
Waktu telah menunjukkan pukul 17.30 wib. Zahrana dan teman-temannya baru pulang dari Perkebunan keluarga Aslan yang kini telah menjadi kekasihnya.
Zahrana, nampak tergesa-gesa turun dari boncengan Cinta Kiara Khoirani. Mereka berdua menggunakan motor Suzuki Tornado yang sangat Legendaris di tahun 90 an. Zaman itu belum ada yang namanya motor matic seperti sekarang ini Mio,Beat,Spacy,Vario dan sejenisnya. Tempo dulu, pada zaman Behula punya motor Suzuki Tornado, sudah berasa seperti orang kalangan kelas mewah,heheππ
"Cin,aku masuk dulu ya?" pamit Zahrana.
"Iya Ra. Aku juga, kita sepertinya dikejar waktu. Aku khawatir nanti di marahi Mama sama Papa ku, tiga puluh menit lagi sudah Magrib," ujar Cinta seraya tancap gas motor Tornadonya.
Zahrana pun masuk rumah lewat pintu dapur, sebab pintu ruang tamu sudah di tutup rapat menjelang Magrib.
Buya Harun, nampak masih memberikan ayam-ayam peliharaannya makan.
"Assalamu'alaikum ... Yah," ucap Zahrana.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab Buya Harun seraya menjeda rutinitasnya.
"Subhanallah ... kamu baru pulang, Nak. Sudah hampir Magrib, Ayah dan Bunda sudah menghawatirkan mu," ujar Buya Harun seraya menatap nanar wajah anak gadisnya.
Zahrana menunduk.
Ada rasa bersalah dihatinya, karena sudah pulang bermain kesorean. Hingga lupa waktu.
"Iya, Ayah. Zahra minta maaf karena telah membuat Ayah dan Bunda cemas," pungkas Zahrana.
Mendengar suara puteri kesayangannya telah kembali pulang kerumah,ada kelegaan di hati Buya Harun dan juga Bunda Fatimah. Kekhawatiran mereka pun meredup setelah melihat wajah indah Puteri kesayangan mereka.
"Ya Allah ... Nak,kamu sudah pulang?" tanya Bunda Fatimah,ia langsung memeluk erat puterinya.
Bunda Fatimah menelurusi setiap inci wajah Puterinya, apa ada bekas luka atau yang semisalnya. Sebab, Bunda Fatimah khawatir Zahrana berduaan dengan Aslan Abdurrahman. Sore hari baru pulang kerumah.
Naluri keibuan Bunda Fatimah begitu kuat terhadap anak-anaknya. Apalagi perkebunan tempat persinggahan Zahrana dan teman-temannya adalah milik Aslan Abdurrahman Syatir dan keluarganya. Wajar jika Bunda Fatimah menaruh rasa curiga jika kalau-kalau anak-anaknya diam-diam bertemu dengan Aslan sosok pemuda yang sudah sangat dewasa menurut Bunda Fatimah. Sangatlah tidak pantas berduaan dengan yang bukan mahramnya. Mengingat pesona anaknya kini sudah mulai terlihat sejak dini, diusianya yang baru 13 tahun.
"Ini kenapa,Nak? lutut kamu terluka?" tanya Bunda Fatimah.
"Ini jatuh di anak sungai Bunda, ketika kami turun ke sungai hendak berwudhu untuk menjalankan Ibadah Sholat Zuhur," killah Zahrana. Ia khawatir Bundanya akan bertanya yang tidak-tidak.
Bunda Fatimah ingin memeriksa semua bawaan Zahrana, juga tas sandangnya. Zahrana berusaha mengalihkan mode bicaranya agar Bundanya tidak segera memeriksakan tasnya. Sebab, disitu ada sebuket bunga mawar dan Silver Queen yang masih sisa dua bungkus, hadiah dari kekasihnya Aslan untuk dirinya.
"Bun, ini ada sedikit oleh-oleh dari hasil perkebunan Nandini. Mereka dan keluarga sedang panen besar-besaran, Bun. Zahrana, Cinta dan Kirana, kami semua dapat bagian masing-masing," ujar Zahrana kegirangan. Ia sengaja menampakkan wajah bahagianya di depan Bundanya.
Bunda Fatimah pun membuka satu persatu isi oleh-oleh yang ada di dalam keresek yang di bawa Zahrana.
"Maa syaa Allah ... Alhamdulillah ... banyak sekali bawaannya, Nak."
"Ada Jagung,terong,timun dan cabe," puji Bunda Fatimah. Ia pun segera mengeluarkan satu-persatu oleh-oleh yang dibawa oleh Puterinya.
"Zahra masuk ke dalam dulu,Bun."
"Iya,Nak. Sebentar lagi sudah masuk Sholat Magrib, sebaiknya bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah sholat!" titah Bunda Fatimah.
Zahrana pun menaruh baju kotornya di kamar mandi,baju yang tadi ia gunakan main basah-basahan dan berenang dengan kekasih hatinya Aslan Abdurrahman Syatir.
__ADS_1
Kemudian, ia pun segera masuk menuju kamarnya.
