
Zahrana dan teman-temannya kini telah selesai reuni di pernikahan Dini dan Arjuna. Ia pun telah selesai melaksanakan ibadah sholat Dzuhur, begitu pun dengan Yusuf, ia pun telah selesai shalat berjama'ah di Mesjid. Kini, ia ditemani Raihan sedang membahas persiapan pernikahan mereka yang tidak lama lagi akan di gelar.
"Ra, kamu mau konsep yang seperti apa di prosesi pernikahan kita nanti?" tanya Yusuf sebelum ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.
"Zahra mengikuti apa maunya kakak dan keluarga saja! Zahra tidak ingin memberatkan kak Yusuf dan keluarga. Semampu dan seikhlas kakak saja, namun untuk maharnya Zahra ingin seperangkat alat sholat dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an dari lisan kakak. Zahra inginnya kakak melantunkan surah Ar Rahman."
"Alhamdulillah, untuk seperangkat alat sholat sudah disiapkan oleh Ummi kakak. Mungkin beliau akan menambahkan dengan yang lain. Mengenai lantunan surah Ar-Rahman, insyaAllah ... kakak akan melantunkannya pas ijab-qobul kita nanti!" terang Yusuf. Ia merasa bahagia sebab calon bidadarinya tidak meminta harta, tahta dan kedudukan lainnya. Walau sebenarnya Yusuf mampu memberikan itu semua.
Yusuf bahagia, sebab Zahrana lebih memilih investasi akhirat ketimbang dunia dan segala kenikmatannya yang hanya bersifat semu.
"Ya Allah, terima kasih atas nikmat dan karunia-Mu berupa wanita Sholihah!" bathin Yusuf dengan senyuman manis yang menghiasi wajah tampannya.
"Maa syaa Allah, dia tersenyum!" bathin Zahrana sekilas melirik wajah yang terkasih yang sangat tampan dan meneduhkan hati kala ia memandangnya.
"Hemmm ... yang sedang dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran, curi-curi pandang cari perhatian, deh! Pandangan pertama bolehlah, pandangan selanjutnya waspadalah!" seloroh Raihan, hingga membuat wajah Zahrana bersemu merah.
"Apaan sih, Dek. Mulai lagi deh," ucap Zahrana mendelik ke arah Raihan dengan wajah yang semakin merona menahan malu dihadapan Yusuf, sebab ucapan Raihan yang tanpa filter.
Yusuf tersenyum melihat tingkah Raihan yang tiada hentinya, menjahili Zahrana.
Kemudian, mereka pun kembali melanjutkan perbincangan mereka.
"Ra, bolehkah kakak meminta satu keinginan dari mu ketika pernikahan kita nantinya?" Yusuf bertanya dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Zahrana.
"Boleh Kak, jika itu untuk kebaikan Zahra dan juga bisa menyenangkan hati kakak, Zahra mau."
"Maaf, maukah Zahra menutup wajah dengan menggunakan niqob atau cadar di hari pernikahan kita nantinya dan seterusnya tetap mengenakannya? Namun, jika Zahra merasa keberatan tidak mengapa, kakak tidak memaksa, semuanya memang butuh proses." Yusuf bicara dengan sangat hati-hati, sebab ia khawatir Zahrana merasa tertekan dan terpaksa dengan keinginannya yang mungkin terlalu cepat.
Zahrana nampak terlihat santai, ia nampak tidak keberatan dengan permintaan Yusuf. Sebab, selama ini ia sudah cukup lelah dengan pandangan mata liar yang menatapnya penuh nafsu. Justru dengan menutup wajahnya dengan cadar ia lebih menjaga kecantikan wajahnya hanya untuk suaminya nanti, dengan begitu ia berharap tidak ada lagi yang berniat buruk padanya.
"InsyaAllah, Kak. Jika memang itu menjadi keinginan kakak dan bisa menjaga diri Zahra dari segala bentuk fitnah, Zahra mau."
