
Mobil milik Zainal berhenti sejenak di Rumah Sakit Medika, Barra mengambil alih motor matic Nandini yang sempat di tinggal di parkiran rumah sakit, lantaran Nandini di boyong oleh Zainal menuju Cafe XX miliknya beberapa waktu yang lalu.
"Tuan Zain, aku turun dulu! kunci motornya mana? biar aku bawakan motor milik Nandini," ucap Barra dengan siaga hendak turun dari mobil Barra.
"Sebentar, aku bangunkan Puteri tidur ku dulu!" ucap Zain dengan membangunkan Nandini secara perlahan.
"Baby, bangun!" ucap Zain dengan mengusap pipi mulus Nandini dengan hati-hati.
Zain tidak ingin teman-teman Nandini lainnya ikut terbangun mendengar suaranya.
Menyadari, ada yang mengusap surai wajahnya Nandini pun mengerjapkan matanya. Nandini pun menyentuh kedua telapak tangan Zainal.
"Zain, kau!"
Seketika keduanya pun saling beradu pandang.
"Zain, kenapa di saat aku dan Arjuna hendak menikah kau perlahan hadir dalam kehidupan ku? kenapa tidak sejak dulu kala kita seperti ini?" bisikan hati Nandini dengan tetesan air mata yang mulai menganak sungai di pelupuk matanya.
"Hey! kenapa menangis? aku hanya ingin mengambil kunci motor milik mu! kita sudah sampai di Rumah Sakit Medika. Motor mu akan di bawa dan di antarkan oleh Barra sampai di kediaman mu!" ucap Zain dengan mengusap air mata Nandini.
"Zainnn!" Nandini tiba-tiba menghamburkan diri kedalam pelukan Zain. Ia mendekap Zain dengan erat.
Zain pun membalas pelukan Nandini. Ia mengusap lembut surai rambut Nandini.
"Jangan menangis lagi! kau jelek jika menangis." Zain menoel hidung Nandini.
Sehingga, keduanya pun saling bercanda ria. Gelak canda keduanya pun, tak ayal membangunkan ketiga temannya yang sedang terlelap.
"OMG! yang bucin parah," ucap Fadhillah di ikuti Cinta dan Kirana. Mereka mengucek mata masing-masing ketika melihat kebersamaan Nandini dan Zainal.
Nandini dan Zainal terlihat kompak dan saling terkekeh melihat wajah kelimpungan teman-temannya yang terbangun oleh gelak tawa mereka.
Di tengah kebahagiaan yang terpancar di wajah Nandini, ketika merajut kebersamaan dengan Zainal. Mereka tidak menyadari akan kemarahan seorang pemuda yang tidak sengaja melihat Barra turun dari mobil untuk mengambil alih motor matic Nandini di parkiran motor Rumah Sakit Medika.
"Shitttttttt ... " bunyi gesekan mobil pemuda tersebut ketika menginjak rem secara mendadak.
"Kurang ajar! itu seperti mobil yang tadi membawa Nandini Sukma Dewi," ucap pemuda tersebut dengan emosi yang bergemuruh di dalam dadanya. Ia pun membanting pintu mobilnya dan menghampiri mobil di mana Zainal, Nandini dan teman-temannya berada.
"Duarrr ... duarrr ... duarrr!" bunyi pintu mobil milik Zainal di gedor oleh pemuda tersebut.
"Keluar kau Si Kutu Buku! Aku tahu Nandini ada di dalam, kau jangan bermain-main dengan ku!" ancam Arjuna dengan emosi yang meledak-ledak.
"Astaghfirullah! Arjuna Restu Pamungkas?" pekik semua yang berada di dalam mobil.
Zainal membuka pintu mobilnya, ia turun dengan gaya cool-nya.
"Aku di sini Arjuna Restu Pamungkas!" ucap Zainal dengan menyugar rambutnya, hingga tampaklah rona wajahnya yang sangat tampan dan mempesona.
Kedua pemuda yang berbeda generasi tersebut pun saling menatap nyalang seperti hendak memperebutkan medali emas.