Zahrana merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya,tak lupa ia mencium dan memeluk buket bunga mawar yang di bingkiskan oleh Aslan untuknya. Ia tidak hentinya memandang dan mencium bunga mawar tersebut seraya senyam-senyum sendiri, mengingat kenangan dan kebersamaan dengan kekasihnya hari ini.
"Kak Aslan ... aku mencintaimu," bisik hati Zahrana seraya memejamkan matanya dan mencium kembali bunga mawar dari Aslan untuknya.
Zahrana tidak menyadari jika adiknya Raihan menghampirinya secara diam-diam seraya memakan sepotong coklat Silver Queen milik kakaknya.
"Nyam ... nyam ... nyam ... " suara Raihan memecahkan kesunyian seraya menikmati kelezatan coklat tersebut.
Zahrana perlahan membuka netranya, ia kelihatan kaget melihat adiknya Raihan dengan gaya santainya melahap coklat Silver Queen miliknya.
"Raihannn ... sejak kapan kamu melinyap masuk dikamar kakak?" tanya Zahrana,ia pun menyembunyikan buket mawarnya. Khawatir adiknya Raihan bertanya yang tidak-tidak.
"Sejak 5 menit yang lalu kak," ujar Raihan seraya mengunyah coklat Silver Queen tersebut.
"What???" ucap Zahrana dengan nada kagetnya.
"Jadi, Raihan melihat adegan ku yang dari sejak tadi memeluk dan mencium bunga pemberian kak Aslan," cicit Zahrana.
Ada rasa malu dihati Zahrana atas segala tingkah lakunya barusan.
"Bawa rileks aja kak! Raihan pun sudah melihat sendiri kelakuan kakak yang bucin parah. Sampai bunga mawar pun di peluk-peluk dan di cium-cium," ujar Raihan sembari mengunyah cemilan milik kakaknya.
"Stttt ... jangan berisik! nanti kedengaran Ayah dan Bunda,Dek. Ini bunga pemberian kak Aslan, itu Silver Queen juga bingkisan dari kak Aslan. Kado istimewa di hari kelahiran kakak yang ke-13 tahun," ujar Zahrana dengan perasaan yang berbunga-bunga.
" Iya, kak. Raihan tahu,kok. Raihan pengen berangkat ke Mesjid dulu, Kak."
Azan Magrib pun sayup-sayup terdengar merdu, semua penjuru isi bumi yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim. Semua pun dengan khusu'nya menjalankan Ibadah Sholat Magrib, tak terkecuali Zahrana.
Seperti biasanya, Zahrana sehabis sholat selalu mendaras Qur'an dengan khusu'nya.
Hari itu, Padepokan Buya Harun di liburkan dan akan aktif kembali pekan depan. Jadi hari ini Zahrana bisa tidur lebih awal setelah menjalankan Ibadah Sholat Isya.
Zahrana dan seluruh penjuru isi bumi di sekitarnya pun masing-masing telah terlelap dalam peraduannya. Masing-masing terbuai dalam mimpi indahnya. Tak terkecuali Zahrana, ia terlelap sembari memeluk buket bunga mawar pemberian Aslan Abdurrahman Syatir.
Hingga Zahrana terlupakan jika ada hati yang harus ia jaga Rivandra Dinata Admaja, yang kini juga telah menjadi teman istimewanya.
***
Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan.
Hari ini dua bulan sudah Zahrana menjalani hubungan cinta segitiganya bersama Rivandra Dinata Admaja kakak kelasnya, juga Aslan Abdurrahman Syatir pemuda yang di cintainya.
Zahrana berperan dengan sangat baik, demi menjaga keutuhan asmaranya, yang sampai detik ini, ia pun masih bingung dan ragu kepada siapa sebenarnya ia harus berlabuh? sebab,ia pun tidak ingin terlalu larut dalam kegalauan yang menerpa hati dan jiwanya.
Di saat yang tepat, Zahrana ingin memilih siapa dihatinya sebenarnya. Ia pun tidak ingin terus mendua seperti ini.
Dan ... Hari ini pula bertepatan dengan ulangan semester pertama yang harus di tempuh oleh Zahrana dan teman-temannya, di SMP NEGERI 3 XX. Sebelum nantinya mereka mengambil Raport semester pertamanya.
" Zahra!" panggil sesosok laki-laki tampan dan mempesona dari samping gerbang sekolah. Ia adalah Rivandra Dinata Admaja,teman istimewa Zahrana yang dari sejak tadi menunggu kehadiran Zahrana.
__ADS_1
"Kak Rivan!" panggil Zahrana balik.
Mereka berdua pun saling beradu pandang. Rivandra pun menggenggam erat jemari tangan Zahrana.
"Ra, kita belajar di taman saja yuk! bunga-bunganya indah dan semerbak sekali dipagi hari. Tentunya udara di pagi hari tampak menyenangkan sekali untuk kita belajar sembari menghirup udara yang masih segar sekali," ajak Rivandra penuh antusias.
