
"Ehemmm ... yang sedang temu kangen, kami disini dikacangin!" ucap pemuda tersebut memecahkan keheningan.
Zahrana yang tidak asing dengan suara pemuda tersebut pun melerai pelukannya.
"Kak Aslan Abdurrahman Syatir!" ucap Zahrana pelan, ia pun mengedarkan pandangannya pada sumber suara tersebut.
"Zahra, bagaimana kabar mu sekarang? apakah kau sudah lebih baik?" tanya Aslan. Terlihat jelas gurat kerinduan dimatanya terhadap sosok bidadari yang dulu pernah menjadi bagian dari masa lalunya itu.
"Alhamdulillah ... Zahra sudah lebih baik, Kak. Semoga hari ini sudah diperbolehkan pulang." Zahrana pun mencoba untuk bersikap apa adanya. Ia sudah menganggap Aslan teman biasa, sama seperti teman-teman yang lainnya.
"Ini buah tangan untuk mu!" ucap Aslan dengan menyerahkan dan menaruh parcel buah di laci meja disamping brankar Zahrana.
"Terimakasih, Kak!" ucap Zahrana dengan tetap bersikap tenang ketika berhadapan dengan Aslan Abdurrahman Syatir.
Sementara, Pramuja dan Zaid pun segera menyapa Aslan dan mengajaknya duduk bergabung dengan mereka.
"Apa kabar? kita bertemu lagi disini? bukankah kau yang malam itu kepergok berduaan dengan adik sepupu ku ketika kami sedang ronda dikawasan XX?" tanya Pramuja sambil menjulurkan tangannya pada Aslan.
"Iya, benar sekali! Aku Aslan Abdurrahman Syatir, kakaknya Nandini Sukma Dewi. Malam itu kami baru pulang dari menjenguk adik ku di Rumah Sakit Medika."
"Kami kemari hendak menjenguk Zahrana, juga mengantarkan undangan pernikahan adik ku Nandini yang akan dilaksanakan Minggu depan, kalian jangan lupa datang ya?" ucap Aslan mewakili Nandini adiknya.
"Baiklah, insyaAllah ... aku akan datang bersama adik sepupu ku Tsamirah Zahrana!" ucap Pramuja dengan menegaskan kata sepupu di hadapan Aslan.
"Jadi, kalian saudara sepupu?" tanya Aslan dengan ekspresi wajah datarnya.
"Iya, benar sekali! siapa pun yang hendak mendekati adik sepupu ku, harus berhadapan dengan ku dulu!" ucap Pramuja lantang.
Aslan menanggapinya santai, sebab dirinya pun sudah tidak ada lagi hubungan dengan Zahrana, meskipun rasa dihatinya masih tetap utuh untuk Zahrana. Namun, apalah daya tidak ada lagi sisa rasa dihati Zahrana untuk dirinya.
"Hemm ... apa kabar mu Akh Zaid?" tanya Aslan dengan merangkul bahu Zaid.
Aslan sengaja mengalihkan mode bicaranya dengan Pramuja, dan beralih menyapa Zaid.
"Alhamdulillah ... aku baik," ucap Zaid dengan balas merangkul Aslan.
"Kalian nampak akrab sekali? memangnya kalian sudah sering bertemu?" tanya Pramuja, ketika melihat kedekatan Aslan dan Zaid.
"Iya, benar sekali. Waktu itu aku menemani Zahrana pulang ke desanya, kami sempat singgah di rumah Aslan Abdurrahman Syatir," ucap Zaid jujur.
__ADS_1
"Hemmm ... jadi, kamu sempat pulang berduaan dengan sepupu ku ke desa XX?" tanya Pramuja dengan bersedekap dada menunggu jawaban dari Muhammad Zaid Arkana.
"Mas Pramuja Wisnu Baskara, sudah interogasinya. Aku dan kak Zaid pulang malam-malam ketika itu karena ada keperluan mendesak. Jadi, tidak ada yang perlu dicurigai!" tegas Zahrana, membuat Pramuja bungkam jika Zahrana sudah bertindak.
