Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
26 . Back Street Season 2


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul 17.45 Wib. Aslan Abdurrahman Syatir segera menutup Toko Sembako mereka. Ia hendak mempersiapkan diri untuk menunaikan kewajiban sholat Maghrib.


Sebelum Maghrib Toko Sembako mereka memang sudah ditutup untuk sementara dan akan buka kembali ba'da sholat Maghrib.


Nandini pun telah mempersiapkan diri untuk ikut sholat berjama'ah di Mesjid, sebab ia berniat belajar mengaji ba'da Maghrib di rumah Buya Harun Ayahnya Zahrana. Dengan niat melancarkan aksinya untuk mendekatkan Zahrana dengan kakaknya Aslan Abdurrahman Syatir.


"Sambil menyelam minum air," cicit Nandini dalam hati.


Surat cinta dari kakaknya Aslan untuk Zahrana pun telah di selipkan di saku celana jeansnya yang panjang sedikit dibawah lutut, dengan model sobek di paha dan lututnya dengan atasan kaos bermotif khusus laki laki. Menampakkan gaya metalnya.


Nandini memang gadis tomboy, sangat jarang sekali berpenampilan seperti gadis umumnya, yang selalu ingin terlihat anggun.


"Assalamu'alaikum ..." belum ada suara yang menjawab.


"Nandini ... Din, ayo kita ke Mesjid!" Cinta Kiara Khoirani dan Kirana Larasati terus memanggil Nandini.


Nandini masih berdiri di depan cermin, melihat gayanya sudah terlihat metal atau belum? kefokusannya pun terusik dengan panggilan teman-temannya.


Nandini hendak menuju keluar, namun kalah cepat dengan kakaknya Aslan.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ..." jawab Aslan.


"Dik Cinta ... Dik Kirana, sedang menunggu Nandini kah?" tanya Aslan pada Cinta dan Kirana.


Namun, Cinta dan Kirana tidak semerta menjawab pertanyaan Aslan.Mereka berdua merasa sangat terpana melihat penampilan Aslan dengan baju koko biru muda serta peci dan sarung yang dikenakannya.


"OMG( Oh My God ) ... sempurnaaa!" pekik Cinta keceplosan kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


Kirana menyenggol lengan Cinta, mengisyaratkan agar Cinta lebih bisa menjaga marwahnya. Walaupun dalam hati Kirana mengakui bahwa Aslan kakak Nandini memang sangat tampan dan berkharisma, namun sebisa mungkin Kirana menguasai dirinya, mengingat Aslan sudah dewasa dari mereka. Sudah selayaknya di anggap seorang kakak. Malu jika sampai tidak bisa menjaga marwahnya, dengan usianya yang masih terpaut belia.


"Tentu saja kakak ku sangat tampan dan sempurna. Wajar saja banyak yang terpesona padanya," celutuk Nandini yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Hendak menemui Cinta dan Kirana di teras rumahnya.


Wajah Cinta bersemu merah, menahan malu karena keceplosan memuji Aslan kakaknya Nandini.


Aslan yang tiba-tiba di sanjung seperti itu oleh Cinta Kiara Khoirani, hanya tersenyum simpul karena baginya itu hal biasa. Dia mengganggap Cinta dan Kirana sudah seperti adiknya sendiri, sama seperti halnya Nandini, kecuali dengan Zahrana memang sangat spesial dan istimewa dihatinya.


"Kalian berangkat dulu ke Mesjid nanti kakak menyusul. Kakak harus mengecek keadaan rumah dulu. Apakah situasinya sudah aman, sebab Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani belum pulang dari rumah temannya, tidak ada yang menunggu rumah. Kakak harus menutup pintu satu persatu dulu," ujar Aslan pada Nandini, Cinta dan Kirana.


"Siyappp kak!" ujar mereka bertiga serempak.


"Din, beneran lho kakak loe tampan sekali. Gue sampai terpana di buatnya," ucap Kirana Larasati jujur.


"Nah ... loe juga akhirnya ikut memuja kak Aslan, giliran tadi pura-pura jaim alias jaga image," protes Cinta pada Kirana Larasati.


