Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
202 . Seputih Hati Semerah Luka


__ADS_3

Zaid tertegun sejenak melihat pesona wanita berseragam putih yang kini berada tepat di hadapannya, "Maa syaa Allah ... ternyata memang dirinya?" bathin Zaid dengan tatapan yang tak biasa.


"Hey, apa kabar mu Arkana? kok bengong?" tanya wanita tersebut dengan menjentikkan jarinya di wajah Zaid.


"Ma-af, aku sampai tidak mengenali dirimu. Hari ini, kau tampak sangat berbeda dari biasanya." Zaid memberikan pujian kepada wanita tersebut. Sehingga membuat raut wajah wanita berseragam putih itu pun seketika merona.


"Terima kasih, benarkah? kau terlalu berlebihan memuji!" ucap wanita tersebut dengan tetap menjaga kewibawaannya.


Sebenarnya, Rufaidah sangat terpana akan kharisma dari seorang Muhammad Zaid Arkana dari Zaman putih abu-abu dahulu. Akan tetapi, wanita tersebut lebih menjaga hatinya. Ia tidak ingin menghabiskan masa mudanya hanya untuk hal-hal yang belum halal untuk ia lakukan, ia lebih mementingkan pendidikannya daripada sekedar untuk menambatkan hatinya pada sang pujaan hati. Cukup Sang Maha penggenggam hati yang mengetahui apa yang dirasakan olehnya terhadap sosok MZ Arkana.


Iya, benar. Sosok wanita muda yang sangat energik dan berparas cantik itu adalah Dokter Spesialis Kandungan yang pernah menangani Nandini Sukma Dewi ketika rawat inap di RS Medika tempo hari. Ia adalah Dokter Rufaidah Al Aslamiyah, kakaknya Zainal Abidin yang sampai detik ini selalu menjaga hatinya pada sosok Nandini. Intinya, kedua kakak beradik tersebut sama-sama pencinta sejati.😊😘😘


"Hemmm ... apakah kau akan terus membiarkan kami berdiri tegak disini? izinkan kami masuk tuan muda Arkana!" pinta Rufaidah yang memang betah memanggil Muhammad Zaid Arkana dengan sebutan Arkana dari sejak zaman putih abu-abu dahulu.


"Maaf, silahkan masuk!" ucap Zaid, tersadar dari keterpanaannya pada sosok Rufaidah Al Aslamiyah. Ia pun mempersilahkan Rufaidah masuk bersama sosok pemuda yang mengenakan style jas ala kantoran itu.


"Terima kasih, Mas Arkan!" ucap Rufaidah dengan tatapan penuh arti, sehingga membuat detak jantung Muhammad Zaid Arkana berdegup kencang.


"Astaghfirullah ... apa yang aku rasakan, tidakkk! Di hatiku hanya ada Zahrana seorang. Only Zahrana!" bathin Zaid mengulangi kalimatnya. Ia pun mengekori langkah Rufaidah bersama sosok pemuda yang di gandengnya.


Zaid urung keluar dari Aisyah Boutique Collection, ketika melihat kehadiran Rufaidah di boutiquenya. Ia ingin melayani sosok Rufaidah yang dulu pernah menjadi sahabatnya, ketika masa putih abu-abu tempo dulu.


Rufaidah dengan santainya menggandeng tangan pemuda yang ada disampingnya, begitu pun sebaliknya. Keduanya terlihat sangat kompak, sehingga siapa pun yang melihatnya, pasti akan mengira keduanya adalah pasangan yang serasi. Padahal sejatinya, mereka adalah adik kakak.😁😁


Rufaidah, terlihat awet muda diusianya yang ke 24 tahun. Dokter muda yang sangat cantik dan energik. Pesonanya pun sangat luar biasa, kulit putih mulus dan terawat. Dengan postur tubuh tinggi dan ideal, bak model papan atas.😍😍


"Kak, bantu aku cari fashion yang paling baik untuk bingkisan pernikahan Nandini besok pagi!" titah Zainal pada kakaknya Rufaidah Al Aslamiyah.


"Ciyeeee ... yang mau mencari bingkisan untuk soulmate-nya? oke deh, segera laksanakan titah tuan muda Zain!" sarkas Rufaidah di sertai guyonan.


"Soulmate apanya kak? dirinya pun akan segera sah menjadi milik orang lain," ucap Zainal dengan wajah ditekuk.


Rufaidah pun menghentikan guyonannya ketika melihat Zainal yang terlihat murung.


"Maaf, Dek. Kakak tidak bermaksud membuat mu sedih. "Don't be sad! Innallaha ma’ash shabiriin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar!" ucap Rufaidah dengan menepuk pundak Zainal, agar lebih sabar dan kuat menghadapi ujian hati yang sedang menderanya.


