Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
101 . Kedatangan Yusuf Amri Nufail Syairazy


__ADS_3

Zahrana masuk ke bilik kamarnya. Ia terus merenungi setiap perkataan Ibu Ratna Anjani. Ia menyadari ia memang tidak pantas bersanding dengan Aslan dari awal mula kedekatan mereka. Namun kala itu pun ia tergoda oleh benang-benang cinta yang dengan begitu cepatnya merasuki hati dan jiwanya sehingga ia pun terjerat oleh cinta seorang Aslan Abdurrahman Syatir yang berujung ternodanya kesucian hati dan jiwanya.


"Baiklah, setelah ini jangan harap kau dapat melihat wajah ku lagi kak Aslan! Aku tidak akan pernah menampakkan wajah ku di hadapan mu. Ucapan yang di lontarkan oleh Ibu mu benar-benar menggores luka di hatiku."


"Aku sadar aku bukan berasal dari keluarga terpandang, aku pun punya harga diri dan perasaan. Aku benar-benar bersyukur tidak lagi bersama mu, setidaknya aku bisa menjaga nama baik Ayah dan Bunda ku dari cercaan orang tua mu." Zahrana bergumam didalam hatinya.


Ditengah ketermenungan Zahrana, adiknya Raihan secara diam-diam menyelinap masuk kedalam kamarnya.


"Taraaaa!" Raihan menepuk pundak kakaknya.


Zahrana pun terperanjat.


"Raihannnn ... kau usil sekali!" teriak Zahrana.


"Habis kakak murung terus akhir-akhir ini, kerjaannya melamun terus. Mikirin apa sich, Kak? pasti sedang patah hati," ucap Raihan sembari bersedekap dada.


"Anak kecil mau tahu aja urusan orang dewasa, please deh! nggak usah kepo adik manis." Zahrana menoel hidung Raihan, namun di balas oleh Raihan dengan seringai nakalnya.


"Jangan pakai rahasiaan, kak. Tadi Raihan melihat sendiri pas kakak lagi menyirami bunga di pekarangan rumah, Ibu Ratna Anjani sedang mengintrogasi kakak mengenai hubungan kakak dengan kak Aslan."


"Emang beneran ya, Kakak sudah putus beneran dengan kak Aslan?" Raihan semakin kepo.


"Aish ... kepo sekali kau, Dek. Jika sudah putus kenapa? jika tidak pun kenapa?" Zahrana melipat tangannya di dadanya, dengan pertanyaan yang beruntun untuk Raihan.


"Yach ... kalau sudah putus Alhamdulillah kak, berarti kakak bisa terbebas dari dosa dan maksiat. Sebab, berdekatan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Yang Raihan takutkan kakak terus-menerus menabur dosa dan maksiat itu yang berat, kak."


"Jika memang belum putus jalan satu-satunya hanya satu. Ya sudah putusin aja!" ucap Raihan dengan nada serius.


Raihan benar-benar tidak ingin melihat kakaknya berpacaran lagi, mengingat usianya yang masih sangat belia. Pikirnya, lebih baik kakaknya fokus dengan sekolahnya dulu ketimbang berpacaran yang mudharatnya luar biasa besarnya ketimbang manfaatnya.


"Ucapan mu seperti orang dewasa saja, Dek. Iya deh, kakak memang sudah putus dengan kak Aslan. Puassss!" Zahrana berdecak pinggang. Ia hendak mengusir Raihan agar secepatnya keluar dari bilik kamarnya.


"Syukur deh kalau begitu, mulai sekarang kakak bisa menjadi anak teladan, belajar menjadi sosok wanita shalihah. Tidak bertingkah lagi seperti hari kemarin," seloroh Raihan.


Raihan pun beranjak pergi dari kamar kakaknya sebelum telinganya dijewer oleh kakaknya seperti biasanya ketika ia sedang usil pada kakaknya.

__ADS_1


Sementara dari arah dapur Bunda Fatimah memanggil kedua anaknya agar segera sarapan pagi.


"Zahra, Raihan ... mari sarapan pagi bersama Ayah dan Bunda!" titah Bunda Fatimah.


