
Di Aisyah Boutique Collection.
"Ya Allah ... sungguh aku lelah dengan rasa ku sendiri, semoga rasa dihatiku terhadap kak Yusuf tidak bertepuk sebelah tangan. Semoga dia masih mengingat ku dan mengingat kembali janji yang telah ia ucapkan untuk mengkhitbah ku nantinya."
"Sungguh aku tidak ingin merasakan rindu di sepenggal hati, sedangkan aku tidak tahu apakah rasa di hatinya masih seperti dulu atau bahkan ia telah melupakan ku?" bathin Zahrana.
"Sungguh ... aku benar-benar merindukan mu kak Yusuf Amri Nufail Syairazy!" ucap Zahrana seraya menyandarkan kepalanya di kursi Aisyah Boutique Collection.
Zahrana pun memainkan ponsel Nokia 3315 miliknya, ia pun memainkan permainan Big Snake di ponsel jadul itu, yang mana pada zamannya permainan ular besar tersebut sangat digandrungi oleh muda-mudi di zaman itu.
"Ya Allah ... aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi," bathin Zahrana.
"Kenapa wajah kak Zaid kembali terngiang-ngiang di benakku, di saat aku sedang merindukan kak Yusuf? kenapa ia hadir ketika diriku benar-benar ingin Hijrah dan ingin memantaskan hatiku hanya untuk satu hati saja?" bisikan hati Zahrana.
Zahrana pun menghentikan permainan Big Snake-nya, ia pun segera mengambil wudhu di wastafel Aisyah Boutique Collection.
"Lebih baik aku melakukan ibadah sholat Sunnah Dhuha dulu, mumpung jam baru menunjukkan pukul 10.15 WIB. Bukankah sebelum waktu sholat Dzuhur tiba masih ada kesempatan untuk melakukan ibadah shalat Sunnah Dhuha, mumpung pelanggan Aisyah Boutique pun masih terlihat sepi, lebih baik aku menggunakan waktu ku untuk hal-hal yang positif ketimbang memikirkan sesuatu yang belum jelas sebab akibatnya."
"Memikirkan seseorang yang belum tentu merindukan kita, yang kita sendiri pun tidak pernah tahu ia jodoh kita atau bukan? Aku pun tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti yang pernah ku lakukan bersama kak Aslan 4 tahun yang lalu."
"Aku tak ingin merusak hati dan pikiran ku hanya karena bisikan nafsu sesaat, aku tidak ingin terjebak dalam rasa ku sendiri."
"Kak Yusuf dan Kak Zaid adalah sosok pemuda yang menghantui hati dan pikiran ku saat ini. Akan tetapi aku tidak ingin terbuai oleh rasa ku yang semu. Cukup sudah di masa yang lalu diri ku terjerat dalam lumpur dosa yang telah melalaikan hati dan jiwa ku dari mengingat Rabb ku, apalagi telah sampai ilmu kepada ku bahwa hal-hal yang mendekati dengan perzinahan sebisa mungkin harus di hindari, termasuk pacaran."
Berkaca dari pengalaman teman-temannya yang gugur dan layu sebelum berkembang, seperti halnya Nandini Sukma Dewi dan Arjuna Restu Pamungkas itu sudah cukup menjadi ibrah( pelajaran ) untuk Zahrana agar bisa mawas diri dan berusaha Istiqomah, agar terhindar dari pacaran, mengingat mudharatnya yang begitu besar.
Zahrana pun segera menghamparkan sajadahnya di Aisyah Boutique Collection, ia pun segera menunaikan ibadah sholat Sunnah Dhuha.
Zahrana nampak khusu' dalam sholatnya, ia benar-benar menikmati prosesnya untuk selalu mendekatkan diri pada Rabb-Nya.
Usai mengucapkan salam, Zahrana pun melanjutkan dzikir dan do'anya. Iya benar-benar meresapi setiap Zikir dan do'a yang di baca olehnya.
