
"Ya Allah ... terima kasih Engkau telah menyelamatkan hamba dari perzinahan. Jika tidak Engkau rahmati biduk hawa nafsu hamba sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang merugi!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.
Zahrana meyakini jika rasa malu yang menyeruak didalam hatinya adalah sebagian dari IMAN kepada Rabb-Nya. Zat yang Maha Melihat akan kehinaan dan kerendahan dirinya atas segala kesalahan dan khilaf yang telah diperbuat olehnya.
Zahrana mencoba untuk memejamkan matanya, namun insiden di dapur bersama Muhammad Zaid Arkana berapa menit yang lalu selalu terngiang-ngiang di benaknya.
"Astaghfirullah ... kenapa senyuman dan tatapannya membuat hatiku menjadi tak menentu seperti ini? kenapa dirinya hadir dalam hidup ku ketika aku telah memantapkan hati ku hanya untuk kak Yusuf Amri Nufail Syairazy?"
"Ya Allah ... kenapa Engkau hadirkan kak Zaid dalam kehidupan ku, ketika aku sedang berusaha meniti jalan hijrah ku? ya Allah berikanlah hamba kekuatan dan kesabaran untuk hamba dalam memerangi biduk hawa nafsu hamba yang sewaktu-waktu bisa hadir tanpa bisa untuk ku cegah."
"Ya Allah ... sesungguhnya hamba telah berusaha untuk tidak menempuh jalan pacaran. Dan hamba pun telah berusaha untuk tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram hamba, namun kak Zaid tiba-tiba muncul di hadapan ku sehingga tanpa sengaja kami bertemu dan bertabrakan di dapur. Bodohnya aku, kenapa aku pun terbuai oleh sentuhannya yang hampir menghipnotis ku!" bathin Zahrana dengan terus mencecar dirinya sendiri.
"Kak Zaid, pergi dan menjauhlah dirimu dari hati dan pikiran ku! Yang aku harapkan untuk menjadi imam ku adalah kak Yusuf, bukan dirimu Muhammad Zaid Arkana!" tegas Zahrana dalam hatinya.
Hari sudah menunjukkan pukul 23.40 wib Zahrana tidak bisa tidur, ia terus terbayang-bayang akan kejadiannya di dapur bersama Muhammad Zaid Arkana.
"Tenang Zahrana, jangan terburu-buru menampikkan perasaan, perjuangan mu untuk menantikan kehadiran kak Yusuf insya Allah tinggal 3 tahun lagi, bersabar lah wahai hati! jangan sampai dirimu goyah dan salah langkah! lupakan tentang pemuda yang bernama Muhammad Zaid Arkana!" bathin Zahrana dengan terus menyemangati dirinya sendiri.
"Hoammm! aku ngantuk berat, Bismika allahumma ahya wa aamut ( Ya Allah dengan nama mu aku hidup dan aku mati )."
Zahrana pun terlelap dalam peraduannya, setelah melafalkan do'a pengantar tidurnya. Ia tertidur dengan membawa sejuta perasaan dan pikiran yang sedang berkecamuk di benaknya.
Harapannya, semoga kedepannya ia bisa mawas diri lagi dan bisa menempatkan perasaannya pada satu hati, agar tidak mudah goyah dengan kehadiran orang-orang baru dalam hidupnya. Entah orang awam atau orang yang Sholeh sekalipun.
***
Di kamar tidur khusus tamu.
Muhammad Zaid Arkana terlihat mengantuk berat setelah selesai menuntaskan hasrat terpendamnya di kamar mandi berapa menit yang lalu.
"Astaghfirullah ... sudah pukul 00.00, aku benar-benar lelah dan mengantuk berat setelah melakukan hal yang tidak lazim tersebut. Namun, setidaknya hasrat ku telah tersalurkan pada saat yang tepat."
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, kau benar-benar telah membuat ku tergila-gila pada mu. Jika tidak ingat akan Zat yang Maha Mengawasi, sungguh aku tidak tahu apakah yang akan terjadi pada diri ku dan dirimu? Kau benar-benar telah memancing hasrat ku dengan keindahan dan kemolekan tubuh mu!" bathin Zaid dengan memejamkan matanya. Ia pun terlelap dalam mimpinya.
