Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
37 . Kerinduan Vs Pak Pos Dadakan


__ADS_3

Zahrana duduk terpaku, bersandar di kursi meja belajar nya, usai menuliskan balasan surat cintanya untuk Aslan Abdurrahman Syatir,ia pun merenungi kembali jejak - jejak langkah nya, selama hampir masuk empat bulan mengenyam bangku SMP.


Baru kali ini, Zahrana merasakan kerinduan yang teramat sangat terhadap teman - teman sekolahnya,"apa kabar kalian teman - teman ku, Hafidzah, Fadhilah,Bu Zulis?....Zahra kangen sekali dengan kalian semua?rindu sekali dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam", bathin Zahrana dalam hati.


Yang mana pelajaran itu selalu disampaikan secara lemah lembut oleh Bu Zulis,sangat mudah di cerna oleh hati dan pikiran.Sehingga murid - murid pun merasa sangat senang dan puas menerima materi dari Bu Zulis.


Imajinasi Zahrana pun kembali pada kisah dan pertemuan pertamanya dengan sosok kakak kelasnya Rivandra Dinata Admaja, berawal dari adegan Zahrana terlelap di pundak Rivandra ketika sedang berada di dalam Bis Sekolah, di temani oleh alunan musik yang bertemakan remaja, begitu sangat mendayu telinga, terjadilah percakapan dan perkenalan yang penuh makna,hingga akhirnya berlanjut kisah di kantin sekolah, mereka bertemu kembali di kantin sekolah, sehingga berlanjut dengan bentrokan dan kesalahpahaman dengan Priska Prahara kakak kelasnya,yang terlihat memandang sinis kepadanya, seolah ingin membunuh Zahrana dengan tatapan yang sangat mengintimidasinya, cemburu terhadap kedekatan Rivandra terhadap Zahrana.Hingga berlanjut dengan keributan yang tak terelakkan,Priska Prahara kala itu hendak mencelakakan Zahrana sebab terbakar api cemburu terhadapnya.


Jika tidak segera ditopang oleh Rivandra sudah dipastikan Zahrana jatuh terjerembab ke lantai kantin, sudah bisa dipastikan pucuk kepala Zahrana akan membentur bangku kantin.


Kemudian berlanjut dengan kerusuhan selanjutnya,Priska Prahara kembali melakukan aksinya,hendak menjambak rambut Zahrana dan ingin memberikan pukulan diwajahnya, namun dengan secepat kilat sahabatnya Nandini mematahkan pergerakan Priska Prahara dengan jurus tapak sucinya, hingga Priska Prahara yang menjadi korbannya dan mengalami cidera di kakinya.


Kala itu,Zahrana sempat ingin menghindari Rivandra Dinata Admaja, namun pertemuan mereka di Mushola sekolah, membuat Zahrana terkesima dengan sosok Rivandra yang dengan merdunya mengumandangkan adzan dan juga merangkap menjadi imam shalat, membuat Zahrana terpana karenanya, hingga tumbuhlah benih - benih suka berbalut rasa kagum pada sosok Rivandra akan kesholihannya, untuk mencukupi syarat dan rukunnya tanpa di duga Rivandra pun dengan gamblangnya mengungkapkan segala rasanya terhadap Zahrana, hingga Zahrana terpesona karenanya,bak gayung bersambut perasaan mereka pun sama, walaupun detik ini Zahrana belum memberikan jawaban atas segala ungkapan rasa kakak kelasnya Rivandra.


"Ya Allah... maafkan Zahrana karena tiba-tiba merindukan sosok kak Rivandra, maafkan rasa hatiku yang naif ini, menaruh rasa suka terhadap kak Rivandra dan juga mencintai kak Aslan, lalu apa bedanya antara rasa cinta dan suka?"cicit Zahrana dalam hati.


"Aku mencintai kak Aslan Abdurrahman Syatir, namun hatiku pun tak bisa berdusta jika diriku pun merindukan sosok kak Rivandra."


