Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
181 . Maaf, beri aku waktu! ( Di antara dua pria )


__ADS_3

"Zahrana, aku telah jatuh hati pada mu, dari sejak awal kita bertemu, hingga detik ini. Semoga kau pun merasakan sebagaimana yang diriku rasakan!"


"Aku tidak memaksa mu untuk segera menjawab segala rasa ku ini? namun percayalah pada ku. Bahwa di lubuk hati ku yang paling dalam kini hanya tertulis bingkai indah namamu!" ucap Muhammad Zaid Arkan penuh arti.


Zahrana diam tak bergeming ketika mendengar penuturan MZ Arkana, ia terdiam seribu bahasa. Ia tidak menyangka jika Muhammad Zaid Arkana dengan gamblang mengutarakan isi hatinya tanpa bisa untuk ia menghindarinya.


"Maaf kak, tidak begini caranya. Semestinya dari sejak awal kita hanya sebatas teman dan juga rekan kerja saja. Maaf, beri aku waktu untuk untuk berpikir sejenak untuk menenangkan dan menentramkan jiwa ku. Akan lebih baik kita bersikap seperti adik kakak, itu lebih baik kak!" pungkas Zahrana dengan mendorong tubuh MZ Arkana agar menjauh dari hadapannya.


Zaid tersenyum, melihat rona wajah Zahrana yang nampak bersemu merah oleh godaan dan ungkapan rasanya yang barusan di utarakan olehnya.


"Maaf, atas segala rasaku yang mungkin mengganggu di kedalaman hatimu. Namun, ini lah diri ku apa adanya. Aku terpaksa harus jujur tentang rasa ku terhadapmu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Zaid dengan bersedekap dada.


Zaid duduk bersila di kursi kebesarannya, sambil memutar tubuhnya di kursi goyang tersebut. Ia nampak berpikir keras.


"Ya Allah, sepertinya aku memang benar-benar sudah gila. Gara-gara insiden di dapur semalam dengan Zahrana membuat diriku selalu terbayang-bayang dengan keindahan dan segala pesona yang ada dalam dirinya."


Zaid memijit pelipisnya, ia benar-benar kehilangan akal sehatnya ketika berhadapan dengan Zahrana.


"Apa aku utarakan saja niat ku untuk melamarnya, daripada sering berduaan dan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, selain memicu fitnah dosa pun bertambah-tambah, mending aku nekad saja untuk menghalalkannya. Semoga saja ia mau menerima ku!" bathin Muhammad Zaid Arkana.


Zahrana masih fokus dengan pekerjaannya, apa pun ia rapikan demi mengalihkan pandangannya dari sosok Muhammad Zaid Arkana. Namun, tidak dengan Zaid biduk keimanannya menjadi pasang surut melihat pesona Zahrana yang di lihat dari segala sudut pandang mana pun, sungguhlah seperti berlian berharga yang memiliki nilai dan berkualitas tinggi.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh kau seperti mutiara di dasar lautan. Sangat sulit untuk ku merengkuh dirimu, tapi ku pastikan kau akan menjadi milik ku seutuhnya!" bathin Zaid yang mulai tergila-gila pada Zahrana.


"Astaghfirullah ... aku memang benar-benar sedang tidak baik-baik saja, aku harus mendatangi guru ku, untuk mendapatkan pencerahan dari beliau. Sungguh, aku tidak sanggup lebih lama lagi terus meredam rasaku pada sosok bidadari yang ada di hadapanku ini!" bathin Zaid dengan perasaan yang semakin bergelora.


"Zahra, kakak pergi dulu! kau jaga diri baik-baik disini, nanti kakak kemari lagi."


"Iya, silahkan kak! Jika perlu kakak datang kemari ba'da Ashar pun tidak apa-apa kak, sebab kita ini bukan mahramnya, sungguh tak lazim jika kita terus bersama seperti ini!" pungkas Zahrana tanpa melirik ke arah Zaid.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa meninggalkan mu lama-lama Tsamirah Zahrana Az Zahra. Kakak akan terus memantau perkembangan mu!" ucap Muhammad Zaid Arkana.


"Terserah kakak saja, jika yang di pantau adalah masalah pekerjaan boleh-boleh saja. Namun, lebih dari itu tidak boleh!" cetus Zahrana.


Zaid, terhenyak mendengar ucapan Zahrana. Ada rasa nyeri di ulu hatinya mendengar penuturan Zahrana.


"Apakah tidak ada rasa yang terbit di hati mu untuk ku Zahrana? Aku tidak yakin jika sedikitpun tidak ada nama ku terukir dihati mu? Aku tahu kau dilema dengan rasa mu? Aku tahu dalam igauan mimpi mu kau menyebut namanya dalam tidur panjang mu, namun aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Zaid dengan gemuruh cinta yang kini telah mengikat hatinya pada sosok bidadari tersebut.


