
"Kak ... Ana lapar. Masa kita dari sejak tadi hanya menelusuri pesisir pantai. Ana capek, mana nggak ada cemilan. Makan cinta saja nggak kenyang lho, Kak." Zahrana protes seraya menyandarkan kepalanya di bahu kanan Aslan.
Aslan melebarkan senyumnya. Ia nampak gemas melihat mimik wajah gadis kecilnya yang nampak polos dan imut.
Zahrana memanyunkan bibir mungilnya, sebab tidak ada komentar dari pria dewasa yang ada di hadapannya.
"Kak ... kok malah senyum sich! bukannya segera melenggang pergi menyusul teman-teman kita lainnya, mereka pasti sudah bersantap ria," pungkas Zahrana.
"Iya deh ... maaf gadis kecil ku. Aku kurang peka, sebab bersama dengan mu rasa lapar dan dahaga ku pun hilang berganti rasa kenyang yang tiada tara," goda Aslan seraya mengusap surai rambut Zahrana. Tak lupa ia pun mengecup kening Bidadari kecilnya yang kini mulai menjadi candunya.
"Ya Allah ... ampuni Zahrana sebab telah terjerat cinta buta dan pesona pria dewasa yang ada dihadapan hamba ya Rabb. Maafkan hamba atas keinginan hawa nafsu yang tak mampu untuk hamba bendung. Ya Allah tolong pegangi diriku agar jangan sampai salah langkah hingga membuat kuu tersesat dalam cinta ku yang tak berarah," bisikan hati Zahrana.
Aslan menarik pergelangan tangan gadis kecilnya. Ia ingin membawa gadis kecilnya untuk mencari warung terdekat guna mengisi perut mereka yang kini telah berbunyi keroncongan, pertanda segera minta di isi.
"Let's go Baby! kita cari warung terdekat yang tak jauh dari Pantai ini," ujar Aslan.
Mereka berdua saling bergandengan tangan dan sesekali berlari kecil menuju tempat parkiran motor, di balik pohon rimbun. Tempat di mana Aslan memarkir sembarang Sepeda Motornya ketika ia sedang terbakar api cemburu dengan Zahrana yang sebelumnya bergandeng mesra dengan Rivandra Dinata Admaja yang menjadi rivalnya.
"Pegang yang kuat Baby!" goda Aslan seraya melingkarkan tangan Bidadari kecilnya dipinggangnya.
Aslan bertingkah seperti kekanak-kanakan mengikuti perkembangan usia gadis kecilnya. Ia berasa seperti layaknya anak ABG. Padahal usia Aslan sudah menginjak 19 tahun dan mungkin sebentar lagi genap 20 tahun. Namun tingkahnya tidak mencerminkan usianya.
Jika dibandingkan dengan Rivandra Dinata Admaja, secara tingkah laku Rivandra justru lebih terlihat dewasa dari sikapnya. Sebab, Rivandra lebih memilih mengalah dan menjauh demi kebahagiaan Bidadari kecilnya. Ia rela melepaskan Zahrana untuk Aslan walaupun hatinya harus terluka dan kecewa yang teramat dalam oleh cintanya yang terabaikan.
***
Aslan dan Bidadari kecilnya kini telah sampai di tempat tujuan. Mereka memilih Lamongan dekat Patung Gajah sama seperti pilihan adiknya Nandini dan juga teman-temannya yang lain.
Aslan menggenggam erat jemari tangan gadis kecilnya. Seolah menunjukkan tanda kepemilikannya pada dunia bahwa Zahrana mulai detik ini adalah miliknya.
Beberapa anak-anak remaja juga dewasa berbisik-bisik kecil melihat kehadiran Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir di Lamongan itu. Ada yang mengagumi kecantikan dan kesempurnaan Zahrana. Ada juga yang beranggapan mereka pasangan serasi. Yang satu cantik alami dan mempesona. Sedangkan pasangannya sangat tampan dan berkharisma. Ada yang juga beranggapan mereka berdua adalah adik-kakak. Sebab melihat perawakan Aslan yang terlihat lebih dewasa sedangkan Zahrana masih belia dan masih mengenakan seragam SMP pula.
