
Para Wali Murid telah memasuki ruang kelas masing-masing, sesuai dengan kelas yang sedang di tempati Siswa-siswi SMP Negeri 3 XX.
Di sini, dikelas 1B. Zahrana dan teman-temannya, nampak tidak sabaran untuk segera menerima rapor mereka. Begitu pun Para Wali murid, mereka tampak antusias sekali ingin melihat nilai raport anak-anak mereka.
Bu Zulis, wali kelas Zahrana nampak terlihat anggun dengan hijab segiempat menutupi tubuhnya yang menjulur indah melewati batas pinggangnya. Bisa dibilang dengan hijab syar'i yang benar-benar menutupi seluruh lekuk tubuhnya.
"Assalamu'alaikum ... Para wali murid, selamat pagi semuanya."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... pagi juga Buuu ... "ujar para wali murid.
"Hari ini, saya akan membagikan Rapor semester anak-anak Ibu dan Bapak. Namun, sebelumnya saya akan mengumumkan siapa-siapa yang juara kelas. Di mulai dari urutan ke-5 besar."
"Peringkat ke-5 jatuh pada Kirana Larasati!"
"Peringkat ke-4 jatuh pada Fadhilah!"
"Peringkat ke-3 jatuh pada Hafidzah!"
"Sedangkan peringkat ke-2 jatuh pa-da ... Si Kutu Buku Kita 'Zainal Abidin!" para wali murid dan Siswa-siswi bersorak riang. Mereka bertepuk tangan memberikan apresiasi pada murid-murid kelas 1B yang telah berhasil menduduki peringkat kelas.
Di sesi terakhir semua yang hadir nampak antusias sekali. Mereka semua merasa sangat penasaran, siapa gerangan menduduki peringkat pertama.
"Dan ... Peringkat pertama di semester awal ini, ja-tuh pada ... 'Tsamirah Zahrana Az Zahra'," ujar Bu Zulis.
Bu Zulis nampak tersenyum bahagia, jika murid kesayangannya Zahrana menduduki peringkat pertama.
Zahrana nampak tersenyum bahagia, ketika Bu Zulis menyebutkan jika yang menduduki peringkat pertama adalah dirinya. Ia tidak menyangka jika sampai menduduki peringkat pertama, setelah melalui proses belajar selama 6 bulan terakhir ini.
Teman-teman Zahrana pun ikut bersorak gembira, mereka pun segera berhamburan memeluk Zahrana.
"Selamat ya ... Princess!" ujar semua teman-temannya secara bergantian memeluk Zahrana.
Mereka semua berada di luar kelas,sebab di ruang kelas dikhususkan untuk Para Wali murid.
"Kau juga Hafidzah, Fadhilah dan Kirana Larasati, selamat ... kalian juga termasuk kedalam peringkat 5 besar," ujar Zahrana kepada teman-temannya.
Sementara Cinta Kiara Khoirani dan Nandini Sukma Dewi nampak memanyunkan bibirnya, sebab tidak ada yang mengucapkan selamat untuk mereka berdua.
"Yach ... kita dikacangin deh!" ucap Nandini dan Cinta bersamaan. Mereka berdua nampak kompak sekali mengunyah permen karet sebagai pelipur lara mereka.
Zahrana, Hafidzah, Fadhilah dan Kirana Larasati segera merangkul erat Nandini dan Cinta. Sehingga nampaklah mereka ber-enam saling berpelukan erat.
__ADS_1
Semua mata pun tertuju kepada mereka,tak terkecuali Zainal Abidin nampak mencuri pandang pada Nandini Sukma Dewi. Yang sudah 2 bulan terakhir ini tidak bertegur sapa dengan Nandini, sebab kekecewaannya. Nandini lebih memilih Arjuna Restu Pamungkas sebagai teman istimewanya ketimbang Zainal Abidin yang sebenarnya lebih dulu mengenal dan jatuh hati pada Nandini Sukma Dewi.
Melihat Zainal Abidin yang tidak sengaja menatap ke arahnya membuat Nandini terasa terkesima dengan pesona Zainal Abidin.
"Setelah 2 bulan tidak bertegur sapa. Aku baru menyadari jika dirimu begitu sempurna wahai Si Kutu Buku," cicit Nandini.
"Ya Allah ... Kau kini telah berubah gadis metal! dengan rambut mu yang hitam lurus tergerai indah begitu sangat menunjukkan jika dirimu kini sudah menjadi wanita yang sangat feminim," bathin Zainal Abidin.
Nandini memberanikan diri untuk menyapa Zainal Abidin. Sehingga membuat Zahrana dan teman-temannya terperangah di buatnya.
Melihat Nandini yang ingin menuju ke arahnya, membuat Zainal Abidin memalingkan wajahnya. Ia ingin segera pergi dari hadapan Nandini dan teman-temannya.
"Zainal ... tunggu!" pekik Nandini.
Zainal nampak acuh,ia ingin secepatnya melangkahkan kakinya menjauh dari Nandini Sukma Dewi.
Namun, Nandini refleks menarik pergelangan tangan Zainal Abidin. Sehingga Zainal menghentikan langkahnya. Mereka berdua sama-sama diam mematung dan saling melemparkan pandangan satu sama lain.
