Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
219. Penuh Dengan Pesona


__ADS_3

Zahrana, Raihan dan Yusuf Amri Nufail Syairazy berjalan beriringan menuju prosesi pernikahan Nandini Sukma Dewi. Mereka bertiga terlihat sangat serasi dengan fashion bernuansa putih yang mereka kenakan.


Semua orang nampak terpana melihat penampilan ketiganya yang sangat berbeda dari tamu undangan lainnya. Bisa dibilang mereka begitu penuh dengan pesona.


Zahrana dengan jubah syar'i yang di kenakannya, sehingga nampak anggun dan penuh pesona.


Sedangkan Yusuf dengan gamis Ikhwan lengan panjang semata kaki, lengkap dengan sorban yang melingkar di kepalanya menambah kesan religiusnya. Di tambah dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, sehingga membuat ia terlihat sangat keren, bisa di bilang seperti Ustadz gaul penerus generasi muda masa depan.😍😍


Raihan dengan penampilan yang tak kalah religiusnya dari Yusuf. Mengingat dirinya yang masih remaja, Raihan sungguh sangat luar biasa. Mampu membalut dirinya dengan pakaian yang syar'i dari sejak dini sudah terlihat jelas, baik, bobot dan bibitnya



Semua orang yang hadir di pernikahan Dini dan Arjuna nampak terpukau dengan penampilan seseorang Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"OMG, pemuda tersebut benar-benar tampan dan keren sekali, seperti pangeran Arab!" pekik kaum hawa yang terdiri dari anak-anak remaja, dewasa dan para ibu-ibu yang sedang menghadiri pernikahan Nandini dan Arjuna.


Semula mereka nampak menikmati hiburan yang ada di pernikahan Dini, namun kini perhatian mereka beralih ke Yusuf.


Para tamu undangan yang terdiri dari kaum hawa pun menyerbu ke arah Yusuf, masing-masing menyalakan ponselnya untuk mengabadikan momen yang sangat berharga tersebut.


Yusuf nampak kewalahan sebab kaum hawa tiba-tiba menyerbu ke arahnya dan memintanya untuk berselfi ria dengan mereka.


Yusuf berusaha untuk menghindari kerumunan para kaum hawa tersebut. Perhatiannya kini tertuju kepada Zahrana yang nampak cemburu kepadanya, "Maafkan aku Zahrana aku tidak bermaksud untuk membuat mu merasakan tak nyaman seperti ini. Maafkan aku bukan maksud ku hendak menyakiti mu!" Yusuf sengaja tidak membuka kaca matanya. Ia tidak ingin jika para kaum hawa semakin terpesona ketika melihat manik matanya, namun siapa sangka dengan kacamata yang bertengger di hidungnya justru semakin membuatnya penuh dengan pesona.


"Maa syaa Allah, kau begitu tampan sekali anak muda! maukah jika aku menjodohkan mu dengan putri ku?" ucap seorang ibu-ibu tampa filter.


Yusuf tersersenyum mendengar ucapan ibu-ibu tersebut. "Maaf, saya sudah mempunyai calon istri Bu!" ucap Yusuf sambil menunjuk ke arah Zahrana. Membuat Zahrana nampak tersipu malu.


Zahra masih menggandeng tangan adiknya Raihan, mereka berdua saling melemparkan senyumannya, kala melihat ibu-ibu dan para kaum hawa yang hadir di sana nampak ternganga dan tak percaya jika Yusuf adalah calon imam Zahrana.

__ADS_1


"Maa syaa Allah, bukan kah kamu Zahrana anaknya Buya Harun? kamu cantik pisan, Nak. Lama sekali ibu tak melihat mu, tahu-tahu telah di pinang oleh pangeran tampan!" ucap seorang ibu-ibu dengan tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada Yusuf dan Zahrana secara bergantian.


"Betul sekali, mereka sangat serasi. Yang satu tampan, yang satu cantik bak bidadari turun dari kahyangan!" ucap ibu-ibu yang satunya lagi, membuat wajah Zahrana bersemu merah.


"Kak, ayo kita menemui mempelai pengantin di pelaminan!" ajak Zahrana sambil menatap sekilas ke arah Yusuf.


"Iya kak, Raihan kira semua orang sudah menjaga jarak dari kakak setelah tahu kakak sudah menjadi calon untuk kak Zahra," ucap Raihan menambahi.


"Baiklah," ucap Yusuf dengan mengikuti langkah kaki Zahrana dan Raihan menuju panggung pelaminan.


Nandini nampak senyum sumringah, melihat kehadiran Zahrana bersama Raihan juga seorang pemuda yang ikut serta bersama Zahrana dan Raihan. Ia hampir-hampir tidak mengenali lagi sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy yang benar belajar mengaji bersama mereka di padepokan Buya Harun Al Aziz ayah Zahrana.


"Maa syaa Allah, princess Zahra. Terimakasih atas kehadiran mu, aku sungguh sangat merindukan mu!" ucap Nandini dengan meneteskan air mata bahagianya. Ia pun memeluk dan mencium pipi sahabatnya itu.


