
Zahra, bangun! kita sudah sampai sayang," ucap Pramuja dekat dengan daun telinga Zahrana.
Zahrana mengerjapkan Netranya yang masih menyipit.
"Kita dimana, Mas?"
"Hemmm ... kita sudah sampai di kediaman Mas, mari turun! " ucap Pramuja.
"Baiklah, Mas Pra. Maaf, Zahra ketiduran di mobil tadi."
Zahrana pun segera membuka seat beltnya dan segera turun dari mobil Pramuja Wisnu Baskara.
"Hampir saja aku gila di buatnya," bathin Pramuja.
"Zahra, tunggu!" Pramuja menarik pergelangan tangan Zahrana.
Zahrana menoleh.
"Iya, ada apa, Mas?" Zahra melepaskan genggaman tangan Pramuja.
Meskipun Pramuja adalah saudara sepupunya. Anak tantenya, tetap saja Zahrana merasa risih dengan perlakuan Pramuja terhadapnya.
"Mas Pra, Zahra bukan anak kecil lagi. Zahra sudah besar. Kita tidak boleh pegangan, Zahra bisa berjalan sendiri!" ucap Zahrana. Ia pun setengah berlari meninggalkan Pramuja yang masih diam tak bergeming, karena penolakannya.
"Zahra, tunggu! kau semakin membuat ku tergoda dengan pesona dan tingkah mu yang sangat menggemaskan. Aku tak kan melepaskan mu begitu saja, Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Pramuja yang segera menyusul Zahrana masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamu'alaikum ... " ucap Zahrana.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab serempak dari dalam rumah.
"Maa syaa Allah ... keponakan Tante Asma, sudah besar dan ayu sekali." Bu Asma Nadia memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Zahrana dengan penuh kasih.
Zahrana pun lanjut menyalami Om-nya Nazrul Anwar.
"Keponakan Om sudah besar ternyata, dulu masih kecil. Masih sering Om gendong, sekarang tidak terasa sudah sebesar ini," ucap Pak Nazrul Anwar dengan mengelus pucuk kepala Zahrana.
Zahrana tersenyum dengan penilaian Tante Asma dan Om Nazrulnya terhadapnya.
"Ayah-Bunda, Zahra kangen!" ucap Zahrana memeluk Ayah dan Bundanya.
"Baru berapa jam juga tidak bertemu, sudah kangen dengan Ayah dan Bunda." Bunda Fatimah mengecup kening Puterinya.
"Apa kabar Nandini dirumah sakit? bagaimana perkembangannya?" tanya Bunda Fatimah.
Zahrana diam sejenak, ia tidak tahu harus berkata apa. Sebab, ia pun pergi dari Rumah Sakit Medika lantaran hinaan Ibu Ratna Anjani terhadapnya."
"Aku tidak mungkin memberitahukan Bunda kejadian di rumah sakit tersebut, biarlah ini menjadi rahasia ku."
__ADS_1
Zahrana pun berusaha se- rileks mungkin, agar Buya Harun dan Bunda Fatimah tidak curiga terhadapnya.
Bunda Fatimah menatap lekat nanar wajah sang Puteri. Menunggu jawaban dari Zahrana tentang kondisi terkini Nandini.
"Qodarullah ... Nandini masih harus rawat inap dulu, Bun. Kondisinya masih lemah," ucap Zahrana seadanya tanpa menceritakan kejadian yang terjadi padanya di Rumah Sakit Medika.
"Subhanallah ... semoga Nandini cepat sembuh, ya Nak?" ucap Bunda Fatimah penuh haru.
"Iya, Bunda. Aamiin ... " Zahrana tersenyum penuh arti. Ia menahan sesak di dadanya mengingat kembali penghinaan Ibu Ratna Anjani, Ibunya Nandini Sukma Dewi dan Aslan Abdurrahman Syatir terhadapnya.
Zahrana menghembuskan nafasnya pelan. Ia pun kembali ceria, ia tidak mau menampakkan kepedihannya di hadapan Ayah dan Bundanya.
