
Zahrana pun mematikan telfonnya sepihak, sebab ia tidak ingin berlama-lama berbicara pada Aslan.
Aslan pun segera beranjak menyambar kunci mobilnya untuk menjemput Nandini di kediaman Zahrana.
"Ya Allah ... ternyata aku terlalu percaya diri. Ku kira kau merindukan ku Tsamirah Zahrana Az Zahra, tapi ternyata aku salah." Aslan pun membatin dengan nada pilunya.
Hanya dalam waktu sekejap, Aslan sudah sampai di kediaman Buya Harun, ayah Zahrana. Para Santriwan dan Santriwati yang masih Muroja'ah melanjutkan aktivitas belajar mengajarnya bersama Buya Harun.
Sementara Nandini ditemani oleh Zahrana, Cinta dan Kirana juga Bunda Fatimah yang nampak cekatan membuat minuman jahe untuk Nandini yang di kira hanya masuk angin biasa.
"Ini, Nak Dini. Di minum dulu jahenya. Biar tubuhmu terasa lebih baik, mungkin kamu masuk angin, kurang istirahat atau kelelahan."
Nandini pun segera meminum jahe dari Bunda Fatimah.
"Terimakasih, Bunda."
"Sama-sama, Nak Dini. Nanti sampai di rumah istirahat dulu, jangan melakukan aktivitas apa-apa dulu, jangan banyak bergadang!" ucap Bunda Fatimah.
Nandini mengangguk.
Aslan terlihat buru-buru dan panik ketika mendengar adiknya tiba-tiba sakit.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... silahkan masuk, Nak Aslan!" ucap Bunda Fatimah.
"Dek ... kamu kenapa? wajah mu pucat sekali, kita ke dokter ya?" ucap Aslan.
"Nandini tidak apa-apa, Kak. Hanya masuk angin biasa," ucap Nandini. Ia cemas, jika sampai kakaknya membawanya ke dokter. Sebab, ia pun ragu apakah ia masuk angin biasa atau memang sedang berbadan dua?
"Sebaiknya, jika sakit mu tambah parah sebaiknya periksa ke dokter atau ke Puskesmas terdekat dulu, Din. Nampaknya, dirimu memang terlihat lemas." Zahrana menimpali.
"Iya, Nak. Bawa ke dokter dulu, Bunda khawatir terjadi apa-apa dengan mu. Jika sudah di periksa sakitnya dokter bisa memberikan resep yang terbaik berdasarkan keluhan yang Nak Dini rasakan," pungkas Bunda Fatimah.
"Hoekkk ... " Nandini berasa mual dan ingin muntah lagi. Ia menutup mulutnya dengan tangannya.
Zahrana pun spontan mengambil minyak angin dan mengoles kembali tengkuk Nandini dan juga memijit kepala temannya itu.
Nandini hampir tumbang, tubuhnya semakin lemas.
"Kak Aslan, sebaiknya kita bawa Nandini ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat." Zahrana memberikan usulan.
"Baiklah." Aslan pun segera membopong Nandini, di ikuti pula oleh Zahrana. Mereka pun masuk ke dalam mobil pribadi milik Aslan, setelah pun berpamitan dengan Bunda Fatimah.
__ADS_1
"Ya Allah ... Kau terlihat lemah, Din. Jika sakit, kenapa dipaksa untuk untuk berpergian. Muroja'ahnya pun bisa di lanjutkan lain waktu saja," pungkas Zahrana.
Aslan melirik ke arah Zahrana yang nampak cemas melihat Nandini yang sudah terbaring lemah dalam pangkuan Zahrana.
"Ya Allah ... Aku semakin kagum terhadap mu, Ana. Masih adakah kesempatan ku untuk mendekati mu seperti dulu, atau kah aku akan menjadi sosok Pujangga yang merindukan cinta dari seorang bidadari yang kini sama sekali tidak memperdulikan ku lagi," bathin Aslan. Ia menjadi tidak punya nyali untuk mendekati Zahrana yang kini memang benar-benar telah berubah 180 derajat Celcius.
