Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
164 . Senyum Membawa Luka ( Tamu tak di undang )


__ADS_3

Zain dan Barra segera menghampiri Aslan Abdurrahman Syatir yang sedang fokus berbenah di tokonya. Sebab, hari sudah menunjukkan pukul 17.10 Wib, sebelum memasuki waktu Maghrib sudah menjadi kebiasaan toko sembako milik Aslan dan keluarganya tutup sementara dan akan buka kembali ba'da Isya.


"Assalamu'alaikum ... " sapa Zain dan Barra ketika memasuki area toko dimana kini Aslan Abdurrahman Syatir berbenah. Kedua pegawai tokonya Sera dan Raina telah pulang dari sekitar 10 menit yang lalu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab Aslan dengan segera menghentikan pekerjaannya ketika melihat kedatangan Zainal dan Barra Adi Sanjaya.


Aslan melihat penampilan Zain dan Barra dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Perfect!" bathin Aslan, ketika melihat penampilan Zain dan Barra seperti penampilan resmi seperti orang kantoran.


"Apa pula yang dibawa pemuda tersebut?" bathin Aslan bertanya-tanya ketika melihat sosok Barra yang terlihat keren dan perlente dengan setelan jas dan sepatu ala kantoran yang dikenakannya, dapat dipastikan jika Barra terlihat sempurna menjadi sosok asisten pribadi untuk Zainal Abidin.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aslan, ketika melihat sosok Zain dan Barra yang masih bergeming ditempatnya.


Pikir Aslan siapa gerangan tamu tak diundang di hadapannya. "Untuk berbelanja kebutuhan pokok tidak mungkin, untuk membeli bensin untuk kendaraan pribadinya juga tidak mungkin pastilah bahan bakar minyak untuk mobilnya terisi penuh," pikir Aslan dengan seribu pertanyaan yang bermain-main dalam hati dan pikirannya.


"Maaf, Kak. Apa Nandini Sukma Dewi ada di rumah? saya Zainal Abidin, teman sekolah Nandini sewaktu SMP dahulu," ucap Zainal Abidin dengan menjulurkan tangannya pada Aslan.


Imajinasi Aslan kembali ke masa 5 tahun yang silam.


"Maa syaa Allah ... kau Zainal teman Nandini adik ku? iya aku ingat," ucap Aslan dengan melirik wajah Zainal yang memar dan babak belur oleh baku hantamnya dengan Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya Nandini Sukma Dewi, yang menjadi rivalnya.


Menyadari Aslan menatap lekat wajah memarnya, Zainal pun membuka suaranya.


"Maaf, Kak. Ini sedikit cidera," ucap Zainal sambil menyentuh wajahnya yang terlihat bonyok. Namun, ia tetap percaya diri. Baginya bisa sampai di kediaman Nandini Sukma Dewi adalah suatu hal yang sangat berharga dalam hidupnya, tidak dapat di ukirkan dengan seribu kata-kata.


"Oh, ya Kak. Perkenalkan ini teman seperjuangan ku, Barra Adi Sanjaya!" ucap Zain dengan merendahkan diri.


Zainal tidak menjelaskan pada Aslan jika Barra adalah asisten pribadinya. Ia tidak ingin kentara memiliki harta, jabatan, pangkat atau yang semisalnya di hadapan orang lain. Ia cukup dengan kesederhanaannya, tanpa harus menampakkan segala apa yang dimiliki olehnya, di tengah usia mudanya Zainal sudah menjadi sosok pembisnis handal berkat bimbingan ayahnya Fathir Muchtar Lubis.


Bisa di pastikan bisnis Za Lamongan Groups dan Cafe yang baru di rintis Zainal kini semakin berkembang pesat. Namun, tidak membuatnya sombong dan membanggakan dirinya.


Barra yang mengerti akan kerendahan hati Tuan mudanya, pun menjulurkan tangannya pada Aslan. Aslan pun menyambut uluran tangan Barra.


"Baiklah, mari masuk! Nandini ada di dalam, barusan ia dan calon suaminya pulang dari perjalanannya!" ucap Aslan, ia tidak menyadari ada hati yang terluka ketika mendengar ucapan Aslan tentang menyebutkan kata calon suami untuk Nandini.


Senyuman di wajah Zainal pun meredup dari wajahnya yang memang masih bonyok dan tak beraturan itu. Senyum itu pun kini membawa luka untuknya, ia menyadari kini sulit baginya untuk memiliki Nandini Sukma Dewi.


***


Di ruang tamu milik keluarga Aslan Abdurrahman Syatir.