Rasa nikmat yang menjalar dalam tubuhnya pun, kini benar-benar membuatnya terlelap dengan pulasnya.
***
Di kamar khusus Sabrina Zelmira Al Aqra dan suaminya Fardhan Arkhan.
"Umm, bangun! Abi kangen," ucap Fardhan dengan menggoyangkan tubuh sintal milik Sabrina.
Sabrina mengerjapkan matanya yang masih menyipit.
__ADS_1
"Ada apa sih, Bi? Ummi ngantuk berat, Abi seperti anak kecil saja!" cetus Sabrina mencebikkan bibirnya.
"Sudah halal, kapan saja boleh kok, Umm? dosa lho kalo nolak suami!" ucap Fardhan dengan menarik tubuh Sabrina kedalam pelukannya.
"Tapi, Ummi ngantuk berat Bi. Satu Minggu kita selalu menghabiskan waktu penuh bergulat di atas ranjang. Besok kan Abi harus kerja lagi, nanti tenaga Abi terkuras dan bangun kesiangan. Malu sama tamu, Akh Zaid kan menginap di sini? Ada Zahrana juga, lanjut besok malam saja Bi. Sunnah Rasul-nya malam Jum'at saja!" ucap Sabrina memelas.
"Maaf, Mi. Abi benar-benar sudah sampai di ubun-ubun!" ucap Fardhan dengan mencium dan menyesap bibir ranum milik Sabrina dengan nafsu yang menggelora.
"Bi, humpttttt!" Sabrina berusaha mengimbangi permainan suaminya Fardhan Arkhan.
Fardhan terus bergerilya menyesap bibir manis nan ranum milik Sabrina dengan deru nafas yang memburu. Ia membelit lidah tersebut dengan beringasnya, hingga sampai menuju puncak nirwana.
Fardhan melepaskan satu persatu kancing piayama tidur milik istrinya, dan melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuh istrinya, begitu juga dengan dirinya yang kini tidak lagi menggunakan sehelai benang pun.
Didalam satu selimut Fardhan terus menggumuli istrinya hingga keduanya pun mencapai puncak kenikmatan surgawi bersama-sama.
"Bi, Ummi sudah tidak kuat lagi!" ucap Sabrina dengan deru nafas dan rasa nikmat yang teramat sangat.
Fardhan menatap lekat nanar wajah Sabrina yang terkulai lemas oleh permainan panjangnya.
"Terimakasih, Ummi untuk semuanya. Abi mencintaimu!" ucap Fardhan dengan mengecup dahi, kelopak mata dan bibir ranum milik istrinya. Keduanya pun terkulai lemas setelah pertempuran panjangnya.
Mereka pun tertidur pulas dalam satu selimut, nikmatnya bercinta dengan pasangan yang halal itu adalah anugerah yang luar biasa dari Sang Maha Pencipta.
Sudah halal, kapan saja boleh menyalurkan hasrat dan segala keinginan yang terpendam. Berbeda dengan mereka yang masih berstatus lajang, semua memiliki batasan yang tidak boleh dilanggar dalam pandangan syari'at Islam.
Seperti halnya Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana, ada batasan yang harus mereka jaga agar sampai melanggar norma dan rambu-rambu yang ada. Keduanya harus bisa menjaga marwahnya dan itu berlaku bagi semua muslim yang masih melajang agar jangan sampai terjerat dalam lumpur dosa yang bisa menjerat sang pemilik jiwa dalam lembah kenistaan.
Sejatinya agama Islam telah mengatur hubungan yang baik antara dua insan yang berlainan jenis dengan cara yang telah dihalalkan yakni Janji Suci Pernikahan.
Ayat Al Qur'an pun menjelaskan tentang anjuran menikah bagi siapa pun yang masih berstatus lajang, yang bunyinya :
وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ
Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS An-Nur: 32).