Pelayan Lamongan segera menghampiri Aslan dan Zahrana.
"Mau pesan apa kak, Dek?" tanya pelayan wanita tersebut melihat ke arah Aslan dan Zahrana secara bergantian.
Pelayan wanita itu tak berkedip memandang kecantikan alami Zahrana. Juga netranya tertuju pada jemari tangan Aslan yang tidak sedikitpun ingin melepaskan genggamannya pada Bidadari kecilnya.
Pikir Pelayan wanita itu,"Apakah gadis kecil ini pacar pemuda ini? mereka pasangan yang sangat serasi, yang satu cantik bak Bidadari yang satu tampan dan berkharisma. Tapi Sang gadis itu mesti di pupuk dulu biar cepat tumbuh dewasa," cicit pelayan wanita tersebut.
Zainal Abidin yang memperhatikan pergerakan karyawannya yang sepertinya nampak terhipnotis dengan pesona Zahrana dan Aslan pun segera menghampiri mereka.
"Hai ... Ra! ada yang bisa saya bantu? mau pesan apa?" tanya Zainal Abidin.
"Kamu ... Zainal Abidin! kamu bekerja disini, kah?" tanya Zahrana kepada Zainal Abidin teman sekelasnya.
Zainal mengangguk pelan. Ia mengembangkan senyumnya pada Zahrana. Membuat Aslan cemburu melihat keakraban Zahrana dengan Zainal.
Aslan semakin menggenggam erat tangan gadis kecilnya. Ia tidak mau kecolongan lagi setelah kemarin Sang belahan jiwanya didekati oleh rivalnya Rivandra Dinata Admaja.
__ADS_1
Zainal melirik kearah Aslan, "pikirnya kenapa laki-laki tersebut begitu mesra menggandeng tangan Zahrana. Ia Kakaknya atau pacarnya? bukankah Zahrana adalah teman istimewa kakak kelas kami Rivandra Dinata Admaja? namun mengapa Zahrana bersama pria dewasa?" Zainal menerka-nerka.
"Saya kekasihnya Zahrana!" ucap Aslan tegas.
"Saya pesan nasi sama ayam goreng dua porsi juga Orange Jus dua gelas," ujar Aslan lagi.
Zainal nampak kaget ketika mendengar penuturan Aslan jika Zahrana adalah wanitanya.
"Bagaimana dengan kak Rivandra?" cicit Zainal dalam hati.
Zahrana dan Aslan tidak menyadari jika Nandini dan Arjuna kekasihnya, juga Virgantara dan Fadhillah juga berada di Lamongan yang sama.
"Hubby ... kau lihat itu sepertinya kak Aslan dan Zahrana! sepertinya mereka sudah baikan," bisik Nandini di telinga Arjuna.
"Itu juga dipojok sana nampak kak Virgantara dan Fadhillah sedang asyik merajut kebersamaan, jangan-jangan mereka berdua juga lagi PDKT, sepertinya akan seru Hubby. Zahrana and Friends sudah punya gebetan masing-masing." Nandini kembali berbisik di telinga Arjuna.
"Benar juga Honey, tapi aku sedih dengan saudara sepupu ku Rivandra. Pasti saat ini ia sedang patah hati, sebab seumur hidup Rivandra baru Zahrana lah cinta pertama dalam hidupnya," ucap Arjuna dengan nada pilu.
"Iya juga sich ... tapi mau bagaimana lagi By, tidak mungkin kan Zahrana terus mendua hati. Ia harus memilih diantara dua pilihan, jangan semua di embat. Capek By jika harus terus berada dalam kebohongan," ucap Nandini dengan nada serius.
Arjuna pun meng-iyakan apa yang di ucapkan oleh gadis metalnya.
"Tapi kamu tenang saja By! ada Kirana disamping kak Rivandra. Apa kita comblangin saja Si Kirana dan kak Rivandra?" Nandini memberikan ide.
"Yang jadi masalahnya aku mengenal betul siapa Rivandra Dinata Admaja, ia tidak mudah jatuh hati kepada wanita. Kamu tahukan Si Priska Prahara sudah 3 tahun mati-matian mengejar Rivandra, hasilnya apa? kecewa? sebab Rivandra malah jatuh hati kepada Zahrana yang baru satu hari ia kenal," pungkas Arjuna.
