Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
123 . Tidak Akan Menyerah


__ADS_3

"Kita pulang!" ucap Zahrana. Tanpa menoleh ke arah Aslan.


Aslan pun setengah berlari mengejar Zahrana setelah membayar uang makanan mereka.


"Zahrana, tunggu!" pekik Aslan.


Zahrana sudah duduk manis di dalam mobil, ia terus berusaha untuk menetralkan ritme jantungnya. Berhadapan dengan sosok Aslan Abdurrahman Syatir seolah-olah membuat jantung hatinya lari marathon.


Zahrana menghembuskan nafasnya perlahan, ia memalingkan wajahnya dari pemuda tampan yang kini duduk manis di sampingnya dengan gaya elegannya.


Aslan tersenyum simpul, ia bahagia sebab bisa melihat tingkah Zahrana yang sangat menggemaskan setelah sekian lama mereka tidak pernah saling bersama lagi, dan malam ini pun waktu seolah berpihak padanya.


Hikmah di balik adiknya Nandini di larikan kerumah sakit, menjadi keistimewaan sendiri untuk Aslan bisa berada di dekat Zahrana. Meskipun yang di lirik seolah-olah acuh tak acuh padanya, namun Aslan tidak akan menyerah untuk terus mendekati Zahrana. Sampai ia bisa merebut kembali hati Sang Bunga Desa itu.


Aslan melajukan kijang besinya dengan kecepatan sedang, ia sengaja ingin mencuri kesempatan agar bisa lebih lama lagi bersama dengan Zahrana, meskipun yang di kaguminya nampak cuek terhadapnya.


"Ana, aku akan terus menunggu mu sampai kau kembali menerima ku seperti dulu lagi," ucap Aslan tiba-tiba. Sehingga membuat Zahrana terhenyak dari lamunannya.


"Maaf, Kak. Zahra tidak ingin lagi menempuh jalan pacaran seperti dulu, sebaiknya kakak jangan pernah berharap lebih pada Zahra, Kak. Itu semua adalah bagian dari masa lalu kita. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi," pungkas Zahrana penuh penegasan.


Zahrana berusaha menekan perasaan dan gejolak hawa nafsu buruknya. Sebab, secara fisik siapa yang tidak tergoda dengan pesona Aslan Abdurrahman Syatir yang kini terlihat lebih tampan dan keren di usianya yang ke 23 tahun.


Namun, duduk keimanan Zahrana lebih kuat dari hawa nafsu buruknya. Ia tidak ingin terjerat cinta buta Aslan seperti dulu lagi.


"Jika kau tidak ingin pacaran aku bisa langsung melamar mu, dan menikahi mu! Aku mencintaimu Zahrana, dari sejak dulu hingga detik ini rasa itu tidak pernah berubah sedikitpun. Hanya ada nama mu yang tertulis di hatiku."


"Asal kau tahu Zahra, betapa berat hari-hari ku tanpa kehadiran mu, betapa bathin ku sangat tersiksa. Aku seolah-olah berasa seperti orang yang bodoh, aku tidak bisa hidup tanpa mu Zahrana," ucap Aslan berapi-api.


"Dan kini pun kau telah kembali, aku tidak akan melepaskan mu begitu saja. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu, Zahrana. Kau harus menjadi milik ku seutuhnya!" ucap Aslan dengan nada penuh penekanan.


"Ta-tapi, Kak. Zahra tidak mencintai kakak lagi, Zahra ingin sendiri dulu. Zahra juga belum mau menikah. Zahra ingin mengejar cita-cita Zahra dulu. Lupakan Zahra, Kak! kakak berhak bahagia dengan wanita yang lain, Zahra mohon lupakan Zahra, Kak!"

__ADS_1


"Shittt ... " Aslan menginjak rem mendadak, setelah mendengar penuturan Zahrana yang terang-terangan menolak cintanya.


Aslan terlihat kecewa dengan ucapan Zahrana. Ia menepikan mobilnya, membuat tubuh Zahrana semakin gemetaran. Ia khawatir Aslan akan melakukan hal yang buruk terhadapnya.


"Zahra, tatap mata aku sekarang! Aku ingin melihat jelas, masih adakah rasa cinta dihatimu untuk ku? atau aku terlalu hina dimata mu sehingga kau berulang kali menolak ku! apa aku tak pantas untuk mu Zahrana, katakan apa kurangnya diriku?" Aslan menarik dagu Zahrana untuk mendekat ke wajahnya.


Nafas Zahrana semakin memburu, ia semakin khawatir jika Aslan nekad berbuat mesum padanya.


"Lepaskan, Kak! kakak keterlaluan, kita bukan mahramnya, Kak." Zahrana menepis tangan Aslan yang telah berani menyentuhnya.


Aslan mengusap surai rambutnya, jika ia tidak kuasa menahan gejolaknya. Mungkin ia sudah melabuhkan ciuman pada bibir mungil Zahrana. Namun, ia kembali menguasai gejolak hawa nafsunya. Ia tidak ingin peristiwa 4 tahun yang lalu terulang kembali, dimana ia dengan beringasnya telah mengambil paksa ciuman pertama Zahrana.


Zahrana bernafas lega, sebab Aslan tidak berbuat yang berlebihan terhadapnya.


Seketika Zahrana dan Aslan saling terdiam setelah keributan sesaat yang di ciptakan oleh Aslan.


"Tok ... tok ... tok ... " pintu mobil Aslan di ketuk oleh dua orang petugas yang berpakaian seragam Hansip dari luar.


Aslan membuka pintu mobilnya.