Zahrana mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, ia pun bermunajat pada Sang Maha Krekator dengan terus memuji kebesaran-Nya.
"Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, keagungan itu adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, dan kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu serta perlindungan itu adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rizqiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah. Jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh. Aamiin ... aamiin ya Rabbal'alaamiin."
Zahrana pun tidak lupa menutup do'anya dengan do'a sapu jagad, berharap Allah Subhanahuwata'ala mengampuninya dan memberikan kebahagiaan untuk dunia dan akhiratnya.
__ADS_1
Usai menunaikan Ibadah Sholat Sunnah Dhuha hati dan pikiran Zahrana pun nampak lebih tenang. Wajahnya pun terlihat sejuk dan bersinar oleh bekas tetesan air wudhu. Wajahnya pun nampak cerah, secerah mentari di waktu Dhuha.ππ
"Alhamdulillah ... terimakasih atas nikmat iman dan ketenangan jiwa yang telah Engkau hiasi dihatiku ya Rabb. Akhirnya, bayangan dan pikiran ku tentang Kak Yusuf juga kak Zaid pun perlahan memudar, segala keresahan itu pun sirna."
Zahrana nampak sumringah, ia tidak lagi di rundung kesedihan dan keresahan seperti tadi. Ia benar-benar terlihat cerah dan bahagia setelah bermunajat kepada Rabb-Nya.
"Semoga melalui ibadah sholat Dhuha ini Allah ampuni dosa-dosa ku di masa lalu dan masa yang akan datang," bathin Zahrana.
Sebagaimana keutamaan shalat Sunnah Dhuha salah satunya adalah berpedoman pada hadits Nabi besar Muhammad Shalallahu alaihi wasallam yang berbunyi :
βBarangsiapa yang menjaga shalat Dhuha, maka dosa-dosanya diampuni walaupun dosanya itu sebanyak buih dilautan.β (HR. Tirmidzi)
Merenungi hadist tersebut membuat hati dan pikiran Zahrana nampak tenang.
"Huftttt ... " Zahrana menghembuskan nafasnya, seraya menopang dagunya di atas meja kasir yang memang di sediakan khusus untuk karyawan gerai Aisyah Boutique Collection.
Di tengah lamunannya, Zahrana tidak menyadari jika Muhammad Zaid Arkana kini kembali menemuinya. Setelah sebelumnya ia pergi dengan urusannya, sebab tidak ingin terlalu lama berduaan dengan Zahrana.
Namun, baru berapa jam meninggalkan Zahrana, membuat Zaid merindukan sosok gadis yang memiliki seribu pesona itu.
Niat hati ingin menjemput Zahrana ba'da Ashar, namun belum juga waktu Ashar, dan waktu Dzuhur pun belum tiba Zaid pun kembali lebih awal dari rencana sebelumnya. Hanya untuk melihat Zahrana di gerai Aisyah Boutique Collection.
"Ya Allah ... betapa indah dan sempurnanya kau ciptakan makhluk yang bernama wanita. Maa syaa Allah ... kau nampak cantik dan mempesona Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Muhammad Zaid Arkana.
"Sempurnaaa!" ucap Zaid spontan, sehingga membuyarkan lamunan Zahrana.
"Kakak, Kak Zaid. Kau disini? sejak kapan kakak kembali?" tanya Zahrana, dengan nada kagetnya. Ia merasa tidak enak hati ketika Zaid sudah sejak tadi mengawasinya.
"Ma-af, kakak mengagetkan mu. Hemmm ... kakak berdiri di sini sejak 5 menit yang lalu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Zaid seadanya.
Zahrana tertunduk malu, wajahnya nampak bersemu merah oleh godaan Zaid terhadapnya.
"Ya Allah kenapa ritme jantung ku, semakin bertalu-talu seperti ini jika berhadapan dengan kak Zaid?" bisikan Hati Zahrana.
