
"Maaf, aku akan tetap di sini. Sampai Zahrana di izinkan pulang. Ia adalah karyawan Aisyah Boutique Collection. Aku punya tanggung jawab penuh terhadapnya," ucap Zaid dengan nada serius.
Sementara, Zahrana yang sedang pura-pura tidur pun di buat takjub oleh perhatian Zaid terhadapnya.
"Ya Allah ... segitu kuatnya hati kak Zaid meski sudah kesekian kalinya aku menolaknya, ia masih sempat-sempatnya memperhatikan ku dan menjagaku!" bathin Zahrana penuh haru.
Pramuja pun akhirnya menyerah, ia pun sedikit menurunkan egonya.
"Ya sudah, jika kau memang ikut berjaga disini boleh-boleh saja. Hitung-hitung ada teman ku ngobrol jika Zahrana sedang tertidur," ucap Pramuja santai.
"Dasar, teman dzolim! jika ada maunya baru deh, bersikap manis." Zaid protes dengan sikap Pramuja yang bertindak semaunya.
"Ya, begitulah Mas bro. Tapi, setidaknya kamu bersyukur sebab sudah ku izinkan disini untuk menjaga sepupu ku!" ucap Pramuja tak mau kalah.
Zahrana yang pura-pura tidur pun jengah dengan tingkah dua sekawan itu yang tiada henti-hentinya berdebat dari sejak awal tadi hingga saat ini.
"Mas Pramuja, kak Zaid. Apa kalian tidak jenuh dari sejak tadi berantem dan berdebat terus?" pungkas Zahrana dengan tiba-tiba berangkat dari brankarnya.
"Zahra, kau sudah bangun!" pekik Pramuja, begitupun dengan Zaid ia pun segera menghampiri Zahrana.
"Iya, kalian berisik sekali!" ucap Zahrana pura-pura nguap.
"Hoammm!" Zahrana menutup mulutnya.
"Kau masih mengantuk, sayang! sebaiknya, tidur lagi!" titah Zaid dengan menarik selimut Zahrana agar segera tidur kembali.
"Sayang ... sayang ... belum halal juga kali!" ucap Pramuja ketus.
Zaid pun terdiam, ia pun bingung entah kenapa semenjak bertemu dan kenal dengan Zahrana, ia sering lepas kendali.
"Zahra tidak mengantuk, Zahra mau makan buah apel," ucap Zahra dengan menunjukkan ke arah parsel buah yang dibelikan oleh Pramuja untuknya.
"Siyappp! my bidadari, aku akan mengupasnya untuk mu!" seloroh Pramuja.
"Biar aku saja, yang kupas!" ucap Zaid dengan segera mengambil keranjang parcel tersebut.
"Aku ... aku!" ucap Pramuja tak kalah sengitnya. Sehingga terjadilah gaya tarik-menarik antara dua anak manusia yang berebutan keranjang parsel.
"Astaghfirullah ... Mas Pramuja, kak Zaid kalian ini benar-benar deh, dari sejak tadi ribut melulu seperti Tom and Jerry."
Zahrana pun memijit pelipisnya, melihat aksi Pramuja dan Zaid yang tiada hentinya berseteru.
Zaid pun segera melepaskan keranjang buah tersebut, jadilah Pramuja merasa bangga, "Yesss .... aku menang!" ucap Pramuja dengan membuka keranjang parcel tersebut. Ia pun mengambil sebuah apel untuk dikupas dan diberikan special untuk Zahrana.
"Ra, kamu tidak apa-apa?" ucap Zaid setengah berlari, ketika melihat Zahrana sedang memijit pelipisnya.
Zaid nampak panik, ia pun segera mengambilkan minyak angin aromatherapy yang sengaja ia bawa pada saat mengantarkan Zahrana kerumah sakit. Ia pun hendak mengoleskan minyak angin tersebut pada Zahrana.
"Manakah yang sakit? biar kakak obati!" ucap Zaid penuh kepanikan.
__ADS_1
Pramuja yang hendak mengupas buah pun, segera menghampiri Zahrana.
