Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
67 . Hampir Ketahuan


__ADS_3

Aslan segera menghampiri Zahrana dan teman-temannya yang sedang asyik berkelakar satu sama lain. Mereka tampak asyik membicarakan perihal nilai raport masing-masing.


"Ana ... " sapa Aslan Abdurrahman Syatir.


"Kakak ... " Zahrana nampak gelagapan sebab Aslan tiba-tiba menghampirinya.


Aslan ingin sekali memberikan pelukan hangat pada Bidadari kecilnya. Ia ikut bahagia atas prestasi yang diraih oleh gadis kecilnya. Namun, di tempat umum ia berusaha menetralkan rasa hatinya.


"Selamat ya Princess atas prestasinya! kakak bangga padamu," ucap Aslan penuh arti.


"Iya, kak. Terimakasih!" ucap Zahrana berusaha menguasai dirinya, agar jangan sampai bertindak melebihi batasannya. Sebab, di dekatnya ada Rivandra Dinata Admaja yang juga teman istimewanya.


Zahrana bingung harus berbuat apa, sementara teman-temannya pun memahami apa yang Zahrana pikirkan. Tidak mudah untuk menimalisir keadaan, di mana kedua belahan jiwanya Aslan dan Rivandra sekarang sama-sama berada di hadapannya.


Jantung Zahrana seakan mau copot melihat Aslan juga nampak asyik berkelakar dengan Rivandra dan juga Virgantara kakak dari Rivandra.


"Virga, selamat ya .... adikmu Rivandra juga juara kelas sama seperti Zahrana wanita-"


Ucapan Aslan terjeda, sebab ia Zahrana pun sedang backstreet. Tidak ada yang tahu jika Zahrana dan Aslan sepasang kekasih, kecuali Nandini dan teman-temannya.


"Wanita apa gerangan, Bro?" tanya Virgantara seraya mengernyitkan dahinya. Sebab yang Virgantara ketahui sekarang Aslan adalah Kakaknya Nandini Sukma Dewi.


"Kenapa Aslan lebih perhatian dengan Zahrana ketimbang Nandini adiknya? Perhatian Aslan pada Zahrana terlalu berlebihan," pikir Virgantara.


Sedangkan Rivandra yang masih polos, tidak berpikir terlalu jauh seperti yang di pikirkan Virgantara Kakaknya.


"Wanita yang paling cerdas, pintar dan mempesona mungkin, Kak." Rivandra ikut nimbrung dengan obrolan Kakaknya Virgantara dan Aslan Abdurrahman Syatir.


"Ya Allah ... hampir saja ketahuan," bisik hati Zahrana.


Ia benar-benar hampir down, jika semua pandangan tertuju kepadanya dan mengetahui ia mendua.


Apalagi Virgantara yang sudah dewasa, seusia kakaknya Aslan. Tentu saja mengerti bahasa tubuh antara Aslan, Zahrana dan Rivandra jika ada benang-benang cinta segitiga antara mereka bertiga.


"Hemmmm ... kenapa kau menatapku begitu Vir?" tanya Aslan kepanikan.


Aslan khawatir Virgantara yang sudah cukup umur, mengetahui perasaannya terhadap gadis kecil seperti Zahrana.


"Tidak apa-apa, As ... aku hanya sedikit tersanjung saja banyak sekali yang memuji prestasi Zahrana yang telah menduduki peringkat pertama di usianya yang masih sangat belia, ia mampu mengukir prestasi gemilang, berlomba-lomba dengan semua teman-temannya," ucap Virgantara menutupi rasa penasarannya terhadap hubungan antara Aslan dengan Zahrana juga Rivandra adiknya.


Aslan hanya tersenyum getir, ia khawatir ketahuan menjalani hubungan dengan gadis belia seperti Zahrana mengingat usianya yang masih terpaut jauh dengan Zahrana yang masih duduk di bangku kelas satu SMP, sedangkan ia telah mengenyam bangku kuliah.


"Apa kata dunia?" pikir Aslan . ia berusaha menutupi hubungannya dengan Zahrana agar tidak di ketahui publik. Untuk saat ini cukup teman-teman Zahrana yang mengetahui hubungan antara mereka berdua sampai waktunya tiba ia mengumumkan hubungannya kepada dunia jika Zahrana adalah wanita pilihan hatinya.

