
"Aku tidak peduli jika dirimu sudah menikah atau belum? Aku tidak peduli kau sudah memiliki buah hati atau tidak? Namun aku akan merebut mu dari wanita jal*ng itu!" bathin Adelia Kencana Puteri yang memang menyimpan dendam kesumat pada Nandini Sukma Dewi.
"Kau harus merasakan bagaimana rasanya sakit hati ketika di khianati dan di duakan!" gumam Adelia Kencana Puteri, yang di penuhi rasa dendam terhadap Nandini Sukma Dewi.
"Hemmmm ... gara-gara parfum Malaikat Shubuh ini, aku tidak menyangka bisa berjumpa dengan mu lagi Arjuna Restu Pamungkas!" cicit Adelia Kencana Puteri dengan mengendus aroma parfum tersebut. Ia pun merasakan seolah-olah Arjuna telah pun berada di sisinya.
Adelia pun segera masuk ke dalam mobil miliknya.
"Aku bersyukur bisa masuk Rumah Sakit hari ini, meskipun harus perut ku yang menjadi taruhannya. Akibat makan makanan yang pedas-pedas sakit lambung kambuh lagi, namun aku bahagia bisa bertemu dengan mu Arjuna Restu Pamungkas!" cicit Adelia Kencana Puteri sambil fokus menyetir mobil mewahnya.
***
Perjalanan menuju rumah Sabrina Zelmira Al Aqra di kota S.
Zahrana dan kedua orang tuanya Buya Harun dan Bunda Fatimah dalam perjalanan menuju rumah kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra. Mereka di antar oleh Pramuja Wisnu Baskara setelah menunaikan ibadah sholat Ashar.
Pramuja tidak rela jika Zahrana dan kedua orang tuanya di antar oleh Muhammad Zaid Arkana.
Pramuja hanya ingin dirinya yang istimewa dan menjadi super Hero di hadapan Zahrana, cinta dalam hatinya. Entah kenapa ia tidak rela dan di penuhi rasa cemburu ketika melihat Zahrana berbincang-bincang dengan Muhammad Zaid Arkana.
"Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, semulanya aku mencoba untuk ikhlas jika Zaid sahabat ku bisa bersatu dengan my sepupu. Namun, entah kenapa hatiku merasa perih!" bisikan hati Pramuja Wisnu Baskara.
"Kenapa diam, Mas?" tanya Zahrana sembari memainkan ponsel 3315 miliknya. Ponsel yang sangat legendaris pada zamannya.😁😁
"Hemmm ... tidak apa-apa, my bidadari. Mas hanya merasa lelah saja!" ucap Pramuja terlihat murung.
"Lelah hati dan jiwa, sebab memikirkan mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bisikan hati Pramuja Wisnu Baskara, yang kalimat terakhir itu hanya ia yang merasakannya.
"Jika lelah kenapa tidak istirahat saja, Mas? Kenapa tidak memberikan kesempatan pada kak Zaid saja untuk mengantarkan kami ke rumah kak Sabrina? bukankah kediaman kami pun searah? kak Zaid pun hendak singgah ke toko buahnya sebentar, memberikan kunci tokonya untuk Ummi dan Abinya. Sebab, malam hari kan toko buahnya Ummi dan Abinya yang jaga." Zahrana memberikan penjelasan pada sepupunya Pramuja Wisnu Baskara.
"Zahra, aku ini saudara sepupu mu. Sudah menjadi tanggung jawab ku untuk mengantarkan mu, Bunda Fatimah adalah saudara Ibu ku, tepatnya bunda mu adalah bibi ku. Salahkah aku jika berbakti pada mereka," ucap Pramuja dengan wajah serius. Ia cemburu mendengar Zahrana menyebutkan nama Muhammad Zaid Arkana.
Kecemburuan Pramuja terhadap MZ Arkana, semakin membuatnya berang dan takut kehilangan Zahrana.
"OMG! Aku benar-benar sudah gila!" bathin Pramuja dengan melirik ke arah Zahrana.
"Untunglah, Buya dan Bunda sedang terlelap. Jika tidak, betapa malunya aku jika kentara mencintai Puteri mereka." Pramuja pun kembali fokus menyetir mobilnya, menuju rumah Sabrina Zelmira Al Aqra, kakak Zahrana.
Zahrana melirik ke arah Pramuja, ia kaget dengan ekspresi wajah Pramuja yang nampak serius dan kentara sekali tidak menyukai jika ia menyebut nama Muhammad Zaid Arkana.
"Ya Allah ... ada apa dengan Mas Pramuja? kenapa ekspresi wajahnya seperti itu?" bathin Zahrana. Ia pun kembali fokus melihat ponselnya.
