Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
118 . Saling Menguatkan


__ADS_3

Fadhillah terkulai lemas, ingin rasanya ia menangis melihat kenyataan yang terjadi.


"Nandini ... Arjuna, kalian--?"


Fadhillah cepat-cepat menaruh ponsel Nandini di nakasnya, setelah mendengar Nandini keluar dari toilet. Ia khawatir ketahuan membaca mesege Nandini dan Arjuna.


Fadhillah berpura-pura mengibaskan tempat tidur mereka yang masih terlihat berantakan dan belum dirapikan.


Sementara Cinta dan Kirana Larasati telah berada di luar menghirup udara segar setelah selesai dengan ritual sholat subuhnya. Sedangkan Fadhillah tidak berniat untuk keluar ia lebih memilih berada di dalam kamar, masih bergelut dengan selimut, sebab cuaca yang terasa dingin menusuk sampai ke kulit.


Meskipun Fadhillah mengetahui tidur setelah shubuh tidak dianjurkan dalam syari'at, sebab bisa mengganggu kesehatan dan membuat anggota tubuh menjadi malas bergerak. Keberkahan diwaktu pagi hari pun akan hilang, namun Fadhillah seolah betah bergelut dalam selimut oleh rasa kantuk yang kembali menyerangnya oleh sebab semalaman bergadang menunggu kehadiran Nandini dan Arjuna.


Namun, mendengar nada dering ponsel Nandini yang berbunyi berkali-kali membuat Fadhillah urung untuk memejamkan matanya.


Apalagi setelah menjawab telfon Arjuna dan membaca mesege Arjuna dan Nandini membuat Fadhillah membelalakkan matanya. Ia rasa tak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar jika Nandini Si gadis tomboy dan metal sampai berbuat mesum dan melakukan hubungan di luar nikah, membuat Fadhillah memijit kepalanya memikirkan keteledoran sahabatnya itu.


"OMG ... Nandini Sukma Dewi, sungguh aku tak menyangka kau begitu mudah menyerahkan mahkota berharga mu pada Arjuna tanpa memikirkan dulu sebab akibat yang akan kau terima setelah ini," gumam Fadhilah didalam hatinya.


Nandini pun keluar dari toilet dengan memakai jubah mandinya. Ia pun menggerai rambutnya yang masih basah setelah ritual mandinya. Ia pun segera mengambil baju khusus sholat dan juga Mukena yang memang tersedia khusus di Musholla kamar tersebut. Nandini pun segera melaksanakan ibadah sholat subuh. Setelah pun ia selesai mandi wajib.


Sementara Fadhillah pura-pura tidur sembari memperhatikan gelagat Nandini.


"OMG ... berarti benar Nandini dan Arjuna begituan, sampai Nandini pun melakukan ritual mandi. Apa aku harus mengintrogasinya lagi apa aku harus membiarkan kemungkaran ini terjadi? Aku benar-benar serba salah, Nandini oh Nandini kenapa kau jadi begini?" Fadhillah terus bermonolog dari balik selimutnya.


Sementara Nandini telah selesai melaksanakan ibadah sholat subuhnya sembari menadahkan tangannya, memohon ampun pada Rabb-Nya atas segala kelalaian dan dosa-dosanya.


"Ya Allahu Ya Ghofur ... ampuni hamba ya Rabb sebab telah melakukan kesalahan dan dosa bersama dirinya. Ampuni hamba yang dhoif ini wahai Zat yang Maha menggenggam segala kehidupan, maafkan hamba wahai Zat yang Maha Pemberi segala maaf, hamba benar-benar telah jatuh kedalam lembah dosa yang teramat dalam. Hamba sekarang benar-benar kotor dan tidak suci lagi, jika tidak engkau ampuni segala dosa-dosa hamba sesungguhnya hamba termasuk kedalam orang yang merugi. Lalu kepada siapa hamba hendak mengadu sedangkan hanya Engkau tempat ku berharap?"

__ADS_1


Nandini pun menutup do'anya dengan deraian airmata yang dengan begitu derasnya mengenangi pelupuk matanya dan membanjiri pipi mulusnya.


"Hiks ... hiks ... hiks ... " Nandini menangis di hamparan sajadahnya. Ia sedih dan bingung hendak berbuat apa. Ia benar-benar menyesal dengan apa yang diperbuatnya bersama Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya.


"Jika saja semalam aku bisa menolak dan tidak terbuai oleh bisikan nafsu sesaat, tentunya tidak akan begini jadinya." Nandini terus meratapi kedukaannya sembari mengusap perutnya yang masih rata.


Nandini khawatir jika nantinya ia benar-benar mengandung lantaran hasr*t satu malamnya bersama Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya.


Walaupun Arjuna menjanjikan akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Tetap saja Nandini khawatir menerima kenyataan yang ada.