"Cinta Kiara Khoirani yang paling manis dan imut, kalau di depan kak Aslan kita harus bisa menjaga marwah, jual mahal dikit kenapa?" ujar Kirana tidak mau kalah.


"Stop ... stop ... Nona manis, kalian ini tidak di sekolah, tidak di luar sekolah tiada henti hentinya berseteru. Mau ke Mesjid pun masih berdebat, buruan jalannya nanti keburu azan Magrib. Kita harus singgah di rumah Princess Zahrana. Dia juga harus ikut kita sholat berjama'ah di Mesjid," cerocos Nandini pada Cinta dan Kirana.


"Tumben loe alim Din, biasanya saat di Sekolah loe yang paling suka berseteru, mau menang sendiri, jika tidak segera di tegahi Zahrana atau Hafidzah," tutur Cinta kaget akan perubahan Nandini.


"Semua ini berkat bimbingan Zahrana calon kakak ipar ku," ucap Nandini keceplosan seraya menutup mulutnya yang tak bisa di ajak kompromi.


"Apa? calon kakak iparrrrrr? tanya Cinta dan Kirana melongo," sebab mereka belum tahu tentang rasa antara Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir kakak Nandini.


"Oops ... maaf maksudnya calon kakak ipar masa depan, jika nantinya dia mempunyai adik ipar, bisa membimbing adik iparnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Yach tepat nya begitu," celutuk Nandini sekenanya, dengan niat merahasiakan kisah asmara kakaknya Aslan dengan Zahrana sahabatnya.


"Oh begitu, pikiran mu terlalu jauh Din, Zahrana kan masih kecil, masih sangat belia mana mungkin secepatnya punya adik ipar," ucap Cinta Kiara Khoirani dengan mimik wajah polosnya.


"Iya juga Din, benar apa yang di katakan Cinta," ujar Kirana Larasati ikut menimpali.

__ADS_1


"Sudah ... lupakan saja! aku hanya bersenda gurau kok, jangan di anggap serius," tutur Nandini santai. Dengan berdalih agar Cinta dan Kirana tidak bertanya lebih jauh lagi.


Nandini berusaha menutupi hubungan kakaknya Aslan dan Zahrana, agar tidak ada yang tahu tentang hubungan keduanya, tidak juga Cinta atau pun Kirana.


Tinggal selangkah lagi mereka akan tiba di kediaman Zahrana.


"Assalamu'alaikum ... Zahra ... Zahrana." Teman-teman Zahrana kompak memanggilnya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ..." ucap Bunda Fatimah sembari membuka pintu.


"Zahrananya ada Bu? kami mau mengajaknya Sholat berjama'ah di Mesjid," tutur Nandini dengan nada santunnya.


"Oh iya, ada sebentar Ibu panggilkan," ujar Bunda Fatimah.


"Nak, ada teman-teman mu, Nandini, Cinta dan Kirana hendak mengajak mu sholat berjama'ah di Mesjid."


"Iya Bunda, Zahrana bersiap-siap dulu. Apa Buya Harun dan Raihan juga sudah berangkat ke Mesjid Bun?" tanya Zahrana di sela-sela kesibukannya berbenah diri untuk mempersiapkan perlengkapan alat sholatnya.


"Sudah, Nak. Saat kamu sedang ritual mandi tadi Ayah dan Raihan berpamitan dengan Bunda," ujar Bunda Fatimah.


"Iya Bun, Zahrana berangkat dulu, khawatir teman-teman kelamaan menunggu," ujar Zahrana sembari mencium punggung tangan Bundanya.


Bunda Fatimah tersenyum bangga melihat puterinya yang begitu antusias untuk menjalankan Ibadah sholat wajib.


"Semoga dirimu kelak menjadi anak Sholihah, Nak. Tetap berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi semua dan ilmu Agama yang paling utama, semoga masa depan mu cerah." Seuntai do'a Bunda Fatimah untuk Puteri kesayangannya.


"Hai Din, Cin, Kir ... aku sudah siap. Maaf Zahra berbenahnya agak lama, sebab tadi baru selesai ritual mandi, terimakasih karena telah berkenan menunggu ku," ucap Zahrana pada teman-temannya.


"Nggak apa-apa My Princess, untuk mu satu jam pun kami betah menunggu, iya kan Cin, Kir?" seloroh Nandini seraya memegang pergelangan tangan Cinta di sebelah kanan dan Kirana di sebelah kiri.