"OMG, jadi ... Mas cerewet dan bawel itu saudara sepupu mu, Ra?" seloroh Fadhillah tiba-tiba, ia dari sejak tadi terus menjadi pendengar setia celotehan Pramuja yang tidak jelas akar masalahnya.
"Iya, benar sekali Dhill. Jangan heran, Mas Pra memang begitu sikapnya." Zahrana terkekeh geli mendengar ucapan Fadhilah yang tanpa filter.
"Akhirnya, ada juga saingan mu, Mas Pra. Berhadapan dengan Fadhillah, Zahra yakin Mas bakal mati kutu!!" bathin Zahrana.
Pramuja yang mendengar namanya disebut-sebut oleh Fadhillah dengan sebutan cerewet dan bawel, membuatnya jadi baperan.
Ingin rasanya Pramuja membalas celotehan Fadhillah. Namun, Zahrana mendelik tajam ke arahnya. "Mas Pramuja Wisnu Baskara, lebih baik Mas Pra, Kak Zaid juga kak Aslan ngobrol di luar dulu ya? biar Zahra dan teman-teman nostalgia di sini!" titah Zahrana. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama teman-temannya yang sudah lama sekali mereka tidak kumpul bersama.
Pramuja, Zaid dan Aslan pun meng-iyakan permintaan Zahrana. Mereka pun segera keluar dari ruangan rawat inap Zahrana. Tinggal lah, Cinta, Kirana, Fadhillah dan Nandini di ruangan tersebut, mereka semua saling berbagi cerita dengan Zahrana setelah lama tidak bersua.
"Ra, kamu sakit apa sih sebenarnya sampai rawat inap seperti ini?" tanya Nandini, di ikuti pula teman-temannya yang lainnya. Mereka menunggu jawaban dari Zahrana.
Zahrana menundukkan kepalanya, ia pun menceritakan penyebab sakitnya kepada teman-temannya.
"Ya Allah ... jadi, selama ini dirimu merindukan kehadiran kak Yusuf, santrinya Buya Harun yang tampan nan Sholih itu, Ra. Sungguh, aku baru tahu itu semua Ra. Maafkan aku pas di telfon tadi sampai bicara yang tidak-tidak, jika kak Yusuf baik sekali berjodoh dengan Hafidzah, aku sama sekali tidak tahu jika dirimu dan kak Yusuf telah mengikat janji untuk saling menunggu!" ucap Nandini merasa bersalah.
Zahrana hampir menyerah dengan penantiannya terhadap Yusuf Amri Nufail Syairazy selama 4 tahun terakhir ini. Menanti cinta yang tak jelas apakah sosok seorang yang dinantikannya akan menjadi jodohnya atau bukan.
"Jangan menyerah, Ra! sebenarnya aku pun sama seperti mu, aku sedang menunggu kedatangan kak Rivandra Dinata Admaja, tahun ini dia sudah semester dua mengenyam pendidikan di Universitas Agama Islam Negeri di Jakarta, sampai detik ini pun, ia belum kembali!" ucap Kirana Larasati yang ikut curhat mengenai perasaannya terhadap sosok Rivandra.
"Ya Allah ... jadi selama ini dirimu memendam perasaan yang teramat sangat dengan kak Rivandra?" tanya Zahrana dengan rasa tak percaya atas kejujuran hati Kirana Larasati.
Kirana mengangguk pelan.
"Sejak kapan kau mulai menaruh rasa pada kak Rivandra, Kir?" tanya cinta dan Nandini yang ikut penasaran dengan kejujuran hati Kirana barusan.
Kirana diam sejenak, ia tidak tahu harus berkisah darimana, sebab ia khawatir menyinggung perasaan Zahrana dan mengejutkan teman-teman yang lainnya jika ia jujur tentang perasaannya dari zaman putih-biru dahulu, ketika Zahrana masih menjadi teman istimewa untuk Rivandra Dinata Admaja tempo dulu.
