
"Hiks ... hiks ... hiks ... " Nandini Sukma Dewi menangis sesenggukan. Ia menyesal atas apa yang telah ia perbuat beberapa waktu yang lalu bersama Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya.
"Honey ... maafkan aku yang telah menyakiti mu, sungguh aku tidak bermaksud merusak masa depan mu. Aku mencintaimu Nandini Sukma Dewi, percayalah aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan ku." Arjuna mengecup kening Nandini kemudian mengelus rambut kekasihnya itu.
Nandini menyandarkan kepalanya dibahu Arjuna. Ia terus menumpahkan air matanya. Ia benar-benar menyesali apa yang telah terjadi di antara mereka berdua.
Namun, Nandini tidak bisa menyalahkan Arjuna. Sebab, mereka melakukan hubungan intim tersebut atas dasar suka sama suka tidak ada paksaan satu sama lain.
Arjuna menarik Nandini dalam dekapan dada bidangnya, membuat Nandini sedikit bernafas lega. Namun, ia tetap di bumbui rasa khawatir. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarganya, terutama Ibu Ratna Anjani, Ayah Anjasmara dan kakaknya Aslan Abdurrahman Syatir menanggapinya ketika mereka mengetahui gadis yang terkenal tomboy nan metal itu kesuciannya pun kini telah ternoda.
"Hubby, aku takut jika keluarga ku sampai mengetahui jika aku sudah tidak suci lagi, terutama Ibu ku yang selama ini selalu memanjakan dan menyayangi ku tiba-tiba memarahi dan memusuhi ku atas apa yang telah ku perbuat."
Nandini kembali menangisi kebodohannya.
"Honey, jangan begini! sungguh aku tidak tahan melihat mu menangis seperti ini." Arjuna kembali memberikan sentuhan pada bibir manis Nandini. Ia terus menyesap bibir manis itu dengan lembutnya, membuat tubuh Nandini seketika kembali meremang.
"Hubby ... hmptttt!" Deru nafas Nandini semakin memburu. Namun, perlahan Arjuna melepaskan tautan bibirnya, sebab ia tidak ingin kejadian berapa waktu yang lalu terulang kembali.
Arjuna hanya ingin memberikan ciuman untuk Nandini, sebelum ia mengantarkan kekasihnya itu kembali pada teman-temannya.
"Honey, kita pulang sekarang! teman-teman sudah menunggu kehadiran kita. Khawatir mereka bertanya-tanya tentang keberadaan kita."
"Cup ... " Arjuna kembali mengecup bibir manis Nandini yang entah kenapa hanya dalam waktu hitungan detik semakin menjadi candu untuknya.
Nandini tidak bisa berkilah. Baru sekali ini ia pasrah dengan perlakuan Arjuna terhadapnya.
Nandini hendak turun dari tempat tidur yang sejak tadi menjadi tempat pergulatan panas antara dirinya dan Arjuna kekasihnya.
"Aww ... Hubby perih!" pekik Nandini.
Arjuna setengah berlari menuju ke arah Nandini.
"Ada apa Honey?" Arjuna nampak khawatir melihat Nandini meringis kesakitan.
"Ini semua ulah mu Hubby! Kau yang telah membuat ku seperti ini." Nandini merasakan perih di area sensitifnya.
"Maaf, honey! Aku tidak tahu jika bisa seperih itu, sebab aku lihat kau pun nampak menikmatinya." Arjuna menggoda Nandini, sehingga membuat wajah Nandini bersemu merah menahan malu yang kini perlahan menyelinap ke relung hatinya.
Arjuna pun perlahan memapah Nandini.
"Bagaimana ini, By? Aku khawatir teman-teman curiga melihat gaya jalan ku nantinya," ucap Nandini dengan nada khawatirnya.
"Hemmm ... nanti kita cari obat antibiotik saja Honey, khusus pereda nyeri."
"Memangnya ada Hubby? kamu seperti sudah berpengalaman saja Hubby." Nandini berusaha untuk mengatur gaya jalannya, agar teman-temannya tidak curiga kepadanya pada saat bertemu nantinya.
__ADS_1
Arjuna tersenyum geli melihat tingkah laku Nandini yang begitu menggemaskan sekali menurutnya.
"Hubby, apa aku sudah terlihat lebih baik? Aku tidak seperti bebek berjalan kan?" tanya Nandini dengan gaya cute-nya.
"Kamu tetap terlihat sempurna, dalam keadaan apapun itu, Honey." Arjuna melingkarkan tangannya di pinggang Nandini Sukma Dewi.
"Hubby, kita pulang sekarang! Aku tidak ingin lagi berlama-lama di sini. Aku rasa aura negatif mulai menyelubungi pikiran mu." Nandini ingin melerai dekapan Arjuna terhadapnya.
