
Zahrana dan teman-temannya pun kini telah merasa lega, sebab mereka telah mengeluarkan segala keresahan dihati mereka masing-masing.
"Princess ... sebaiknya kita kembali ke kelas, sepertinya Para Wali Murid dan orangtua kita sudah mulai berbondong-bondong keluar kelas. Sepertinya pembagian Raport semester sudah usai," ajak Hafidzah seraya melerai pelukannya dari Zahrana.
"Oh ... Iya,Dzah. Kau benar, Buya Harun pasti sedang mencari ku." Zahrana menghapus air matanya yang masih tersisa. Ia hendak mengambil wudhu untuk menghilangkan segala gejolak rasa dan emosi yang terpendam.
Dengan tetesan Air wudhu setidaknya bisa menenangkan jiwa yang sedang berduka. Karena sejatinya amarah atau emosi sesaat, rasa was-was dan sejenisnya adalah berasal dari bisikan syetan.
Syetan tercipta dari bara api yang sangat panas, jadi memadamkannya cukup dengan tetesan air wudhu. Insya Allah hati dan jiwa akan merasa tenang. Jika sedang dalam kerumitan dan pikiran sedang kacau balau, Zahrana lebih memilih wudhu dan istighfar untuk menenangkan hati dan jiwanya.
Nandini, Cinta dan Kirana beranjak duluan.
Sementara Hafidzah dan Fadhillah menunggu Zahrana selesai berwudhu.
Zahrana dan teman-temannya, tidak menyadari jika Priska Prahara dan kedua orang temannya, Adelia Kencana Puteri juga Lembayung Senja menguping percakapan pembicaraan Zahrana dan teman-temannya di Toilet sebelah.
"Hemmm ... jadi itu rahasia mereka, ini sangat menarik sekali! sungguh aku tak menyangka jika gadis kecil nan lugu seperti Zahrana licik juga, dasar gadis cent*l, bersembunyi di balik wajah yang terlihat lugu nan polos. Namun, pintar sekali bermain hati."
"Aku heran, apa kurangnya diriku di hadapan Rivandra? dibandingkan gadis ingusan itu. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Rivandra jika mengetahui gadis kecilnya mendua hati," sungut Priska Prahara dihadapan teman-temannya.
"Aku juga Pris, sampai hari ini aku belum ikhlas melepaskan Arjuna dengan Nandini temannya Zahrana itu. Tapi aku tidak punya kekuatan untuk melawan Si Gadis Metal itu! ilmu bela dirinya sangat luar biasa. Bisa-bisa tubuh ku remuk semua di banting olehnya," cecar Adelia Kencana Puteri.
"Aku juga sebenarnya mendadak patah hati dan serangan jantung tiba-tiba, sebab kekasih pujaan hatiku Rangga Sahadewa tiba-tiba berpimpin tangan alias jadian dengan Si Cinta, teman Zahrana itu. Entah pelet apa yang mereka gunakan, sehingga sosok laki-laki yang kita puja-puja habis di embat mereka semua," pungkas Lembayung Senja.
"Kalian payah! pada menyerah semua. Seandainya, tidak ada Si Nandini gadis metal itu. Ingin rasanya ku musnahkan Si Zahrana gadis ingusan itu. Awas saja ... Aku akan membuat perhitungan secara halus padanya. Ku pastikan sepanjang nafas hidup ku ia tidak akan pernah menjemput kebahagiaannya." Priska benar-benar menyimpan dendam kesumat pada Zahrana.
Untung saja pada Zaman Zahrana sekolah, semua Siswa-siswi belum mempunyai handphone genggam yang berbasis rekaman suara, video dan sejenisnya.
Jika itu terjadi tamatlah riwayat Zahrana hari itu. Bisa di pastikan percakapan Zahrana dan teman-temannya akan direkam oleh Priska Prahara dan teman-temannya.😁😁
***
"Ayah, terimakasih sudah berkenan mengambil Raport semester Zahra. Ayah sudah mau pulang ya?" tanya Zahrana seraya bergelayut manja di lengan Buya Harun Ayahnya.
"Sama-sama, Nak. Terimakasih karena Bidadari kecil Ayah dan Bunda sudah belajar dengan rajin."
"Ayah bangga pada mu, Nak. Selamat atas prestasinya!" ucap Buya Harun dengan mata berkaca-kaca. Ia pun mencium pucuk kepala Puterinya.
