
"Hubby, kita hendak kemana? bagaimana dengan motor matic ku? Fadhillah dengan siapa? tadi aku yang memboncengnya," pertanyaan beruntun yang Nandini lontarkan pada Arjuna.
"Kerumah kita!" ucap Arjuna sekenanya.
"Whattt? kerumah kita?" Nandini mengeryitkan dahinya, ketika mendengarkan penuturan Arjuna Restu Pamungkas.
Arjuna melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia masih terbawa emosi lantaran cemburu melihat interaksi Nandini kekasihnya bersama Zainal Abidin di Kafe XX.
"Ya ampun ... Hubby, tidak perlu kebut-kebutan seperti ini juga, apa kita mau ikutan balapan liar?" tanya Nandini penuh nada keseriusan. Namun, Arjuna masih saja diam dan bersikap dingin terhadapnya.
"Hubby, ada apa dengan mu? jika kau masih terus seperti ini, aku akan keluar dari mobil ini!" ujar Nandini seraya menarik gagang pintu mobil.
"Jangan gila kau, Din!"
"Bukan aku yang gila, tapi kamu yang gila Arjuna Restu Pamungkas. Sejak tadi aku berusaha untuk bersikap manis terhadap mu. Namun, dirimu terus mengacuhkan ku." Nandini memalingkan wajahnya dari Arjuna. Ia lebih memilih melihat keluar pintu mobil daripada bersitatap dengan kekasihnya itu.
Arjuna segera mengurangi kecepatan laju mobilnya. Ia segera memasuki perumahan elite dikawasan XX.
Arjuna segera memasuki pintu gerbang rumahnya dan memarkirkan mobilnya di garasi.
Sementara Nandini masih memanyunkan bibirnya. Sebab merasa jengkel dengan kelakuan Arjuna, barulah menyematkan cincin di jari manisnya dan bersikap romantis di hadapan para tamu yang hadir di acara party-nya di Kafe XX. Namun, sekarang tiba-tiba berubah dratis seperti ini.
"Nandini Sukma Dewi, turun ikut aku!" Arjuna membuka pintu mobil tersebut.
Namun, sekarang giliran Nandini yang merajuk tidak ingin keluar dari mobil tersebut.
"Aku tidak mau, aku ingin kembali ke Kafe. Kami harus segera pulang sebelum jam sepuluh. Antarkan aku kembali pada teman-teman ku!" titah Nandini dengan wajah datarnya.
"Mana Hubby-nya? lihatlah setelah dirimu bertemu Si Kutu Buku itu kau sudah berani mengubah panggilan mu terhadap ku. Aku ini kekasih mu, aku tidak rela melihat mu bersama dengan Si Zainal Abidin itu." Arjuna menjadi memanas melihat Nandini mengacuhkan dirinya.
"Bagaimana rasa di acuhkan? Aku Nandini Sukma Dewi tidak akan tunduk dan bertekuk lutut dengan laki-laki manapun yang mencoba untuk menginjak-injak harga diri ku, bahkan cincin yang melingkar di jari manis ku pun bisa ku kembalikan pada mu jika aku merasa tersakiti oleh dirimu. Bukankah kau yang duluan memanggil ku dengan sebutan nama? So, mana honey-nya?" Nandini balik bertanya.
Arjuna menjadi berang, mendengar kata-kata Nandini ingin mengembalikan Cincin yang baru ia sematkan dijari manis kekasihnya itu.
Entah mengapa Nandini menjadi gamang setelah bertemu Zainal Abidin di Kafe XX. Ia begitu merindukan saat-saat Zainal Abidin kerapkali menjadi teman debatnya waktu di SMP dahulu.
Nandini pun kembali mengingat saat-saat di dalam kelas, bagaimana ia dan Zainal saling melemparkan kertas buku, saat pelajaran Agama Islam berlangsung yang di bimbing oleh Bu Zulis yang merangkap sebagai wakil kelas mereka kala itu.
Nandini pun kembali teringat, bagaimana ketika ia sedang terlelap di atas pohon jambu monyet. Ia pun bermimpi dan terjatuh dari pohon jambu monyet tersebut, dan Zainal Abidin lah yang telah menolong dan mendekapnya kala itu.
"Zainal, kenapa aku kembali teringat tentang mu? bagaimana dengan Arjuna? kita pun hampir memasuki masa 6 tahun menjalani hubungan ini? bagaimana bisa aku memikirkan Zainal yang baru hari ini aku bersua dengannya setelah pun hampir 3 tahun tak bersua?" Nandini bertanya-tanya didalam hatinya.
Di tengah lamunan Nandini, ia tidak menyadari jika Arjuna telah kembali masuk kedalam mobil dan duduk manis di sampingnya dengan gaya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Dengan perasaan yang bergejolak, antara rasa cinta yang membara dan emosi yang tertanam di dalam hati yang sejak tadi berusaha untuk Arjuna tahan. Ia kecewa dengan ucapan Nandini Sukma Dewi yang dengan gamblangnya mengucapkan ingin mengembalikan Cincin pemberiannya.
