
Zahrana terbangun dari tidur lelapnya, tanpa ia sadari ia sudah terlelap selama satu jam lebih.Waktu pun telah menunjukkan pukul 15.25 Wib.
"Astagfirullah... sudah masuk waktu sholat Ashar,"cicit Zahrana perlahan membuka netra matanya yang masih menyipit lantaran rasa kantuk yang masih menderanya.
Suara kumandang Adzan pun menggema dipenjuru isi bumi, tempat dimana Zahrana kini berpijak.
Zahrana pun segera memenuhi panggilan Adzan itu,ia pun bergegas membersihkan dirinya, melakukan ritual mandi dan segera menyempurnakan wudhunya.Ia pun segera melaksanakan ibadah shalat Ashar.
Kemudian, berdo'a dengan khusu'nya dan tak lupa melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang memang selalu menjadi santapan rohaninya di kala habis menjalankan sholat 5 waktu yang memang tak pernah sekalipun ia melalaikannya.
Zahrana kemudian bergegas menuju dapur, berniat ingin membantu rutinitas Bundanya. Namun, pekerjaan rumah sudah kelar semua.Kecuali mengangkat jemuran.
Zahrana pun berinisiatif mengangkat jemuran mereka di samping halaman rumahnya.
Namun,netra Zahrana tertuju pada sosok laki-laki yang mengenakan peci hitam seragam dengan gamis hitamnya, nampak terlihat religius sekali.Lelaki itu, hendak memasuki halaman rumahnya.
"Ada apa gerangan,"pikir Zahrana seraya terus menatap kearah pemuda tersebut, diikuti oleh Buya Harun juga Raihan adiknya, mereka tampak kompak sekali pulang dari menunaikan ibadah sholat Ashar.
Pemuda itu pun balas menatap lekat Zahrana, tanpa berkedip memandang kearahnya.
"Ana ... "bisik hati Aslan Abdurrahman Syatir.
"Kak Aslan ... "bisik hati Zahrana, pergerakannya terhenti.Ia pun urung mengangkat jemurannya yang masih tinggal berapa helai lagi.
Tanpa sadar, jemuran yang ada di dekapan Zahrana terjatuh berhamburan ketanah, akibat kurang fokus dengan apa yang sedang ia lakukan.
Zahrana lebih fokus memperhatikan dan memandangi Aslan Abdurrahman Syatir yang hendak menuju ke arah rumahnya bersama Buya Harun dan Raihan adiknya.
Dalam hati Zahrana semakin bertanya-tanya, mengapa Aslan bukannya pulang menuju rumahnya, tetapi malah menuju rumah kediaman Zahrana.
Tanpa Zahrana sadari, Aslan refleks menghampiri Zahrana dan dengan sigap membantu Zahrana memungut jemuran yang berhamburan jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Kau ini, kenapa tidak berhati-hati,"ujar Aslan refleks mengusap pucuk kepala Zahrana.Membuat Zahrana terperanjat kaget, sebab interaksi Aslan terhadapnya diperhatikan oleh Buya Harun dan Raihan adiknya.
"Kak,biar Ana sendiri.Tidak apa-apa Ana sudah terbiasa angkat jemuran,"ujar Zahrana sebab ia takut dimarahi ayahnya jika terlalu kentara berdekatan dengan Aslan Abdurrahman Syatir.
"Jangan membantah,kau terlihat bawel sekali setelah lama tak bersua.Kakak senang melihat mu sudah pulih dan ceria kembali seperti biasanya,"ujar Aslan seraya membantu mengangkat jemuran baju yang masih tersisa di tanah juga di tempat jemurannya.
Aslan menatap lekat nanar wajah pujaan hatinya, yang sangat ia rindukan.Kegersangan hati yang menderanya kini lapang lah sudah ketika melihat langsung wajah Sang Kekasih hati.
Perasaan Zahrana tak karuan,detak jantungnya terasa bertalu-talu melihat Aslan Abdurrahman Syatir, sosok pemuda yang ia rindukan kini benar-benar nyata berada dihadapannya.
Ingin rasanya,ia masuk dalam dekapan Aslan untuk melepaskan segala kerinduannya. Namun,akal sehatnya masih berfungsi normal.Sebab,disana masih berdiri kokoh Buya Harun dan Raihan yang terus memandangi interaksi Aslan terhadapnya, yang membuat nyali Zahrana ciut Bunda Fatimah sudah berdiri tegak dengan kedua tangannya di taruh dipinggangnya menatap nyalang ke arah mereka berdua.
