Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
233 . Walimahan ( pov Zahrana Yusuf )


__ADS_3

Jika Nandini sibuk mengurusi proses perceraiannya dengan Arjuna Restu Pamungkas, lain halnya dengan Zahrana dan Yusuf. Keduanya nampak tersenyum bahagia. Hari ini adalah hari yang penuh kebahagiaan untuk kedua pasangan tersebut. Setelah berjuang melewati berbagai macam ujian dalam proses kehidupannya, kini mereka pun duduk bersanding di pelaminan menggelar acara walimah mereka yang sempat tertunda.


Kedua pasangan yang telah berstatus suami istri tersebut pun nampak tersenyum bahagia menikmati acara walimahan yang sedang berlangsung, tabuhan rebana yang dimainkan oleh Qasidah Groups yang diundang untuk memeriahkan acara tersebut pun terdengar merdunya berpadu dengan senandung sholawat yang di bawakan oleh para santri yang memang sudah ahli di bidangnya.


Perpaduan gaun pengantin syar'i bernuansa putih yang dikenakan oleh Zahrana semakin menambah keanggunannya dengan cadar putih yang menutupi wajahnya.


Yusuf sang suami tidak pernah lepas menggenggam jemari tangan sang istri dengan penuh kasih. Seolah-olah merekalah pasangan yang paling bahagia di seantero jagat semesta.


Zahrana dan Yusuf bak ratu dan raja, tak henti-hentinya para hadirin yang hadir diwalimah mereka menyanjung pesona dan kecantikan Zahrana di balik cadarnya. Mereka pun tak henti-hentinya memuji kebesaran Allah Subhana wa ta'ala atas kesempurnaan yang terukir dari sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy yang kini telah menjadi sosok suami yang ideal bagi Tsamirah Zahrana Az Zahra.


Semua para kerabat dan handai taulan, teman-teman sekolah Zahrana pun kini telah hadir di walimahnya guna memberikan do'a dan restu untuk kedua pasangan tersebut, keluarga besar Yusuf, teman-teman satu kajian dengannya pun ikut menghadiri acara walimah tersebut. Para Ustadz dan Ustadzah serta pejabat-pejabat tinggi dan orang-orang penting lainnya pun ikut menghadiri acara walimahan Yusuf dan Zahrana.


Semua yang hadir nampak terharu melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Zahrana dan Yusuf.


Guru Zahrana di masa putih-biru dahulu pun hadir diwalimahnya, membuat Zahrana menangis haru.


"Maa syaa Allah, Bu Zulistiyah terima kasih sudah menghadiri walimahan Zahra!" ucap Zahra dengan menangis haru dalam pelukan guru yang sangat dikasihi dan dihormati olehnya tersebut.


Bu Zulistiyah memeluk dan mencium kening murid kebanggaannya tersebut, tak lupa pula Bu Zulis mendo'akan kebaikan untuk pernikahan Zahrana, do'a yang disunnahkan oleh Nabi besar Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.


"Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khairin wa ‘afiya, semoga Allah SWT memberi berkah untukmu. Semoga Allah menurunkan kebahagiaan atasmu. Semoga Allah menurunkan kebahagiaan atasmu. Semoga Allah menyatukan kamu berdua dalam kebaikan."


"Terima kasih atas restu dan do'anya, Bu!" ucap Zahrana dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya. Kedua guru dan murid tersebut pun saling melepas kerinduannya.


"Ibu bangga padamu, Nak! kau benar-benar telah bermetamorfosa menjadi muslimah yang cantik nan Sholihah!" puji Bu Zulis dengan penuh haru, ketika melihat alumni siswa putih-birunya dahulu kini telah menutup auratnya secara sempurna dengan cadar yang menutupi wajah Zahrana menjadi bukti jika dirinya terus berusaha menaati perintah Rabb-Nya dalam kebeningan iman dihatinya.


Semua teman-teman Zahrana yang kini merangkap sebagai panitia pun ikut menghampiri Zahrana di pelaminannya. Mereka mengabadikan momen bahagia bersama Zahrana dan suaminya juga bersama Bu Zulis guru mereka dahulu.


