
"Astagfirullah ... benarkah Nandini telah melakukan hubungan di luar nikah bersama Arjuna Restu Pamungkas?" Zahrana bertanya-tanya pada hati kecilnya.
Zahrana terus berperang melawan pergolakan batinnya. Ia merasa prihatin dengan keadaan Nandini Sukma Dewi sahabatnya. Sungguh, ia pun tidak menyangka jika Nandini sahabatnya yang terkenal dengan gaya metalnya dan sifat tomboynya bisa tergoda dengan bisikan hawa nafsu sesaatnya.
Namun, Zahrana tidak bisa sepenuhnya untuk mendugde sahabatnya. Sebab, ia pun pernah tercebur dalam jerat lumpur dosa bersama Aslan Abdurrahman Syatir 4 tahun yang lalu. Meskipun itu hanya berupa ciuman saja dan tidak sampai berujung melakukan hubungan terlarang seperti halnya Nandini dan Arjuna.
Akan tetapi Zahrana tetap merasakan itu adalah sebuah kesalahan yang fatal dan dosa yang sangat besar, hingga sampai detik ini pun ia masih ingat dengan kejadian panasnya dengan Aslan di Pantai Indah Kenangan Bersama tempo dulu.
Zahrana menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mencoba menepiskan serpihan bayang-bayang tersebut. Ia seolah merasakan kepedihan yang di alami oleh Nandini sahabatnya. Bagaimana beratnya harus menanggung resiko hamil diluar nikah.
Tentunya menjadi pro dan kontra dalam keluarga dan gunjingan dari berbagai pihak lapisan masyarakat yang tidak segan-segan akan terus menggunjing aib kita. Zahrana menghembuskan nafas beratnya, ia begitu mengkhawatirkan Nandini Sukma Dewi.
Sementara Aslan duduk termangu di kursinya, sembari menggenggam jemari tangan Nandini yang masih terpejam dan tidak sadarkan diri akibat syok dengan kejadian yang menimpanya.
"Kring ...."
"Kring ...."
"Kring ... " ponsel Aslan berbunyi.
📞 "Hallo ... Assalamu'alaikum, Aslan kamu dimana, Nak? toko sedang ramai pengunjung, juga counter mu banyak pelanggan yang berdatangan. Adik mu Nandini juga tidak kelihatan sejak tadi, Ibu dan Ayah kelabakan. Untung masih ada Sera dan Raina pegawai kita yang bantu Ibu," ucap Ibu Ratna Anjani tanpa jeda.
📞 "Maaf, Ibu. Aslan di rumah sakit, Nandini rawat inap Bu. Ia tiba-tiba drop," ucap Aslan tanpa memberitahu perihal Nandini drop. Ia tidak ingin ibunya syok jika Nandini sedang hamil muda.
📞 "Apa? adikmu sakit? Nandini sakit apa? Ibu akan segera kerumah sakit sekarang!" ucap Ibu Ratna Anjani yang terlihat cemas dengan keadaan Puterinya.
📞 "Sebaiknya Ibu besok pagi saja kemari, hari pun sudah larut malam, Bu. Nandini biar Aslan yang jaga."
📞 "Tidak bisa, Nak. Ibu harus mengetahui bagaimana keadaan adikmu."
Ibu Ratna pun menutup telfonnya.
"Sera, Raina, sekarang kalian pulang lebih awal. Ibu hendak ke Rumah Sakit, silahkan tutup tokonya!"
Ibu Ratna meminta pegawai Toko dan Pegawai Counternya untuk segera berbenah diri.
"Baiklah, Bu." Sera dan Raina pun segera berbenah diri dan menutup Toko Sembako dan Counter Aslan Cell.
"Yah, kita kerumah sakit sekarang! Puteri kita Nandini Sukma Dewi masuk Rumah Sakit," ucap Ibu Ratna dengan nada serius.
"Subhanallah ... sakit apa Puteri kita, Bu?" Pak Anjasmara memakai jaket kulitnya dan segera menyambar kunci mobilnya, ia ingin segera menjenguk Nandini Sukma Dewi Puteri kesayangannya.
Setelah Toko Sembako dan Counter mereka di tutup dan Pegawai mereka telah pulang. Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani segera beranjak menuju Rumah Sakit Medika.
Dalam waktu 35 menit, dan dengan kecepatan tinggi akhirnya Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani sampai di Rumah Sakit yang di tuju.
Kedua orang tua Nandini pun nampak tergesa-gesa masuk kedalam ruang yang ada di Rumah Sakit. Ia ingin segera bertemu dengan Nandini.
Setelah bertanya pada suster yang bertugas di sana, Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara segera mencari dimana tempat Nandini di rawat. Mereka masuk ke ruang VVIP, tempat di mana Nandini kini terbaring lemah.
"Ceklekkk ... " kedua orang tua Nandini pun perlahan membuka pintu ruang rawat inap Nandini.