"Sama-sama, Din. Selamat ya atas pernikahannya, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah." Zahrana pun balas merangkul erat sahabatnya itu. Keduanya nampak melepaskan rasa rindunya.


Sementara Yusuf nampak tenang dan santai mendengar ucapan Nandini yang menyebut nama Zaid. Ada kecemburuan yang perlahan menyelinap dihatinya. Namun, ia berusaha tenang. Ia tidak ingin berburuk sangka pada Zahrana. Baginya telah berhasil mengkhitbah Zahrana itu adalah suatu anugerah yang sangat luar biasa untuknya. Apalagi dua bulan lagi mereka akan segera menikah.


Nandini mengerlingkan pandangannya ke arah Zahrana, ia masih menggenggam erat jemari sahabatnya itu, manik matanya berbinar ketika menyaksikan cincin emas melingkar di jemari Zahrana sahabatnya.


"Jadi, kau telah resmi dilamar? siapa pemuda itu?" tanya Nandini dengan rasa takjubnya.


"Kak Yusuf Amri Nufail Syairazy!" jawab Zahrana dengan membolakan matanya sempurna.


"Whattttt?" pekik Nandini histeris. Ia merasa tak percaya jika Zahrana kini te lah di lamar oleh Yusuf Amri Nufail Syairazy. Yang ia tahu Yusuf masih di Kairo.


Nandini ingin bertanya lagi, namun Raihan yang tidak sabaran mengantri pun melakukan aksi protes.


"Iya benar, itu kak Yusuf. Ia sudah pulang dari Mesir, kak Dini lagi di pelaminan fokus dengan tamu undangan lainnya yang sedang mengantri. Raihan capek nunggu antriannya, berkisahnya nanti saja deh, kalau sudah tidak urgent lagi. Masih banyak waktu dilain kesempatan!" seloroh Raihan yang memang tidak betah di keramaian.

__ADS_1


Apalagi mendengar alunan musik yang bertalu-talu terasa merusak gendang telinganya. Sebab, di Pesantren Raihan tidak pernah mendengar musik-musik. Ia hanya disibukkan dengan kegiatan belajar mengaji ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu Agama Islam. Jadi, wajar jika ia merasa risih dengan keramaian seperti ini. Ini pertama kalinya Raihan menemani kakaknya kondangan.


Nandini melebarkan tawanya ketika memandang wajah kusut Raihan.


"Iya deh, sana ambil minuman dulu biar tidak gerah!" seloroh Nandini pada Raihan.


"Ayo, Kak. Kita duduk disebelah sana, Raihan tidak mau terlalu berdekatan dengan para tamu lainnya." Raihan menunjukkan tempat yang agak jauh dari keramaian.


"Maaf kak Dini, kita bukan mahramnya. Jadi Raihan hanya menyalami suami kakak dan orang tua laki-laki kakak," ucap Raihan tertawa renyah. Dari sejak dulu hingga sekarang mereka memang suka bersenda gurau.


Nandini mengacungkan jempolnya, meskipun ia berada di pelaminan gaya metalnya tetap terlihat dan tidak pernah hilang meski dalam keadaan apapun.


Zahrana, Raihan dan Yusuf pun segera menunjuk kursi khusus untuk para tamu undangan. Mereka bertiga nampak kompak dan serasi.


Semua mata memandang ke arah mereka, "OMG, si Zahrana beruntung deh punya calon yang tampan, sholih dan berkharisma. Pemuda tersebut penuh dengan pesona!" ucap seorang gadis terhadap teman-temannya. Mereka nampak terpukau melihat pesona Yusuf.


"Kira-kira dimana ya, Zahra menemukan entu pemuda. Aku jika nemu pemuda seperti itu nggak bakal nolak, namun satu hal yang sangat aku takutkan iq yang akan menolak ku, mengingat standar keimanan ku masih dibawah rata-rata," ucap salah satu gadis lagi bersama ketiga orang teman-temannya. Mereka pun tertawa renyah.


**


Sementara di sisi lain, Aslan yang bertugas membantu panitia lainnya mempersiapkan jamuan dan lain-lainnya, nampak menatap nyalang ke arah Yusuf, yang menurutnya benar-benar telah merebut perhatian Zahrana darinya.


"Awas saja dirimu Yusuf Amri Nufail Syairazy, tak kubiarkan kau bersanding dengan Zahrana, ia harus kembali pada ku dan menjadi milik ku seutuhnya!" bathin Aslan yang kini didera rasa cemburu terhadap kebersamaan Zahrana dan Yusuf. Aslan pun segera menjauh dari keramaian. Ia pun menghubungi seseorang untuk melakukan aksi nekatnya.


"Lenyapkan seorang pemuda yang ku kirimkan fotonya ini! jangan biarkan ia terus mendekati wanita ku!" ucap Aslan di seberang telfon.


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah 👉"Balas dendam memang dapat memuaskan hatimu, tapi itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik. Terkadang cara menyadarkan adalah dengan membalas. Jangan mengharapkan kebahagiaan bersama dia yang baru, dengan membawa dendam kepada yang lama. Orang lemah, balas dendam. Orang kuat, memaafkan. Orang cerdas, mengabaikannya."

__ADS_1


__ADS_2