuf kembali ke mobilnya, untuk mengambil beberapa macam Snack yang dibawakan olehnya sebelum pulang dari Mesir. Ada berbagai macam jenis kurma yang dibawakan oleh Yusuf, diantaranya kurma Ajwa yang terkenal dengan kurma Nabi, juga kurma Sukkari yang memiliki rasa manis dan lembut yang menjadi buah favorit Zahrana, dan berapa jenis kurma lainnya.
"Maa syaa Allah, banyak betul oleh-olehnya, Kak. Tiga bulan tidak habis jika hanya untuk Zahra jadikan cemilan," ucap Zahrana dengan mata berbinar. Ia tidak mengira akan mendapatkan suprise dari sosok pemuda yang sangat dikagumi olehnya itu.
"Tidak apa-apa, Ra. Mengkonsumsi buah kurma setiap hari sangat baik untuk menjaga kesehatan dan stamina tubuh kita. Buah kurma memiliki gizi dan zat besi yang cukup tinggi untuk nutrisi tubuh kita. Dengan mengkonsumsi buah kurma pencernaan kita pun lebih terjaga. Buah kurma juga bagus untuk kesehatan kulit juga indera penglihatan kita, dan masih banyak manfaat lainnya." Yusuf terus memberikan pencerahan pada sang calon bidadarinya tersebut.
Zahrana duduk di sofa, sambil menopang dagunya, mendengar pencerahan dari sosok pemuda yang begitu sangat tampan dan mempesona di hadapannya itu.
Zahrana tiada henti memandangi wajah tampan milik Yusuf Amri Nufail Syairazy. Rasa lelah, lapar dan dahaga yang sedang menderanya pun tak dirasa ketika melihat pesona sang belahan jiwanya tersebut.
"Ya Allah ... benar kata Bunda Fatimah, ketampanan kak Yusuf benar-benar seperti pangeran Arab. Aku benar-benar baru menyadarinya. Sebab, biasanya aku tidak pernah melihatnya sedekat ini, kecuali hanya sekilas." Zahrana terus memperhatikan Yusuf yang sedang fokus membongkar beberapa oleh-oleh yang di bawanya, ia merasa berada di alam mimpi, bisa merajut kebersamaan dengan sosok pemuda yang tampan nan Sholih yang kini benar-benar terpampang nyata dihadapannya.
"Ehemmm ... belum halal juga, pandangan mesti di jaga, Neng!" ucap Raihan yang baru keluar dari dalam kamarnya. Ia dari sejak tadi memperhatikan interaksi kakaknya dengan Yusuf Amri Nufail Syairazy. Melihat gelagat kakaknya yang tidak biasa, Raihan sengaja menjahilinya. Sehingga membuat Zahrana menjadi salah tingkah.
Zahrana dan Yusuf pun menoleh ke sumber suara, wajah Zahrana nampak bersemu merah ketika ketahuan sedang memandangi Yusuf. Namun, ia berusaha mengatur nafasnya, agar tidak kentara jika ia sedang menahan malu yang teramat sangat. Sebab, Raihan tiba-tiba datang dan menegurnya tanpa filter.
"Maa syaa Allah ... benarkah ini Raihan Arman Habibie?" ucap Yusuf dengan penuh rasa senang ketika melihat Raihan kini telah bertumbuh menjadi anak remaja yang Sholih dan juga terlihat sangat religius.
Raihan mengangguk, ia pun menyalami dan merangkul sosok Yusuf yang kini terlihat tampan dan gagah. Sangat berbeda jauh dari 4 tahun yang silam yang pernah ia temui.
"Maa syaa Allah ... kak Yusuf sekarang terlihat sangat religius sekali," ucap Raihan dengan tatapan penuh takjub terhadap sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Yusuf tersenyum, ia pun mengusap pucuk kepala Raihan layaknya adik sendiri.
"Alhamdulillah, semua atas izin Allah, sehingga kakak bisa terus berproses seperti sekarang ini. Semoga Raihan juga bisa berproses lebih baik lagi dari pada kakak," ucap Yusuf dengan merendah diri.
"Insya Allah, Kak. Raihan ingin religius seperti kak Yusuf," ucap Raihan dengan penuh antusias.
πππ
__ADS_1
Untaian mutiara hikmah πβ Hati yang bersih akan peka terhadap ilmu, apapun yang dilihat, didengar, dirasakan jadi samudera ilmu yang membuatnya kian bijak, arif dan tepat dalam menyikapi hidup iniβΒ