Jantung Zainal Abidin, seakan berdegup kencang. Dadanya terasa berdebar-debar. Aliran darahnya memompa begitu cepatnya, Zainal terasa seperti tersengat aliran listrik ketika menyadari Nandini menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Nandini Sukma Dewi, bagaimana bisa aku move on dari mu? melihat kau didepan ku seperti ini. Tak ayal membuat ritme jantung ku bergetar hebat, sungguh tatapan bola mata mu membuat ku semakin terpesona pada mu, Wahai jiwa yang tak bisa kumiliki? sungguh dirimu kini telah berdua. Tak ada lagi ruang kosong di hatimu untuk diriku? Aku serupa kumbang yang layu ditaman hati, madu yang hendak ku reguk, kini pun telah ada yang memiliki."
"Sungguh ... Aku seperti manusia bodoh di hadapan mu Nandini Sukma Dewi. Mencintai mu dalam hatiku, sungguh sangat menyiksa bathin ku. Tak ku sangka kenapa aku bisa jatuh hati pada mu,wahai gadis metal?" bathin Zainal Abidin.
Nandini pun melerai genggaman tangannya dari Zainal Abidin. Sungguh Nandini tidak bisa lebih lama lagi berdekatan dengan Zainal Abidin.
Ia khawatir hatinya akan luluh dan berpaling dari Arjuna Restu Pamungkas, sebab pesona Zainal Abidin begitu sangat menghipnotisnya.
"Ma-af atas kelancanganku, selamat atas prestasi mu!" ucap Nandini pada Zainal.
Nandini pun segera pergi dari hadapan Zainal Abidin. Ia pun segera berlari menuju arah Toilet Puteri. Mata Nandini seakan mulai berkaca-kaca,ia ingin menangis sejadi-jadinya.
Namun, pergerakannya tertahan sebab bahu kekar Arjuna Restu Pamungkas segera menahan pergerakannya. Sehingga Nandini jatuh kedalam dekapan Arjuna kekasihnya.
"Hey ... Baby, what happen?" Kenapa kamu menangis?" tanya Arjuna seraya menghapus air mata di pelupuk Nandini.
"Hubby ... kamu!"
Nandini nampak kaget.
"Aku hanya kelilipan, ada debu yang menempel di mata ku," ujar Nandini berbohong.
__ADS_1
"Aku hendak ke Toilet, namun ada dirimu disini, jadi urung deh!" ucap Nandini menyembunyikan perasaannya.
"Ya Ampun ... Arjuna Restu Pamungkas, di cari-cari sejak tadi rupanya dirimu disini, sudah nilainya anjlok. Asyik pacaran pula," ujar Virgantara seraya menjewer telinga sepupunya.
"Awww ... sakit, Kak. Sadis amat sama sepupu sendiri!"
"Itu hukuman untuk mu karena tidak telaten belajar hingga nilai mu sangat buruk seperti ini. Kau lihat Rivandra Dinata Admaja, ia Sang Juara Kelas. Nilainya bagus. Kamu sih... asyik pacaran terusan!" sungut Virgantara.
Nandini dan juga teman-temannya dari kejauhan terkekeh geli melihat Arjuna Restu Pamungkas di jewer dan di omeli Virgantara Dinata Admaja sepupunya.
Tak terkecuali Rivandra Dinata Admaja, ia pun ikut menertawakan Arjuna Restu Pamungkas yang seperti mati kutu, layaknya anak kecil yang ketahuan mencuri dan dihukum atas kesalahan yang diperbuatnya.
Rivandra segera menghampiri Zahrana dan teman-temannya, di depan kelasnya.
"Zahra ... bagaimana nilai raport mu?" tanya Rivandra.
"Alhamdulillah ... kak Rivan, Zahra menduduki peringkat pertama," ujar Zahrana penuh kebahagiaan.
"Maa syaa Allah ... selamat ya, Bidadari kecil ku," puji Rivandra seraya menatap lekat nanar wajah kekasihnya yang terlihat ceria hari ini.
"Kakak sendiri bagaimana?" tanya balik Zahrana.
"Alhamdulillah ... kakak juga menduduki peringkat pertama, sama seperti Zahra."
"Maa syaa Allah ... kita sama ya, Kak."
Zahrana nampak kegirangan, ia pun refleks memeluk Rivandra Dinata Admaja. Saking girangnya. Ia tidak menyadari, jika semua mata tertuju padanya. Tak terkecuali Virgantara, ia nampak kaget jika adik kandung semata wayangnya tiba-tiba dipeluk oleh gadis kecil seperti Zahrana. Yang sejak awal telah mencuri perhatiannya sejak awal mula pertemuan.
"Princess ... tumben dirimu nyosor duluan!" pekik Nandini.
"Ciyeeee ... yang sama-sama juara kelas! dunia pun terasa milik berdua," timpal Cinta Kiara Khoirani.
"Iya mereka cocok sekali menjadi pasangan couple ' Sang Juara Kelas '," pungkas Fadhilah.
"Mari kita sambut Sang juara kelas kita Tsamirah Zahrana Az Zahra dan kekasih hatinya Rivandra Dinata Admaja," guyon Nandini Sukma Dewi.
Semua teman-teman bersorak riang, bertepuk tangan memberikan apresiasi untuk Zahrana dan Rivandra.
Virgantara Dinata Admaja, dibuat penasaran ada hubungan apa gerangan adiknya Rivandra Dinata Admaja dengan gadis kecil yang telah mencuri hatinya?
Sementara ... Aslan Abdurrahman Syatir baru keluar kelas ingin menghampiri Nandini adiknya, juga sekedar menyapa Zahrana kekasihnya. Ia ingin memberikan ucapan selamat atas prestasi yang diraih Zahrana Sang Bidadari kecilnya.
__ADS_1
"Ya Ampun ... untung saja Princess Zahra sudah melerai pelukannya dengan kak Rivandra. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi? hampir saja ketahuan," bathin Nandini.