Aslan dan Zahrana menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Bu Ratna, Om Anjas?" sapa Zahrana.
Ayah Anjasmara membalas dengan senyuman, sedangkan Ibu Ratna Anjani menampakkan wajah masamnya. Ibu Ratna tidak senang dengan kehadiran Zahrana di sisi mereka.
Melihat Zahrana dihadapannya, Ibu Ratna Anjani seolah-olah merasa seperti ada musuh dan benalu dalam pandangannya. Namun, ia kemudian berusaha untuk mengontrol emosinya.
Ibu Ratna langsung menghampiri Nandini yang masih terbaring lemah di brankarnya.
"Nak, kamu kenapa? apa yang terjadi pada mu?" Ibu Ratna mengelus rambut Nandini dan mencium jemari tangan Puteri kesayangannya.
Namun, Nandini tetap tidak sadarkan diri.
"Cepat sadar, Nak. Ibu disini!" ucap Ibu Ratna pilu.
"Nandini, Yah. Puteri kita, ia tidak sadarkan diri," ucap Ibu Ratna cemas.
"Sabar Bu, insya Allah nanti Dini akan sadar. Mungkin ia lelah," ucap Ayah Anjasmara.
Ibu Ratna pun menyandarkan kepalanya dibahu Ayah Anjasmara sebagai tempat bersandarnya.
"Ibu, Aslan dan Zahra keluar dulu, Bu. Sepertinya Zahra harus Aslan antarkan pulang dahulu, khawatir orang tuanya bertanya-tanya dan menunggu kehadirannya."
Ibu Ratna mengangguk dengan tatapan yang tidak bersahabat terhadap Zahrana.
"Iya tidak apa-apa, sebaiknya kamu segera antarkan Nak Zahrana pulang dulu!" ucap Ayah Anjasmara. Sedangkan Ibu Ratna Anjani enggan menatap ke arah Zahrana. Ia hanya fokus melihat keadaan Nandini anaknya.
"Sakit apa kamu, Nak? Ibu sangat mencemaskan mu," ucap Ibu Ratna Anjani dengan air mata yang mulai menetes dari sudut matanya. Ia sangat terpukul melihat puterinya yang terbaring lemah.
Aslan mengantarkan Zahrana pulang ke rumahnya, sementara yang menjaga Nandini Sukma Dewi adalah Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani.
"Ana, jangan lupa pakai sabuk pengaman mu!" titah Aslan sebelum menjalankan mobilnya.
Zahrana pun menuruti, ia pun segera memakai sabuk pengamannya.
Baru 10 menit perjalanan, perut Zahrana berbunyi kriuk. Ia merasa sangat lapar, sebab setelah membantu Buya Harun mengajar Santriwan dan Santriwati di Padepokan, Zahrana belum sempat makan malam. Sebab, Nandini yang tiba-tiba sakit, mengharuskannya untuk mengantarkan sahabatnya itu ke Rumah Sakit.
Aslan menepikan mobilnya di sebuah rumah makan Padang. Ia ingin mengajak Zahrana untuk mengisi perutnya dahulu, sebelum melanjutkan perjalanannya.
"Kenapa berhenti, Kak?" tanya Zahrana, tanpa melihat wajah Aslan.
Zahrana berusaha menundukkan pandangannya, sebab hanya ia dan Aslan yang berduaan di dalam mobil. Zahrana terlihat gemetaran, sebab sudah 4 tahun terakhir ini ia tidak pernah lagi berduaan dengan laki-laki manapun. Ia benar-benar menghindari bersitatap dengan yang bukan mahramnya.
"Kita mampir untuk makan dulu, An. Sepertinya kau belum sempat makan malam tadi, sebab langsung mengantarkan Nandini kerumah sakit."
"Tidak apa-apa, Kak. Zahra makan di rumah saja," ujar Zahrana menolak. Walaupun sebenarnya ia merasa sangat lapar.
"Sudah, jangan menolak! anggap saja ini sebagai bentuk rasa terima kasih ku, sebab kau telah membantu ku untuk mengantarkan adik ku ke Rumah Sakit."
Zahrana pun akhirnya menerima tawaran Aslan, sebab ia pun benar-benar merasa lapar.
"Baiklah!" ucap Zahrana tanpa melihat ke arah Aslan.
Namun, tidak dengan Aslan ia nampak terpesona dengan kecantikan dan keanggunan Zahrana yang berbalut hijab di dadanya. Zahrana benar-benar berpakaian tertutup dari atas kepala sampai ujung kakinya.
__ADS_1
"Ya Allah ... Aku kagum pada mu, Ana. Mungkinkah kau masih menerima diri ku untuk mu, aku ingin mempersunting mu untuk menjadi permaisuri ku. Sungguh, aku masih mencintaimu Zahrana!" bathin Aslan di dalam hatinya.
Zahrana ingin turun dan membuka sabuk pengamannya. Namun, kesulitan. Aslan pun refleks membantu Zahrana.
