
"Jika bertemu hanya untuk bertengkar, biarkan aku pergi dulu! Aku ada keperluan dengan Cinta, Kirana dan Mas Barra!" ucap Fadhillah dengan melangkahkan kakinya menuju mobil Barra.
"Kau tidak boleh pergi baby, kecuali bersama ku!" ucap Virgantara dengan menarik tangan Fadhillah dan memasukkan kembali pacar kecilnya itu kedalam dada bidangnya.
"Aku mencintaimu Fadhillah! kau tak akan terganti dengan apa pun!" ucap Virgantara dengan setengah berbisik di telinga Fadhillah. Membuat pikiran dan perasaan Fadhillah hanyut dalam buaian cinta Virgantara Dinata Admaja.
"Ya Allah ... " bathin Kirana dengan menutup wajahnya, ketika melihat adegan mesra antara Virgantara dan sahabatnya Fadhillah.
"OMG! entu pasangan benar-benar tidak mengenal tempat, apa mereka tidak risih menjadi pusat perhatian orang-orang di Taman Kota?" sungut Cinta dengan melangkahkan kakinya menuju keluar mobil, tinggal-lah Barra dan Kirana Larasati didalam mobil.
Cinta hendak melerai pelukan Virgantara dan Fadhillah yang tidak mengenal tempat. Namun, belum sempat ia melabrak Fadhillah dan Virgantara. Tiba-tiba ada tangan kekar yang menariknya dengan penuh kasih, hingga membuat jantung hati Cinta mendadak bertalu-talu ketika melihat sosok pemuda tampan yang kini ada di hadapannya.
"Kak Rangga, kakak disini juga?" tanya Cinta dengan menepuk pipi kanan dan kirinya. Iya tidak percaya jika Sang Kekasih tiba-tiba berada di hadapannya.
"Aku benar-benar tidak bermimpi," bathin Cinta penuh rasa haru dan bahagia.
"Cinta, apa kabar dirimu? maafkan kakak tidak mengabarimu jika aku dan kak Virgan menyusul kalian kemari, tadi kami hendak menyusul kalian ke Puncak Mall. Namun, kalian keburu pergi bersama Asisten pribadi Zainal kalau kakak nggak salah?" ucap Rangga dengan menatap lekat wajah Cinta.
"Alhamdulillah Cinta Baik, Kak."
Cinta pun menyambut uluran tangan Rangga dengan penuh rasa bahagia. Namun, mereka bisa menjaga marwahnya untuk tidak berpelukan seperti halnya Fadhillah dan Virgantara di tempat ramai, sebab Rangga dan Cinta lebih pemalu untuk menampakkan kemesraannya.
"Kak Rangga, maaf Cinta dan teman-teman hendak menemui Nandini di Cafe XX. Kakak mau ikut?" tanya Cinta dengan balik menatap wajah Rangga.
"Sebentar! kakak tanya kak Virgantara dulu, ya? sebab, tadi kakak pergi bersama kak Virgan," ucap Rangga dengan mengamit jemari tangan Cinta.
Cinta dan Rangga pun menghampiri Virgantara dan Fadhillah yang masih saling melepas kerinduan.
"Kak Virgan, Cinta dan teman-temannya hendak menemui Nandini di Cafe XX. Apa sebaiknya kita ikut?" tanya Rangga.
"Boleh, tapi Fadhillah ikut berboncengan dengan ku. Dan kau ikut satu mobil dengan Cinta dan teman-temannya!" ucap Virgantara dengan menggenggam jemari tangan Fadhillah.
"Dasar pasangan bucin!" cetus Cinta dan Rangga bersamaan.
Rangga dan Cinta pun beranjak menuju mobil Barra Adi Sanjaya. Sedangkan, Virgantara tersenyum penuh arti.
"Mari baby ikut dengan ku!" ucap Virgantara dengan menggenggam tangan Fadhillah menuju motor gedenya.