"Inikah rasanya cinta? ataukah hanya nafsu sesaat? ambisi ingin memiliki dua hati, walaupun pada kenyataannya tidak mungkin jika satu pondok ada dua cinta?"cicit Zahrana kembali menimbang - nimbang rasa manakah yang harus ia pilih?Aslan Abdurrahman Syatir atau Rivandra Dinata Admaja?


Lamunan Zahrana pun buyar ketika adiknya Raihan Arman Habibie, tiba-tiba menghampiri dan mengagetkannya.


"Kak Zahraaa....ayooo lagi memikirkan apa?"pekik Raihan sembari menepuk bahunya.


"Raihannn... mulai jahil yach!... jantung kakak hampir copot tahu!... ujar Zahrana setengah berteriak.


"Ya ampun kak,galak amat...apa gerangan yang membuat kakak ku yang cantik nan ayu ini bermuram durja?"tanya Raihan dengan gaya sok dewasanya.


Zahrana pun terdiam sejenak tidak mesti harus menjawab apa.


"No coment!... ini masalah orang dewasa, anak kecil jangan ikut campur,sana buruan mandi,siap - siap untuk berangkat sekolah!"usir Zahrana pada Raihan.


Raihan pun masih berdiri tegak tanpa bergeming netra matanya tertuju pada sepucuk surat diatas meja belajar Zahrana yang belum sempat di selipkan Zahrana lantaran terbuai oleh lamunannya.

__ADS_1


"Ciyeeee... pantesan rada galak, nggak mau di ganggu, jadi itu toh penyebab nya?"goda Raihan pada Zahrana kakaknya seraya mengintip bait kata di secarik kertas yang telah di goreskan oleh Zahrana.


"Maa syaa Allah kak, puitis amat, masih belia juga ungkapannya sudah seperti orang dewasa yang berusia 25 tahun",cercah Raihan.


"Aihs...kepo sekali dirimu dek, masih kecil juga, mau tahu aja urusan orang dewasa,ini privasi tahu!"timpal Zahrana pada Raihan adiknya.


"Ya Allah kak, pakai main rahasiaan segala... Raihan juga sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kok, keintiman antara kak Aslan dan kak Zahrana di Toko Sembako waktu itu, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi kok",ujar Raihan tidak mau kalah.


"Husss... jangan di ungkit - ungkit lagi kali dek!...lagian itu kan cuma khilaf.Misalkan terdengar oleh Ayah dan Bunda gimana? bisa berabeh urusannya, Ayah dan Bunda pasti marah besar, please ya dek jangan pernah bahas itu lagi yach!"pinta Zahrana pada Raihan.


"Oke deal!...but jangan di ulangi lagi hal semacam itu!"ujar Raihan dengan penuh penegasan seraya menautkan jari kelingkingnya pada Zahrana.


"Oke brother,but help me please!"mohon Zahrana pada Raihan dengan wajah yang terlihat memelas.


"Apalagi sih kak? Raihan mau mandi dulu, nanti kesiangan berangkat sekolahnya", tutur Raihan dengan wajah agak di tekuk, merasa risih dengan kebawelan kakaknya.


"Ini dek, tolong berikan surat balasan dari kakak untuk kak Aslan, atau titip pada Nandini juga boleh, nanti Raihan pura - pura beli permen aja gitu, habis itu kasih deh surat nya pada kak Aslan or Nandini... asalkan jangan dititipkan pada Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani!...bisa gawat ceritanya",titah Zahrana pada Raihan.


Raihan tertegun sejenak, sebelum mengiyakan permintaan kakaknya, yang menurutnya begitu sangat merepotkan sekali.


"Iya deh kak!"sahut Raihan dengan langkah gontai sembari memasukkan surat tersebut kedalam saku celananya.


"Eh... tunggu dulu!"pekik Zahrana lagi.


"Ada apa lagi sih kak?"ujar Raihan mulai jengah, sebab waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 wib.Ia ingin segera melakukan ritual mandi dan sarapan pagi sebelum menunju sekolahnya, belum lagi amanah untuk mengantarkan surat tersebut sangat memakan waktu sekali bagi Raihan.