__ADS_1


Arjuna nampak berang ketika melihat Zainal dan Barra masuk ke dalam rumah di temani oleh Aslan Abdurrahman Syatir, calon kakak iparnya.


"Kenapa pula, Si Kutu Buku bersama asistennya bertandang kemari? jangan sampai ia mengadukan wajahnya yang bonyok oleh karena baku hantam dengan ku tadi pada kak Aslan!" bathin Arjuna dengan tatapan yang tak bersahabat pada Zainal Abidin.


"Dasar tamu tak di undang! berani-beraninya ia datang kemari?" sungut Arjuna menatap nyalang pada Arjuna.


Virgantara dan Rangga Sahadewa yang masih setia menemani Arjuna Restu Pamungkas pun merasakan hawa panas pada sorot mata Arjuna yang kentara sekali tidak menyukai akan kehadiran Zainal dan Barra.


Rangga menyenggol siku Virgantara, mengisyaratkan bahwa suasana di ruang tamu milik keluarga Nandini sedang menunjukkan pada tingkat suhu yang tinggi. Arjuna benar-benar terlihat seperti ingin menyerang mangsanya habis-habisan.


Menyadari itu, Virgantara pun menginjak kaki Arjuna sepupunya agar bisa menahan diri dan menjaga sikapnya.


"Awww!" pekik Arjuna tiba-tiba, membuat Aslan yang baru datang bersama Zainal dan Barra pun kaget mendengar pekikan Arjuna.


"Kamu kenapa? ada yang sakit?" tanya Aslan, membuat Arjuna bungkam seketika.


Arjuna melirik ke arah Virgantara. "Dasar kak Virgan, bikin spot jantung saja! apa yang harus kujelaskan pada kak Aslan?" bathin Arjuna dengan wajah yang merah padam.


"Hemmm ... tidak apa-apa kak, kaki ku tiba-tiba tersandung kaki meja!" ucap Arjuna dengan menyentuh ibu jari kakinya.


"Lain kali hati-hati, ruangan segede ini bisa-bisanya tersandung. Oh ... ya, perkenalkan ini Zainal dan temannya Barra, mereka kesini hendak bertemu Nandini. Mungkin ada keperluan," ucap Aslan santai.


Meskipun telah berhijab, namun Nandini masih menampakkan sisi metalnya. Ia tetap Nandini yang penuh dengan keberanian dan ketangguhan. Hanya satu yang membuat ia lemah, benih yang tak berdosa yang kini tumbuh di rahimnya membuatnya harus menekan egonya untuk tetap bertahan dengan Arjuna meskipun sebenarnya kini hatinya sudah berpaling hati pada sosok Zainal Abidin.


Rasa cinta untuk Arjuna benar-benar hampir terkikis dari hatinya. Dulu memang benar Arjuna adalah segala baginya. Namun, kini ia merasakan kehampaan dalam hatinya ketika ia tahu jika sikap arogan dalam diri Arjuna semakin menjadi-jadi.


Nandini kecewa dengan Arjuna, Nandini pun merasa jijik pada dirinya sendiri kenapa dulu ia jatuh hati pada Arjuna, hingga berujung kesuciannya pun terenggut oleh pemuda yang mengaku sebagai kekasihnya, mencintainya dengan tulus. Namun, kini semua berubah semua rasa itu seolah tenggelam dan mati bersama kekecewaan Nandini terhadap Arjuna Restu Pamungkas yang sering berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan orang lain.


Nandini pun kecewa ketika menyaksikan Arjuna memukul habis-habisan Zainal didepan matanya yang pada saat baku hantam tersebut Zainal sempat lengah dan fokusnya hanya tertuju padanya.


Nandini keluar dari bilik kamarnya, ia baru selesai membersihkan tubuhnya setelah seharian penuh menghabiskan waktu senggangnya hari ini.


Nandini terpaku ketika melihat kedatangan Zainal dan Barra.


"Zainal!" ucap Nandini, seketika ada kebahagiaan yang menyeruak di hati Nandini Sukma Dewi ketika melihat kehadiran Zainal dirumahnya.


Netra Nandini pun tertuju pada kantong kresek yang dibawakan oleh Barra.


"Maa syaa Allah ... bukankah ini kantong kresek milik ku!"


Dengan mata berbinar Nandini menghampiri Barra dan Zain.

__ADS_1


"Iya, ini milikmu! tadi ketinggalan di mobil ku, kami sengaja mengantarkan barang milik mu. Kau pasti membutuhkan ini," ucap Zain dengan mengambil alih kantong kresek yang berisi susu ibu hamil itu dari tangan Barra Adi Sanjaya dan menyerahkan langsung barang tersebut pada Nandini.