Fadhillah pun melingkarkan tangannya di pinggang Virgantara. Ia pun menyandarkan dagunya di pundak ke kasih dewasanya itu. Virgantara melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Mereka pun menikmati perjalanannya menuju Cafe XX untuk menemui Nandini Sukma Dewi.
***
__ADS_1
Di dalam mobil Barra Adi Sanjaya.
Kirana Larasati terdiam, ia terpaksa duduk di kursi depan bersebelahan dengan Barra yang begitu fokus menyetir mobilnya membelah jalan raya. Sebab, di kursi belakang nampak Cinta dan Rangga saling bercengkrama ria setelah satu bulan tidak bertemu.
"Kak Rangga, insya Allah ... Cinta akan melanjutkan kuliah di STAIN SAS BABEL yang tak jauh dari Kota P, dekat dengan Desa XX. Rencananya Cinta memilih jurusan Perbankan dan Ekonomi syari'ah deh, Kak!" ucap Cinta dengan wajah berbinar.
"Benarkah? berarti kita akan jarang ketemu dong, Cin?"
"Nggak apa-apa, Kak. Jika pun kita jodoh tak kan kemana," ucap Cinta dengan senyuman manisnya.
"Baiklah, jika itu pilihan mu kakak dukung keputusan mu! dengan menempuh pendidikan di STAIN, setidaknya kau bisa belajar menutup aurat mu!" ucap Rangga dengan melirik atasan kaos dan celana jeans ketat yang di kenakan oleh Cinta.
"Hemmmm ... Iya deh, Kak. Maaf Cinta belum menutup aurat seperti Zahrana, Nandini juga Fadhillah," ucap Cinta dengan bersandar di bahu Rangga. Dan untuk seperkian detik Cinta terlelap.
"OMG! berarti aku dari tadi hanya berbicara sendiri, ia malah terlelap. Rangga pun perlahan membaringkan Cinta dipangkuannya.
Sementara, Kirana dan Barra masih diam tak bergeming. Mereka seolah-olah tenggelam pada pikiran masing-masing.
"OMG! Tuan Barra dan Kirana seperti patung saja, kenapa pula mereka dari sejak tadi berdiam diri?" bathin Rangga dengan menyandarkan kepalanya di kursi mobil yang ia tempati bersama Cinta Kiara Khoirani.
Barra menoleh ke belakang mobil, ia melihat Cinta sedang terlelap di pangkuan Rangga dan Rangga sendiri sepertinya ikut terlelap membuat Barra memberanikan diri menyapa Kirana Larasati.
"Insya Allah, di STAIN juga bersama Cinta. Namun, aku memilih jurusan Tarbiyah. Aku ingin menjadi seorang guru," tegas Cinta.
"Wah, mulia sekali cita-cita mu. Aku do'akan semoga cita-cita mu tercapai!" ucap Barra dengan tersenyum ke arah Kirana.
"Aamiin ... terimakasih do'anya!" ucap Kirana dengan tetap melihat kedepan.Ia sama sekali tidak melirik ke arah Barra.
Rangga yang pura-pura tertidur di belakang pun membathin di dalam hatinya. "OMG! si Kirana ketus amat! kasian Barra, mau sampai kapan ia jual mahal dengan laki-laki? Tidak peka dengan perhatian Barra. Setia sekali menunggu kehadiran Rivandra, benar-benar patut di acungi jempol!" bathin Rangga Sahadewa.
Suasana pun kembali senyap, Barra melajukan Kijang besinya menuju Cafe XX dengan perasaan yang tak menentu, sebab Kirana Larasati tidak begitu meresponnya.
"Ya Allah ... mengsedihnya hati ku tak ubahnya Tuan Zain, bagai pungguk merindukan rembulan, mengharapkan cinta yang tak sampai!" bathin Barra dengan hati yang meringis.
***
Di Cafe XX.
Nandini dan Zainal masih saling melepaskan semua kerinduan dan rasa yang terpendam di hati. Mereka masih berpelukan erat.