"Tidak ada dek,kakak cuma mau bilang, jangan sampai ketahuan Ayah dan Bunda!"ujar Zahrana dengan suara pelan, sembari menempelkan jari telunjuknya pada bibir mungilnya.


"Ya Allah kak, Raihan kira apa, pakai back street segala", timpal Raihan.


Raihan pun segera bersiap-siap untuk melakukan ritual mandinya.Didapur pun Raihan berjumpa dengan Ayah dan Bunda nya, hendak menitipkan surat izin Zahrana tidak masuk sekolah pada Nandini untuk diberikan kepada wali kelas Zahrana,Bu Zulis.


"Ya Allah, hari ini Raihan merangkap jadi Pak Pos betulan", cicit Raihan

__ADS_1


Raihan pun segera melanggang pergi ke Toko keluarga Aslan guna mengantarkan surat cinta Zahrana untuk Aslan dan juga surat izin tidak masuk sekolah, lantaran kaki Zahrana masih sakit.


***


Disisi lain.


"Ayah, Ibu... Nandini berangkat sekolah dulu ya?"ucap Nandini penuh antusias seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Iya nak,mau diantar ke Sekolah atau naik Bis lagi ni?"tawar Ibu Ratna Anjani.


"Naik Bis aja Bu",tutur Nandini meyakinkan.


Tak lupa Nandini mengucapkan salam kepada kedua orangtuanya, kemudian menghampiri kakaknya Aslan yang sedang sibuk di Toko melayani para pembeli, yang tampak ramai membeli sayur mayur, sebab Toko keluarga Aslan disebelah nya merangkap warung sayur, jadi pagi - pagi sangat ramai para pengunjung.


"Kak Aslan,semangat dong!...wajahnya jangan di tekuk seperti benang kusut saja, nanti pelanggan pada ngacir, takut melihat wajah kakak yang menyeramkan seperti darkor alias dara kora", celutuk Nandini sembari mengunyah permen karet nya,seraya duduk manis di beranda Toko hendak menunggu Bis Sekolah.


Selang berapa menit kemudian, muncul lah Raihan dengan terengah-engah seperti habis lari maraton.


"Hahaha... kenapa pula kau Rai? seperti di kejar oleh macan tutul saja", celutuk Nandini dengan gaya metalnya.


Raihan nampak mengusap wajahnya yang nampak sedikit berkeringat.


"Biasa lah kak, hari ini Raihan lagi jadi Pak Pos dadakan", ujar Raihan.


Nandini melongo mendengar penuturan Raihan.


"Eh...malah bengong, ini surat izin kak Zahrana, hari ini kak Zahra tidak masuk sekolah kakinya masih sakit,ini amanah dari Ayah Bunda, tolong sampaikan ke wali kelas kalian, siapa namanya Raihan lupa", ujar Raihan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Emm...Bu Zulis". jawab Nandini seraya meraih surat izin tersebut dari tangan Raihan.


"Eh... tunggu dulu!"sergah Raihan.


"Apalagi anak bawel", cercah Nandini pada Raihan.

__ADS_1


"Ini surat cinta dari kak Zahrana untuk kak Aslan, katanya sih itu balasan surat cinta kak Aslan yang kemarin, biasalah yang lagi kerinduan,' Tak ada akar rotan pun jadi ', tutur Raihan tanpa jeda, sehingga terdengar oleh telinga Aslan yang sedang sibuk melayani pembeli yang masih tinggal beberapa orang ibu - ibu yang sedang fokus membeli sayur - mayur.


Beberapa orang ibu - ibu sempat berbisik kecil namun mereka kembali fokus memilih dan memilah sayur mayur yang akan dibeli, sehingga tidak mau ambil pusing dengan perbincangan Nandini dan Raihan, yang menurut mereka dua bocah tersebut hanya berkelakar alias bersenda gurau saja.


__ADS_2