"Terimakasih, Kak. Tapi, apa pun yang terjadi, tetap carikan bingkisan yang terbaik untuknya, Kak!" ucap Zainal dengan berusaha menyemangati dirinya sendiri.


"Siyappp ... brother! untuk kebahagiaan mu, apa pun kakak lakukan!" ujar Rufaidah dengan penuh antusias.


Interaksi kedua kakak beradik itu pun, terus diperhatikan oleh Muhammad Zaid Arkana, ia nampak tertegun melihat kekompakan dua bersaudara itu.


"Hemmm, jadi itu saudara laki-lakinya?" bathin Zaid dengan segera menghampiri keduanya.


Rufaidah nampak fokus mencari kado terbaik untuk dipersembahkan diacara resepsi pernikahan Nandini dan Arjuna besok pagi. Ia nampak bersemangat sekali.

__ADS_1


"Bagaimana sudah ditemukan belum apa yang dicari?" tanya Zaid, dengan melayani Rufaidah sepenuh hati.


"Belum, mesti di cari yang paling istimewa!" ucap Rufaidah berusaha menetralkan detak jantungnya, ketika mendapati sosok Muhammad Zaid Arkana kini berdiri tegak di sampingnya.


"Ya Allah ... jaga jantung hatiku, jangan sampai aku melakukan kesalahan yang fatal dan sangat memalukan reputasi seorang dokter. Arkana tidak boleh tahu jika debaran jantung ku sedang tidak bisa dikondisikan!" bathin Rufaidah dengan terus mencari sesuatu untuk bingkisan yang paling baik menurut permintaan Zainal.


"Bagaimana jika yang ini saja?" ucap Zaid dengan menunjukkan mukena Turki high quality berwarna biru muda model brukat yang terlihat manis dan anggun jika dikenakan oleh setiap wanita muslimah.


"Maa syaa Allah ... indah sekali desain mukenanya?" pekik Rufaidah dengan mata berbinar.


"Gimana, Dek? apa kamu suka model yang ini?" tanya Rufaidah.


"Boleh, Kak. Apakah ada warna yang lain? jika ada bolehkah aku melihatnya?" tanya Zainal yang ditujukan pada Muhammad Zaid Arkana.


"Oh, ya ada. Tunggu sebentar! Aku tanyakan pada karyawan ku dulu," ucap Zaid dengan menghampiri Zahrana yang sedang fokus bercengkrama dan melayani Ummi Yasmin juga Yusuf Amri Nufail Syairazy yang masih fokus mencari sesuatu yang cocok untuknya.


"Ra, maaf. Stok mukena model Turki brukat masih ada warna apa saja? Ada customer kita yang sedang mencari mukena tersebut?" ucap Zaid lembut.


"Sebentar, Kak. Zahra ambilkan dulu," ucap Zahra dengan gerak cepat.


"Ummi, maaf Zahra tinggal dulu ya? silahkan dipilih dulu model yang Ummi sukai!"


"Baiklah, Nak Zahra. Silahkan lanjutkan pekerjaan mu! Ummi disini ditemani Yusuf." Ummi Yasmin mengerti akan keadaan, ia pun memilih barang-barang yang diminati olehnya.


"Terimakasih, Ra. Maaf, merepotkan mu dan menganggu rutinitas pekerjaan mu!" ucap Yusuf dengan segala kerendahan hatinya.


"Iya, tidak apa-apa, Kak." Zahrana pun segera mengambil beberapa warna mukena Turki model brukat yang dimintai oleh Zaid. Ia berjalan menghampiri Zaid yang sedang bercengkrama dengan Dokter Rufaidah dan Zainal Abidin.


Zahra sama sekali tidak mengetahui jika customer yang membelakanginya tersebut adalah sosok Zainal teman sekolahnya. Pasalnya, sejak tadi Zahrana fokus melayani Ummi Yasmin yang nampak antusias memilah dan memilih berbagai model fashion yang diinginkannya. Padahal, sejatinya Ummi Yasmin betah bercengkrama dengan calon mantunya itu, walaupun harus berdalih dengan membeli beberapa barang yang diminatinya.😁😁


Zaid selaku atasan, sekaligus sosok yang sangat mengagumi Zahrana pun merasa tersisihkan. Sebab, Ummi Yasmin begitu kentara ingin mengikat Zahrana untuk menjadi pendamping putranya Yusuf Amri Nufail Syairazy. Zaid tidak mungkin mengusir customer yang berkunjung ke Aisyah Boutique Collection, sebab Ummi Yasmin adalah pelanggan tetap Boutiquenya. Mau tidak mau Zaid menahan luka dihatinya melihat kedekatan Zahrana dengan Ummi Yasmin dan juga Yusuf.😂😂


"Ini kak mukenanya silahkan di pilih mau warna yang mana?" ucap Zahrana dengan menyodorkan beberapa piece mukena yang masih terbungkus rapi di plastiknya.