__ADS_1


Nandini dan teman-temannya pun ikut ketar-ketir, mereka khawatir hubungan antara Aslan, Zahrana juga Rivandra terungkap sebelum waktunya.


"Teman-teman ... Zahra permisi ke Toilet dulu!" ucap Zahrana. Ia ingin menenangkan pikirannya sebentar, toilet menjadi tempat persinggahannya.


"Apa perlu kakak temani?" ucap Aslan dan Rivandra bersamaan.


"Haaaaa ... " pekik teman-teman Zahrana. Mereka histeris sebab dari sejak tadi perhatian Aslan dan Rivandra terlalu berlebihan.


Virgantara semakin curiga dengan sikap Aslan dan Rivandra adiknya.


"Ada yang tidak beres dari mereka," pikir Virgantara.


Teman-teman Zahrana semakin khawatir dibuatnya.


"Tamatlah riwayat mu Princess! kedok mu akan segera terbuka," pikir teman-teman Zahrana.


Zahrana pun terdiam membisu, ia tidak peduli dengan perhatian semua orang terhadapnya. Ia ingin segera berlari sejauh-jauhnya dari hadapan Aslan juga Rivandra yang kini sama-sama berstatus kekasihnya.


"Aku ikut, Ra!" timpal Nandini.


"Aku juga!" ucap teman-teman Zahrana yang lainnya.


"Yang laki-laki tinggal di sini dulu! jangan ikut-ikutan, wong Toilet wanita juga," cerocos Nandini.


Jadilah, Aslan, Rivandra dan kakaknya Virgantara juga Arjuna Restu Pamungkas saling berpandangan satu sama lain.


Aslan dan Rivandra saling melemparkan pandangan.


"Ini tidak boleh terjadi, Zahrana adalah milik ku, kekasihku dan belahan jiwaku!" cicit Aslan berapi-api dalam hatinya.


"Ah ... tidak mungkin Bidadari kecil ku menyukai sosok kak Aslan Abdurrahman Syatir, usianya pun sepantaran kak Virgantara. Layaknya di panggil seorang adik dan kakak," monolog Rivandra.


Walaupun sebenarnya mereka berdua, yakni Aslan dan Rivandra sama-sama terbakar api cemburu jika benar pujaan hatinya menjadi lirikan dan rebutan para kaum Adam.


"Hey ... adik ku dan sohib ku, kenapa kalian saling diam dan melemparkan pandangan. Jangan bilang jika kalian sama-sama menyukai Zahrana?" ujar Virgantara cengengesan. Ia sengaja memancing ekspresi Aslan dan Rivandra adiknya.


"Jika pun benar, bertambah lah saingan ku!" bathin Virgantara.


Ternyata Virgantara pun terpesona dengan kecantikan Zahrana. Bertambah pula sosok pemuda yang berusaha merebut Zahrana. Sebenarnya banyak sekali kaum Adam yang berusaha merebut hati Zahrana meskipun diusianya yang masih sangat belia. Namun, author hanya membahas segelintir saja. Kisah Zahrana di bangku SMP akan segera berakhir dan akan segera masuk kisah Zahrana di masa SMK akhir, sehingga nantinya Zahrana akan melewati proses hijrahnya dengan ujian yang datang silih berganti menimpa kehidupannya.


***


Zahrana dan teman-temannya segera menuju Toilet wanita. Zahrana benar-benar kalang kabut. Ia tidak tahu harus berbuat apa, ia benar-benar bingung menimbang rasanya.

__ADS_1


"Princess ... " ucap teman-temannya bersamaan.


Nandini, Hafidzah, Fadhilah, Cinta dan Kirana segera merangkul Zahrana.


Mereka berenam berpelukan sangat erat.


"Bagaimana ini Ra? jika semuanya harus terbongkar hari ini, apa yang harus kita lakukan?" sergah Nandini.


"Iya Ra, coba dari awal kau tidak mendua tentu semuanya tidak akan serumit ini," ujar Kirana Larasati. Ia memang tidak rela jika Zahrana sahabatnya menyakiti Rivandra, sosok laki-laki yang sangat dikaguminya.


"Aku hanya bisa mensupport mu agar tetap sabar dan kuat menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi Ra," timpal Cinta Kiara Khoirani.


