
"OMG! biasanya aku jarang melakukan ibadah sholat wajib, kadang-kadang saja jika aku mau! Namun, demi dirimu aku akan segera melaksanakan ibadah shalat ini!" bathin Arjuna.
"Entah di terima atau tidak amalan ibadah ku, namun sebagai muslim. Sholat 5 waktu itu wajib di kerjakan, sebejat-bejatnya diri ku. Aku meyakini bahwa Tuhan itu ada!" bathin Arjuna. Ia pun segera melakukan ritual wudhunya dan melaksanakan ibadah shalat Maghrib-nya di kamar pribadi Aslan Abdurrahman Syatir.
"Alhamdulillah ... ternyata menjalankan ibadah shalat itu nikmat dan menyenangkan," bisikan hati Arjuna Restu Pamungkas setelah selesai menjalankan ibadah shalat wajib.
Sementara, Nandini asyik berkutat di dapur menyiapkan makan malam untuk dirinya, kakaknya Aslan. Juga untuk calon suaminya, Arjuna Restu Pamungkas, dan dua orang temannya Virgantara Dinata Admaja dan Rangga Sahadewa yang belum pulang dari Mesjid.
Nandini tidak menyadari jika Arjuna menghampirinya yang sedang asyik berkutat di dapur.
Arjuna melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nandini Sukma Dewi dengan pelukan yang menghangatkan setelah sebelumnya sempat terjadi ketegangan di antara mereka berdua.
"Hubby, kau sudah selesai dengan ritual sholat mu? aku menyiapkan makan malam spesial untuk mu, juga teman-teman kita semuanya!" ucap Nandini Sukma Dewi dengan tetap membiarkan Arjuna memeluknya dan menyandarkan dagunya itu di bahunya.
"Honey, aku sangat merindukan mu. Hampir saja aku kehilanganmu dan juga calon baby kita!" ucap Arjuna dengan mengusap lembut perut Nandini Sukma Dewi yang masih terlihat datar.
Nandini merasakan sentuhan lembut tangan halus Arjuna terhadapnya.
"Terimakasih Hubby! baby kita pasti senang di jenguk oleh papanya, mungkin ia merindukan sentuhan papanya," ucap Nandini dengan membalikkan badannya.
Kedua pasangan muda tersebut pun saling berhadapan, memandangi satu sama lain. Jiwa agresif Arjuna seketika membuncah melihat tatapan Nandini yang tulus terhadapnya, apalagi melihat bibir ranum kekasihnya itu membuat Arjuna ingin menyentuh dan menyesap bibir manis itu.
Namun, Nandini segera menempelkan bibirnya dengan telunjuknya, hingga yang dikecup Arjuna bukanlah bibir ranumnya melainkan jari telunjuk milik Nandini.
Menyadari itu, Arjuna mengacak kasar rambutnya. Ia merasa di jahili oleh gadis metalnya itu.
"Hubby, sudah ya melepas rindunya?" ucap Nandini dengan menjaga jaraknya dari Arjuna Restu Pamungkas dengan tawa renyahnya.
"Honey, kau---?"
Arjuna setengah berlari mengejar Nandini Sukma Dewi, ia merasa gemas dengan tingkah kekasih hatinya itu.
Jadilah kedua anak muda yang saling dilanda Asmara itu, saling kejar-kejaran mengitari meja makan.
"Nah, dapat kau! ternyata calon baby papa dan mamanya sengaja menjahili papa," ucap Arjuna dengan memeluk erat tubuh Nandini. Ia pun refleks berlutut di hadapan Nandini serta mengecup perut calon istrinya yang masih terlihat datar itu.
"Terimakasih, papa!" ucap Nandini dengan mengelus puncak kepala Arjuna yang nampak hikmat mengecup perutnya.
"Sama-sama, calon istri dan anak ku. Terimakasih atas kesempatan dan maaf kalian untuk papa!" ucap Arjuna bangkit berdiri setelah berlutut dan mengecup perut Nandini Sukma Dewi.
Keduanya pun saling berpelukan erat melepaskan segala rindu di hati yang sempat terbersit rasa benci dan dendam oleh rasa ego yang tinggi, akan hadirnya sosok orang ketiga yang mewarnai kisah cerita cinta mereka sebelumnya.