Ia benar-benar khawatir jika orang tua dan keluarganya mengetahui aibnya. Apalagi sampai terdengar oleh segenap penjuru tempat tinggalnya. Sebab, sudah bukan rahasia umum lagi jika tinggal di Desa atau di Kampung satu aib dan kesalahan yang kita lakukan maka sudah dapat dipastikan seribu telinga akan mendengar dan menggunjingkan satu aib yang telah kita lakukan.


Nandini terus menangis. Ia tidak menyadari jika masih ada Fadhillah yang masih bergelut di bawah selimut yang dari sejak tadi pura-pura tidur.


Mendengar Nandini menangis, Fadhillah segera turun dari tempat tidur dan ia pun segera menghampiri dan merangkul Nandini Sukma Dewi.


"Din, kenapa menangis? ceritakan pada kami apa masalahmu, jangan menangis seperti ini!" Fadhillah semakin mempererat pelukannya. Ia berusaha untuk menguatkan Nandini sahabatnya.


"Ti-tidak, tidak ada apa-apa, Dhill. Aku ingin kita pulang secepatnya, aku rindu Ayah, Ibu dan kakak ku." Nandini terus berkilah dan segera melerai pelukannya dari Fadhillah. Ia pun segera merapikan mukena dan sajadahnya pada nakasnya.


"Din ... kamu jangan bohong, aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalian dan Arjuna sudah melakukan itu semalam, aku tidak sengaja mengangkat telfon dan membaca mesege yang kalian berdua kirimkan."


" Tadi, aku mengangkat telfon Arjuna. Aku tidak tahu bahwa ia yang menelfon mu berkali-kali, hingga aku angkat. Namun, aku matikan telfonnya ketika ia berbicara hal-hal yang terlalu vulgar," ucap Fadhillah jujur.


Fadhillah ingin memarahi Nandini, namun ia tidak sampai hati sebab melihat Nandini seperti ketakutan dan terpuruk. Hingga ia urungkan untuk memarahi sahabatnya yang konyol itu.


"Ja-jadi ... Kau sudah tahu kebenarannya?" Nandini gelagapan, ia ingin menangis sejadi-jadinya. Namun, mulutnya terasa terkunci, lehernya terasa tercekat. Ia benar-benar malu terhadap Fadhillah lantaran perbuatannya yang kebablasan bersama Arjuna.

__ADS_1


Fadhillah mengangguk pelan, seraya berusaha meredam emosinya. Ia pun berpikir, sejatinya di dunia ini tidak ada insan yang suci dan bersih dari noda-noda dosa tak terkecuali dirinya.


"Jika aku berada dalam posisi Nandini mungkin aku pun akan ikut terlena seperti Nandini. Mungkin aku pun akan terpedaya oleh godaan syaitan."


"Ya Allah ... jauhkan hamba dari hal-hal yang sedemikian. Jangan sampai aku dan kak Virgan seperti itu," cicit Fadhillah didalam hati.


"Dhill, ku mohon rahasiakan semua ini dari siapapun termasuk teman-teman kita juga," ucap Nandini memelas.


"Baiklah, aku akan merahasiakan ini semua. Aku harap jangan pernah kau ulangi lagi yang seperti ini. Sebab resikonya besar, Din." Fadhillah kembali merangkul sahabatnya. Mereka pun kembali saling menguatkan.


***


"Ya ampun, Nandini kemana dirimu? semenjak tadi tak muncul juga batang hidungnya, di telfon tidak bicara, di sms nggak di balas." Arjuna menggerutu di Meja makan, alhasil mie yang sudah ia masak special untuk Nandini pun akhirnya keburu dingin dan melar, akibat terlalu lama menunggu kehadiran Nandini di sisinya.


Arjuna pun mengaduk-adukan mie tersebut, ia tidak punya selera lagi untuk makan sebelum Nandini menghampirinya.


"OMG, my sepupu kenapa pula kau aduk-adukkan mie itu? pasti lagi menunggu seseorang?" kelakar Virgantara sembari menyeruput teh hangat yang baru ia buatkan berapa menit yang lalu.


Tidak lama kemudian Nandini dan Fadhillah telah pun keluar dari kamar mewah itu. Mereka segera berjalan menuju dapur menemui Arjuna dan Virgantara yang nampak akrab satu sama lain.


"Pagi My Baby, apakah semalam kau bisa tidur nyenyak?" tanya Virgantara.


"Nyenyak banget malah," ucap Fadhillah.


Sementara Nandini dan Arjuna hanya lirik pandang. Arjuna ngambek lantaran Nandini baru menampakkan batang hidungnya dari sejak tadi.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Pencerahan 👉 “Berikanlah nasihat hanya pada yang membutuhkannya dan memberi nasihat tanpa menggurui, mempermalukan yang dinasihati, serta tanpa merasa lebih mulia dari yang dinasihati adalah ciri kematangan seseorang. Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berikan argumen dengan cara yang lebih baik," (QS. An-Nahl: 125).


__ADS_2