Cinta dan Kirana hanya mengangguk pelan.


Kemudian mereka pun hendak berangkat menuju Mesjid, namun pandangan Zahrana tertuju pada sosok yang akan segera melintasi jalan yang tak jauh dari keberadaan mereka.


Aslan pun tak kalah terpana dengan pesona Zahrana dengan mukena berwarna ke emasan yang di kenakan oleh Zahrana bertabur manik-manik menyilaukan pandangan mata, membuat Zahrana terlihat sangat anggun dengan tetesan air wudhu yang menyempurnakan kecantikan alami dari pancaran wajahnya. Bak Bidadari dari Taman-taman Syurga," bisik Aslan dalam hati.


Aslan berusaha menguasai dirinya, agar tidak terlalu kentara dengan gelora rasa yang sedang bergerilya di pita bathinnya yang begitu membuncah oleh getaran rasa yang tidak bisa dia menampikannya, karena sejatinya cinta memang tersirat bukan tersurat.


Namun Aslan terpaksa menuliskan segenap rasa di hatinya lewat sepucuk surat cinta yang ia titipkan pada adiknya Nandini mengingat hubungannya dengan Zahrana memang harus di rahasiakan.


''Back Street Season 2 ," cicit Aslan dalam hati.


"Aku nampak bodoh sekali jika berhadapan dengan mu Ana, namun aku harus menjaga jarak dengan mu, di depan orangtua mu, bahkan teman-teman mu."


"Ya Allah ... repotnya diriku tak menyangka harus jatuh hati pada mu Ana, yang hanya bisa kulihat dari dekat, namun tak bisa untuk ku sentuh," resah Aslan didalam hati kecilnya.


"Kak Aslan,mari kita berangkat sama-sama," ajak Nandini pada kakaknya.


kemudian Nandini bergelayut manja di pergelangan tangan kakaknya. Ia berusaha memberi semangat untuk kakaknya. Sebab Nandini memahami gelagat kakaknya pada Zahrana yang setengah mati menahan gelora rasa yang tak bisa untuk ia ungkapkan.


"Mari teman-teman kita berangkat!" ucap Zahrana mulai bicara demi menyembunyikan rasanya yang tak kalah bergelora.


"Oke,Tuan Puteri!" ucap Cinta dan Kirana kompak.


Cinta dan Kirana berjalan di depan, Nandini sengaja berjalan di tengah, di apit oleh Zahrana disebelah kirinya, Aslan kakaknya berada di sebelah kanannya.


Mereka hendak melintasi seberang jalan menuju Mesjid Al Ikhlas. Menjelang Magrib kendaraan lalu lintas sangat ramai sekali, segenap insan nampak terburu-buru di kejar waktunya.


Melihat Zahrana yang kebingungan untuk menyeberangi jalan raya, Nandini berinisiatif untuk melintasi jalan duluan menyusul Kirana dan Cinta.

__ADS_1


Sedangkan Zahrana dan kakaknya Aslan sengaja ia tinggal kan berdua.


Aslan pun refleks menggenggam jemari tangan Zahrana. Ia hendak menuntun Zahrana melintasi jalan raya, agar secepatnya masuk menuju Mesjid, mengingat waktu shalat Maghrib yang semakin mepet.


Aliran darah mereka pun kembali berdesir hebat ketika genggaman tangan mereka menyatu dan netra mata mereka pun seketika kembali bertemu pandang.


"Kak Aslan ... " cicit Zahrana dalam hati.


"Ana ... " bisikan Aslan pun dalam hati.


Mereka sama-sama terdiam, namun kedua tangan mereka saling bergenggaman, mengisyaratkan rasa lewat bahasa tubuh.


Akhirnya mereka pun berhasil melintasi jalan, menuju gerbang Mesjid, namun perlahan genggaman tangan mereka terlepas ditengah ramainya jama'ah Mesjid sekitar 40 orang.


Mereka harus memisahkan diri, hendak mengulangi wudhunya karena bersentuhan dengan yang bukan mahramnya, sehingga menyebabkan Wudhu mereka menjadi batal karenanya.


