Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
112 . Mengsedih


__ADS_3

Zainal Abidin pun perlahan menjauh dari pertunjukan yang di lakoni oleh Nandini Sukma Dewi dan Arjuna Restu Pamungkas. Ia tidak sanggup terus menerus melihat kemesraan antara keduanya. Zainal Abidin memilih untuk beranjak pergi dari keramaian tersebut.


"Semua harapan ku terhadap mu kini benar-benar telah sirna Nandini Sukma Dewi, selama hampir 6 tahun terakhir ini aku masih terus menunggu mu. Dari semenjak duduk di bangku SMP hingga SMA akhir aku terus menunggu mu Nandini Sukma Dewi."


"Dan sampai detik ini pun, aku terus menunggu mu untuk segera putus dengan kekasih mu Arjuna Restu Pamungkas. Namun, semua itu kini seolah-olah tak bermakna. Aku menyerah, aku lelah Din. Pupus sudah harapan ku untuk bersama mu, Din."


"Melihat cincin melingkar di jari manis mu, sudah cukup membuktikan bahwa nama ku tidak pernah tertulis di hatimu."


"Mengsedih ... kenapa aku bisa jatuh hati pada mu gadis metal?" Zainal terus meratapi kedukaannya.


Zainal hendak mempercepat langkahnya. Ia ingin segera menenangkan dirinya, di ruangan khusus pribadi keluarganya. Tanpa sepengetahuan Arjuna Restu Pamungkas, ternyata Kafe XX yang menjadi tempat bernaungnya Party Arjuna Restu Pamungkas adalah milik keluarga Zainal Abidin.


Lagi-lagi Arjuna tidak menyadari itu. Kafe XX tersebut baru di bangun oleh orang tua Zainal semenjak 2 tahun terakhir ini.


Semakin hari, semakin banyak pengunjung yang berdatangan ke Kafe tersebut. Banyak juga yang membooking Kafe tersebut menjadi tempat untuk mengadakan party atau hal istimewa lainnya dalam sejarah kehidupan mereka masing-masing.


Selain tempatnya nyaman dan menyenangkan, juga menu yang disediakan sangat lengkap dan menggoda selera. Wajarlah Kafe milik Zainal dan keluarga sangat digemari oleh masyarakat luas.


Selain itu, kini mereka memiliki 5 cabang ZA Lamongan grup, di lima tempat yang berbeda. Lagi-lagi Zainal yang usianya masih terbilang muda pun ikut meninjau bisnis yang sedang di kelola oleh keluarganya.


Mengetahui jika Kafe XX tersebut , di booking atas nama Arjuna Restu Pamungkas. Zainal Abidin pun berinisiatif untuk datang meninjau acara party tersebut. Betapa mengsedihnya hati Zainal Abidin, harus berkali-kali patah hati oleh karena Nandini Sukma Dewi yang selalu tertangkap indera penglihatannya, kerapkali selalu melihat adegan romantis dari kedua pasangan tersebut.


"Nandini Sukma Dewi, dari semenjak awal masuk SMP hingga SMA, sampai detik ini pun aku belum bisa move on dari mu. Kendati pun aku berusaha menjauh dari mu tetap saja aku tidak bisa melupakanmu hingga detik ini," Zainal menghempaskan tubuhnya diruangan khusus keluarganya.


Zainal termangu mengenang cintanya yang tak berbalas oleh Nandini Sukma Dewi. Zainal berusaha memejamkan matanya, namun sulit baginya untuk melupakan bayang-bayang wajah Nandini Sukma Dewi.


"Aku lebih baik pergi dari Kafe ini, biarlah para waiters dan waitress yang menangani semua acara yang sedang berlangsung." Zainal pun segera menyambar kunci mobilnya. Ia sudah sanggup lagi untuk terus berada di dalam Kafe tersebut. Ia tidak sanggup melihat keromantisan Nandini dan Arjuna yang terus menerus menggores kalbunya.


***


"Hubby, aku ke toilet dulu! silahkan nikmati dulu segala hidangan yang ada."


"Iya, hati-hati Honey! jika perlu biar aku yang temani," ucap Arjuna disela-sela mengunyah makanan yang ada di hadapannya.


"Tidak perlu Honey, kita kan belum halal. Masak ketoilet juga harus ikut?"


Nandini tergesa-gesa untuk menuju ke toilet, lantaran benar-benar kebelet ia tidak menyadari jika dihadapannya juga sudah berdiri sosok laki-laki yang tampan nan rupawan di hadapannya yang juga sama-sama tergesa seperti dirinya.


"Gubrakkk!" Nandini pun bertabrakan dengan pria berkacamata tersebut.

__ADS_1


"Awww ... sakit!" pekik Nandini sembari memegang dadanya yang terasa ingin copot dari tempatnya. Ia belum menyadari dengan siapa ia bertabrakan.


Seketika Nandini membelalakkan matanya, setelah melihat siapa yang kini ada di hadapannya.


"Maaf, kau ... kau tidak apa-apa?" Zainal bertanya pada Nandini Sukma Dewi.


"Kau ... Zainal?" Nandini refleks memegang wajah Zainal Abidin.


Zainal pun membulatkan matanya.


"Nan ... Nandini! kau kah ini?" Zainal memegang tangan Nandini yang menempel di kedua pipinya.


Seketika mereka pun beradu pandang.


"Zainal, kemanakah dirimu selama ini? benarkah ini dirimu?" tanya Nandini dengan rasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Sudah hampir 3 tahun terakhir ini Nandini tidak pernah lagi melihat wajah Zainal Abidin setelah lulus SMP. Mereka sama-sama melanjutkan Sekolah yang berbeda tempat, agar jangan sampai bersua kembali, mengingat tentang rasa mereka yang tidak bisa bersatu lantaran orang ketiga.