Foto grafer nampak fokus mengarahkan kameranya untuk mengambil foto-foto Zahrana bersama teman-teman dan keluarganya.


Cinta, Kirana, Fadhilah, Hafidzah dan teman laki-laki mereka Virgantara, Rivandra Dinata Admaja, Rangga Sahadewa, nampak ikut berpose bersama mereka, ikut mengabadikan momen bahagia bersama Zahrana dan Yusuf Suaminya.


"Kurasa ada yang kurang, Nandini dari sejak tadi belum datang juga. Ia kemana, setidaknya ia harus datang bergabung dengan kita?" pungkas Fadhilah.


"Ia lagi berkabung atas meninggalnya mendiang kak Aslan dua hari yang lalu. Selain itu ia juga sedang broken home, kabarnya ia akan segera bercerai dengan Arjuna. Semua orang di kagetkan atas perselingkuhan Arjuna dengan si ulet keket Adelia. Entu teman si Nenek lampir Priska Prahara!" timpal Cinta Kiara Khoirani.


"Whatttt! si Arjuna selingkuh?" pekik Fadhilah dengan rasa tak percaya.


"Iya, benar. Mereka ke pergok di hotel," pungkas Cinta lagi.


"Naudzu billahimindzalik! kasian betul si Nandini, dulu aja mereka seperti Romeo and Juliet. Sekarang, begitu miris dan mengsedih sekali! semoga kak Virgan ku tidak seperti Arjuna sepupunya. Kalau sampai itu terjadi bakal aku cincang hidup-hidup dan kujadikan pergedel!" seloroh Fadhillah dengan mengepalkan tinjunya.

__ADS_1


"Husss, sudah! kalian ini sahabat sendiri di ghibahin buruan kita lanjutkan pekerjaan kita. Itu tamu sudah berdatangan lagi!" pungkas Hafidzah dengan menarik pergelangan tangan Fadhillah untuk segera kembali kepondokan khusus bagian pengatur es buah dan juga makanan pencuci mulut dan sejenisnya.


Hafidzah nampak terburu-buru, ia tidak menyadari jika dirinya menubruk dada bidang milik teman kuliah Yusuf Amri Nufail Syairazy sewaktu kuliah di universitas Al Azhar Mesir.


"Brukkk ... awww, astagfirullah ... maaf! Aku tidak sengaja," ucap Hafidzah dengan menjauhkan dirinya dari pemuda yang bertubrukan dengannya.


"Kau! bukankah kau Hafidzah yang dulu mondok di pesantren di kota P?" tanpa pemuda tersebut.


Hafidzah menatap sekilas wajah pemuda yang tampan nan sholih tersebut, "Iya benar. Maaf kamu siapa?" tanya Hafidzah dengan kembali menundukkan pandangannya.


"Aku Muhammad Azzam Al Fatih, aku dua tahun di atas kalian. Ketika itu kalian baru angkatan pertama. Kami angkatan ketiga, kala itu aku tidak sengaja melihat mu di antar oleh kedua orang tua mu!"


"Oh, iya ma-af. Aku hendak kembali melaksanakan tugas ku, kami di bagian makanan es buah dan makanan ringan di sana!" tunjuk Hafidzah dengan di penuhi rasa gugupnya.


Pasalnya, seumur hidup Hafidzah semenjak ia menamatkan pendidikan di pondok pesantren baru sekali ini ia bersitatap dengan lelaki yang bukan mahramnya.


Azzam memandangi kepergian Hafidzah dengan perasaan yang berbeda, "Semoga suatu saat nanti Allah pertemukan kita dipelaminan!" do'a yang teruntai dari hati seorang pemuda yang bernama Azzam.


Sementara itu, Yusuf dan Zahrana yang sedang bersanding di atas pelaminan tersenyum bahagia melihat interaksi kedua sahabat mereka.


"Yaa Zawjatii, kau lihat interaksi antara sahabat ku Azzam dan Hafidzah. Mereka sangat serasi."


"Iya, Bi. Semoga saja mereka berjodoh!" ucap Zahrana ikut menimpali ucapan suaminya.