***


Aslan pun melangkahkan kakinya. Ia perlahan mengambilkan microfon dari mimbar Mesjid, kemudian mengumandangkan adzan dengan sangat merdunya sebagai panggilan sholat untuk segenap penjuru bumi.


Zahrana semakin dibuat terkesima karenanya, ternyata Aslan Abdurrahman Syatir termasuk pemuda yang Sholih. Ilusi Zahrana kembali pada kisahnya bersama Rivandra Dinata Admaja di sekolah yang juga pernah mengumandangkan adzan ketika shalat Zhuhur di sekolah sekaligus sebagai imam shalat, sehingga membuat Zahrana pun terpesona karenanya.


"Ya Allah ya Rabbi, maafkan hamba atas rasa yang tak wajar ini. Kak Aslan dan kak Rivandra benar-benar telah mencuri hatiku dengan cara mereka mencintai ku," bisik hati Zahrana. Ia bimbang harus memilih antara dua pilihan.


Kumandang adzan pun telah selesai berganti dengan Iqomah yang di bawakan oleh Raihann adik Zahrana, sebagai ajakan bahwa sholat Maghrib akan segera di mulai.


Imam shalat seperti biasanya, di pimpin oleh Buya Harun Ayahnya Zahrana.


Selang berapa menit Ibadah sholat Maghrib pun telah selesai, Zahrana dan teman-temannya segera keluar Mesjid, sedangkan Aslan masih bercengkrama dengan Buya Harun dan Raihan, juga jama'ah lainnya.


Kirana Larasati dan Cinta Kiara Khoirani keluar duluan dari dalam Mesjid,di susul oleh Zahrana dan Nandini dari arah belakang.


Cinta dan Kirana asyik bercengkerama satu sama lain, mereka hendak menuju ke rumah Zahrana untuk belajar mengaji pada Buya Harun.


Sedangkan Nandini mulai merencanakan aksinya untuk menjadi Mak Comblang kakak nya dengan Zahrana.


"Zahra ... " ucap Nandini setengah berbisik sembari merapat kan diri pada Zahrana.


"Ada apa Din?" tanya Zahrana.


"Ini ada titipan surat cinta dari kak Aslan untuk mu, di simpan baik-baik ya!"


"Cukup aku,kamu dan kak Aslan yang tahu, ini menjadi rahasia kita bertiga. Raihan juga jangan sampai tahu, khawatir nanti ketahuan Buya Harun apalagi Bunda Fatimah. Akan panjang urusannya, kalian dan kak Aslan back street saja sampai waktu yang telah di tentukan," bisik Nandini pada Zahrana.


"Deg ..." jantung Zahrana terasa berdegup kencang antara mengiyakan ucapan Nandini atau tidak.


"Bagaimana ya Din? aku bingung, itu berarti aku berbohong pada Ayah dan Bunda. Sku takut sekali Din, ini pertama kalinya terjadi dalam hidup ku. Jujur aku pun merasakan hal yang sama seperti halnya kak Aslan terhadap ku."


" Namun aku ragu mengingat usia ku yang masih terpaut jauh dengan kakak mu. Usia ku pun masih sangat belia. Aku malu atas segala rasa ku Din, apa yang harus aku lakukan?" ucap Zahrana dengan serentetan pertanyaan yang bermain di benaknya.


"Sudah lah Ra, terima saja kak Aslan, dia benar-benar bucin parah pada mu Ra. Jika kau menolaknya, aku yakin kak Aslan akan seperti orang gila, tadi juga wajahnya kelihatan mendung, sangat murung sekali semenjak pulang dari rumah mu Ra."


"Kak Aslan menceritakan semua perihal Bunda Fatimah yang kentara membatasi interaksi nya dengan mu Ra. Ku mohon terima lah kakak ku! pinta Nandini memelas.


"Please back street ya Ra dengan kakak ku!"


"Nanti aku pikirkan lagi ya Din," tutur Zahrana dengan wajah sendunya antara menolak atau menerima.


"Iya Ra, jangan lupa baca suratnya ya Ra!"

__ADS_1


"Nanti balas juga surat kak Aslan dan titipkan pada ku!" titah Nandini dengan nada sangat serius.


Zahrana pun menggangguk pelan.


__ADS_2