Zaid mengambil bungkusan nasi Padang yang pagi tadi sempat ia belikan untuk Zahrana. Namun, ia merasa risih jika melihat Zahrana sudah hampir masuk pukul 11 siang belum juga menyentuh makanannya.
"Kenapa belum dimakan nasinya? ini sudah masuk tengah hari, nanti kamu masuk angin. Kemarilah buka mulut mu! biar kakak suapi," ucap Muhammad Zaid Arkana. Ia refleks menyodorkan sendok nasi kedalam mulut mungil Zahrana.
__ADS_1
"Maaf, Zahra belum lapar Kak. Makanya belum disentuh makanannya," kilah Zahrana.
"Kau adalah tanggung jawab gerai Aisyah Boutique Collection, Ra. Dirimu menjadi karyawan disini, kakak tidak ingin melihat mu telat makan."
Zaid pun terus memaksa Zahrana membuka mulutnya. Namun, Zahrana menolak mendapatkan perlakuan istimewa dari Muhammad Zaid Arkana.
"Biar Zahra saja, Kak!" ucap Zahrana merebut sendok nasi tersebut dari tangan Muhammad Zaid Arkana. Hingga terjadilah aksi rebutan di antara keduanya.
"Tidak boleh menolak, jika tidak dipaksakan begini, kau tidak akan makan."
Muhammad Zaid Arkana pun tidak kalah antusias saling berebutan sendok dengan Zahrana. Hingga akhirnya ia berhasil menyuapkan makanan tersebut kedalam mulut mungil Zahrana.
"Kak Zaid, kau?" ucap Zahrana yang terpaksa mengunyah makanan yang telah disuapkan oleh Zaid di mulutnya.
"Nah, begini kan cantik! secantik dan secerah mentari di waktu Dhuha," ucap Muhammad Zaid Arkana yang tanpa sengaja manik matanya bertemu langsung dengan manik mata indah milik Zahrana.
Hingga keduanya pun tak sengaja saling memandangi satu sama lain. Hingga terciptalah keheningan diantara keduanya.
"Zahra, aku mencintaimu! mau kah kau menikah dengan ku!" bathin Muhammad Zaid Arkana dengan terus memandangi wajah Zahrana. Kalimat mencintai dan menikah hanya Zaid sendiri yang dapat merasakannya. Ia tidak punya keberanian untuk menyatakan itu semua pada Tsamirah Zahrana Az Zahra.
Berdekatan dengan Zahrana seperti ini, seolah memicu jiwa lelaki Zaid seolah tumbuh dan bergelora.
Bibir manis dan ranum milik Zahrana membuat Zaid refleks ingin menyentuhnya dan memberikan sentuhan lembut di bibir mungil nan merekah itu.
Hampir saja Muhammad Zaid Arkana hilang kendali, namun mengingat status Zahrana yang bukan mahramnya, Zaid segera menundukkan pandangannya.
"Ma-af, lanjutkan makan siang mu!" ucap Muhammad Zaid Arkana. Ia pun segera menjauhkan diri dan menjaga jarak dari Zahrana.
Zahrana pun mengangguk pelan. Ia pun menyuapkan nasi kedalam mulutnya, pikiran dan hatinya traveling entah kemana. Mengingat Muhammad Zaid Arkana hampir saja lepas kendali dan ingin menciumnya.
"Ya Allah ... perasaan apakah ini? kenapa aku jadi lemah seperti ini? maafkan Zahra kak Yusuf, sebab hampir gagal menjaga kesetiaan dan kesucian diri ini! Bisikan hati Zahrana.
π·π·π·
Pencerahan π"Pada awalnya, cinta itu bisa melihat. Tapi, menjadi buta karena masuk ke dalam hati yang paling dalam. Saat seseorang mencintaimu, mereka tak harus mengatakannya. Kamu akan tahu dari cara mereka memperlakukanmu."
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya Author bestie, yang ceritanya nggak kalah keren dan seru ya guys?ππ