"Kak Fatim, mari ajak Zahrana dan Buya Harun, kita kumpul di taman belakang. Satenya sudah hampir mateng semua, kita makan-makan!" ucap Bu Asma Nadia kepada Zahrana beserta Bunda Fatimah dan Buya Harun.
***
Di Taman belakang rumah.
Pramuja Wisnu Baskara nampak bersemangat mengangkat sate Ayam yang telah matang dari pemanggangannya.
"Wah ... keponakan Bunda, rajin sekali. Sepertinya sudah telaten buat bakar-bakar," puji Bunda Fatimah.
"Iya Bunda, special untuk Bidadari Buya dan Bunda, siapa lagi kalau bukan Tsamirah Zahrana Az Zahra?" ucap Pramuja tanpa filter. Sehingga membuat semua yang hadir, terkekeh mendengar ucapan Pramuja yang mungkin terlihat berlebihan.
Namun, Bunda Fatimah, Buya Harun dan Pak Nazrul Anwar menanggapinya biasa saja. Mereka tidak mengetahui makna terselubung dari ucapan Pramuja. Jika sebenarnya Pramuja menganggap Zahrana lebih dari sepupu, namun sosok Bidadari yang kini pun telah bersemayam di hatinya.
"Ya Allah ... jangan sampai putera ku dibutakan oleh cinta, jangan sampai ia mencintai adik sepupunya sendiri. Aku dan kak Fatimah adalah saudara sekandung, ini tidak boleh terjadi dan di biarkan berlarut-larut. Aku harus segera menjodohkan Pramuja dengan anak sahabatku secepatnya," bathin Bu Asma Nadia.
"Tarraa ... selesai, ini spesial untuk My sepupu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Pramuja memberikan sepiring sate berikut kuah sate beserta lontong yang sudah di potong-potong olehnya.
Tak ayal membuat Zahrana tidak enak hati, sebab Om dan Tantenya juga Ayah dan Bundanya pun belum mencicipi sate tersebut.
"Jangan menolak! Ayah dan Ibu, juga Bunda Fatimah dan Buya Harun juga akan makan bersama juga," ucap Pramuja dengan cekatan membantu Ibu Asma Nadia dan juga Bunda Fatimah menghidangkan makanan apa saja yang akan menjadi jamuan untuk mereka saat ini.
Pramuja menghamparkan tikar untuk lesehan mereka di taman belakang rumahnya.
Pemandangan di sore hari nampak begitu menyejukkan pandangan mata, hembusan angin pun bertiup menerpa wajah-wajah mereka.
Berbagai hidangan pun telah terhidangkan di lesehan tikar itu, yang menjadi menu utama mereka adalah sate Ayam dan lontong sebagai pelengkapnya. Juga ada kerupuk, empek-empek yang baru selesai digoreng beserta kuah cukanya, juga kemplang panggang sebagai makanan ringannya.
Jika ingin makan nasi pun lauknya sudah terhidangkan, ada ikan bakar beserta sayur asem, juga cumi saos tiram. Untuk menu tambahannya ada buah anggur, lengkeng, jeruk dan apel.
"Ya Allah ... tidak usah repot-repot, Dek Asma. Ini mah sudah kebanyakan," ucap Bunda Fatimah terhadap adik kandungnya Asma Nadia.
"Tidak apa-apa, Kak. Kakak pun jarang berkunjung kemari," ucap Bu Asma Nadia.
"Terimakasih, Dek. Maaf merepotkan." Bunda Fatimah pun menatap Bu Asma Nadia. Adik kandung satu-satunya itu, yang ia punya saat ini. Sebab kedua orang tua mereka sudah tiada semenjak 10 tahun yang lalu. Jadi, untuk melepaskan segala kerinduannya hanya pada adik semata wayangnya itu walaupun jarang sekali bersua, setelah keduanya pun telah memiliki keluarga masing-masing.