"Kau sakit apa, Ra? maafkan kami yang sejak tadi berseteru, hingga membuat mu pusing." Pramuja pun nampak panik.
"Kakak juga minta maaf, Ra." Zaid pun ikut minta maaf. Ia khawatir penyakit Zahrana kumat. Tidak terbayangkan olehnya, bagaimana Zahrana berjuang melawan sakitnya ketika sedang pingsan dan demam tinggi.
Zahrana ingin sekali menertawakan kedua pemuda yang ada di hadapannya, setelah saling berseteru kemudian hadir kembali dengan penuh kepanikan.
"OMG, di kelilingi oleh dua bodyguard tampan yang memiliki karakter yang berbeda, lucu dan unik membuat aku rasanya ingin tertawa. Tapi, ya sudah lebih baik mereka panik seperti ini!" bathin Zahrana.
"Awww ... sakit!" ucap Zahrana sengaja menjahili kedua pemuda di hadapannya tersebut.
"Mananya yang sakit, Ra?" ucap Zaid dengan wajah paniknya. Begitupun Pramuja, hilanglah sifat leluconnya. Ia tidak berkelakar lagi seperti sebelumnya. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan Zahrana.
"Kau tidak apa-apa, Ra? biar Mas yang pijit," ucap Pramuja dengan memijit pelipis Zahrana yang ia kira Zahrana pusing beneran.
"Apa oleskan minyak angin dulu, Ra?" Zaid menyodorkan minyak angin aromatherapy pada Zahrana.
"Terimakasih, Kak. Zahra sudah baikan, Kok." Zahrana benar-benar terkelitik geli melihat tingkah Muhammad Zaid Arkana yang nampak sangat lucu menurutnya.
Mendengar Zahrana sudah baikan, Zaid pun merasa lega.
"Syukurlah, jika begitu, biar kakak yang kupas buahnya. Nanti biarkan Pramuja yang menyuapinya, kau duduk manis. Jangan banyak gerak dulu, lihat selang infus mu terlihat berdarah. Sebab, dari sejak tadi terlalu banyak gerak kesana-kemari!" ucap Zaid, membuat Zahrana bergidik ngeri melihat aliran darah di selang infusnya.
Zahrana menyembunyikan wajahnya dibalik selimutnya, ia memang takut melihat darah. Meskipun itu darahnya sendiri.
Zaid pun mempraktekkan dirinya, agar Zahrana lebih berhati-hati.
"Baiklah, terimakasih kak Zaid." Zahrana pun segera meletakkan tangannya dengan cara yang tepat, agar aliran infusnya kembali normal.
Kemudian, Zaid pun melanjutkan mengupas buah apel permintaan Zahrana dan memberikannya pada Pramuja yang memang mendapat bagian menyuapi Zahrana.
"Alhamdulillah ... selesai! makan dulu buahnya ya?" ucap Pramuja dengan menyuapkan buah apel ke mulut Zahrana.
"Bismillah ... " Zahrana pun mengunyah buah apel tersebut dengan nikmatnya.
Pramuja merasa bahagia sebab bisa menemani Zahrana sepupunya dengan lebih leluasa.
Sekali-kali kedua orang yang berstatus kakak dan adik sepupu itu, saling bercanda ria. Gelak tawa pun menghiasi keduanya.
Zaid nampak tertegun, menyaksikan pemandangan kedua anak muda yang berbeda generasi dihadapannya tersebut.
"Maa syaa Allah ... Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh dirimu terlihat sangat mempesona, dilihat dari sudut pandang mana pun. Semoga kesehatan mu segera pulih, semoga kau bisa melepaskan dan melupakan perasaan cinta mu pada sosok pemuda yang kau sebutkan di dalam mimpi mu itu. Aku akan terus menunggu mu, meskipun seribu kali kau menolak ku!" bathin Muhammad Zaid Arkana dengan terus memandangi wajah Zahrana dari jarak satu meter.
Zaid sengaja membiarkan interaksi antara Zahrana dan Pramuja. Sebab, ia tahu keduanya hanya berstatus saudara sepupu. Jadi, tidak ada hal yang aneh yang harus dicurigainya.