Zahra menjawab permintaan Yusuf dengan lugasnya dan tanpa beban sama sekali. Sebab, ia pun lebih menyukai dalam keadaan tertutup daripada terus menerus menampakkan perhiasannya ketika hendak keluar rumah. Meskipun ia meyakini bahwa menutup wajah dengan cadar itu tidak wajib, namun ia akan tetap mengenakannya sesuai permintaan Yusuf ketika sudah melangsungkan ijab-qobul nantinya.
__ADS_1
Yusuf nampak tersenyum, "Terimakasih, Ra. Semoga Allah meridhoi niat baik kita."
"Aamiin ya Rabb!" Raihan yang hanya menjadi pendengar setia pun ikut mengaamiinkan. Ia memang sengaja selalu mendampingi kakaknya dan Yusuf, agar kedua insan itu lebih terjaga dan terhindar dari fitnah. Sebab, ada Raihan yang menemani.
Yusuf pun hendak pamit pulang, sebab waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 Wib. Ia sudah sangat lama berada di rumah Zahrana.
Setelah berpamitan dengan Buya Harun dan Bunda Fatimah juga Zahrana dan Raihan, Yusuf pun segera bergegas menuju parkiran mobilnya.
Zahrana di temani Raihan, terus mengantarkan kepergian Yusuf sampai di depan mobilnya.
"Hati-hati, Kak! jika sudah sampai di rumah jangan lupa kabari Zahra!" Zahrana merasa tidak tenang, seolah-olah pandangan mata jahat hendak menghalangi langkah Yusuf, sosok pria yang sangat dikasihinya.
"Insya Allah, Ra. Ada Allah yang maha melindungi!" ucap Yusuf meyakini, ketika dirinya melihat kekhawatiran di mata Zahrana.
"Iya, Kak. Jangan terlalu mengkhawatirkan calon suami kakak, insya Allah kak Yusuf akan baik-baik saja!" ucap Raihan dengan penuh nada serius untuk meyakinkan kakaknya.
Yusuf pun melambaikan tangannya, dengan seutas senyuman menghiasi keindahan wajahnya.
Zahrana pun melepaskan kepergian Yusuf dengan berat hati, "Ya Allah jaga dan lindungi dirinya, ketika penjagaan dan pandangan mata hamba tidak dapat terus menjaga dan melihatnya!" bisikan hati Zahrana yang teruntai lewat bait-bait do'anya.
Di perjalanan.
Yusuf tidak menyadari jika dibelakangnya kini ada segerombolan penjahat yang hendak mengikuti pergerakannya. Mereka mengendarai sebuah mobil jip berwarna hitam, lengkap dengan senjatanya masing-masing hendak mencelakakan Yusuf.
Yusuf terus melantunkan dzikir dan do'a-do'a ketika sedang dalam perjalanan dan berkendaraan agar terhindar dari marabahaya.
Dor ... dor ... dorrr!
Peluru tembakan di tujukan oleh gerombolan penjahat tersebut pada roda kendaraan Yusuf. Membuat Yusuf kaget bukan kepalang, beruntungnya ban roda empat milik Yusuf anti peluru.
"Astagfirullah, siapa mereka? mengapa mereka hendak menyerang ku dengan tiba-tiba?" bathin Yusuf bertanya-tanya.
Yusuf pun nampak tenang, "Ya Allah, lindungilah hamba dari penglihatan orang-orang yang berniat jahat!" bathin Yusuf dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sehingga membuat para penjahat tersebut kelimpungan mencari jejaknya.
__ADS_1
"Sial*n, kita kehilangan jejak anak muda itu! cepat kejar jangan sampai kita gagal!" pekik ketua penjahat itu dengan geramnya.
Yusuf segera menghubungi kantor polisi terdekat, "Untung saja aku membawa ponsel Ummi!" bathin Yusuf. Ia pun menghubungi nomor polisi yang tertera di ponsel Umminya.
"Cepat kejar! mobil anak muda itu sudah terlihat, jangan sampai kita kehilangan jejak lagi!" tegas ketua penjahat itu.