"Hey ... kak Aslan, Zahrana. Akhirnya kalian mampir disini juga, pacaran saja terus! makan tu cinta jika mengenyangkan," seloroh Nandini. Namun netranya tertuju pada Pelayan laki-laki tampan dengan kacamata hitam yang kerap kali dikenakannya.
"Ka-u ... sedang apa kau disini?" tanya Nandini terbata-bata. Ia memperhatikan Zainal dari atas sampai bawah mengenakan baju khusus karyawan Lamongan.
Zainal menatap lekat nanar wajah Nandini Sukma Dewi, ternyata rasa itu masih terus bertahta pada gadis metal di hadapannya hingga detik ini, nama itu pun tetap terukir indah di pita bathinnya. Entah sampai bila akan terobati segala luka di hatinya.
"Tuan muda, pesanan kakak dan adik yang cantik nan jelita ini sudah selesai," ucap Pelayan wanita tersebut pada Zainal.
Zainal segera membantu para Karyawannya mengantarkan semua pesanan kepada para pelanggan Lamongannya.
"Ra, Kak. Silahkan di dahar dulu hidangannya!" titah Zainal pada Zahrana dan Aslan.
Nandini benar-benar terperangah berbalut kagum pada sosok Zainal masih berstatus pelajar sekolah namun sudah memiliki pekerjaan sampingan. Berbeda dengan Arjuna pacarnya suka berfoya-foya dan mengandalkan harta orangtua. Membuat Nandini menjadi gamang. Pikirannya terus tertuju pada sosok Zainal Abidin Si Kutu Buku.
"Hey ... Dek! mau sampai kapan dirimu disitu," ucap Aslan memanggil Nandini adiknya.
"Sepertinya dia sedang galau, Kak. Kakak ingat kan, waktu kita di Ladang Cinta tempo hari teman-teman pada keceplosan jika Nandini adikmu dikagumi oleh dua pemuda. Nah, itu salah satunya Si Zainal Abidin itu. Ia teman sekelas kami, ia pun cerdas dan pandai, sampai-sampai dijuluki Si Kutu Buku oleh ruang lingkup sekolah. Dan sekarang ia pun bekerja menjadi Pelayan di sini, tapi tunggu dulu! Kenapa Pelayan wanita tadi memanggil Si Zainal dengan Tuan Muda? apa Lamongan ini milik keluarga Zainal," pungkas Zahrana.
Membuat Nandini tersentak dari lamunannya, dan segera menghampiri Zahrana dan kakaknya Aslan yang sedang duduk romantis menikmati hidangan mereka di meja makan.
Nandini lupa dengan Arjuna yang kini menatap penuh cemburu kepadanya. Ketika menyadari jika yang menjadi Pelayan laki-laki tersebut adalah Zainal Abidin. Netranya pun tidak sengaja melihat spanduk di Lamongan tersebut bertuliskan " ZA Lamongan Groups " yang artinya Lamongan tersebut milik Zainal Abidin dan keluarga.
"Honey! kita harus segera pulang sekarang!" pekik Arjuna seraya menarik pergelangan tangan Nandini kekasihnya.
__ADS_1
Arjuna segera menuju tempat kasir yang di tunggu oleh seorang wanita cantik yang bertugas sebagai Pelayan Kasir.
"Maaf dengan meja nomor berapa, Dek? tanya Kasir wanita tersebut pada Arjuna.
"Meja nomor 11 Mbak," ucap Arjuna tegas.
"Iya, terimakasih Dek. Untuk meja nomor 11 benarkah atas nama Nandini Sukma Dewi? jika iya, special untuk Nona Nandini dan juga teman-temannya, semua pesanannya gratis. Ini atas perintah Tuan Muda ZA," ucap Pelayan Kasir tersebut secara tersenyum ramah.
"Tuan Muda ZA?" Nandini kaget mendengar ucapan Kasir tersebut menyebut inisial ZA.
"Berarti benar jika Lamongan ini milik Zainal Abidin dan keluarga, namun kenapa Zainal berpakaian layaknya seorang karyawan? Zainal benar-benar tidak menampakkan jika ia adalah anak atau pemilik dari Lamongan ini," cicit Nandini.