Bunda Fatimah, nampak tidak suka dengan kebersamaan Aslan dan Zahrana anaknya. Namun,ia berusaha menguasai dirinya agar tidak terlalu kentara bahwa ia tidak suka jika ada pemuda yang dekat-dekat dengan anaknya.Sebab, menurutnya Zahrana masih sangat kecil, belum boleh dekat dengan lelaki manapun, mau orang alim atau orang awam sekalipun Bunda Fatimah tidak peduli, itulah perinsip yang Bunda Fatimah pegang hingga saat ini, sampai nantinya puterinya bertumbuh menjadi wanita dewasa, dan sudah sukses dimasa depannya barulah boleh berdekatan dengan laki-laki.Itu pun harus segera halal, tidak boleh ada yang namanya pacaran,titik ... tidak ada tanda koma apalagi tanda petik.😁😁😁
Aslan baru sadar akan keterpanaannya terhadap Zahrana, setelah melihat Bunda Fatimah berdecak pinggang menghampiri mereka.
"Ma-af ... Bu, saya hanya membantu Zahrana,"ujar Aslan gelagapan.
"Iya terimakasih,Nak Aslan,"ujar Bunda Fatimah berusaha menguasai pergulatan bathinnya.
"Zahra mari masuk, anak gadis tidak boleh berlama-lama berduaan dengan yang bukan mahramnya.Pandangan pertama masih diperbolehkan, namun pandangan kedua memicu anak panah Syaiton yang jika diteruskan dapat mengakibatkan hal yang fatal.Bisa merusak kejernihan akal, pikiran dan jiwa,"pungkas Bunda Fatimah seraya melirik kearah Aslan Abdurrahman Syatir.
Aslan merasa tertohok dengan ucapan Bunda Fatimah, sudah pasti sindiran itu tertuju padanya.
Melihat suasana yang mulai tidak kondusif, Buya Harun segera menghampiri mereka diikuti oleh Raihan dari belakang.
"Nak Aslan,maaf ... atas ketidaknyamanannya, bagaimana apakah jadi transaksi telur ayamnya?"tanya Buya Harun mencairkan suasana yang terlihat sangat tegang.
"Oh iya, boleh Buya.Aslan pesan 200 butir telur ayam, untuk stok di toko,"pungkas Aslan.
"Mari kita langsung menuju ke kandangnya, silahkan pilih sendiri mau telur ayam yang mana nantinya,"tawar Buya Harun pada Aslan Abdurrahman Syatir..
__ADS_1
"Iya Buya,mari!"ajak Aslan.
"Bu Fatimah,Ana ... kakak pamit dulu,"ujar Aslan tampak basa-basi.Namun, tetap memandang seklilas kearah Zahrana.
Zahrana pun hanya membalas dengan anggukan.
Sementara Bunda Fatimah tampak basa-basi."Iya silakan! ... "
Aslan,Buya Harun dan Raihan segera berjalan menuju ke kandang Ayam milik Buya Harun dan keluarga,guna mengecek telur ayam yang akan dibeli olehnya.
Sedangkan, Bunda Fatimah dan Zahrana segera masuk kedalam rumah seraya membawa jemuran yang ada dalam dekapannya masing-masing.
***
Aslan pun telah usai bertransaksi dengan Buya Harun,ia pun segera beranjak menuju kediamannya.
"Wah ... Kak Aslan, banyak sekali telur ayamnya?"tanya Nandini pada Aslan kakaknya.
"Yeah ... Ustadz gaul, pulang-pulang dari Mesjid membawa keranjang telur ayam, pakai gerobak dorong pula,"guyon Nandini pada kakaknya.
Nandini menahan tawanya geli melihat tingkah kakaknya yang sangat menggemaskan sekali.
"Pasti, itu telur ayam dari rumah Zahrana,"goda Nandini.
"Tahu aja dirimu dek, nggak apa-apa sekali-kali bawa gerobak cinta, walaupun isinya hanya telur ayam. Namun, di bawa dengan penuh cinta,"ujar Aslan pada Nandini adiknya.
"Ya Allah ... kak, segitu bucinnya kakak sama Zahrana.Sampai gerobak telur ayam, di bilang gerobak cinta,"tutur Nandini seraya menaruh telapak tangannya di kening kakaknya.Khawatir kakaknya salah minum obat, lantaran gerobak telur ayam di bilang gerobak cinta.
Percakapan mereka pun terhenti setelah kehadiran pelanggan Toko yang berebutan membeli telur ayam kampung yang baru di bawakan oleh Aslan dari kediaman Zahrana.
"Hati-hati Pak,Bu, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya,jangan berebutan! ... khawatir gerobak cinta kak Aslan nanti rusak lantaran tidak sengaja tersenggol oleh pergerakan Bapak-bapak dan Ibu-ibu,"ujar Nandini menggoda kakaknya.
__ADS_1
Wajah Aslan nampak bersemu merah oleh godaan Nandini.
Sementara, para pelanggan Toko terkekeh geli mendengar penuturan Nandini Sukma Dewi, yang menurut mereka sangat menghibur dan kocak sekali.