Yusuf sengaja mengelabui para penjahat itu menuju arah yang agak sepi dari keramaian, ia sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian. Sehingga para petugas kepolisian pun telah berjaga-jaga mengawasi komplotan penjahat tersebut dari arah semak-semak yang tak jauh dari arah kantor kepolisian.
Para polisi keluar dari persembunyiannya dan memberikan tembakan pada roda mobil penjahat yang hendak mencelakai Yusuf. Sehingga mobil mereka oleng dan menabrak sebuah pohon di pinggir jalan.
"Celaka!" umpat ketua komplotan tersebut mendengus kesal, sebab kepalanya terbentur dashboard mobil. Akibat menabrak pohon besar.
"Keluar dari dalam mobil, kalian sudah di kepung!" ucap salah satu komandan polisi yang mewakili teman-temannya. Belasan polisi pun keluar dari semak-semak mengikuti komandannya.
Para penjahat itu angkat tangan dan menurunkan senjatanya, sebab ketua komplotan mereka di todong oleh Polisi tepat di pelipisnya.
"Turunkan senjata kalian! aku tidak mau mati konyol," sarkas ketua penjahat itu dengan tubuh bergetar. Ia nampak ketakutan jika sampai peluru itu bersarang di kepalanya.
Para anak buahnya pun segera menurunkan senjatanya, mereka juga terlihat ketakutan di kelilingi oleh banyak polisi.
Yusuf berjalan sambil tersenyum ke arah mereka, "Katakan pada ku, apa motif kalian melakukan ini semua pada ku?" tanya Yusuf dengan gaya santainya, tanpa sedikitpun rasa marah terbesit dari hatinya.
"Kalian tahu, apa yang kalian lakukan ini sangat berbahaya dan meresahkan orang lain. Apalagi sampai membunuh jiwa yang tidak bersalah, sungguh dosa yang sangat besar, jika kalian tidak segera bertaubat!" ucap Yusuf lembut namun penuh penegasan.
"Maafkan kami tuan, kami terpaksa melakukan ini atas suruhan seseorang!" ucap salah satu penjahat yang nyalinya agak ciut melihat Yusuf Amri Nufail Syairazy merudung mereka dengan berbagai macam pertanyaan.
"Baiklah jelaskan semua perkara kalian dikantor polisi, aku tidak punya wewenang untuk menghukum kalian terlepas dari siapa orang yang telah menyuruh kalian untuk mencelakakan ku. Biarlah pihak yang berwajib yang menangani kasus kalian!" ucap Yusuf tetap terlihat tenang atas musibah yang hampir membuatnya celaka.
"Terima kasih anak muda, atas bantuan mu. Kami sudah lama ingin menangkap mereka. Mereka adalah preman pasar yang sering meresahkan masyarakat, mereka juga gemar mencuri dan membobol toko-toko masyarakat di malam hari. Juga melakukan aksi pencurian motor, di berbagai tempat. Alhamdulillah atas bantuanmu mereka bisa di tangkap!" ucap komandan polisi tersebut.
"Subhanallah, astagfirullah! semoga kalian masih memiliki kesempatan bertaubat dari segala bentuk kejahatan yang pernah kalian lakukan!" tegas Yusuf dengan ekspresi wajah sedih, ketika mendengar pekerjaan para preman pasar tersebut yang tidak berprikemanusiaan.
"Ya Allah, hampir saja aku celaka oleh perbuatan dzolim mereka," batin Yusuf dengan memuji kebesaran Rabb-Nya yang telah menyelamatkannya dari marabahaya tersebut.
__ADS_1
💮💮💮
Untaian mutiara hikmah👉"Orang yang kuat itu adalah orang yang sabar dan ikhlas ketika ditimpa musibah. Hanya Allah yang mampu mengubah kekacauan menjadi sebuah pesan, ujian menjadi kesaksian, cobaan menjadi kemenangan, dan korban menjadi juara. Ketika kamu bisa berjuang dan menghadapi musibah yang menghampirimu, maka sejatinya kamu adalah seseorang yang telah berhasil untuk membuktikan bahwa kamu adalah sosok yang kuat."