"Oh iya, terimakasih Mbak." Nandini ingin segera keluar dari Lamongan tersebut. Sebab aura Arjuna berubah seketika mendengar ucapan Kasir tersebut menyebut nama ZA.
Arjuna ingin sekali menolak penawaran tersebut, namun ia tidak ingin mencari keributan sebab di situ banyak sekali para pengunjung yang sedang menikmati hidangan mereka.
Disitu juga ada kakak sepupunya Virgantara juga kakak Nandini Aslan Abdurrahman Syatir. Arjuna hanya menahan rasa geram dihatinya. Ia tidak sudi menerima penawaran gratis dari 'ZA Lamongan Groups'.
Bagi Arjuna membayar semua hidangan para pengunjung pun ia mampu, sebab kekayaan orang tua Arjuna tidak habis di makan oleh tujuh turunan. Saking angkuhnya Arjuna. Ia tidak mau kalah dari Si Kutu Buku alias Zainal Abidin, yang kini menjadi Rivalnya. Sebab ia yakin ada udang dibalik batu. Ia yakin seyakin-yakinnya, jika Zainal Abidin masih mengharapkan Nandini Sukma Dewi kekasihnya. Namun sayangnya Arjuna tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Hubby ... ayo kita pulang!" ajak Nandini seraya menarik pergelangan tangan Arjuna agar segera beranjak dari 'ZA Lamongan Groups'.
Nandini tahu betul sikap arogan Arjuna. Ia tidak akan membiarkan orang lain lebih berkuasa darinya.
Arjuna terpaksa mengikuti langkah Nandini kekasihnya. Kali ini ia tidak ingin mencari keributan. Ia pun segera menjalankan Motor Ninja RR-nya meninggalkan 'ZA Lamongan Groups'.
***
Masih di ' ZA Lamongan Groups'.
Setelah kepulangan Nandini dan Arjuna, nampaklah Aslan dan Zahrana masih menikmati hidangannya, Begitu pun Fadhilah dan Virgantara masih asyik menikmati kebersamaannya meskipun mereka sudah selesai menyantap makanannya. Mereka masih betah berada di 'ZA Lamongan Groups' untuk sekedar bersantai ria. Sebab dua Minggu kedepan anak-anak sekolah libur semester.
Dua puluh menit kemudian.
"Kak, sudah pukul berapa?" tanya Zahrana. Iya khawatir akan di marahi Ayah dan Bundanya sebab pulang sekolah terlambat. Apalagi hari pembagian Raport tentunya anak-anak sekolah akan pulang lebih awal.
"Sudah pukul 14.45 wib An," ucap Aslan.
"Ya Allah ... kak, sebaiknya kita segera pulang Kak! Ana khawatir Ayah dan Bunda menunggu di rumah," ujar Zahrana. Ia mulai di dera oleh rasa takut dan bersalah pada kedua orangtuanya, sebab ia keluyuran kemana-mana. Dengan lelaki dewasa pula.
Aslan dan Zahrana, juga Fadhilah dan Virgantara sama-sama hendak beranjak dari ' ZA Lamongan Groups '. Mereka menuju ke meja kasir, namun mereka pun sama digratiskan semua pesanan makanan mereka, atas titah Zainal Abidin. Penerus Pengusaha ' ZA Lamongan Groups ' yang sebenarnya memang telah memiliki tujuh cabang Lamongan, yang tertera di setiap Kota yang ada di Provinsi tersebut. Jadi, special untuk Nandini dan teman-temannya Zainal menggratiskan semua hidangannya.
"Kalian sudah mau pulang? tanya Zainal Abidin.
"Iya Zainal. terimakasih untuk semua hidangannya," pungkas Zahrana mewakili semua teman-temannya.
Aslan pun segera mengikuti langkah kaki Bidadari kecilnya, mereka pun beranjak dari 'ZA Lamongan Groups'. Begitu pun Fadhilah dan Virgantara, mereka merasa sangat bahagia menikmati kebersamaannya.
Kini mereka pun telah menjauh dari Za Lamongan Groups menuju perjalanan ke rumah mereka masing-masing.
__ADS_1