__ADS_1
"Ayah, Ibu. Sepertinya, Pramuja hendak menghubungi Muhammad Zaid Arkana. Seharian ia nggak ada kabar. Nanti malam kami jadwal ronda lagi," ucap Pramuja di sela-sela mengunyah sate ayam beserta lontongnya.
Pramuja pun akhirnya menelfon MZ Arkana.
***
Pramuja Wisnu Baskara vs Muhammad Zaid Arkana.
📞 Pramuja : "Brother, loe dimana? malam nanti jadi, rondakan? kamu kemana saja dari tadi tidak kelihatan. Di Mesjid Al Ijtihad pun tidak kelihatan pas sholat Jum'at tadi, terpaksa deh aku sholat sendiri."
📞 MZ Arkana : "Aku sholat di Mesjid Al Hidayah di kota S, sekarang aku sedang di toko buah. Alhamdulillah lagi rame sekali yang belanja. Insya Allah malam nanti aku ikut ronda."
📞 Pramuja : "Tutup saja brother tokonya, sekali-kali penyegaran gitu. Di sini lagi rame, ada Bidadari syurga ku Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Pramuja tanpa filter. Hingga semua mata tertuju padanya.
📞 MZ Arkana : "Baiklah aku segera meluncur ke sana!" ucap Zaid ketika mendengar nama Zahrana di sebut.
Zaid pun mengakhiri telfonnya. Ia pun segera menutup toko buahnya. Ia pun dengan penuh suka-cita menuju kediaman Pramuja demi bisa bertemu kembali dengan Zahrana.
"Hemmm ... giliran nama Zahrana di sebut, ia pun tanpa berpikir panjang dan langsung datang kemari. Tapi, tidak mengapa. Zaid kan sahabat ku, ia boleh mendekati sepupu ku Zahrana. Namun, orang lain tidak boleh. Mereka harus berhadapan dengan ku dulu, saudara sepupunya."
"Tapi, tunggu dulu! Tidak semudah itu Zaid mendekati saudari sepupu ku, ia harus lolos seleksi dulu," cicit Pramuja.
"Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja, Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Pramuja lagi.
"Ada apa dengan Mas Pramuja? kenapa ia begitu instens menatap ku dari sejak tadi?" Zahrana terus bertanya-tanya didalam hatinya, sambil menikmati hidangan dihadapannya.
"Hey! kenapa wajah mu terlihat sayu begitu? seperti sedang memikirkan sesuatu saja?" tanya Pramuja dengan spontan ia menyuapkan sate ke dalam mulut Zahrana.
"Mas Pramuja, kamu--?"
"Jangan menolak! makan yang banyak," ucap Pramuja seraya terus menyuapkan sate dan lontong ke dalam mulut Zahrana.
Zahrana pun tidak kuasa menolak, ia pikir itu adalah bentuk perhatian seorang kakak pada adiknya tanpa embel-embel apa-apa.
Sementara, kedua orang tua mereka, yakni Bunda Fatimah dan Bu Asma Nadia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang saudara sepupu itu.
Bunda Fatimah dan Bu Asma Nadia pun bercengkrama satu sama lain, sembari menikmati hidangan yang ada.
Muhammad Zaid Arkana pun telah sampai di kediaman Pramuja. Ia segera mempercepat langkahnya menuju tempat di mana Pramuja, Zahrana dan keluarganya yang sedang bersantai ria.
Netra Zaid tertuju pada kebersamaan Zahrana dan Pramuja. Ada rasa perih di ulu hatinya, melihat kebersamaan keduanya.
"Ya Allah, kenapa harus sesakit ini? ada apa dengan hati ku? bukankah mereka berdua hanya saudara sepupu? apakah ini rasanya cemburu?" Zaid bertanya-tanya didalam hati kecilnya.
🌷🌷🌷
...Pencerahan 👉 "Kecemburuan dalam asmara seperti garam dalam makanan. Sedikit dapat meningkatkan rasa, tetapi terlalu banyak dapat merusak kesenangan dan, dalam keadaan tertentu, dapat mengancam jiwa."...
__ADS_1