"Ini gara-gara Si Kutu Buku itu, aku tidak rela wanita ku yang ku jaga selama hampir 6 tahun terakhir ini lepas dari genggaman ku!"
Arjuna pun berubah menjadi Singa lapar yang ingin menyerang mangsanya.
Dalam sadarnya, Arjuna pun perlahan menarik dagu Nandini Sukma Dewi. Dengan perasaan yang memburu dan rasa cinta yang menggebu-gebu, Arjuna melabuhkan ciuman pertamanya pada bibir manis kekasihnya itu. Perlahan ia menyesap bibir manis Nandini Sukma Dewi, yang menurutnya begitu nampak ranum dan menggoda.
__ADS_1
"Hubby ... " Nandini menahan desahannya. Ia nampak kaget dengan perlakuan Arjuna yang begitu tiba-tiba tanpa ia sadari.
Arjuna terus menyesap bibir Nandini dengan sentuhan-sentuhan manisnya, hingga membuat pikiran Nandini traveling entah kemana.
Lama kelamaan ciuman tersebut semakin memanas dan menuntut satu sama lain untuk menginginkan lebih dan lebih.
"Honey ... jadilah wanita ku!" Arjuna berbisik kecil di daun telinga Nandini, membuat tubuh Nandini semakin meremang.
Seumur hidupnya baru pertama kali ini Nandini merasakan keintiman yang luar biasa seperti ini.
Hampir 6 tahun sudah hubungannya terjalin dengan Arjuna Restu Pamungkas, baru sekali ini mereka berdua melakukan ciuman yang panas dan tanpa di sengaja seperti ini.
Arjuna mengatur nafas beratnya. Ia pun melepaskan belitan lidahnya dari bibir manis Nandini Sukma Dewi.
Dengan ala bridal style ia menggendong Nandini kekasihnya, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah elit miliknya.
Seketika mereka lupa dengan masalah dan pertengkaran yang barusan terjadi di antara keduanya.
Pertengkaran tersebut akhirnya berujung dengan adegan panas dan saling menuntut di antara keduanya.
Arjuna membawa Nandini masuk kedalam kamar mewah miliknya yang begitu tertata rapi dan sejuk di pandang mata. Membuat yang melihatnya betah untuk terus berada di dalamnya. Tak terkecuali Arjuna dan Nandini, suasana kamar yang begitu hening dan menyejukkan dengan aroma terapis, membuat kedua insan tersebut pun terhipnotis ketika berada di dalam nuansa kamar tersebut.
"Hubby ... " Nandini berucap dengan nafas berat dengan posisi kedua tangannya dikalungkan di leher Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya.
"Honey ... izinkan aku memiliki mu!" Arjuna mengucapkan kata-kata yang membuat Nandini terasa bernafas berat. Ia ingin menolak perlakuan Arjuna terhadapnya. Namun, tubuhnya seolah-olah merespon keintiman tersebut.
Arjuna perlahan menghempaskan tubuh Nandini di atas tempat tidur yang empuk milikinya, membuat tubuh Nandini terasa bergetar hebat. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diantara mereka berdua, yang selama ini pun mereka selalu menjaga kesucian diri masing-masing agar tidak terjerat bir*hi nafsu yang menggila.
Mohon maaf teman-teman Author gantungin aja deh part yang ini.😁😁
***
"Kirana Larasati! loe lihat Nandini nggak? sudah hampir jam setengah sepuluh malam lho, kita harus segera pulang. Nandini kemana sich?" Fadhillah mulai risau dengan keberadaan Nandini Sukma Dewi sahabatnya.
"Mana aku tahu Dhil, aku dari sejak tadi duduk manis di sini. Itu pun jadi umpan nyamuk di sini, untung aku di temani oleh asisten pribadi Kafe ini, Tuan Barra Adi Sanjaya." Kirana berkilah.
"Tuan Barra Adi Sanjaya?" manik mata Fadhillah tertuju pada sosok Barra yang di sebutkan oleh Kirana Larasati.
"OMG ... tampannya!" pekik Fadhillah dalam hati. Namun, pekikanya tersebut seolah terhubung pada hati dan pikiran Virgantara yang kini telah berstatus kekasihnya.
Iya, Fadhillah dan Virgantara memang sudah jadian. Jadi wajar jika Virgantara merasakan vibrasi yang kuat jika gadis cerewetnya itu memuji pria lain di hadapannya, meskipun hanya terucap didalam hati seolah-olah ia pun bisa menebaknya.
Virgantara menggenggam erat jemari tangan Fadhillah, mengisyaratkan agar Fadhillah bisa menjaga sikap jika disini pun masih ada dirinya yang masih terus setia berada di samping Fadhillah.