"Maa syaa Allah, Nandini kau!" Zahrana merangkul sahabatnya itu.


"Iya ini aku," Nandini memeluk erat Zahrana.


"Kau hadir bersama siapa?" Zahrana celingukan mencari keberadaan Arjuna, ia berharap sahabatnya itu masih bertahan bersama suaminya dan memperbaiki kembali hubungan yang telah retak.


"Aku hadir bersama itu dua bodyguard meski ku usir tetap mengikuti ku!" tunjuk Nandini pada sosok Zainal dan Barra Adi Sanjaya yang tampak tersenyum simpul pada Zahrana dan Nandini.


"Maa syaa Allah, dia sangat setia pada mu. Semoga setelah selesai persidangan kalian nanti. Kamu dan dia bisa berjodoh agar tidak terjadi fitnah di antara kalian," pungkas Zahrana.


"Insya Allah, Ra."


Nandini merasa tenang dengan kehadiran Zainal disisinya. Namun, dirinya tidak serta-merta merajut kebersamaan dengan pemuda tersebut. Butuh waktu untuknya menikah lagi, setelah kegagalannya membina rumah tangga bersama Arjuna Restu Pamungkas yang tega bermain hati dengan wanita lain di belakangnya.


Selang berapa menit kemudian, hadirlah Muhammad Zaid Arkana bersama dokter Rufaidah Al Aslamiyah yang menjadi partnernya.


"Maa syaa Allah, kak Rufaidah. Kak Zaid, kalian?" ucap Zahrana setengah histeris. Ia seperti mimpi ketika melihat kehadiran dokter Rufaidah bersama Zaid yang dulu pernah ribuan kali mengungkapkan rasa cinta padanya, namun seribu kali pula ia menolaknya.

__ADS_1


"Insya Allah, kami akan segera menyusul kalian!" ucap Rufaidah dengan berbisik pelan ditelinga Zahrana.


"Maa syaa Allah, semoga Allah lancarkan dan mudahkan segala urusannya!" ucap Zahrana dengan binar wajah bahagia. Ia turut senang mendengar jika akhirnya sosok Muhammad Zaid Arkana bisa bersatu dengan dokter Rufaidah Al Aslamiyah kakaknya Zainal Abidin teman sekolahnya tempo dulu.


Muhammad Zaid Arkana menelungkupkan kedua tangannya di dadanya ketika berhadapan dengan Zahrana. Ia memandang sekilas wajah Zahrana yang kini tertutup cadar. Tidak mudah baginya melupakan sosok Zahrana di hatinya. Namun, ia pun menyadari jika cinta itu tak harus memiliki. Melihat bidadari yang sangat dikaguminya itu bersanding di pelaminan bersama sosok pemuda yang sholih seperti Yusuf Amri Nufail Syairazy, Zaid berusaha mengikhlaskan hati dan move on dari Zahrana dengan membuka hatinya untuk dokter Rufaidah Al Asalamiyah dan memutuskan melamar Rufaidah dua Minggu yang lalu. Pucuk di cinta ulam pun tiba, ternyata Rufaidah pun menyambut niat baiknya.


Zaid beralih menyalami dan merangkul Yusuf, "Selamat atas pernikahan kalian, semoga diberkahi oleh Allah. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah!" do'a tulus Zaid untuk Yusuf dan Zahrana.


"Aamiin ... aamiin ... Allahumma aamiin," ucap Yusuf dengan penuh hikmah.


Acara walimah Zahrana dan Yusuf berjalan dengan sangat baik, tabuhan rebana dan nasyid islami yang di senandungkan oleh Qasidah Groups begitu indah dan merdunya di tengah meriahnya pesta. Menemani para tamu undangan yang hadir silih berganti.