Zaid, Rufaidah dan Zainal pun menoleh ke arah Zahrana. Seketika Zahrana dan Zainal saling tertegun.


"Zainal, kau!"


"Zahrana, kau bekerja disini?" tanya Zainal dengan rasa tak percaya bisa bertemu dengan Zahrana di Aisyah Boutique Collection.


"Iya, aku baru satu bulan kerja disini. Oh, iya silahkan di pilih mau mukena yang mana?" ucap Zahrana dengan menunjukkan warna-warna mukena tersebut.


"Menurut mu bagusan yang mana, Ra?" tanya Zainal.


"Semuanya bagus Nal, memangnya mukenanya untuk siapa?" Zahrana balik bertanya.

__ADS_1


"Untuk kado pernikahan Nandini Sukma Dewi, besok pagi Ra."


"Maa syaa Allah ... bingkisan yang sangat bermakna," sarkas Zahrana.


Zaid dan Rufaidah pun saling lirik pandang, melihat interaksi Zahrana dan Zainal.


"Jadi, kalian saling mengenal?" tanya Rufaidah dan Zaid hampir bersamaan.


Zahrana dan Zaid pun saling mengangguk.


"Kami teman sekolah semasa putih-biru dahulu, satu kelas malahan," terang Zahrana.


"Oh, iya Ra. Kenalkan, ini kakak kandung ku Rufaidah Al Aslamiyah!"


Zahrana pun memperkenalkan diri dan menyalami kakak Zainal, "Aku Zahrana, Kak."


"Cantik!" satu kata yang di ucapkan oleh Rufaidah, ia terpukau dengan kecantikan dan keanggunan Zahrana.


"Terimakasih, Kak." Zahrana tertunduk malu.


Zaid mencuri pandang ke arah Zahrana dan Rufaidah, "Keduanya sama-sama cantik dan mempesona. Zahrana dengan keanggunannya, Rufaidah dengan enerjiknya. Betapa sempurnanya Engkau ciptakan makhluk yang bernama wanita, ya Rabb!" bathin Zaid yang mulai gamang dengan perasaannya sendiri.


"Kenapa hatiku jadi gamang seperti ini?" bathin Zaid.


"Kehadiran Rufaidah membuat hatiku tiba-tiba dipenuhi oleh rasa getaran yang berbeda, ia seolah menyembuhkan luka hatiku oleh sebab penolakan cinta Zahrana terhadapku. Namun, aku tidak bisa begitu saja melepaskan dan mengikhlaskan Zahrana untuk Yusuf Amri Nufail Syairazy," bathin Zaid dengan menghembuskan nafasnya pelan.


"Kau kenapa, Kak?" tanya Zahrana. Ia merasa ada yang aneh dari Zaid yang bergantian menatapnya dengan sosok Rufaidah.


"A-anu, aku tidak apa-apa." Zaid menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar dilema dengan perasaannya sendiri.


"Ya sudah, kita fokus melihat satu persatu model dan warna mukena ini, ya?" Zahrana pun membuka satu-persatu mukena yang masih terbungkus rapi dalam plastik tersebut.


Ditengah kesibukan Zahrana menunjukkan model-model dan warna mukena yang ada, Zaid pun kembali merenungi dirinya, "Sebenarnya yang aku cintai itu Zahrana atau Rufaidah? Kenapa aku merasa tenang berada didekat Rufaidah? Namun, didekat Zahrana aku kerapkali merasa sedih dan kecewa oleh sikap dan penolakannya berkali-kali terhadap ku. Seputih hati semerah luka!" bathin Zaid dengan perasaannya yang mulai tak jelas.


"Kok malah melamun, Mas Zaid Arkana?" tanya Rufaidah dengan menyenggol lengan Zaid. Sehingga semua kembali melihat ke arah Zaid.


Zaid pun terhenyak dari lamunannya. Ia bingung mengartikan perasaan yang kini melanda jiwanya.


Rufaidah yang dari sejak tadi fokus memilih mukena yang di tunjukkan oleh Zahrana, kini kefokusannya beralih pada Zaid.


"Sepertinya kau sedang tidak enak badan," ucap Rufaidah. Ia refleks menyeka keringat yang bercucuran di dahi Zaid. Hingga membuat detak jantung Zaid bertalu-talu tak karuan.😁😁


🌴🌴🌴


Untaian Mutiara Hikmah 👉  "Hijrah yang sesungguhnya adalah untuk Dia yang menciptakan kita, bukan untuk dia yang kita kagumi. Zaman sekarang sulit mencari yang sholeh atau sholehah. Kenapa mencari? Lebih baik berusaha menjadi yang sholeh atau sholehah. Siapa pun bisa jatuh cinta, tapi hanya orang yang kuat yang akan menjaga cinta itu tetap halal."

__ADS_1


__ADS_2