Zainal yang baru beranjak 17 tahun dengan lawan mainnya Arjuna Restu Pamungkas yang sudah berumur 19 tahun. Keduanya pun saling menampakkan emosi yang sama-sama membuncah jelas terlihat dari guratan wajahnya.
Amarah Arjuna lebih terlihat, nampak terlihat dari rahangnya yang mulai mengeras.
"Berani-beraninya kau membawa wanita ku, tanpa seizin ku!" ucap Arjuna dengan menarik kerah baju Zainal. Ia pun hendak memberikan bogem mentah di wajah Zainal Abidin.
__ADS_1
Namun, Zainal dengan gesit menangkisnya dan berbalik menyerang Arjuna dengan satu kali pukulan di perut Arjuna. Hingga Arjuna mengerang kesakitan.
"Aku tak kan membiarkan tangan kotor mu menyentuh tubuh ku. Kau telah menghancurkan masa depan Nandini Sukma Dewi!" ucap Zainal dengan serangan yang membabi buta.
"Bugh!"
"Bugh!"
"Bugh!"
Zainal kembali memberikan pukulan pada Arjuna dengan menggunakan tenaga dalamnya.
"Hubbyyyy ... Zainallll ... hentikannn!" pekik Nandini Sukma Dewi.
Zainal menoleh ke arah Nandini. Sehingga ia pun hilang konsentrasi, ia lebih fokus menatap wajah wanita yang di cintainya itu.
"Hiakkk!" Arjuna menendang punggung Zainal dengan gerakan cepat. Sehingga Zain pun hilang keseimbangan dan jatuh tersungkur.
Arjuna membabi buta menyerang Zain yang sedang lengah, ia menghimpit tubuh Zain dan melayangkan tinjunya tepat pada wajah Zainal.
"Bugh!"
"Bugh!"
"Bugh!"
Arjuna melayangkan tinjunya pada wajah Zainal.
"Zainnn!" pekik Nandini dengan melerai keduanya, namun Arjuna semakin beringas melayangkan tinjunya pada wajah Zainal untuk yang kesekian kalinya.
Pergerakan Nandini pun di tepis oleh Arjuna. Sehingga Nandini pun terdorong oleh tepisan Arjuna yang tanpa di sengaja.
"Brukkk!" Nandini terpental oleh dorongan Arjuna yang tanpa sengaja.
"Nandini!" pekik teman-temannya.
Cinta, Kirana dan Fadhillah pun segera turun dari mobil ketika melihat suasana yang semakin memanas. Mereka segera berlari menghampiri Nandini Sukma Dewi.
Ketika melihat Nandini terjungkal, Zainal yang sedang terkapar pun mengerahkan tenaganya yang sejak tadi di hajar oleh Arjuna. Dengan kekuatan tenaga dalamnya, Zain terpaksa menggunakan jurus tapak sucinya dengan cukup satu kali tendangan tepat mengenai perut lawannya, mampu membuat Arjuna memuntahkan segala isi perutnya.
Seketika pengguna jalan raya berhenti, juga orang-orang yang berlalu-lalang masuk rumah sakit menjadi penonton dadakan. Mereka nampak menyaksikan adu otot antara Zain dan Arjuna.
"Nandini, kau tidak apa-apa?" tanya Zain panik ketika melihat Nandini terjatuh oleh dorongan Arjuna.
"Aku tidak apa-apa," ucap Nandini dengan mengusap wajah Zainal dengan kerudung miliknya.
"Wajah mu memar, hidung dan mulut mu pun berdarah." Nandini meneteskan air matanya, ia terus mengusap darah segar yang mengalir di wajah Zainal dengan kerudung miliknya.
"Maafkan aku Zain, semua ini salah ku. Hingga kau yang kena imbasnya," ucap Nandini dengan terus meneteskan air matanya.
"Kamu tidak salah, Din. Semua ini sudah menjadi takdir dari Allah Subhana wata'ala!" ucap Zainal dengan mengelus pucuk kepala Nandini.
Zain tetap menampakkan senyuman manisnya, walaupun wajahnya babak belur.