Zahrana dan Raihan pun segera menuju dapur mereka yang masih beralaskan semen biasa. Seperti biasanya Bunda Fatimah sudah menghamparkan tikar sebagai lesehan.


Menu mereka hari ini adalah Ayam goreng, sambal hijau dan cah kangkung serta segelas susu. Semua sudah tertata rapi di atas lesehan tikar tersebut.


"Maa syaa Allah ... ada Ayam goreng juga sambalnya. Raihan suka."


"Hemmm ... tunggu dulu, Nak! kita akan sarapan bersama Ayah," tutur Bunda Fatimah.


Selang berapa menit, Ayah mereka Buya Harun pun telah berkumpul bersama mereka di ruang makan. Buya Harun pun memimpin do'a, keluarga kecil itu pun makan bersama, tidak ada suara yang keluar dari lisan mereka kecuali hanya suara dentingan sendok, piring dan garpu yang saling beradu ditengah nikmatnya santap pagi mereka.


Keluarga Zahrana adalah keluarga yang harmonis, jauh dari berbagai jenis ujian yang kerap kali ingin mendera keluarganya. Zahrana nampak riang, gembira sebab ia bisa berkumpul bersama dengan keluarganya seperti ini. Tiada harta yang paling membahagiakan baginya saat ini selain melihat senyuman manis yang terpancar indah dari keluarga kecilnya.


***


Hari ini tepat satu Minggu sudah pasca libur sekolah kenaikan kelas, kini pun Zahrana and friends sudah naik kelas dua SMP. Sedangkan Rivandra Dinata Admaja, Arjuna Restu Pamungkas, Rangga Sahadewa mereka resmi menjadi alumni SMP NEGERI 3 XX.


Rivandra Dinata Admaja telah mengurus keberangkatannya ke Ibu kota Jakarta, guna meneruskan pendidikannya di Pondok Pesantren Jakarta. Sedangkan Arjuna Restu Pamungkas dan Rangga Sahadewa memilih melanjutkan studi mereka di SMK NEGERI 1 di kota S. Tetap di provinsi mereka tidak keluar dari wilayah provinsi mereka.


Zahrana berbicara dengan dirinya sendiri. Ia nampak bahagia dapat berpisah dengan Aslan Abdurrahman Syatir yang dulu pernah menjadi teman istimewanya.


Kini tiada lagi yang mengekang dan mengusik ketenangannya. Ibu Ratna Anjani pun tidak lagi mencercanya. Zahrana bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah Aslan. Jangankan sekedar berkunjung bertemu Nandini, menginjakkan kakinya untuk belanja di toko Aslan dan keluarga sudah satu Minggu ini Zahrana tidak melakukan itu. Ia lebih memilih berbelanja di toko lain jika ada kebutuhan mendesak. Zahrana benar-benar menghindari berjumpa dengan Aslan Abdurrahman Syatir.


"Aku benar-benar bahagia bisa lepas dari jeratmu, Kak."


Zahrana mengatur pernafasannya. Ia nampak menghirup udara segar hari ini. Bunga-bunga di pekarangan rumahnya telah tumbuh bermekaran, memanjakan mata bagi yang memandangnya.


Di tengah keterasikan-nya, memandangi kuntum bunga-bunga yang bermekaran. Zahrana tidak menyadari akan kehadiran pemuda yang memasuki pekarangan rumahnya dengan motor gede Honda NSR 150R yang di kenakannya.


Pemuda tersebut memakai jubah putih lengkap dengan pecinya. Dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di pelipisnya juga jenggot tipis didagunya dengan wajah ke Arab-Arabannya membuat pemuda tersebut sangat tampan dan sangat berkharisma. Ia adalah Yusuf Amri Nufail Syairazy, pemuda yang sangat digandrungi dan diidamkan oleh kaum Hawa.


Yusuf segera turun dari motor gedenya. Ia pun hendak menghampiri Zahrana, namun Zahrana tidak menyadari akan kehadiran Yusuf.