"Buya hendak pulang dulu bersama Pak Hermawan, Ayahnya Kirana Larasati. Tadi beliau menawarkan Ayah untuk pulang bersama. Ayah masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Di rumah maupun di kebun," ujar Buya Harun.
Masing-masing Siswa-siswi SMP Negeri 3 XX, mengantarkan kepulangan orang tua mereka sampai pintu gerbang. Begitu pun Zahrana dan teman-temannya.
Siswa-siswi SMP NEGERI 3 XX, belum beranjak pulang. Mereka masih berkumpul dengan teman-temannya, saling melepas kerinduan. Sebab, setelah ini mereka libur 2 Minggu pasca pengambilan raport semester pertama.
"Bidadari kecil ku!" panggil Rivandra Dinata Admaja.
Zahrana menoleh.
"Iya, kak." Zahrana nampak gugup. Sebab Aslan Abdurrahman Syatir masih berada di Sekolah.
"Untung saja kak Aslan tidak di sini!" cicit Zahrana.
"Kita nongkring di Kantin yuk, Ra!" ajak Rivandra seraya menarik pergelangan tangan gadis kecilnya.
Zahrana tidak bisa menolak.
Sementara Virgantara, semakin dibuat penasaran oleh adiknya.
"Hey ... Rivandra! nanti kita mau pulang lho ... " pekik Virgantara.
"Aku hendak kencan dengan gadis kecil ku dulu, kak." Rivandra setengah berteriak seraya menggandeng erat pergelangan tangan Zahrana kekasihnya.
"Ketahuan ... ternyata diam-diam adik gue ada hubungan khusus dengan gadis kecil itu. Dasar ... kecil-kecil sudah pacaran!" gerutu Virgantara.
__ADS_1
"Jadi, kerjaan aku apa? punya adik laki-laki sudah berani-beraninya pacaran, di depan kakaknya pula," gerutu Virgantara seraya menyugar rambutnya.
"Hai! kak Virgan, sedang apa?" sapa Fadhilah dan Kirana Larasati. Mereka berdua dari sejak tadi mondar-mandir. Sebab, teman-teman mereka pada asyik berkencan.
Zahrana berkencan dengan Rivandra, Nandini dengan Arjuna sedangkan Cinta Kiara Khoirani dengan Rangga Sahadewa.
Tinggal Fadhilah dan Kirana Larasati yang berkencan dengan angin.😁😁😁
Sedangkan Hafidzah sudah pamit sejak tadi, ia pulang bersama kedua orangtuanya setelah pengambilan raport dan mengurus surat kepindahannya ke Pondok Pesantren di Kota P.
Virgantara menampakkan senyum manisnya kepada Fadhilah dan Kirana, sehingga membuat jantung hati Fadhilah terasa dag dig dug karenanya.
"Amboiiii ... inikah rasanya cinta?" cicit Fadhilah dengan perasaan yang mulai berbunga-bunga di hatinya.
Sedangkan Kirana biasa saja. Ia seolah kapok untuk terpesona dengan laki-laki manapun, setelah rasa cinta yang terpendam pada Rivandra Dinata Admaja. Dan kini pun, Kirana lebih memilih fokus untuk belajar seperti untaian nasehat terakhir yang di sampaikan oleh sahabat mereka Hafidzah sebelum kepindahannya ke Pondok Pesantren.
"Hai! bukankah kalian berdua sahabatnya Zahrana?" tanya Virgantara.
"Iya, kak. Kami temannya Zahrana," angguk Fadhilah.
Sementara Kirana tetap dengan ekspresi datar, tidak ada manis-manisnya.
"Dek, siapa nama kalian?" tanya Virgantara.
"Aku Fadhilah kak, dan ini teman ku Kirana Larasati."
"Oh, bagaimana jika kita nongkring bertiga? nanti kakak yang traktir."
"Benarkah, kak?" tanya Fadhillah kegirangan.
Mereka bertiga pun menuju kantin Mang Dul. Di sana pandangan Virgantara tertuju pada Aslan Abdurrahman Syatir yang sedang asyik ngobrol bersama Siswi berambut pirang,wajah cantik,kulit putih kebule-bulean. Siapa lagi kalau bukan Priska Prahara dan kedua orang sahabatnya Adelia Kencana Puteri dan Lembayung Senja.
Priska Prahara sengaja mendekati Aslan Abdurrahman Syatir, ketika Aslan sedang ingin membeli Orange Jus, sekedar untuk melepas dahaganya.