"Adelia Kencana Puteri, maaf aku harus mengakhiri kisah asmara terlarang di antara kita yang sempat terjalin sesaat, aku akan menghapuskan jejak mu dari hidup ku! aku akan mengarungi bahtera hidup ku bersama Nandini Sukma Dewi!" bathin Arjuna Restu Pamungkas yang mulai meredam rasa egonya.
"Zainal, maafkan aku yang tidak bisa mengarungi bahtera hidup bersama mu. Aku telah memutuskan untuk hidup bersama Arjuna Restu Pamungkas kekasih hati ku, belahan jiwa ku. Sosok Ayah untuk calon anak ku nanti, semoga Allah selalu menjaga mu di mana pun dirimu berada. Semoga dirimu mendapatkan pengganti yang lebih baik dari ku!" bisikan hati Nandini Sukma Dewi yang mulai belajar ikhlas untuk mengikhlaskan rasa cintanya yang tak kesampaian dan tidak bisa menyatu dengan sosok Zainal Abidin.😢😢
***
🌹🌹🌹 Flash back on 🌹🌹🌹
Di sisi lain, di kediaman Buya Harun dan Bunda Fatimah.
"Assalamu'alaikum ... Ayah-Bunda," ucap Zahrana setelah pulang dari kediaman Nandini Sukma Dewi bersama Muhammad Zaid Arkana berapa menit yang lalu.
"Yah, itu seperti suara Puteri kesayangan kita deh!" ucap Bunda Fatimah.
"Coba kita lihat dulu, Bun. Apa mungkin sudah hampir masuk waktu Maghrib Puteri kita pulang kemari? apa semua ini hanya halusinasi kita saja, karena terlalu merindukan kehadirannya di sini?" ucap Buya Harun dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Buya Harun dan Bunda Fatimah pun segera keluar dari dalam rumahnya, ketika mendengar suara lembut yang sangat dirindukan oleh mereka seolah-olah terdengar nyata di telinga, antara ada dan tiada sebab dalam hati dan pikiran mereka Zahrana kini berada di kota S, di rumah kakaknya Sabrina.
__ADS_1
Sesampai di depan pintu rumah, air mata Bunda Fatimah dan Buya Harun pun luruh lah sudah, ketika melihat yang hadir di hadapan mereka memang benar-benar Tsamirah Zahrana Az Zahra, Puteri kesayangan mereka.
"Assalamu'alaikum, Ayah-Bunda?" Zahrana mengulangi ucapan salamnya, ketika melihat raut wajah kedua orang terkasihnya itu masih mematung di tempatnya ketika melihat kehadirannya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " ucap Buya Harun dan Bunda Fatimah dengan penuh haru dan bahagia melihat kehadiran Puterinya.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra! kau kah ini? Puteri kesayangan Ayah dan Bunda?" tanya Bunda Fatimah dengan menyentuh wajah Puterinya, yang kini nampak terlihat cantik nan ayu parasnya. Membuat Bunda Fatimah rasa tak percaya kecantikan Puterinya yang semakin hari semakin sempurna dan nampak mempesona.
Zahrana menghamburkan diri kedalam pelukan bundanya, tak lupa pula ia menciumi punggung tangan bidadari tak bersayapnya itu.
"Bunda, Zahra rindu dengan Ayah dan Bunda!" ucap Zahrana dengan meneteskan air matanya.
"Bunda juga rindu dan kangen sekali dengan Zahra!" ucap Bunda Fatimah dengan mengecup kening Zahrana dan membelai lembut pucuk kepala Zahrana yang tertutup hijab.
Setelah melepas rindu dengan Bunda Fatimah, Zahrana pun menyalami dan memeluk Buyanya.
"Buya, Zahra juga kangen dan rindu sekali dengan Buya!" ucap Zahrana dengan memeluk erat Buyanya.
"Buya juga sangat merindukan mu, Nak!" ucap Buya Harun dengan mengelus pucuk kepala Zahrana.
Setelah melepas rindu di hati mereka masing-masing, Buya Harun dan Bunda Fatimah baru menyadari akan kehadiran Muhammad Zaid Arkana di sisi mereka.
"Subhanallah ... Nak Zaid, maaf Buya dan Bunda Fatimah sampai lupa dengan keberadaan mu. Mari masuk! sebentar lagi sholat Maghrib," ucap Buya Harun dengan mempersilahkan Zaid untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Iya, Nak Zaid. Mari silahkan masuk, maaf jika Bunda terlalu fokus dengan Zahrana, sehingga kami belum menyadari akan keberadaan mu!" ucap Bunda Fatimah dengan ikut mempersilahkan Zaid masuk ke dalam rumahnya.