"Aku juga Ra, ketika kita berani berbuat maka kita pun harus berani bertanggung jawab," ujar Fadhilah, sebab ia pun belum begitu memahami akan itu cinta terhadap lawan jenisnya. Yang Fadhilah tahu, ia hari ini terpesona dengan sosok Virgantara Dinata Admaja. Kakak dari Rivandra Dinata Admaja,teman istimewa Zahrana.


"Aduh ... serumit ini kah cerita cinta anak manusia," monolog Fadhilah.


"Ra ... maaf. Aku Hafidzah sahabat mu, sungguh tidak berhak menghakimi kesalahan mu. Sebab,aku pun tak luput dari kekhilafan dan dosa-dosa. Qodarullah( ketetapan Allah ) ... sejatinya segala apa yang terjadi dalam kehidupan kita, sesungguhnya telah tercatat dalam kitab Lauhul Mahfudz nya Allah Subhanahuwata'ala. Dari sejak zaman Azali( Zaman sebelum kita dilahirkan ke dunia), yakni Alam Roh."


"Segala takdir hidup, cinta dan kematian, bahagia dan celakanya kita memang sudah Allah takdirkan dalam kehidupan kita. Termasuk pertemuan mu dengan kak Aslan juga kak Rivandra, memang telah terukir dan tergambar dalam proses kehidupan mu. Sehingga kau pun tidak dapat menghindarinya."


"Namun, sejatinya kita punya akal dan pikiran, hati dan nurani. Selagi nafas hidup masih berada di dalam kerongkongan, pintu taubat masih terbuka lebar untuk setiap Hamba-Nya yang ingin bertaubat kepada-Nya!"


"Wahai sahabatku Tsamirah Zahrana Az Zahra, kembali lah pada kehadirat Rabb-Mu, mohon ampun lah kepadanya. Aku tahu diri mu kini sedang terjebak dalam jerat cinta yang menyesatkan mu dalam sumur dosa yang lebih dalam lagi."


"Sesungguhnya,aku rindu dirimu yang dulu, Ra. Kau yang begitu polos anggun dan mempesona, sehingga tidak ada satu pun lalat yang berani mengerubungi mu, wahai sahabatku. Bidadari surga dunia dan akhirat," tutur Hafidzah seraya memeluk erat Zahrana.


Air mata Hafidzah pun jatuh berderai, ia benar-benar ingin Zahrana kembali kejalan yang benar dan melupakan cintanya terhadap Rivandra Dinata Admaja juga Aslan Abdurrahman Syatir kakak Nandini Sukma Dewi.


Zahrana pun menangis dalam gugu, airmatanya pun jatuh berderai mengenang percintaannya yang sangat menyesakkan dada.


"Ya Allah ... ampuni lah hamba-Mu yang dhoif ini, wahai Zat yang Maha Pengampun." Do'a Zahrana dalam hati.


Zahrana benar-benar merasa bersalah dan berdosa atas apa yang telah di perbuatnya.


Nasehat dari Hafidzah sahabatnya, benar-benar telah menyentuh hati dan jiwanya.


Nandini Sukma Dewi, Fadhilah, Cinta Kiara Khoirani, juga Kirana Larasati ikut menangis lantaran mendengar nasehat Hafidzah.


Mereka semua baru menyadari jika selama ini persahabatan mereka menjadi renggang lantaran Zahrana Sang Lentera dalam persahabatan mereka pun telah melakukan kesalahan terbesar menjalani hubungan dengan dua orang pemuda sekaligus.


Sedangkan Cinta Kiara Khoirani pun ikut-ikutan berpacaran. Juga Nandini Sukma Dewi, jangan di tanya lagi. Ia yang duluan memecah rekor dengan berpacaran bersama Arjuna Restu Pamungkas, yang sebelumnya terkenal dengan Sang Playboy Kelas Kakap.


Zahrana dan teman-temannya pun saling berpelukan erat menguatkan satu sama lainnya.

__ADS_1


Mereka menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala yang menyesakkan dadanya.


"Ra ... maafkan aku! karena aku sempat membenci mu dalam hatiku, sebab dirimu menyakiti orang yang ku kagumi, yakni kak Rivandra Dinata Admaja. Harusnya aku tahu diri, sebab yang kak Rivandra cintai adalah dirimu bukan diriku. Hari ini, detik ini pun aku akan move on dari kak Rivandra. Biarkan rasa ini ku kuburkan jauh-jauh dari dasar hatiku. Sebab aku lebih memilih persahabatan dari pada percintaan," bisik hati Kirana Larasati.


__ADS_2