Sementara dimeja paling pojok Zahrana dan Rivandra nampak asyik berkelakar, mereka kompak memesan es parut dan dua porsi bakso kriyuk yang menjadi menu favorit di kantin Mang Dul.
Zahrana tidak menyadari akan kebersamaan Aslan kekasihnya dengan Priska Prahara dan teman-temannya.
"Ra, itu ada sisa kryuk yang lengket di sudut bibir mu," ucap Rivandra seraya mengusap sudut bibir Zahrana dengan tissue.
Zahrana nampak terpukau dengan keromantisan Rivandra di sela-sela santapan mereka.
"Terimakasih, Kak." Zahrana menatap lekat nanar wajah kekasihnya.
"Sama-sama, Ra." Rivandra pun balik menatap nanar wajah Zahrana.
Perlahan Rivandra menggenggam erat jemari tangan Zahrana.
Zahrana pun membiarkan Rivandra menggenggam erat jemari tangannya
"Ra, terimakasih karena kau sudah berkenan menjadi wanita ku. Setelah ini, mungkin dua Minggu lagi kita akan bertemu, tentu aku akan merindukan kebersamaan dengan mu Ra," ujar Rivandra tidak berkedip memandang wajah Bidadari kecilnya.
Zahrana tidak menyadari jika Aslan Abdurrahman Syatir kekasihnya sudah sedari tadi melihat adegan Rivandra Dinata Admaja yang membersihkan sisa makanan di sudut bibir Zahrana yang juga masih berstatus kekasih Aslan.
Wajah Aslan tiba-tiba berubah merah padam. Aslan benar-benar terbakar api cemburu. Ia seperti berada di alam mimpi melihat Sang Pujaan hati yang selama ini ia jaga. Ia kasihi dan ia sanjung sepenuh hati dan jiwanya tega bermain hati di belakangnya.
Sementara Priska Prahara dan teman-temannya, merasa sangat bahagia melihat Zahrana ketahuan mendua. Mereka seperti ketiban bintang jatuh. Mereka tidak menduga keberuntungan itu pun berpihak pada mereka, tanpa harus bersusah-susah payah mengeluarkan tenaga dan pikiran, umpan pun dengan sendirinya mengena, masuk dalam perangkapnya.
"Mampus loe gadis ingusan! rasakan bagaimana sakitnya teriris sembilu! Selama ini kau selalu bahagia diatas penderitaan ku, terimalah kehancuran QShidup mu hari ini!" Priska terus mengumpat perihal Zahrana didalam hatinya.
"Sebentar lagi akan ada adegan yang lebih seru, bakal menjadi tontonan yang sengit," sungut Priska Prahara.
Priska Prahara dan teman-temannya saling mengerlingkan mata, tanda mereka berhasil mengadu domba dan menghancurkan hubungan Zahrana dengan kedua teman istimewanya Aslan Abdurrahman Syatir dan Rivandra Dinata Admaja.
__ADS_1
"Ana!" pekik Aslan dengan nada tinggi.
"Kak Aslan ... " Zahrana kaget bukan kepalang, melihat Aslan kekasihnya sudah berdiri dihadapannya. Tepat dimana ia sedang berkencan dengan Rivandra Dinata Admaja yang juga kekasihnya.
Zahrana segera melerai genggaman tangannya dengan Rivandra Dinata Admaja.
Rivandra pun ikut kaget, ia pun tidak mengerti jika Aslan kakak Nandini Sukma Dewi tiba-tiba berdiri di hadapan mereka. Rivandra pun nampak kebingungan melihat wajah Aslan yang merah padam, seperti menahan emosi yang luar biasa.
Tanpa berbicara sepatah katapun Aslan segera menarik pergelangan tangan Zahrana dengan kasarnya, ia membawa Zahrana menjauh dari pandangan Rivandra Dinata Admaja.
"Tunggu!" pekik Rivandra.
Aslan tidak memperdulikan pekikan Rivandra, ia terus menggenggam erat pergelangan tangan Zahrana.
"Kak Aslan lepas! ini menyakitkan untuk ku," ucap Zahrana seraya meringis menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, akibat genggaman tangan kekar Aslan.
Namun Aslan seperti orang kesetanan, ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Hatinya terlalu perih menyaksikan Bidadari kecilnya berpimpin tangan dengan laki-laki lain di hadapannya.
Aslan benar-benar kalap, ia terus saja menarik pergelangan tangan Zahrana sampai ketempat parkir. Ia pun segera melajukan kuda besinya dan memaksakan Zahrana untuk ikut bersamanya.