"Astagfirullah ... banyak betul pesan dan panggilan tak terjawab. Kak Aslan, Cinta, Kirana dan Fadhillah. Pasti mereka mengkhawatirkan ku, lantaran kabur dari rumah sakit. Semoga Nandini baik-baik saja!" bathin Zahrana. Ia tidak sanggup mengingat penghinaan Ibu Ratna Anjani terhadapnya. Hingga, ia pun memilih kabur dari Rumah Sakit Medika dan meninggalkan teman-temannya demi menghindari Aslan Abdurrahman Syatir.
Ponsel Zahrana tiba-tiba berbunyi. Zahrana pun menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
📞 "Assalamu'alaikum ... Ra, loe di mana?" tanya teman-temannya bersamaan. Ternyata Cinta, Kirana dan Fadhillah menghubunginya dengan sambungan konferensi bertiga.
📞 "Kenapa ninggalin kita? kenapa nggak kasih kabar loe di mana?" cecar Fadhillah mewakili teman-temannya.
📞 "Wa'alaikumsalam warrahmatullahi ... ma-af teman-teman, aku tadi langsung menuju ke rumah kak Sabrina. Di antar langsung oleh seseorang. Ternyata mobil yang ku tumpangi adalah orang yang ku kenal. Ia sahabat kakak sepupu ku," ucap Zahrana kegirangan.
📞 "OMG! berarti orangnya masih muda, dong Ra?" tanya Cinta penasaran.
📞 "Hemmm ... sekitar 20 tahunan mungkin usianya, atau sepantaran kita. Sebab terlihat masih muda dan imut gitu, Cin!" ucap Zahrana yang tanpa sadar telah memuji Muhammad Zaid Arkana.
📞 "Ciyeeee ... jangan-jangan kau terpikat oleh pemuda itu deh, Ra." Kirana Larasati ikut menimpali.
📞 "Nggak juga, Kir. Hanya sebatas mengagumi saja!" ucap Zahrana yang mulai gamang dengan perasaannya. Ia spontan membayangkan wajah Muhammad Zaid Arkana yang telah dua kali menolongnya dari insiden jemari tangan Zahrana yang terkena pecahan gelas sewaktu di rumah kakaknya Sabrina.
📞"Astagfirullah ... teman-teman sudah dulu ya? Aku sekarang sedang dalam perjalanan bersama kakak sepupu ku, juga bersama Ayah dan Bunda ku. Nanti kita sambung lagi ceritanya," ucap Zahrana.
📞 "Assalamu'alaikum ... teman-teman!"
📞 "Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " ucap Cinta, Kirana dan Fadhillah bersamaan.
Zahrana pun menutup telfonnya. Ia melirik ke arah Pramuja yang sedang menyetir mobilnya dengan wajah masamnya.
Pramuja benar-benar cemburu mendengarkan percakapan Zahrana bersama teman-temannya yang terus menerus menyebut nama Muhammad Zaid Arkana dihadapannya.
"Jadi benar kau mengagumi dan menaruh hati pada sahabat ku Muhammad Zaid Arkana?" tanya Pramuja dengan ekspresi wajah serius.
"Lalu kenapa dari sejak tadi kau terus menyebut namanya di hadapan ku? apa kau sengaja ingin--?" ucapan Pramuja terjeda. Hampir saja ia keceplosan jika ia mencintai Zahrana lebih, dari sepupu.
"Sengaja ingin apa, Mas?" tanya Zahrana yang mulai melihat gelagat aneh dari Pramuja.
"Tidak ada apa-apa, rumah kak Sabrina sudah sampai. Mari segera turun! kita bangunkan Buya Harun dan Bunda Fatimah yang sedang terlelap."
Pramuja mengalihkan pembicaraannya. Ia segera beranjak membukakan pintu mobil di bagian belakang dan berniat membangunkan Bunda Fatimah dan Buya Harun yang sedang terlelap dikursi mobil belakang.
Zahrana pun segera beranjak turun dari mobil tersebut, ia pun mengikuti langkah Pramuja.
"Biar Zahra yang bangunkan Ayah dan Bunda, Mas. Mas silahkan masuk dulu kedalam rumah kak Sabrina," ucap Zahrana yang hendak bergerak cepat membuka handle pintu mobil di mana Ayah dan Bundanya terlelap.
Namun ia dan Pramuja sama-sama bergerak cepat, sehingga bukan handle pintu mobil yang Zahrana buka. Akan tetapi tangan Pramuja yang ia genggam. Seketika netra mereka pun beradu pandang.