Sementara Zahrana sama sekali tidak melirik Aslan, yang dia pikirkan hanyalah keselamatan Nandini sahabatnya.
Aslan terus melajukan kijang besinya dengan kecepatan tinggi, hingga 45 menit kemudian mereka sampai di Rumah Sakit Medika Stania.
Aslan pun segera beranjak dari membuka pintu mobil tepat di mana Zahrana duduk memangku Nandini. Ia ingin mengambil alih untuk membopong Nandini Sukma Dewi dari pangkuan Zahrana.
Nandini terlihat lemah dan kehilangan keseimbangannya. Aslan pun segera menggendong adiknya dengan keadaan setengah berlari sembari membawa Nandini ke ruangan IGD.
Para Juru rawat pun dengan cepat menangani Nandini Sukma Dewi.
Nandini pun berbaring dibrankar yang sudah di siapkan untuk pasien gawat darurat. Wajahnya pun semakin terlihat pucat dan lemas.
Dua orang Suster pun segera memeriksa keadaan Nandini. Yang satu bertugas untuk memeriksa keadaan Nandini sedangkan Suster yang satunya bertugas untuk mencatat keluhan yang dialami oleh Nandini Sukma Dewi.
Setelah selesai memeriksa keadaan Nandini dengan berbagai keluhan yang Nandini alami, kedua Suster tersebut saling lirik pandang. Sebab Nandini masih terlalu muda jika harus mengalami hal yang sedemikian.
"Tunggu sebentar kondisi Nona sangat lemas, tensi Nona pun sangat rendah. Nona seperti kurang tenaga juga kurang darah, tapi kami akan mengantarkan laporan tentang keluhan yang dialami oleh Nona kepada Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah, yakni Dokter spesialis kandungan. Untuk memastikan keadaan Nona," ucap kedua Suster tersebut dengan nada serius.
"Tidak mungkin Nandini---?"
Zahrana menggantungkan kalimat itu di dalam hatinya. Ia segera membuang pikiran yang konyol itu.
Aslan pun memikirkan hal yang sama seperti halnya yang Zahrana pikirkan. Namun ia pun segera menepis segala praduganya.
Selang berapa menit kemudian, Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah yang berperan sebagai Dokter spesialis kandungan pun datang memeriksa keadaan Nandini Sukma Dewi.
Dokter Rufaidah pun memastikan kembali laporan yang dibawa oleh kedua Suster tersebut. Setelah melakukan berbagai pemeriksaan Dokter Rufaidah pun tersenyum ke arah Nandini yang masih terbaring lemah.
"Selamat ya Nyonya, Nyonya telah menjadi Ibu. Kandungan Nyonya di perkirakan sudah memasuki usia 3 Minggu."
"Nyonya harus banyak istirahat, jangan banyak beban pikiran! tensi Nyonya pun sangat rendah, hingga menyebabkan Nyonya terlihat lemah dan kurang bertenaga."
"Kondisi mual-mual dan muntah-muntah itu adalah hal yang wajar untuk Ibu hamil trimester pertama. Jadi Nyonya jangan terlalu khawatir, saya akan memberikan resep untuk penguat kandungan dan juga obat penambah darah khusus Ibu hamil."
"Saran saya, sebaiknya untuk malam ini Nyonya rawat inap dulu untuk amunisi tenaga Nyonya yang terlihat sangat lemas, Nyonya harus di tangani secepatnya demi calon bayi yang sekarang sedang bertumbuh diharim Nyonya Nandini," ucap Dokter Rufaidah panjang lebar.
Nandini terlihat semakin lemah. Ia merasa semakin tertekan dan ketakutan mengingat hasrat satu malamnya dengan Arjuna Restu Pamungkas kini telah pun bertumbuh benih di rahimnya.
__ADS_1
Nandini sangat ingat sekali ketika bercinta dengan Arjuna kala itu, ia memang masih dalam masa subur.
Nandini seketika menangis mengingat peristiwa malam itu. Ia pun menumpahkan air matanya dihadapan Aslan kakaknya, juga Zahrana. Serta disaksikan pula oleh Dokter Rufaidah dan dua orang Suster yang tadi telah pun memeriksa keadaannya.