Sekilas nama tersebut tertangkap oleh indera penglihatan Zahrana. Seorang pemuda bertubuh mungil yang mungkin sedikit lebih tinggi perawakannya dari Zahrana. Mungkin 10 cm lebih tinggi dari Zahrana. Sekitar 157 cm mungkin dalam perkiraan Zahrana.😁😁


Dalam pemikiran Zahrana entu Hansip yang bernama Muhammad Zaid Arkana masih seumuran dirinya, oleh sebab postur tubuhnya yang terlihat kecil mungil dan imut. Namun, tubuhnya terlihat sangat padat dan berisi.


Zahrana mengulum senyumnya, "ternyata ada juga Hansip yang terlihat lucu dan imut, aku kira Hansip itu mestinya bertubuh tinggi dan besar agar bisa menjaga keamanan lebih baik, namun ia sangat menarik," bathin Zahrana.


Zahrana pun kembali menundukkan pandangannya, sebab ia tidak sengaja melihat wajah Muhammad Zaid Arkana yang terlihat sangat manis dan imut. Jika orang lain belum mengenalnya pasti akan beranggapan usia Muhammad Zaid Arkana sekitar 17 tahun.


Padahal sebenarnya, usia Muhammad Zaid Arkana sudah beranjak 25 tahun. Namun, ia masih terlihat seperti remaja dan awet muda sebab posturnya yang imut jika untuk ukuran seorang laki-laki mestinya lebih tinggi lagi. Agar terlihat lebih dewasa diusianya yang sudah beranjak 25 tahun, tidak serta merta masih seperti remaja.


"Anda ternyata masih muda dan masih perjaka. Lalu, siapa gadis kecil yang kau bawa malam-malam begini, di tempat yang jauh dari keramaian begini?" ujar petugas keamanan yang bernama Muhammad Zaid Arkana.

__ADS_1


"Anda berdua di harapkan untuk memberikan penjelasan yang akurat, baru kami akan segera membebaskan kalian, jangan-jangan kalian pasangan mesum," ujar pemuda yang satunya lagi yang bernama Pramuja Wisnu Baskara.


Aslan turun dari mobilnya dengan gaya elegannya. Ia tampak santai mendengar ucapan petugas keamanan yang bernama Pramuja Wisnu Baskara.


"Jika kami adalah pasangan mesum, lalu tindakan apa yang ingin Bapak-bapak lakukan pada kami?" ucap Aslan dengan gaya elegannya.


Jika dinikahkan, tentu menjadi sesuatu yang istimewa dan menyenangkan untuk Aslan. Sebab, ia pun bisa menikah dengan Zahrana sang pujaan hatinya. Walaupun sebenarnya, tidak terjadi apa-apa dengan dirinya dan Zahrana.


Kedua petugas keamanan itu pun saling berpandangan. Mereka tidak mengira jika Aslan berani melemparkan pertanyaan yang sedemikian. Padahal jelas-jelas menurut mereka Aslan telah mengganggu keamanan sebab tertangkap sedang ribut-ribut dengan Zahrana dari dalam mobil.


Zahrana turun dari dalam mobil, menghampiri Muhammad Zaid Arkana dan Pramuja Wisnu Baskara.


Zahrana dengan keanggunan dan pesonanya membuat petugas keamanan yang melihatnya pun tak berkedip memandang kecantikan alami Zahrana.


"Maaf, Bapak-bapak petugas keamanan yang terhormat, kalian telah salah paham. Kami tidak berbuat mesum. Dia adalah kakak sahabat ku yang kini sedang di rawat inap di rumah sakit. Dia hanya mengantarkan ku pulang ke rumah. Sebab, di rumah sakit sudah ada yang menjaga sahabat ku."


"Tadi, hanya keributan kecil saja. Tidak ada yang mesti dijelaskan jadi izinkan kami untuk pulang. Jika kalian tidak percaya, catat kartu nama ku, alamat ku juga nomor handphone ku." Zahrana terus berujar.


Petugas keamanan yang bernama Muhammad Zaid Arkana dan Pramuja Wisnu Baskara pun tidak serta merta merespon ucapan Zahrana. Mereka masih terus terpana dengan pesona dan kecantikan Zahrana.


Aslan melambaikan tangannya ke arah wajah kedua petugas keamanan tersebut. Hingga membuat keduanya tersadar dari keterpanaan mereka terhadap Zahrana.


"Hemmm ... sudah ku duga kalian berdua pun akan terpesona pada wanita ku," ucap Aslan menunjukkan tanda kepemilikannya pada Zahrana. Padahal sebenarnya, Zahrana kini bukan milik siapa-siapa.


Namun, Aslan tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan kembali hati Zahrana bagaimana pun caranya.


"Ayo kita pergi Humaira!" ucap Aslan sembari memanggil Zahrana dengan panggilan kesayangan seperti panggilan khusus Nabi besar Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam kepada istrinya Siti Aisyah.


"Apakah namanya Humaira?" bathin Muhammad Zaid Arkana yang menatap nanar punggung Zahrana yang hendak beranjak pergi dari hadapannya mengikuti langkah Aslan Abdurrahman Syatir.


"Tunggu! Aku seperti mengenal mu," pekik Pramuja Wisnu Baskara hendak menghentikan langkah Zahrana.

__ADS_1


🌷🌷🌷


...Pencerahan 👉 "Pagi itu memiliki embun yang menetes tanpa harus diminta. Kebahagiaan itu memiliki arti ketulusan tanpa rencanakan. Sama halnya hati dia memiliki cinta tanpa harus diminta meskipun terkadang menyakitkan. Nggak pacaran, bukan berarti nggak sayang. Karena cinta nggak harus selalu memiliki, kan?" ( Tsamirah Zahrana Az Zahra )...


__ADS_2