"OMG! romantisnya?" ucap orang-orang yang menyaksikan kemesraan Nandini dan Zainal.
__ADS_1
Arjuna yang terkapar sambil memegang perutnya yang sakit oleh tendangan Zainal, di buat berang melihat keromantisan kekasihnya dengan Zainal.
"Awas kau Si Kutu Buku! tunggu pembalasan ku!" bathin Arjuna dengan meringis menahan sakit oleh tendangan Zainal yang cukup kuat mengenai perutnya.
"OMG! Arjuna, mengapa kau jadi beringas seperti ini?" ucap Virgantara yang segera putar balik arah, setelah dari kejauhan Rangga menepuk pundaknya dari arah belakang. Ia memberitahukan jika terjadi baku hantam antara Zaninal dan Arjuna Restu Pamungkas.
Barra yang baru keluar dari parkiran motor rumah sakit, seketika melepaskan motor yang di tungganginya. Ia pun berlari ke arah Tuannya.
"Tuan muda Zain! kau tidak apa-apa? mari kita langsung menuju ruang IGD! kenapa kalian jadi begini?" ucap Barra penuh kepanikan.
Barra pun hendak memapah Zainal menunju ruang IGD, guna membersihkan luka dan memar di wajahnya.
Begitu pun dengan Arjuna, ia dipapah oleh Virgantara dan Rangga Sahadewa.
Nandini sendiri lupa menyapa Arjuna, ia baru menyadari jika ia terlalu fokus dengan Zain dan melupakan sosok Arjuna yang masih berstatus kekasihnya yang juga akan menjadi calon Ayah untuk baby yang di kandungnya.
"Hubby! kau tidak apa-apa?" tanya Nandini dengan menyentuh wajah Arjuna.
Namun, Arjuna menepisnya.
"Jangan sentuh aku! urus kekasih gelap mu itu!" ucap Arjuna dengan setengah emosi dan cemburu buta terhadap Nandini yang sebelumnya terlalu fokus memperhatikan Zainal ketimbang memperhatikannya yang masih berstatus kekasihnya.
"Hubby, maafkan aku!" ucap Nandini dengan setengah memelas dan berurai air mata.
Namun, hati Arjuna cukup keras. Ia benar-benar cemburu dengan kedekatan Nandini dan Zainal.
Selain itu, Arjuna pun dibayangi oleh rasa bersalah pada Nandini dan calon bayinya. Sebab, ia telah berselingkuh dengan Adelia Kencana Puteri. Seseorang yang pernah menjadi masa lalunya.
***
"Kak Zaid, stoppp! itu seperti teman-teman ku, kenapa mereka berkerumun di sekitar jalan raya rumah sakit itu? seperti terjadi sesuatu dengan mereka," ucap Zahrana yang baru pulang bekerja dari Aisyah Boutique Colection, di antar oleh Muhammad Zaid Arkana.
"Shitttt!" mobil Avanza Putih yang dikendarai oleh Muhammad Zaid Arkana pun tiba-tiba rem mendadak.
"Kak, kau tunggu di sini! biar Zahra menghampiri mereka," ucap Zahrana dengan setengah berlari keluar dari mobil MZ Arkana.
"Hati-hati, Zahra!" ucap Muhammad Zaid Arkana.
"Nandini, Cinta, Kirana, Fadhillah!" pekik Zahrana memanggil ke empat orang teman-temannya.
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉 "Saat kamu memulai perjalanan balas dendam, mulailah dengan menggali dua kuburan. Satu untuk musuhmu, dan satu untuk dirimu sendiri. Balas dendam adalah kobaran api yang membakar para pelaku pembakaran. Balas dendam hanya dapat ditemukan di jalan menuju kehancuran diri. Pembalasan adalah monster nafsu makan, haus darah selamanya dan tidak pernah kenyang."
🌻
🌻
🌻
Sambil menunggu update selanjutnya, mari mampir ke karya author bestie. Yang tentunya, ceritanya tidak kalah seru dan menariknya.
Judul karyanya : Marriage With ( Out ) Love
Authornya : MinNami
__ADS_1