"Zahra, keindahan rona wajah mu benar-benar tidak sanggup untuk aku lukiskan, aku benar-benar jatuh hati pada mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Pramuja Wisnu Baskara. Ia benar-benar terpana akan pesona Zahrana, hingga ia melewati batasnya.
Pramuja benar-benar memandang Zahrana selayaknya Bidadari yang kini pun telah terpatri di hatinya.
Detak jantung Pramuja pun semakin bertalu-talu ketika manik matanya tidak sengaja bertemu dengan Zahrana.
__ADS_1
Pramuja benar-benar terpesona dengan bidadari yang kini begitu dekat dengannya. Ada rasa bahagia yang menyelimuti jiwanya ketika tangan halus Zahrana tidak sengaja menyentuh dan menggenggam tangannya dengan penuh kelembutan.
"Ma-af Kak," ucap Zahrana gugup. Ia pun melepaskan genggaman tangannya. Hingga keributan di antara mereka berdua pun seketika membangunkan Bunda Fatimah dan Buya Harun yang sedang terlelap.
"Sepertinya kita sudah sampai Bun," ucap Buya Harun dengan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Benar, Yah." Bunda Fatimah pun segera membuka pintu mobil tersebut, ia hendak turun dari mobil. Namun, Bunda Fatimah kaget melihat Zahrana dan Pramuja yang masih berdiri di depan pintu mobil.
"Zahra, Pramuja. Kenapa kalian belum masuk ke rumah kak Sabrina?"
"Hemmm ... kami hendak membangunkan Ayah dan Bunda. Alhamdulillah ... jika Ayah dan Bunda sudah bangun." Zahrana pun menyambut uluran tangan Bundanya.
Zahra nampak bergelayut manja di lengan Bundanya, di susul pula oleh Buya Harun yang baru beranjak turun dari mobil..
Zahrana menekan bel pintu gerbang rumah kakaknya Sabrina. Sedangkan Pramuja mengikuti mereka dari belakang.
Pramuja menyentuh dadanya.
"OMG! Aku benar-benar tergila-gila dan jatuh hati pada mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Pramuja yang terus membayangkan sentuhan lembut Zahrana terhadapnya.
Sementara Zahrana telah melupakan itu semua. Ia berpikir itu adalah bentuk ketidaksengajaan. Walaupun ia sempat gugup ketika jemari tangannya tidak sengaja menyentuh Pramuja.
Sabrina keluar dari rumahnya, ia pun tampak bahagia menyambut kedatangan orang tuanya dan adiknya Zahrana.
Ketika hendak masuk ke dalam rumah kakaknya, ponsel Zahrana kembali berdering.
📞 "Halo, assalamu'alaikum ... dengan siapa?" tanya Zahrana.
📞 "Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... Aku Muhammad Zaid Arkana, apa kalian sudah sampai di kediaman Mas Fardhan?"
📞 "Alhamdulillah sudah, Kak. Baru saja sampai!" ucap Zahrana.
📞 "Syukurlah jika begitu, Dek." MZ Arkana merasa sangat bahagia mendengar jika Zahrana dan keluarganya telah selamat sampai tujuan.
Tanpa Zahrana sadari, Pramuja dengan refleksnya merebut handphonenya.
📞 "Hello brother, jangan ganggu sepupu ku! Kami telah sampai dengan selamat," ucap Pramuja dengan menutup sambungan telfonnya.
Membuat yang melihatnya seketika spot jantungnya, sebab Pramuja mematikan telfon Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana sesuka hatinya.
"Mas Pra kok gitu, sih?" tanya Zahrana dengan wajah datarnya.
"Ini untuk kebaikan mu, Ra! Mas tidak suka melihat mu berdekatan dengan laki-laki manapun," ucap Pramuja tanpa filter.
"Mas Pramuja?" pekik Zahrana. Ia tidak suka dengan gaya Pramuja yang terlihat sekali terlalu mengekangnya. Hingga membuat Zahrana seketika mati rasa dengan keposesifan Pramuja terhadapnya.
__ADS_1
🌷🌷🌷
...Pencerahan 👉 "Mencintai dunia itu wajar, asalkan jangan sampai cinta itu membuat kita mendurhakai Tuhan. Cinta bukanlah bertahan seberapa lama. Tetapi seberapa jelas dan ke arah mana. Cinta itu bukan hanya perasaan senang ketika bersamanya. Cinta juga adalah komitmen untuk tetap bersamanya, ketika perasaan senang itu hilang. Cinta mungkin buta, tapi kadang, untuk bisa melihatnya dengan lebih jelas, kita hanya butuh kacamata yang pas." ( Bisikan_H@ti )...