"Iya, tidak apa-apa Bunda. Sangat wajar jika Buya Harun dan Bunda Fatimah pun menomorsatukan kehadiran Zahrana, Puteri Buya dan Bunda. Sebab, jarang sekali bersua!" ucap Zaid dengan senyum tulusnya.
Zaid pun masuk ke dalam rumah di ikuti pula oleh Zahrana dengan gaya santun dan lembutnya.
"Kak, silahkan duduk! Zahra buat kan minuman hangat dulu untuk kakak. Sepertinya kakak kedinginan dan kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh menemani Zahrana dari kota S, mengantar dan menjemput Zahra di Aisyah Boutique Colection. Hingga menemani dan mengantar Zahra pulang ke Desa ini!" ucap Zahrana.
Belum sempat Zahrana mengambilkan minuman hangat untuk Zaid bunyi tabuhan bedug dan kumandang adzan pun memanggil dan bergema di penjuru kediaman Zahrana. Desa di mana Zaid dan Zahrana kini berpijak.
"Maa syaa Allah ... adzan Maghrib sudah berkumandang, kakak ke Mesjid dulu Ra!" ucap Zaid dengan segera berangkat dari tempat duduknya.
"Iya, kak silahkan! pergi berbarengan dengan Buya Harun saja, kak!" titah Zahrana.
"Baiklah!" ucap Zaid dengan melemparkan senyumannya pada Zahrana.
Tak ayal senyuman dan tatapan Zaid yang syarat makna itu, membuat jantung hati Zahrana terpana oleh kharisma Muhammad Zaid Arkana.
"Astaghfirullah! ini pandangan mata dan jantung hati kenapa akhir-akhir ini kau sangat sulit untuk dikondisikan?" gumam Zahrana pada dirinya sendiri.
"Jangan sampai aku jatuh hati pada sosok Muhammad Zaid Arkana!" bathin Tsamirah Zahrana Az Zahra.
Buya Harun yang menyadari arti keterpanaan antara Puterinya Zahrana dengan sosok Muhammad Zaid Arkana pun segera mengambil langkah seribu. Ia tidak ingin membiarkan kedua anak muda itu saling terpana satu sama lain. Sebab, sampai detik ini pun, Buya Harun masih mengharapkan santrinya yang bernama Yusuf Amri Nufail Syahrazy yang menjadi menantunya, sosok imam yang akan membimbing Puterinya dalam menyelami bahtera hidup untuk menggapai keridhoannya di dunia hingga akhirat.
"Nak Zaid, mari kita segera berangkat ke Mesjid! sebelum kumandang adzan Maghrib selesai," ucap Buya Harun dengan merangkul pundak Zaid agar segera mengalihkan pandangannya pada sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra Puteri kesayangannya.
Zaid pun segera melenggang pergi ke Mesjid mengikuti langkah Buya Harun Al Azis dengan meninggalkan Zahrana yang masih berdiri mematung di tempatnya.
🌹🌹🌹 Flash back off 🌹🌹🌹
***
Masih di kediaman Buya Harun dan Bunda Fatimah.
"Zahra, Apa kau sudah selesai menunaikan ibadah shalat Maghrib mu, Nak?" tanya Bunda Fatimah dengan penuh kelembutan, ketika melihat Zahrana sedang berkutat di dapur membuatkan dua gelas susu jahe hangat dengan penuh semangat untuk dirinya dan juga susu jahe special untuk Muhammad Zaid Arkana yang kini masih belum pulang dari Mesjid bersama Buya Harun Al Aziz.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... sudah, Bunda!" ucap Zahrana dengan binar mata indahnya yang terlihat bercahaya oleh tetesan air wudhu yang masih membekas di paras wajah ayunya.
"Hemmm ... Bunda lihat kau begitu bersemangat sekali membuatkan susu jahe untuk pemuda yang bernama Muhammad Zaid Arkana itu?" tanya Bunda Fatimah dengan rasa penasaran. Sebab tidak biasanya ia melihat Puterinya nampak bersemangat sekali melakukan rutinitasnya.
Zahrana tersenyum mendengar ucapan Bunda Fatimah.