__ADS_1


Zahrana merentangkan kedua tangannya. Ia terus menghirup udara pagi di temani oleh semerbak bunga-bunga yang bermekaran. Terpaan angin pagi menerpa wajahnya. Zahrana pun perlahan memejamkan matanya. Ia benar-benar menikmati keindahan panorama alam di pagi hari itu.


"Assalamu'alaikum ... " sapa suara lembut yang seakan mendayu telinga Zahrana.


Zahrana perlahan membuka netranya. Ia nampak terkesima dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


"Maa syaa Allah ... benarkah ini nyata? wajah mu bak sinar rembulan, ketampanan mu tiada bandingnya. Kau seperti perawakan Nabi Yusuf pada Zamannya sehingga membuat para wanita terhipnotis oleh dirimu dan tanpa sadar mengupas tangannya dengan sebilah pisau yang sebenarnya pisau itu di gunakan untuk mengupas buah-buahan yang di hidangkan oleh Siti Zulaikha untuk para tamu wanitanya."


"Namun, melihat pesona Nabi Yusuf membuat para wanita tersebut terus mengupas kulit tangannya. Ketika keterhipnotisan mereka di ingatkan oleh Siti Zulaikha baru lah mereka menjerit histeris. Sebab, baru menyadari jika tangan mereka terkupas oleh karena terbuai dengan pesona Nabi Yusuf."


"Malu lah para wanita tersebut, sebab telah meremehkan Siti Zulaikha yang telah sempat menggoda Nabi Yusuf untuk melakukan hal yang di larang oleh Allah. Jika bukan karena rahmat Allah tentulah Nabi Yusuf akan tergoda oleh rayuan Siti Zulaikha kala itu." Zahrana terus bermonolog di dalam hatinya. Ia tidak menyadari Jika ia belum menjawab salam Yusuf.


Yusuf pun mengulangi salamnya.


"Assalamu'alaikum .... wahai permata hatinya Ayah dan Bunda," ucap Yusuf menyadarkan keterpanaan Zahrana terhadapnya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ...."


"Ma-af kak," ucap Zahrana gelagapan. Ia merasa malu sebab telah terbuai oleh pesona Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Hemmm ... boleh aku masuk!"


"Bo-boleh, Kak. Buya ada di dalam."


Tanpa mereka berdua sadari ternyata Buya Harun sudah dari tadi melihat interaksi Zahrana dan Yusuf, memantau lewat kaca jendela mereka.


Yusuf berjalan di depan sedangkan Zahrana mengekorinya dari belakang. Sebab Yusuf amatlah menjaga pandangannya. Ia tidak ingin melihat wanita yang bukan mahramnya berjalan melenggak-lenggok di hadapannya. Sebab itu dapat memicu anak panah Syaiton untuk meruntuhkan duduk keimanannya dari melihat yang bukan mahramnya.


Tidak di pungkiri Yusuf pun tergoda oleh pesona Zahrana. Namun, duduk keimanannya lebih kuat dari hawa nafsu buruknya. Yusuf berusaha menimalisir perasaannya, hati dan pikirannya bersih dari hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah Subhanahuwata'ala.


Yusuf tidak lupa mengucapkan salam, kehadirannya di sambut hangat oleh Buya Harun Al Aziz.


"Maa syaa Allah ... Buya kedatangan tamu agung, yang insya Allah akan menjadi imam besar di masa depan nantinya." Buya Harun memeluk Yusuf dan mengusap lembut bahu Santrinya tersebut. Ia bangga dengan Yusuf Amri Nufail Syairazy yang kini telah hafal 30 Juz Al-Qur'an dalam waktu Muroja'ah selama kurun waktu 3 tahun.


"Aamiin ... aamiin ya Rabbal'alaamiin. Terimakasih Buya, atas do'anya. Semoga Buya dan keluarga selalu dalam lindungan Allah," ucap Yusuf Amri Nufail Syairazy, penuh dengan ketulusan.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Pencerahan 👉"Untukmu yang bertahan tetap memilih suci dalam penantian. Semoga Allah segerakan jodoh yang datang untukmu. Semoga cintamu pada-Nya menjagamu dari angin-angin keburukan yang mampu membuatmu lalai akan perintah-Nya."


__ADS_2