***
Malam pun semakin larut, Zahrana mulai terpejam. Ia membiarkan kedua pemuda tampan yang menjaga dan mengelilinginya tersebut menjadi bodyguard untuknya malam ini. Ia pun terlelap dengan membawa sejuta rasa bahagia dihatinya. Tiada lagi beban berat dipundaknya, dihatinya hanya ada rasa ketentraman dan kedamaian.
__ADS_1
Tinggallah Pramuja dan Zaid yang masih terjaga. Mereka nampak asyik mengobrol, membahas masalah pekerjaan, yang akhirnya membahas tentang perasaan.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 23.00 wib, kedua sahabat itu pun masih terus bercengkrama satu sama lain.
"Pramuja, bisakah kau membantuku?" tanya Zaid dengan nada yang sangat serius.
Pramuja mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Zaid seformal itu padanya. Sebab, biasanya keduanya pun sering berseteru.
"Apa yang bisa ku bantu, katakanlah!" ucap Pramuja tak kalah seriusnya.
Zaid pun menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum menyampaikan maksudnya pada Pramuja.
"Begini, bisakah kau membantuku untuk bisa lebih dekat dengan Zahrana. Aku benar-benar serius ingin mengkhitbahnya. Aku telah berkali-kali mengutarakan niat ku padanya. Namun, ia selalu menolak ku." Zaid pun tertunduk lesu. Ia bingung harus bagaimana lagi agar bisa meyakinkan Zahrana untuk menerimanya.
Pramuja nampak berpikir sejenak, "Apa yang hendak ku jawab? Zahrana sepupu ku. Sementara Muhammad Zaid Arkana adalah sahabat dekat ku, haruskah aku merelakan Zahrana dengan sahabat ku? sedangkan aku sendiri pun sangat mencintai Zahrana, walaupun ku tahu itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Kenapa takdir harus begini? aku mencintai adik sepupu ku sendiri!" bathin Pramuja, ia nampak berpikir keras.
"Hemmm ... baiklah, aku akan mencoba membujuk Zahrana." Pramuja pun akhirnya mengiyakan permintaan Zaid.
"Alhamdulillah ... terimakasih, Pra!" ucap Zaid dengan tersenyum bahagia.
"Sama-sama, Akh Zaid." Pramuja pun berusaha untuk menekan egonya. Ia berpikir jika Zaid adalah sahabat nya, jadi setidaknya ia sudah mengetahui seluk beluk Zaid.
"Oh ya, aku mau istirahat dulu, nanti jika aku sudah terbangun, baru giliran mu istirahat!" ucap Pramuja dengan berbaring dilantai yang sudah diletakkan karpet untuk lesehan.
Zaid pun mengangguk pelan, di saat Zahrana dan Pramuja sedang terlelap Zaid justru masih terjaga.
Malam ini, jadilah Zahrana ditemani dan dikelilingi oleh dua bodyguard tampan yang memiliki karakter dan keunikan masing-masing.😁😁
"Aku akan menjaga mu, sampai kau terbangun Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Muhammad Zaid Arkana dengan menyandarkan kepalanya di kursi.
🌷🌷🌷
Untaian mutiara hikmah👉 "Ketika dalam sebuah perjuangan terdapat tantangan yang besar, berarti keberhasilan yang menanti juga lebih besar. Saat Anda melakukan sesuatu dan gagal, Anda mendapatkan hikmah. Jika tidak melakukan apa apa artinya Anda kalah oleh rasa takut. Banyak orang yang tidak bertindak karena takut gagal, padahal tidak bertindak adalah kegagalan yang jelas sudah terjadi. Kehidupan adalah serangkaian pelajaran yang harus dialami untuk dimengerti. Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara, namun jika menyerah, rasa sakit itu akan terasa selamanya."
🌼
🌼
🌼
Sambil menunggu update selanjutnya, mari mampir ke karya author besti, Kak.
tentunya dengan kisah yang sangat seru dan menarik.😊😘
Judulnya : Wanita Satu malam.
Authornya : Nana Shin
__ADS_1