Di tengah keterhenyakan mereka berdua, hadirlah seorang pemuda dengan gaya trendy-nya mengendarai motor Vixion black dengan tampilan yang sangat menarik dan elegan. Pemuda tersebut memarkirkan motornya di Aisyah Boutique Colection. Ia pun segera masuk menghampiri Zahrana dan Zaid yang sedang terpaku dengan pikirannya sendiri.


"Assalamu'alaikum ... brother. Apa kabar mu!" ucap pemuda tersebut dengan menyalami dan memeluk Muhammad Zaid Arkana.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... Maa syaa Pramuja Wisnu Baskara, apa kabar mu!" ucap Zaid dengan membalas rangkulan Pramuja.


"Alhamdulillah, aku baik brother. Pantesan aja loe cuti menjadi petugas keamanan, ternyata ini alasannya!" celoteh Pramuja dengan menatap lekat nanar wajah saudari sepupu yang sangat dirindukannya itu.


"Mas Barra!" pekik Zahrana, ketika melihat kehadiran Pramuja di Aisyah Boutique Colection tempat ia bekerja.


"My sepupu, apa kabar mu? mengapa akhir-akhir ini jarang memberikan kabar?" tanya Pramuja dengan bersedekap dada sambil memperhatikan aktivitas yang sedang dilakukan oleh Zahrana.


"Alhamdulillah ... Zahra baik kak, seperti yang kakak lihat."


"Hemmm ... hentikan dulu aktivitas mu, kemarilah!" Pramuja refleks menarik tangan Zahrana.


"Duduk di sini, jangan pernah untuk turun dari kursi ini, sebelum aku puas menginterogasi dirimu dan juga sahabat ku Muhammad Zaid Arkana."


Zahrana terpaksa menuruti keinginan saudara sepupunya, ia ingin tahu apa yang ingin diucapkan oleh Pramuja Wisnu Baskara selanjutnya. Begitu pun dengan Muhammad Zaid Arkana, ia urung untuk pergi dari Aisyah Boutique Collection lantaran kehadiran Pramuja sahabatnya.


"Kata kan sejak kapan kau bekerja di sini? kenapa tidak memberitahu Mas? mana hilang kabar lagi?" ucap Pramuja dengan raut wajah gusar.

__ADS_1


"Kau juga brother, tidak setia kawan. Jangan-jangan kalian sudah jadian?" tanya Pramuja penasaran.


Zahrana dan Zaid saling lirik pandangan. Mereka merasa lucu melihat wajah gusar Pramuja.


"Mas Pramuja Wisnu Baskara, dengar ya? Zahra dan kak Zaid tidak jadian, lagian pacaran kan nggak dibolehkan dalam syari'at, kami hanya sebatas rekan kerja tidak lebih. Jika tidak percaya, silahkan tanya langsung pada kak Zaid!" titah Zahrana dengan melebarkan senyumnya.


Zaid hanya mengangguk pelan, ada rasa ngilu di ulu hatinya mendengarkan penuturan Zahrana. Namun, ia sadar a apa yang di ucapkan oleh Zahrana itu benar adanya. Ia pun memahami jika pacaran memang tidak di perbolehkan dalam syari'at Islam. Namun, Zaid tak rela jika harus melepaskan Zahrana begitu saja.


Pramuja nampak menunggu jawaban dari Muhammad Zaid Arkana.


Zaid menghembuskan nafasnya pelan, "Benar aku dan Zahrana hanya sebatas rekan kerja, kita pun tidak jadian atau pacaran. Akan tetapi, kita akan pacaran setelah nikah! tepatnya, aku akan melamar sepupumu!" tegas Zaid dengan nada serius.


Zahrana membolakan matanya dengan sempurna, ketika mendengar penuturan Zaid yang tanpa filter. Berada di antara dua pria tersebut membuat spot jantungnya dengan serentetan pertanyaan yang tiba-tiba. Pengungkapan rasa yang tiba-tiba dan kejutan yang lainnya.


"Ya Allah ... tolong jaga hati dan jiwa ku agar tidak mudah terpedaya dengan apa yang aku dengar dan aku lihat!" bathin Zahrana dengan menahan kegundahan hatinya.


🌷🌷🌷


Pencerahan 👉"Jangan biarkan cintamu menjadi keterikatan atau kebencianmu menjadi kehancuran. Temukan pasangan hidup yang bisa membimbingmu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Mencintai Allah adalah setinggi-tingginya cinta. Sempurnakan cintamu pada Allah sebelum engkau melabuhkan cintamu pada makhluk-Nya. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu."


🌸


🌸


🌸


Sambil menunggu update selanjutnya, author punya rekomendasi karya bagus untuk mu, kak.😊😘


Judulnya : Menjadi Madu Sahabat ku

__ADS_1


Authornya : Ayu Andila



__ADS_2