Zahrana terpaksa mengikuti kemauan Aslan kekasihnya yang benar-benar sedang emosi terhadapnya. Nampak sekali jika Aslan benar-benar terbakar api cemburu dengan kedekatan Bidadari kecilnya dengan Rivandra Dinata Admaja. Adik dari Virgantara Dinata Admaja teman kampusnya.
Aslan melajukan kuda besinya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sehingga membuat Zahrana berpegang erat di pinggang Aslan kekasihnya yang kini benar-benar berada dalam tingkatan emosi tingkat tinggi.
"Kita mau kemana kak?" tanya Zahrana mulai ketakutan. Sebab Aslan membawanya berlawanan arah dengan jalan menuju tempat tinggal mereka.
Aslan tetap diam tak bergeming. Ia fokus mengendarai motor gedenya, dengan perasaan yang bergemuruh di dadanya. Ia benar-benar terbakar api cemburu. Sehingga akal sehatnya pun tidak mampu lagi untuk ia kuasai.
***
Sementara di Kantin Sekolah Virgantara, Fadillah dan Kirana Larasati sempat syok melihat adegan yang terjadi di depan mata mereka.
"OMG ... Zahra, kak Aslan, kak Rivandra!" pekik Fadhilah dan Kirana Larasati bersamaan.
"Kak Virgan ... ayo kita kejar Princess Zahrana dan kak Aslan, juga kak Rivandra. Sepertinya mereka sedang di rudung masalah," ujar Fadhilah kepanikan.
Fadhilah segera menarik pergelangan tangan Virgantara yang masih melongo melihat kenyataan yang terjadi. Ia benar-benar terperangah melihat benang-benang cinta segitiga yang terjadi antara Adiknya, Zahrana dan juga sohibnya Aslan Abdurrahman Syatir.
"Ya Ampun ... ini gawattttt!" ujar Virgantara ketika tersadar dari kebengongannya.
"Ternyata benar dugaan ku," cicit Virgantara Dinata Admaja.
Virgantara pun mengikuti langkah Fadhilah, mereka berdua belum menyadari jika saling bergenggaman tangan begitu erat layaknya sepasang kekasih.
"Deg ... " jantung Fadhillah pun terasa bergetar hebat, ia baru menyadari jika ia telah refleks menggenggam tangan Virgantara, yang layak ia panggil seorang kakak.
"Ya Allah ... jangan sampai aku jatuh cinta beneran dengan Pria dewasa, ketularan Zahrana dong!" cicit Fadhilah seraya menepuk jidatnya pelan.
Fadhilah dan Virgantara pun segera berboncengan, mereka hendak mengejar Zahrana dan Aslan. Juga mengejar Rivandra dan Kirana Larasati yang ternyata nebeng dengan Rivandra untuk mengejar Zahrana dan Aslan.
Mereka semua refleks berboncengan karena khawatir Aslan akan menyakiti Zahrana dan membawanya entah kemana?
Nandini Sukma Dewi pun sedang asyik berkencan dengan kekasihnya Arjuna Restu Pamungkas pun ikut mengejar Kakaknya Aslan dan Zahrana sahabatnya. Pikir mereka apa yang sebenarnya telah terjadi hingga Kakaknya Aslan berubah menjadi murka terhadap Zahrana.
"Apa Zahrana ketahuan mendua," cicit Nandini mulai menerka-nerka. Sebab, Rivandra dan Kirana pun sedang mengejar Zahrana dan Aslan dari arah belakang.
Arjuna segera melajukan motor Ninja RR miliknya dengan kecepatan tinggi, mengingat keadaan sedang darurat.
Nandini pun berpegang erat pada lingkaran pinggang Arjuna kekasihnya.
Jadilah aksi mereka semua saling kejar-mengejar.
Sementara, Cinta Kiara Khoirani dan Rangga Sahadewa sama-sama bengong melihat aksi kejar-kejaran teman-teman mereka. Mereka berdua tidak bisa ikut mengejar Zahrana dan teman-temannya, sebab Rangga dan Cinta tidak membawa kendaraan bermotor. Mereka hari ini seperti biasanya pulang dan pergi ke sekolah naik Bis Sekolah.
__ADS_1
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Zahrana dan kak Aslan juga kak Rivandra," cicit Cinta Kiara Khoirani dengan nada sendu. Ia tidak mengira jika sahabatnya Zahrana mengalami hal serumit ini, lantaran kenekatannya untuk mendua hati.