"Maa syaa Allah ... Alhamdulillah ... aku hampir lupa tadi, terimakasih Zainal. Terimakasih Mas Barra!" ucap Nandini dengan manik mata yang berbinar.


Tanpa sadar, Nandini refleks mengelus perutnya yang masih datar. "Nak, andai saja Om Zain yang menjadi ayah kandung mu, tentu mama sangat berbahagia sekali!" bathin Nandini.


"Ya Allah ... maafkan hamba atas rasa yang salah ini!" bathin Nandini lagi.


Zainal tiada henti memandangi wajah Nandini, meskipun terhalang oleh pandangan Arjuna yang menatap nyalang padanya.


"Ku kira urusan kalian sudah selesai! Nandini calon isteri ku, insyaAllah malam nanti aku akan membawa orang tua ku kemari. Aku akan melamar Nandini Sukma Dewi, dalam waktu satu Minggu kedepan kami akan melangsungkan pernikahan!" tegas Arjuna dihadapan semuanya. Hingga yang mendengar ucapannya pun tak menyangka akan keberanian Arjuna Restu Pamungkas.


Aslan yang tidak peka tentang cerita segitiga antara adiknya Nandini Sukma Dewi dengan Arjuna juga Zainal Abidin, ia pun mendukung niat baik Arjuna.


"Aku sepakat dengan keputusan mu, lebih cepat lebih baik!" ucap Aslan dengan menepuk bahu Arjuna. Sosok pemuda yang akan menjadi adik iparnya, juga suami sekaligus calon ayah untuk bayi yang dikandung oleh adiknya Nandini.


Arjuna nampak sumringah mendengar penuturan Aslan, ia merasa bahagia sebab lamarannya otomatis akan segera di terima dan tentunya ia menang seribu langkah dari Zainal Abidin.


"Terimakasih, Kak!" ucap Arjuna dengan merangkul bahu Aslan.


Arjuna merasa bangga, dengan dukungan calon kakak iparnya. Ia pun melirik ke arah Zainal dengan seringai liciknya.


"Rasakan oleh mu Si Kutu buku yang belagu, akhirnya kau pun kena batunya. Aku tidak perlu bersusah payah untuk menjatuhkan mu, cukup dengan melemparkan senyuman sudah bisa di pastikan bisa membawa dan menoreh luka di hatimu!" bathin Arjuna dengan senyuman liciknya yang sengaja ia arahkan pada Zainal Abidin.


Zainal menundukkan pandangannya, hatinya benar-benar teriris sembilu bisa ketika mendengar penuturan Arjuna jika ia akan segera melamar dan menikahi Nandini Sukma Dewi, yakni wanita yang sangat di cintainya selama kurang lebih 6 tahun terakhir ini. Terhitung sejak mereka duduk di bangku SMP awal hingga detik ini rasa itu masih tetap utuh untuk Nandini Sukma Dewi.


"Din, kami pamit dulu! terima kasih sudah menerima kedatangan kami. Jaga diri mu baik-baik!" ucap Zainal dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ingin rasanya Zainal menangis sejadi-jadinya, melihat kenyataan yang terjadi. Namun, apa daya takdir hidup telah tergambar jika saat ini ia dan Nandini tidak bisa hidup bersama. Lantaran telah terikat dengan Arjuna Restu Pamungkas.


Nandini terdiam, dadanya terasa sesak ketika mendengar Zainal hendak beranjak dari ke kediamannya.


"Ya Allah ... sungguh aku belum siap melepaskan kepergian Zain dari sisi hidup ku! namun, keterikatan ku dengan Arjuna membuat ku tidak bisa untuk tetap bersama Zain!" Bathin Nandini.


Zainal berusaha tegar dan kuat di hadapan semuanya. Ia tetap menampakkan senyumannya pada Nandini dan semua yang hadir di ruang tamu.


"Zainal, aku tahu senyuman yang kau tampakkan hanya untuk menutupi kekecewaan mu. Senyuman yang terukir di wajah mu, justru membawa luka untuk ku. Aku kecewa dengan diriku sendiri, maafkan aku yang dari sejak dulu hingga detik ini selalu mengecewakan mu!" bathin Nandini Sukma Dewi dengan tertunduk pilu.


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah 👉"Cinta memang tak harus memiliki tapi kesadaran manusia yang hilang saat jatuh cinta membuat hal itu serasa sulit. Cinta itu selalu curiga. Itu salah satu bukti bahwa cinta harus memiliki. Cinta sejati terpancar dari tulusnya hati ini walau cinta tak harus memiliki biar hanya ku nikmati dirimu didalam mimpi. ( Mengsedih😢😢 )

__ADS_1


__ADS_2