"Biarkan seperti ini honey! Aku akan terus merindukan mu setelah ini, aku akan mempersunting mu di hadapan kedua orang tua mu Honey.
Arjuna semakin mempererat pelukannya terhadap Nandini Sukma Dewi kekasihnya.
Nandini akhirnya membiarkan perlakuan Arjuna terhadapnya.
***
"OMG ... kemana sich Arjuna dan Nandini Sukma Dewi? itu anak benar-benar merepotkan sekali," sungut Fadhillah seolah-olah mencari Ayam-ayamnya yang hilang sekandang.
"Iya Dhil, sudah di telfon berkali-kali tidak di jawab panggilannya." Kirana Larasati ikut menimpali.
"Iya, kak. Tadi kakak bilang Nandini dan Arjuna akan segera kembali, namun sudah hampir pukul 22.30 wib. Batang hidung keduanya pun belum terlihat." Cinta Kiara Khoirani pun ikut menimpali, sebab pandangannya sudah mengantuk berat. Ia pun menyandarkan kepalanya di bahu Rangga kekasihnya.
"Sabar Dek, mungkin sebentar lagi mereka akan kembali. Kau bersandarnya di bahuku, jika mereka sudah kembali aku akan memberitahumu." Rangga Sahadewa nampak begitu memperhatikan Cinta Kiara Khoirani kekasihnya. Dan benar saja Cinta pun terlelap.
Rangga pun perlahan merebahkan pucuk kepala Cinta bertumpu pada pangkuannya. Ia pun mengelus lembut surai rambut Cinta.
"Kak Virgan, Dhillah ngantuk nich! boleh aku pinjam pangkuannya aku ingin seperti Cinta, mereka terlihat romantis sekali!" sungut Fadhillah.
"Ya ampun ... dari tadi kau cerewet sekali baby. Kemarilah bertumpulah pada ku, dan kupastikan dirimu akan menjadi Puteri tidur ku!" ucap Virgantara tak kalah kocaknya. Alhasil Fadhillah pun terlelap. Ia menjadikan pangkuan Virgantara sebagai alas tidurnya.
Sedangkan Kirana Larasati hanya menahan rasa kantuknya, menunggu kehadiran Nandini Sukma Dewi dan Arjuna Restu Pamungkas yang tak kunjung menampakkan wajahnya.
Asisten pribadi keluarga Zainal Abidin yang bertugas mengawasi Kafe XX pun dari sejak tadi melihat gelagat Kirana Larasati. Ia pun kembali menghampiri Kirana Larasati yang nampak mengantuk dan kesepian. Sebab, semua teman-temannya memiliki tambatan hati, hanya Kirana Larasati yang masih betah menjomblo sampai detik ini.
Kirana hendak menyandarkan kepalanya di meja Kafe, ia benar-benar mengantuk berat hari sudah menunjukkan pukul 23.00 wib, Arjuna dan Nandini masih belum menampakkan dirinya. Suasana Kafe sudah mulai sepi, para tamu yang hadir di acara party Arjuna Restu Pamungkas sudah pulang semua.
Tinggallah Kirana Larasati dan teman-temannya yang masih bertahan di Kafe, mereka masih menunggu Nandini Sukma Dewi. Jika mereka pergi bersama-sama. Maka pulangnya pun harus bersama-sama.
"Selamat malam Nona Kirana Larasati, sepertinya anda mengantuk berat. Aku bawakan capuccino untuk mu. Silahkan di minum!" ucap Barra Adi Sanjaya.
Kirana Larasati mendongkakkan kepalanya.
"Malam, Tuan Barra Adi Sanjaya." Kirana menampakkan senyum manisnya.
"Terimakasih Capuccino-nya Tuan." Kirana pun segera menyeruput Capuccino tersebut untuk menghilangkan rasa kantuknya. Tak lupa ia komat-kamit membaca basmalah dan mengakhiri dengan hamdalah ketika minuman tersebut tandas tak tersisa olehnya.
__ADS_1
Segala gerak-gerik Kirana Larasati tak luput dari pandangan Barra Adi Sanjaya. Ia tampak gemas melihat tingkah laku Kirana yang terlihat sangat manis menurutnya.
"Apa yang Nona Kirana rasakan saat ini? apakah lebih baik dan tidak mengantuk lagi seperti tadi?" tanya Barra dengan gaya cool-nya.
"Alhamdulillah ... sudah lebih baik Tuan." Kirana menundukkan pandangannya. Ia tidak ingin sampai terhipnotis oleh pesona Barra.
Kirana Larasati tetap menyakinkan hatinya, bahwa hanya ada Rivandra Dinata Admaja yang bertahta di hatinya, tiada yang lain hanya Rivandra seorang. Ia rela menunggu Rivandra Dinata Admaja selesai dari study-nya, walaupun seribu tahun harus menanti.