"Nggak kok, Bun. Zahra hanya menghargai kak Zaid, sebab ia sudah berkenan menemani dan mengantarkan Zahra kemari. Ba'da isya nanti kami harus balik lagi ke kota S. Jadi, stamina harus tetap dijaga. Mesti di kasih asupan makanan yang menyehatkan tubuh," ucap Zahrana dengan menyembunyikan perasaannya.
"Aku tidak mungkin jatuh hati pada kak Zaid, di hatiku hanya ada kak Yusuf!" bathin Zahrana dengan pikiran yang bercabang.
"Syukurlah jika begitu, Bunda bisa merasakan ketenangan. Sebab, Bunda tidak ingin anak Bunda menempuh jalan pacaran. Ingat! Buya mu telah menjodohkan mu dengan santrinya Yusuf Amri Nufail Syairazy, anak temannya ayah mu yakni Abi Farhan Habib dan Ummi Yasmin Alta Funnisa."
"Awalnya, Bunda mengira Ayah mu dan Abinya Yusuf hanya sekedar ucapan saja. Rupanya memang mereka menginginkan kalian berjodoh, Bunda sih setuju saja, namun bukan untuk saat ini. Bunda ingin kau meraih cita-cita mu dulu. Kau baru boleh menikah jika usia mu sudah menginjak 25 tahun!" tegas Bunda Fatimah dengan menatap lekat pada wajah Zahrana.
"Insya Allah Bunda, Zahra pun sedang memantaskan diri agar bisa bersanding dengan kak Yusuf!" ucap Zahrana dengan meyakinkan dirinya.
"Baiklah, Bunda senang mendengarnya. Bunda siapkan makan malam dulu untuk kalian sebelum kalian kembali ke kota S!" ucap Bunda Fatimah dengan penuh kasih.
"Iya, Bun. Terimakasih untuk semuanya, nanti setelah menyiapkan cemilan dan minuman untuk kak Zaid. Zahra bantu Bunda menyiapkan makan malam."
"Sama-sama, Nak. Biarkan Bunda yang menyiapkan makan malamnya, kamu istirahat dulu! Bunda tidak ingin Zahra capek dan lelah. Besok pagi Zahra harus bekerja lagi!" ucap Bunda Fatimah dengan mengelus pucuk kepala Zahrana.
"Baiklah, Bun!"
Zahrana pun menuruti ucapan Bundanya. Ia pun telah selesai menyiapkan susu jahe hangat dan cemilan untuk Muhammad Zaid Arkana.
Di tengah aktivitasnya Zahrana tidak menyadari jika adiknya Raihan Arman Habibie sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya.
Zahrana tidak tahu jika sudah satu Minggu ini Raihan kembali dari Pondok Pesantren Islamic Center di Desa XX. Raihan sudah selesai ujian dan pengambilan raport, ia sudah naik kelas 2 setara SMP di Pondok Pesantren tersebut. Ia pulang ke Desa dengan memanfaatkan waktu libur sekolah selama 2 Minggu.
"Assalamu'alaikum, kakak ku yang cantik nan Sholihah!" sapa Raihan dengan gaya religiusnya, setelah menunaikan ibadah shalat Maghrib di Mesjid.
Katakanlah, kini usia Raihan sudah menginjak 13 tahun, ia bukan anak kecil lagi. Ia pun telah bertumbuh menjadi anak remaja, seperti halnya Zahrana tempo dulu ketika masih mengenyam bangku SMP.
"Wa'alaikumsalam Warrahmahtullahi ... " sahut Zahrana dan Bunda Fatimah.
"Raihan, kau kah ini?" pekik Zahrana dengan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan adik semata wayangnya itu.
"Kakak sangat merindukan mu, Rai!" ucap Zahrana penuh haru.
"Raihan juga merindukan kakak!" ucap Raihan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kedua kakak beradik itu pun saling melepas rindu, setelah satu tahun tidak pernah bertemu semenjak Raihan masuk Pondok Pesantren. Sedangkan Zahrana sendiri jarang pulang ke rumah, semenjak ia tinggal di kota S. Di kediaman kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra.
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉"Perpisahaan selalu mengajarkan kita untuk menghargai, bahwa setiap detik bersama orang yang kita cintai adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan."
🌻
🌻
🌻
Sambil menunggu update selanjutnya author punya rekomendasi karya bagus untuk mu, kak.😊😘
Judulnya : Wanita Pengganti Kekasih Sang Ceo
Nama Authornya : SyaSyi
__ADS_1