Di perkuat pula oleh hadits Nabi besar Muhammad Saw. yang berbunyi :
وقال صلى الله عليه وسلم من تزوج فقد أحرز شطر دينه فليتق الله في الشطر الثاني وهذا أيضاً إشارة إلى أن فضيلته لأجل التحرز من المخالفة تحصناً من الفساد فكأن المفسد لدين المرء في الأغلب فرجه وبطنه وقد كفى بالتزويج أحدهما
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa yang menikah, berarti telah melindungi setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah agamanya yang kedua.” Ini merupakan isyarat tentang keutamaan nikah, yaitu dalam rangka mlindungi diri dari penyimpangan, agar terhinndar dari kerusakan. Karena yang merusak agama manusia umumnya adalah *********** dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satu telah terpenuhi. (Ihya Ulumiddin, 2/22)
Demikianlah, sekilas penjelasan singkat tentang anjuran menikah. Seperti halnya Fardhan Arkhan dan Sabrina, mereka bebas menyalurkan hasratnya dalam keadaan dan waktu apa pun yang mereka inginkan, sebab semuanya sudah halal untuk mereka kecapi bersama.
__ADS_1
***
Keesokan harinya.
Kumandang adzan Shubuh di Mesjid Al Hidayah, yang tak jauh dari kediaman kakak Zahrana, Sabrina Zelmira Al Aqra pun menggema di penjuru kota S.
Zahrana bergegas bangkit dari tempat tidurnya. "Alhamdulillahil adzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur ( Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami Kembali setelah mematikan kami dan kepada Allah kami akan dibangkitkan )."
Setelah selesai membaca do'a bangun tidur, Zahrana segera membersihkan dirinya. Ia memilih untuk melakukan ritual mandi dahulu sebelum melaksanakan shalat Shubuh.
Semenjak bekerja di Aisyah Boutique Collection, Zahrana terbiasa mandi pagi sebelum shubuh. Selain bisa mencerahkan wajahnya, Zahrana terlihat segar dan sehat sepanjang hari. Bangun shubuh memberikan energi positif dalam dirinya.
"Alhamdulillah ... berkah diwaktu Shubuh, sungguh sangat terasa sekali. Cuaca di pagi hari benar-benar sejuk dan menyenangkan!" gumam Zahrana yang kini tampak segar dan bugar.
Zahrana membuka jendela kamarnya, ia nampak menghirup udara segar yang masuk lewat celah kamarnya.
"Hemmm ... Allahumma innii as-aluka 'ilman naafi'a, wa rizqon thoyyibaa, wa 'amalan mutaqobbalaa. "Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik)."
Setelah membaca do'a di pagi hari tersebut, Zahrana pun segera menghamparkan sajadahnya. Ia pun, melakukan kewajiban sholatnya dengan khusu'nya, tak pula ia mendaras Qur'an yang memang sudah menjadi kegiatan rutinnya setelah menjalankan Ibadah shalat 5 waktu.
***
Zaid mengerjapkan netranya, setelah mendengar suara merdu dari sosok bidadari yang bersebelahan dengan kamarnya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan penuh penghayatan dan penjiwaan.
"Maa syaa Allah Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh diri ku semakin terpesona oleh dirimu. Kesholihan yang ada dalam diri mu, semakin menambah keanggunan mu!" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana dengan sejuta bunga-bunga cinta yang kini bersarang di hatinya terhadap sosok bidadari yang cantik nan mempesona tersebut yang kini pun telah bertahta di hatinya.
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉 "Kehidupan adalah serangkaian pelajaran yang harus dialami untuk dimengerti. Perjuangan itu bukan proses penderitaan menuju tujuan, tapi proses memantaskan diri untuk meraih tujuan. Perjuangan adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup, jika tuhan membiarkan hidup tanpa hambatan dan perjuangan, itu mungkin akan melumpuhkan kita, karena kita akan senantiasa sombong dengan segala kemudahan, hingga akhirnya jatuh dan kalah."
💐
💐
💐
Sambil menunggu update selanjutnya, mari mampir ke karya author besti, Kak. Tentunya dengan cerita yang tidak kalah seru dan menariknya. 😊😘
Judul karyanya : Rahim Sengketa
Authornya : Asri Faris
__ADS_1