Dari kejauhan tampaklah Pramuja Wisnu Baskara bersama sosok wanita yang masih mengenakan kerudung gaul berpadu dengan gaun muslim yang di kenakannya. Ia lah Priska Prahara. Demi mengejar cinta Pramuja ia perlahan merubah penampilannya, ia ingin hijrah dari sifat buruknya menjadi sifat yang baik. Sehingga, 50% Pramuja berusaha untuk menerima perjodohannya dengan Priska demi menutupi kekecewaannya terhadap Zahrana. Bagaimana pun juga, ia menyadari cintanya dengan Zahrana tak mungkin bersatu, mengingat ada keterikatan diantara keduanya. Ikatan saudara sepupu di antara keduanya tidak akan pernah hilang sampai kapan pun.


Pramuja membiarkan Priska menggandeng mesra pergelangan tangannya, baginya jiwa dan raganya milik Priska. Priska Prahara boleh menyentuh tubuhnya. Namun, hatinya masih tetap terukir untuk Zahrana sepupunya.


Pramuja hanya tersenyum sekilas pada Zahrana, ia hanya menyalami dan merangkul Yusuf. "Tolong jaga sepupu ku Zahrana, jangan pernah sakiti dirinya!" bisik Pramuja pelan di telinga Yusuf.


"Insya Allah, aku akan menjadikan adik sepupu mu wanita yang paling bahagia!" ucap Yusuf dengan menerbitkan senyumnya menghiasi wajah tampannya.


Priska melakukan hal yang sama ia menyalami Zahrana, "Ra, aku minta maaf karena dari sejak dahulu selalu berniat ingin menghancurkan hidup mu. Namun, aku sadari semua kekeliruan ku. Aku berharap kita bisa saling memaafkan satu sama lain," ucap Priska Prahara dengan merangkul tubuh mungil Zahrana.


"Aku sudah memaafkan mu, Kak. Tidak ada hal untuk kita saling membenci!" pungkas Zahrana. Ia merasa senang dan bahagia ketika melihat Priska telah berubah dan telah mengenakan kerudung untuk menutup auratnya.


"My sepupu my bidadari, semoga kau bahagia dengan pernikahan mu!" bathin Pramuja dengan menggenggam erat jemari tangan Priska untuk turun dari pelaminan menjauh dari hadapan Zahrana.


Tubuh Priska bergetar hebat ketika Pramuja menyentuh pergelangan tangannya untuk yang pertama kalinya. "OMG, jika terus seperti ini aku akan menjadi wanita yang paling bahagia!" bathin Priska dengan perasaan yang tenang.


***


Semua teman-teman Zahrana merasa tidak percaya ketika melihat perubahan pada Priska Prahara yang kini telah berkerudung dan lebih menjaga hubungan yang baik dengan Zahrana.


"Syukurlah jika begitu, artinya kita tidak boleh terus saling marahan. Apalagi saling membenci dengan kak Priska. Setiap orang pasti punya hak untuk berubah." Kirana menyampaikan tausiyah dadakannya terhadap Cinta Kiara Khoirani yang berada di dekatnya.


"Iya juga sih, Kir." Cinta pun sepakat dengan Kirana Larasati.


Kirana Larasati tidak menyadari jika dari kejauhan Rivandara Dinata Admaja memperhatikannya dengan perasaan yang penuh arti.


"Kirana Larasati, semoga 5 tahun lagi kita akan bertemu kembali setelah aku menyelesaikan studi ku. Semoga kita bisa berjodoh!" bathin Rivandra dengan kembali menundukkan pandangannya.


Acara walimah Zahrana dan Yusuf pun berlangsung dengan penuh hikmahnya. Semua tamu undangan yang hadir di sana tampak bahagia menikmati jamuannya juga senandung Nasyid di iringi tabuhan rebana yang membuat suana semakin tenang dan menentramkan hingga menampakkan kesan yang sangat religius bagi siapapun yang menyaksikan acara walimahan Zahrana dan Yusuf tersebut.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah 👉"Jodoh itu bukan seberapa lama kamu dengannya, tapi seberapa yakin kamu kepada-Nya. Jika kamu mampu bersabar, Tuhan mampu memberikan lebih dari apa yang kamu minta. Allah selalu punya skenario terindah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan ikhlas dalam menanti. Bersyukur atas semua kebaikan dan ujian yang Allah berikan pada kita. Kita hanya perlu menjadi hamba-Nya yang taat."


__ADS_2