"Hemmm ... akan lebih baik panggil aku Barra atau Mas Barra, biar lebih akrab. Sebab, panggilan Tuan terlalu resmi. Seolah-olah kita sedang berada di ruang lingkup kantor," pungkas Barra.
"Baiklah Barra, eh ... ma-af. Maksudnya Mas Barra," ucap Kira gelagapan.
Barra tersenyum dan semakin gemas dengan tingkah Kirana Larasati yang semakin membuat detak jantungnya bertalu-talu dari sejak mula melihat pesona Kirana Larasati dengan hijab ala Zaskia Adya Mecca yang di kenakannya, nampaklah Kirana terlihat modis sekali.
Menyadari jika Barra menatapnya intens, Kirana mengalihkan perhatiannya pada ponsel Sony Ericsson W300i miliknya. Yang mana ponsel Sony Ericsson W300i merupakan ponsel dengan konsep lipat yang sudah dilengkapi dengan fitur musik dan juga sudah dibekali Walkman untuk memenuhi kebutuhan para pecinta musik di era 2000 an kala itu.
Selain itu Ponsel Sony Ericsson W300i menjadi salah satu ponsel yang populer dikalangan pelajar kala itu, dan ponsel tersebut menjadi pilihan terbaik untuk Kirana Larasati. Ia pun memutar musik MP3 dan menyematkan handset ditelinganya yang tertutup hijab dengan gaya melankolisnya, ia nampak menikmati setiap sya'ir lagu yang ia dengarkan.
Sikap Kirana Larasati yang tampak terkesan santai dan tenang itu justru membuat Barra semakin terpikat padanya. Ia tidak menyadari jika diam-diam Barra menghidupkan kamera Handphonenya dan dengan hitungan detik foto Kirana Larasati telah tersimpan di ponsel Barra Adi Sanjaya. Dan dengan perasaan yang berbunga-bunga foto Kirana Larasati ia jadikan wallpaper layar handphonenya
"Mas Barra kenapa senyum-senyum sendiri, apa ada yang lucu dari ku?" tanya Kirana seraya melepaskan handset-nya, kemudian ia mematikan music MP3 yang ia putar dari ponsel miliknya.
"Hemmm ... boleh aku minta nomor handphonenya? mana tahu ada keperluan nantinya, sekalian menambah daftar pertemanan." Barra dengan gaya elegannya meminta nomor Handphone Kirana Larasati.
"Oh, iya. Boleh Mas! 0852xxxxxxxx." Kirana menyebut nomor ponselnya.
"Terimakasih, Nona Kirana."
"Sama-sama Mas Barra," ucap Kirana Larasati.
Selang berapa menit kemudian mobil mewah bernuansa Silver milik Arjuna Restu Pamungkas melesat dengan kecepatan tinggi memasuki gerbang Kafe XX.
Akhirnya Nandini Sukma Dewi dan Arjuna Restu Pamungkas pun menampakan batang hidungnya di hadapan teman-temannya.
Melihat kehadiran Nandini Sukma Dewi, Kirana Larasati langsung menghamburkan diri kedalam pelukan Nandini Sukma Dewi.
"Kau darimana saja, Din? kami sangat mengkhawatirkan mu." Kirana Larasati pun memeluk erat sahabatnya itu.
"Aku baik-baik saja, Kir." Nandini menyembunyikan kegalauan hatinya. Ia pun sekilas melirik ke arah Arjuna kekasihnya.
Arjuna pun berusaha tenang agar tidak kentara jika ia dan Nandini Sukma Dewi telah pun memadu kasih layaknya pasangan yang halal, padahal sejatinya dalam syari'at Islam mereka telah jatuh kedalam perzinahan yang besar. Sebab telah melakukan hubungan di luar pernikahan.
Namun, hasrat yang buruk benar-benar telah menguasai diri mereka, sehingga terjerat dalam lumpur dosa yang tidak diridhoi Allah Subhanahuwata'ala jika tidak segera bertaubat dari melakukan kesalahan dan dosa tersebut.
🌷🌷🌷
__ADS_1
...Untaian Mutiara Hikmah 👉 "Untuk bisa mendapatkan bunga paling indah, kamu harus berhati-hati menghindari duri. Begitu juga untuk sampai ke surga, kamu juga harus berhati-hati menghindari dosa. Sejatinya, menghindari godaan untuk berbuat dosa dan bersabar menghadapainya, itu jauh lebih berat daripada bersabar ketika menjalani cobaan dari Allah. Sekelam apapun masa lalu kita, selagi kita masih bernyawa, kita tetap berpeluang menjadi ahli surga. Jangan pernah berputus asa untuk berubah dan mencari ampunan dari Allah ketika kita pun telah berlumpur dosa." ( Bilik Penyesalan )...