"Kak Virgan," ucap Fadhillah dengan senyuman manisnya.
Fadhillah balas menggenggam erat jemari tangan Virgantara. Sebab ia tahu arti lirikan kekasih dewasanya itu, yang nampak tidak suka jika ia terlalu berlebihan melirik laki-laki lain selain dirinya.
Sementara Kirana Larasati dan Barra Adi Sanjaya terkekeh geli dengan aksi kocak pasangan yang ada di hadapan mereka.
"Hemmm ... teman yang kalian cari tersebut apakah benar ia gadis berambut lurus sepinggang yang mengenakan gaun merah menyala?" tanya Barra.
__ADS_1
"Iya, benar sekali Tuan. Apakah kamu melihatnya?" tanya Fadhillah penuh semangat. Sebab, Fadhillah khawatir ia harus pulang dengan siapa, sementara ia perginya dengan Nandini, tentunya pulangnya pun dengan Nandini Sukma Dewi.
"Tadi aku lihat ia pergi dengan kekasihnya Tuan Arjuna Restu Pamungkas yang mengadakan Party di Kafe ini," ujar Barra.
"OMG ... mereka pergi kemana?" Kirana Larasati pun ikut cemas dengan keberadaan Nandini dan Arjuna.
"Jangan sampai mereka---?" pikiran Fadhillah sudah traveling kemana-mana.
"Jangan sampai apa, Dhil? please deh, jangan pikir yang enggak-enggak!" seloroh Kirana Larasati.
"Iya bawel, Arjuna itu sepupu ku meskipun ia dulu mantan playboy kelas kakap ia tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak diinginkan," ucap Virgantara tanpa filter.
Di tengah asyiknya perseteruan mereka, Rangga Sahadewa dan Cinta Kiara Khoirani pun, segera menghampiri Kirana Larasati dan teman-temannya.
"Kalian jangan khawatir, Nandini dan Arjuna sedang mengisi kebersamaan mereka dengan jalan berdua saja. Insya Allah sebentar lagi mereka akan kembali," ucap Rangga menenangkan mereka.
Arjuna telah menghubungi Rangga sebelumnya untuk menghandle party-nya malam ini. Sebelum ia dan Nandini kekasihnya keluar Kafe XX dan menuju rumahnya di kawasan elit.
***
"Kring ... "
"Kring ... "
"Kring ... "
Nandini mengangkat ponselnya dengan tubuhnya yang masih lemah bergelut dengan satu selimut yang ia kenakan bersama Arjuna Restu Pamungkas yang saat ini tiada hentinya mengusap surai rambut Nandini dan berkali-kali memberikan kecupan hangat di kening wanitanya itu.
📞 "Assalamu'alaikum ... dek. Kamu dimana? kenapa belum ada kabar? pulang jam berapa?" tanya Aslan bertubi-tubi dari balik telfonnya.
📞 "Wa'alaikumsalam ... Kak, Nandini masih ditempat teman kak. Jika sudah kemalaman, mungkin kami akan menginap di tempat Fadhillah kak. Tolong sampaikan pada Ayah dan Ibu, Kak!"
📞 "Iya, Dek. Jaga dirimu baik-baik!"
📞 " Iya, Kak." Nandini pun segera menutup telfonnya dengan nada lemas ia mematikan telfonnya.
Nandini nampak tertunduk lesu. Ia rasanya ingin menangis sejadi-jadinya dengan apa yang telah ia lakukan bersama Arjuna kekasihnya. Ia tidak menyangka seorang gadis metal yang terkenal dengan julukan pendekar saktinya dengan ilmu bela diri yang di milikinya dari sejak SMP hingga ia duduk di bangku SMK, kesuciannya pun harus terenggut oleh dorongan hawa nafsu sesaatnya.
"Hey, Honey. Kenapa menangis?" Arjuna mengusap air mata kekasihnya yang telah menggenangi kedua pipi mulusnya.
"Aku takut Hubby, bagaimana jika aku HAM*L?" Nandini memegang perutnya yang masih datar.
"Jangan takut Honey, aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan ku. Terimakasih untuk semuanya Honey! Mulai malam ini kau adalah milik ku seutuhnya." Arjuna pun kembali memberikan kecupan hangat di kening Nandini Sukma Dewi kekasihnya.
Nandini yang biasanya penuh semangat dengan gaya metalnya, kini ia pun merasakan jiwanya seolah rapuh.
"Ya Allah ... maafkan Nandini atas segala kekhilafan dan dosa yang telah hamba lakukan bersama kak Arjuna Restu Pamungkas. Sungguh aku tidak mengerti kenapa aku bisa melakukan semua ini!" cicit Nandini Sukma Dewi seraya meremas jemari tangannya sendiri.
🌷🌷🌷
Untaian Mutiara Hikmah 👉 "Yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menyesal karenanya. Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat, tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan kebahagiaan selamanya." ( Bisikan_H@ti )
__ADS_1