Sebab waktu itu Nandini lebih memilih untuk bersama Arjuna Restu Pamungkas.


"Iya, ini aku Din. Selamat atas ikatan mu dengan Arjuna Restu Pamungkas hari ini!" ucap Zainal dengan nada sendunya.


"Ma-af, ini ... ini!" ucap Nandini terbata.


Belum sempat mereka saling berucap. Namun, pekikan yang mengganggu terasa memekakkan gendang telinga.


"Honey! inikah yang hendak kau lakukan dibelakang ku? hingga kau menolak kehadiran ku untuk menemani mu ke Toilet? Kau ingin berduaan dengan laki-laki ini!" ucap Arjuna berang.


"Ma-af, Hubby. Ini tidak seperti yang kau lihat," ucap Nandini berkilah.


Arjuna mendongkak wajahnya. Ia pun melihat ke arah pemuda yang telah berani-beraninya menyentuh kekasihnya.


"Kau ... Kau lagi! sejak kapan kau hadir di sini? Aku merasa tidak pernah mengundang mu," tutur Arjuna sembari mengepalkan tinjunya.


Ingin sekali Arjuna memberikan bogem mentah di wajah Zainal Abidin. Namun ia berusaha untuk menahan dirinya.


"Hubby, sudah! ini tak seperti yang kau lihat," ucap Nandini menahan tangan Arjuna.


"Ikut aku!" Arjuna menarik pergelangan tangan Nandini Sukma Dewi.

__ADS_1


"Tunggu sebentar Hubby! Aku benar-benar sudah kebelet." Nandini segera melerai genggaman tangan Arjuna. Ia pun segera masuk ke Toilet guna membuang hajatnya.


Arjuna pun segera menunggu Nandini di depan pintu toilet. Ia pun segera mengusir Zainal untuk enyah dari pandangan mereka berdua.


"Pergilah! jangan pernah menampakkan wajah mu dihadapan kami lagi! Nandini itu milikku," ucap Arjuna penuh ketegasan.


"Baiklah ... tolong jaga Nandini baik-baik jangan pernah sakiti dirinya, jika itu sampai terjadi kau akan berurusan dengan ku," ancam Zainal Abidin dengan nada serius.


Melihat perseteruan antara Tuan Mudanya dan Arjuna Restu Pamungkas, seorang Asisten pribadi keluarga ZA datang menghampiri keduanya.


"Ada apa Tuan Muda Zain dan Tuan Arjuna? perkenalkan ini Tuan Muda Zain anak dari pemilik Kafe ini," ujar Asisten pribadi keluarga Zainal yang memang memiliki wewenang khusus di Kafe XX untuk terus mengawasi perkembangan Kafe XX."


"Jadi, ini adalah Kafe milik keluarga Zainal?" cicit Nandini yang baru keluar dari toilet.


"Zainal, jadi Kafe ini milik keluarga mu?" tanya Nandini dengan rasa tak percaya.


Tempo hari di Pantai Indah Kenangan Bersama, mereka pernah mampir di Lamongan yang ternyata milik keluarga Zainal dan sekarang ia dihadapkan dengan kabar yang lain lagi. Kafe yang di booking oleh kekasihnya Arjuna Restu Pamungkas pun adalah milik keluarga Zainal Abidin.


Pikir Nandini berapa banyak lagi kejutan-kejutan bisnis yang di jalankan oleh keluarga Zainal.


"Kutu Buku, sungguh aku kagum pada mu. Aku tidak pernah mengira di usia muda mu pun kau telah bergelut dalam dunia bisnis. Keren sekali bakat dan kemampuan mu!" bisik hati Nandini Sukma Dewi.


Arjuna diam sejenak. Ia tidak menyangka jika ia benar-benar teledor kali ini, tempat di mana ia bernaung saat ini adalah milik Zainal Abidin .


Ada rasa malu dalam hati Arjuna, sebab dengan berangnya ia telah melabrak Zainal dengan gaya sok arogannya.


Namun, Arjuna tetap merasa ingin berkuasa dan menang sendiri.


"Honey, kita pergi dari tempat ini. Biar Rangga Sahadewa yang menyelesaikan acara ini. Kau ikut dengan ku!" Arjuna kembali menarik pergelangan tangan Nandini Sukma Dewi.


"Ta-tapi By, kita belum selesai makan." Nandini terlihat lesu dengan mood Arjuna yang berubah-ubah.


Akhirnya Nandini pun mengikuti langkah Arjuna, mereka segera melangkahkan kakinya menuju mobil pribadi Arjuna Restu Pamungkas.


Zainal Abidin hanya bisa menatap nanar punggung Nandini Sukma Dewi dan Arjuna yang sekarang tidak nampak lagi dari pandangannya.


"Mengsedih sekali diri mu Tuan Muda Zain, wanita pujaan hati mu telah pun memiliki tambatan hati. Kau jatuh cinta ditaman bunga yang salah," cicit Asisten pribadi Zainal Abidin didalam hatinya.


🌷🌷🌷

__ADS_1


...Pencerahan 👉 "Apakah aku salah mencintaimu selamanya? Karena itulah yang aku rasakan sejak pertama kali melihatmu. Aku tidak mengatakan aku memikirkanmu terus-menerus. Tetapi, aku tidak dapat menyangkal fakta bahwa setiap kali pikiranku mengembara, selalu menemukan jalan kembali kepadamu. Sungguh menyakitkan ketika kamu memiliki seseorang di hatimu tetapi kamu tidak dapat memiliki mereka dalam pelukanmu.". ( Mengsedih 😥😥 )...


__ADS_2