Zahrana dan Rivandra pun nampak belajar bersama dan bertukar pikiran, juga mereka saling berkelakar satu sama lain.
"Kak, semoga hari ini Zahra bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan baik. Begitu juga dengan kakak," do'a tulus Zahrana.
"Aamiin... " jawab Rivandra.
"Irit sekali kak, bicaranya!" ujar Zahrana dengan wajah imutnya.
Rivandra nampak gemas dengan kelakuan dan wajah imut Zahrana. Akhirnya mereka berdua saling melemparkan senyuman dan berpandangan.
"Ra,kau nampak manis sekali dengan rambutmu yang di kepang dua. Kakak jadi ingat zaman Siti Nurbaya dan Datuk Meringgi," goda Rivandra.
Tak ayal Zahrana melebarkan senyumnya,ia kerap kali merasa disanjung dan dimanjakan oleh teman istimewanya Rivandra Dinata Admaja.
Mereka terus bercanda ria satu sama lain, sampai akhirnya mereka tidak menyadari jika sahabat mereka Nandini Sukma Dewi dan Arjuna Restu Pamungkas yang sedang bergandengan mesra menghampiri mereka.
"Ciyeeee ... Yang lagi kasmaran,dunia terasa milik berdua," seloroh Nandini seraya bergelayut manja di pergelangan tangan kekasihnya Arjuna.
Zahrana dan Rivandra menghentikan kelakarnya.
"Ciyeeee ... Yang lagi bucin parah," goda balik Zahrana pada Nandini dan Arjuna.
"Perincess ... I'm Coming!" teriak Fadhilah, di ikuti oleh Hafidzah dan Kirana Larasati. Mereka bertiga jomblo sejati ... no pacaran.
"Maa syaa Allah ... Fadhilah, Hafidzah dan Kirana. Kalian kompak sekali, Cinta Kiara Khoirani mana?" tanya Zahrana seraya merangkul ketiga orang temannya.
"Kok,aku nggak ikut dirangkul Ra?" protes Nandini Sukma Dewi, dengan wajah ditekuk.
"Bagaimana aku hendak memeluk mu,kau sendiri asyik bergelayut manja di lengan pacarmu, Arjuna." Zahrana balik mencandai Nandini.
"Maa syaa Allah ... Cinta Kiara Khoirani, Rangga Sahadewa, kalian pun sudah jadian?" tanya Rivandra dan Zahrana. Mereka berdua terperangah, tidak menyangka semuanya sudah memiliki teman istimewa. Kecuali, Fadhillah, Hafidzah dan Kirana Larasati. Mereka masih single.
Rangga Sahadewa dan Cinta Kiara Khoirani hanya tersenyum simpul dan tersipu malu sebab diam-diam mereka pun telah jadian beneran. Hari ini mereka berdua menampakkan kebersamaan dan tanda kepemilikannya.
Sementara, Kirana Larasati patah hati melihat kebersamaan dan kemesraan Zahrana dan Rivandra Dinata Admaja, cinta dalam hati Kirana Larasati. Entah sampai kapan ia mampu meredam rasanya. Hanya Tuhan lah yang Maha Mengetahui segala isi hati.
Di tengah kekompakan Zahrana dan teman-temannya, ada hati yang terluka dan kecewa serta terbakar api cemburu. Mereka adalah Priska Prahara yang cemburu terhadap kedekatan Rivandra dan Zahrana. Adelia Kencana Puteri, yang nampak belum ikhlas melepaskan Arjuna untuk Nandini. Sedangkan temannya Lembayung Senja nampak cemburu dengan kedekatan Rangga Sahadewa dan Cinta Kiara Khoirani.
Priska and Friends adalah jiwa-jiwa yang tersisih dan tersakiti, lantaran cinta mereka bertepuk sebelah tangan.πππ
Bel masuk pun berbunyi, Zahrana dan teman-temannya, juga seluruh Siswa-siswi SMP Negeri 3 XX. Berhamburan masuk ke kelas masing-masing, mereka semua nampak bersiap-siap untuk mengikuti ujian semester pertama.
Semua murid-murid dengan khidmat mengikuti ujian semester pertama,tak terkecuali Zahrana ia begitu semangat untuk mengerjakan soal-soal ujian hari itu. Ia bisa mengerjakannya secara sempurna. Semua kisi-kisi yang ia pelajari dengan teman istimewanya Rivandra Dinata Admaja, keluar semua. Sehingga Zahrana dapat dengan mudah mengerjakan soal-soal ujian tersebut.
"Kak Rivandra, terimakasih karena kau telah berkenan menjadi teman istimewa ku, selama kurang lebih dua bulan ini dirimu menemani hari-hari ku di sekolah. Bersama dengan mu menjadi pemantik semangat ku untuk terus semangat belajar dan berkarya. I LOVE YOU ... teman istimewa ku,kak Rivandra Dinata Admaja," bisik hati kecil Zahrana.
__ADS_1
Ia terus memandangi kertas ujian semester pertama yang sudah selesai ia kerjakan, seraya membayangkan wajah kekasihnya ' RIVANDRA DINATA ADMAJA'.