Zahrana kaget, tubuhnya terasa bergetar ketika hembusan nafas Aslan terasa dekat diwajahnya.
"Kak, bi-biar Zahra saja yang membukanya!" ucap Zahrana gelagapan.
"Tidak, Ana kau seperti kesulitan. Entah kenapa sabuk ini sulit untuk di buka, biasanya tidak merepotkan seperti ini." Sabuk pengaman itu pun berhasil di buka oleh Aslan.
Zahrana berusaha menetralkan perasaannya.
"Ya Allah ... jangan sampai hamba jatuh hati pada kak Aslan seperti dulu lagi, aku sudah melupakan dan menguburkan semua kenangan itu!" bathin Zahrana.
Zahrana ingin membuka pintu mobil disampingnya. Namun, ia kalah satu langkah dengan Aslan. Bukan handle mobil yang ia pegang, namun malah tangan Aslan yang ia genggam.
Seketika mereka berdua pun beradu pandang. Aslan menatap lekat manik mata indah itu. Wajah Zahrana yang mungil, hidungnya yang mancung dengan kulit putih mulusnya, dan bibirnya yang terlihat ranum dan menggoda membuat bir*hi Aslan yang telah lama meredup dan mati rasa kini pun seolah bergejolak kembali setelah pun perpisahan 4 tahun yang lalu dengan sang pujaan hatinya.
Tak pelak kuntum bunga itu pun kini nampak jelas di depan matanya. Ia tidak ingin kehilangan Zahrana untuk yang kedua kalinya. Namun, ia berusaha untuk menetralkan rasanya. Ia tidak ingin lepas kendali dan melakukan hal-hal yang di luar kendali pada Zahrana. Ia tidak ingin kejadian panas 4 tahun yang lalu terulang kembali.
Zahrana memalingkan wajahnya, ia tanpa gugup dan gemetaran sebab tangannya tiba-tiba bersentuhan dengan Aslan.
"Ma-af, Kak." Zahra segera turun dari mobil milik Aslan. Ia segera masuk ke rumah makan Padang. Di susul pula oleh Aslan.
"Ya Allah ... jangan biarkan hamba terjerat dengan masa lalu hamba, jauhkan lah hamba dari segala bentuk perzinahan dan kemaksiatan yang dapat menghancurkan duduk keimanan hamba," bisikan hati Zahrana.
Zahrana pun segera memesan makanan untuknya, begitu pun dengan Aslan. Mereka sama-sama terdiam dan menjaga jarak setelah apa yang terjadi barusan. Sebab Aslan tidak ingin membuat Zahrana merasa tidak nyaman dengannya.
Aslan merasa bahagia, sebab setelah 4 tahun berpisah. Malam ini ia bisa bersama dengan Zahrana. Sentuhan tangan Zahrana yang lembut tanpa di sengaja, tak ayal membuat perasaan Aslan terasa berbunga-bunga. Walaupun pada kenyataannya, Zahrana selalu berusaha menghindarinya.
Zahrana nampak menikmati hidangan dihadapannya, menu masakan Padang favoritnya Ayam bakar sambal cabe ijo berserta lalapannya, juga kuah santan kental yang menjadi menu pelengkapnya, seolah-olah menjadi menu yang paling enak di indera pengecapnya.
Aslan menatap lekat nanar wajah sosok Bidadari yang dirindukannya itu, tanpa sadar ia pun berucap oleh karena keterpanaannya pada pesona Zahrana yang semakin terlihat anggun dengan hijab yang di kenakannya, "Aku masih mencintai mu Zahrana!" ucap Aslan spontan. Hingga terdengar oleh indera pendengaran Zahrana.
Zahrana tersedak mendengar ucapan Aslan yang tiba-tiba tertuju padanya.
Aslan pun segera memberikan jus jeruk pada Zahrana, Zahrana pun refleks menerima dan meminumnya.
"Kak Aslan, kau---"
Ucapan Zahrana terjeda. Aslan tiba-tiba mengusap sudut bibir Zahrana yang tersisa oleh butiran nasi, tanpa sempat Zahrana menghindarinya. "Iya, aku masih mencintaimu Zahrana!" ucap Aslan mengulangi kalimatnya.
Zahrana membeku di tempatnya. Sekian tahun ia menghindari Aslan dan jangan sampai seujung kukunya bersentuhan dengan laki-laki manapun dan malam ini pun ia tak sengaja bersentuhan dengan pria tampan dan mempesona dihadapannya setelah 4 tahun terakhir ini ia berusaha menjaga kesucian dirinya.
"Kita pulang!" ucap Zahrana. Tanpa menoleh ke arah Aslan.
Aslan pun setengah berlari mengejar Zahrana setelah membayar uang makanan mereka.
"Zahrana, tunggu!" pekik Aslan.
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉 "Semua manusia tentu tak mau dirinya berlumuran dosa, namun seolah buta ketika dosa itu berwujud cinta." ( Fakta )
__ADS_1