"Zain, maafkan aku jika terlambat menyadari jika ternyata aku pun mencintaimu. Maafkan aku atas segala keangkuhan ku, maafkan aku yang telah melukai perasaan mu."
__ADS_1
"Hiks ... hiks ... hiks ... " Nandini menangis semakin menjadi-jadi, dalam pelukan Zainal.
Nandini menyesal telah memilih Arjuna Restu Pamungkas menjadi kekasihnya. Ia benar-benar menyesal telah melakukan hubungan terlarang dengan Arjuna, hingga menyebabkannya berbadan dua dan harus menikah di usia mudanya yang baru 17 tahun.
"Kau tidak salah, Din. Semuanya sudah kehendak Allah Subhana wata'ala. Benar, aku sangat mencintaimu. Namun, aku sadar jika dirimu akan segera menjadi miliknya seutuhnya. Semoga kau bahagia dengan pernikahan mu nanti, aku akan tetap menunggu mu entah sampai bila. Untuk saat ini, aku hanya bisa menahan rasa ku, melepas mu meski tak rela!" ucap Zainal dengan air mata yang berlinang.
"Zain!" ucap Nandini di sertai isak tangisnya.
Nandini melerai pelukannya dengan Zainal, ia pun tertunduk lesu dan menjatuhkan dirinya dikursi Cafe, ia tidak bisa berucap apa-apa lagi. Dadanya terasa sesak mengenang percintaan mereka yang terhalang jurang pemisah.
Seketika rasa di hati Nandini pun pudar untuk Arjuna. Ketika ia akan menikah dengan Arjuna. Benih yang tertanam di rahimnya menjadi penghalang untuknya mengakhiri hubungannya dengan Arjuna. Ia harus segera mengikrarkan janji sucinya bersama sosok Arjuna Restu Pamungkas dan menguburkan rasa cintanya terhadap Zainal Abidin, yang saat ini entah di mana awalnya rasa itu mulai bertumbuh, namun berat bagi Nandini melepaskan Zainal yang kini bersarang di hatinya.
"Zain, Aku mencintaimu! aku berusaha melepas mu meski tak rela, aku sadar siapa aku. Aku sudah kotor dan ternoda," ucap Nandini dengan suara bergetar, menahan segala kepedihan di hatinya.
Seketika suasana hening, keduanya pun saling diam. Semua yang terpendam di hati keduanya pun telah terungkap meski terlambat.
Zain dan Nandini tidak menyadari jika Barra dan teman-temannya Cinta, Kirana dan Fadhillah, juga Virgantara dan Rangga Sahadewa sudah sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi di antara mereka dua.
Teman-temannya ikut merasakan kepedihan dan kesedihan di antara keduanya.
"Nandini!" pekik Cinta, Kirana dan Fadhillah. Mereka pun segera menghampiri Nandini, membuat Nandini dan Zainal tersentak kaget dengan kedatangan mereka tanpa di undang.
"Cinta, Kirana, Fadhillah! Sejak kapan ka-kalian di sini?" tanya Nandini dengan suara tebata.
🌷🌷🌷
Pencerahan👉 "Orang menangis bukan karena mereka lemah. Itu karena mereka terlalu tangguh untuk waktu yang lama. Tuhan, kumohon berikan kesabaran untuk menghadapi sakit hati yang amat mendalam ini dan rasa sedih yang amat mendalam ini. Aku ingin kembali ke waktu ketika kamu pertama kali memperkenalkan diri. Di balik senyuman adalah kesedihan. Jika kau tidak bahagia denganku, maka setidaknya berbahagialah tanpa diriku."
🌺
🌺
🌺
Sambil menunggu up selanjutnya, mari mampir ke karya Author bestie. Ceritanya bagus dan tak kalah menariknya.
Judul karyanya :Back to MANTAN
Authornya : Bhebz
__ADS_1