"Hiks ... hiks ... hiks ... " Nandini menangis pilu. Ia sangat menyesal atas apa yang diperbuatnya bersama Arjuna kekasihnya, hingga berujung ia pun harus berbadan dua.
"Aku kotor, aku hina, aku berlumur dosa." Nandini membathin di dalam hatinya.
Disini di kamar rumah sakit menjadi bilik penyesalan Nandini Sukma Dewi atas segala kekhilafan dan dosa-dosa yang telah ia perbuat.
"Ya Allah ... maafkan Nandini sebab telah melanggar perintah mu, aku adalah wanita yang berlumur noda," gumam Nandini didalam hatinya.
Disela-sela tangisnya kondisi fisik Nandini semakin lemah, tiba-tiba pandangan Nandini menjadi gelap. Nandini pingsan, ia benar-benar merasa sedih atas semua yang menimpanya.
Nandini sangat takut sekali jika sampai Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara mengetahui jika ia sedang berbadan dua.
Ingin sekali Nandini berlari dan kabur dari rumah sakit, namun kondisinya benar-benar lemah. Gadis yang terkenal metal dan tomboy itu akhirnya terbaring di brankar rumah sakit Medika.
"Dek!" pekik Aslan ketika melihat Nandini tiba-tiba hilang kesadaran akibat tubuhnya yang semakin melemah dan pikirannya yang tertekan.
"Din!" pekik Zahrana. Ia sangat kaget mendengar Nandini telah berbadan dua, di tambah Nandini tiba-tiba pingsan membuat Zahrana semakin panik.
"Dokter, tolong selamatkan adik saya dan bayi yang dikandungnya!" ucap Aslan, dadanya terasa sesak melihat musibah yang menimpa adik semata wayangnya.
Aslan mengepalkan tinjunya. Nalurinya sebagai kakak laki-laki merasa sangat tersayat melihat kesucian adiknya yang terenggut begitu saja, gugur dan layu sebelum berkembang.
Perlahan air mata Aslan jatuh berderai melihat adiknya yang terlihat lemah dan tak berdaya.
"Aku berjanji akan menghajar pemuda yang telah menodai kesucian adik ku," ucap Aslan dengan wajah yang di penuhi emosi.
Melihat wajah Aslan merah padam, dengan rahang yang mengeras oleh sebab emosi yang melandanya. Zahrana pun merasa khawatir. Ia ingin mensupport Aslan, namun Dokter Rufaidah masih dalam ruangan rawat inap bersama susternya yang tampak fokus memberikan pertolongan pada Nandini dengan di pasangkan selang infus ditangannya, juga alat bantu pernapasan dipasangkan di indera penciuman Nandini yang terlihat lemah dan tak berdaya.
"Mas, tolong jaga baik-baik saudarinya. Ia butuh perhatian lebih dari orang-orang terkasih, terutama suaminya."
"Jangan sampai ia merasa depresi dan tertekan," ucap Dokter Rufaidah. Kemudian ia pun berlalu pergi hendak melanjutkan tugas menangani pasien lainnya.
Aslan pun mengangguk pelan. Diikuti pula oleh Zahrana. Kini mereka pun saling terpaku dan tenggelam pada pikiran masing-masing, mengingat Nandini Sukma Dewi yang kini benar-benar telah berbadan dua diusianya yang masih belia dan belum berstatus menikah.
"Astagfirullah ... benarkah Nandini telah melakukan hubungan di luar nikah bersama Arjuna Restu Pamungkas?" Zahrana bertanya-tanya pada hati kecilnya.
🌷🌷🌷
^^^Pencerahan 👉 "Dosa itu perlu dibakar, entah itu dengan sakitnya rasa penyesalan di dunia ini ataukah dengan api neraka di akhirat kelak. Kulihat dosa-dosaku seakan begitu besar. Tapi saat kusandingkan dengan ampunan-Mu, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar. Sungguh ... dosa yang membuatmu sedih dan menyesal itu lebih disukai oleh Allah daripada perbuatan baik yang membuatmu sombong. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." ( Bilik_Penyesalan )^^^
__ADS_1