"Jujur saja, Kir. Agar teman-teman kita semua tahu, tidak ada lagi hal-hal yang harus ditutupi, termasuk Zahrana. Zahra kan sudah tidak ada hubungan lagi dengan kak Rivandra," seloroh Fadhillah yang ikut nimbrung dalam percakapan.
Selama ini, hanya Fadhillah yang tahu tentang rasa Kirana Larasati terhadap Rivandra Dinata Admaja. Sebab, Fadhillah sampai detik ini masih berpacaran dengan sosok Virgantara Dinata Admaja, kakaknya Rivandra. Jadi, Kirana Larasati sering mencari informasi tentang Rivandra dari Fadhillah jadi wajarlah Fadhillah mengetahui semuanya.
"Ma-af Ra, jadi aku mulai jatuh hati pada kak Rivandra sejak dirimu masih menjalin hubungan bersamanya kala itu," ucap Kirana Larasati dengan meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Jadi kau--?"
Zahrana langsung merangkul Kirana Larasati, "Maafkan aku Kir, atas segala ego ku yang mungkin menyakiti mu ketika itu. Maafkan aku yang tidak peka atas segala rasamu, jika aku tahu ketika itu kau mencintai kak Rivandra, tak mungkin aku memilih bersamanya." Zahrana pun terisak-isak dalam tangisnya.
"Maafkan atas kesalahan dan dosa ku, Kir. Sebab telah berbahagia diatas penderitaan mu," ucap Zahrana dengan merengkuh erat tubuh sahabatnya itu.
"Sudah, Ra! tidak ada yang perlu disesali, semua sudah menjadi kehendak Allah Subhanahu wata'ala, lupakan semua masa lalu. Mari kita buka lembaran baru," ucap Kirana dengan mengusap bahu Zahrana.
Zahrana mengusap air matanya, dengan mata berbinar, ia pun sepakat dengan teman-temannya. "Berarti deal yah, kita saling menunggu seseorang yang sangat kita rindukan. Semoga dirimu berjodoh dengan kak Rivandra, Kir."
"Aamiin ... semoga dirimu pun berjodoh dengan kak Yusuf," pungkas Kirana dengan tersenyum bahagia.
"InsyaAllah ... Aamiin." Zahrana pun ikut tersenyum bahagia.
"Nah gitu, dong! kan enak, semoga Cinta Kiara Khoirani berjodoh dengan Kak Rangga, Nandini insyaAllah satu Minggu lagi dengan Arjuna dan untuk diriku, semoga nantinya berjodoh dengan kak Virgantara, jika aku sudah menjadi dokter spesialis anak!" seloroh Fadhillah. Membuat semua teman-temannya terkekeh geli mendengar ucapan Fadhillah.
Edisi curhat antara kelima sahabat itu pun kini tercurahlah sudah dengan kejujuran hati masing-masing. Persahabatan yang tulus dan saling menghargai, hingga detik ini masih menghiasi diri mereka masing-masing meskipun jarang bersua setelah mereka mengakhiri masa putih birunya kala itu.
"Alhamdulillah ... berarti untuk saat ini, kita semua sudah memiliki tambatan hati. Tinggal menunggu halalnya dong!" pungkas Cinta Kiara Khoirani.
"Tentu saja yang sold out duluan Nandini Sukma Dewi, yang dulu terkenal dengan gadis metal yang tomboy. Zahrana yang sering gonta-ganti pasangan tempo dulu, namun yang menikah duluan adalah Nandini Sukma Dewi!" seloroh Fadhilah tanpa filter. Sehingga gelak tawa pun memenuhi ruangan rawat inap Zahrana, oleh sebab kekocakan Fadhillah.
π·π·π·
Untaian mutiara hikmah π βBukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas, dan bukanlah keiklasan jika masih merasakan sakit. Kunci kedamaian hidup sebenarnya sederhana ialah dengan menjalaninya, menikmatinya dan mensyukuri setiap perihal yang ada."
π»
π»
π»
Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya My bestie kak, tentunya dengan cerita yang sangat menarik dan tak kalah serunya.ππ
Judul karyanya : BELLA 'S SCRIPT
Authornya : naya_handa
__ADS_1