Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
85 . Dia Milik Ku, Bukan Milik Mu!


__ADS_3

Acara perpisahan Siswa-siswi kelas 3 SMP NEGERI 3 XX usai sudah, para Siswa-siswi pun saling bersalaman dan merangkul satu sama lain. Mereka pun menyalami satu persatu Bapak dan Ibu Guru yang selama ini telah mengajar dan mendidik mereka sehingga mereka semua bisa menamatkan belajar di bangku SMP seperti sekarang ini.


Air mata mereka pun berlinang, rasa haru dan bahagia pun beradu menjadi satu. Bahagia ... sebab telah lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Sedih karena harus segera meninggalkan sekolah dan berpisah dengan Bapak atau Ibu guru dan teman-teman semua yang selama ini sama-sama berjuang dan bergelut di SMP NEGERI 3 XX. Tentunya tidak mudah melupakan segala kenangan yang ada.


Para Siswa-siswi pun menghabiskan waktu di detik-detik terakhir kebersamaan mereka di bangku SMP. Sebab, setelah ini mereka akan jarang sekali berjumpa. Kecuali, bagi mereka yang meneruskan di jenjang SMA atau SMK yang sama tentunya masih bisa untuk bersua sebagaimana biasanya.


Para orang tua atau wali murid pun segera beranjak dari Aula Sekolah, mereka hendak pulang menuju rumahnya masing-masing.


Rivandra Dinata Admaja dan teman-temannya pun masih menikmati kebersamaannya. Apalagi Arjuna Restu Pamungkas, ia nampak lengket dengan kekasihnya Nandini Sukma Dewi. Arjuna seperti tidak rela berpisah sedetikpun dari wanitanya.


Zainal Abidin yang melihat kemesraan Nandini Sukma Dewi dengan Arjuna Restu Pamungkas pun segera beranjak pergi dari hadapan mereka.


"Ya Allah ... kenapa seperih ini melihat mu bersama dengannya, sampai kapan aku bisa move on dari mu Nandini Sukma Dewi. Tak ku sangka aku bisa jatuh hati pada mu, wahai gadis metal." Zainal Abidin terus bergumam didalam hatinya.


Nandini yang sedang asyik berkencan dengan Arjuna pun tak sengaja melihat Zainal Abidin yang sejak tadi memperhatikannya. Nandini pun sekilas menatap nanar wajah Zainal yang nampak sendu sebab melihat kebersamaanya dengan Arjuna kekasihnya.


"Zainal ... maafkan aku sebab berkali-kali menoreh luka di hatimu, bukannya aku tidak suka pada mu. Sungguh ... Aku sangat mengagumi mu, disini di dalam hatiku. Ku mengagumi mu dalam diam ku. Maaf ku tak bisa membalas rasa mu, sebab ada hati yang harus ku jaga. Aku telah memilih Arjuna Restu Pamungkas untuk menjadi teman istimewa ku. Ku do'akan semoga dirimu mendapatkan yang lebih terbaik dari diriku," bathin Nandini Sukma Dewi.


Zainal pun berlalu pergi dari hadapan Nandini Sukma Dewi. Ia tak sanggup lebih lama lagi melihat kemesraan antara Nandini Sukma Dewi, wanita yang sangat dikaguminya terus berpimpin tangan mesra dengan rivalnya Arjuna Restu Pamungkas.


"Honey, kenapa melamun?" tanya Arjuna.


"I-iya Hubby, ma-af aku sedang memikirkan hubungan kita kedepannya, tentunya aku sangat kesepian tanpa kehadiran mu. Hari ini hari terakhir kita bersua, tentunya aku akan sangat merindukanmu, Hubby." Nandini mencari alasan agar tidak ketahuan jika sebenarnya ia sedang memikirkan Zainal Abidin.

__ADS_1


Arjuna pun percaya dengan ucapan Nandini kekasihnya.


"Honey, aku pun merasakan hal yang sama seperti yang dirimu rasakan. Aku akan sering mengunjungi mu Honey, kuharap kau setia pada ku Honey. Jangan pernah dekat dengan lelaki manapun di belakang ku, ketika diriku tidak ada di samping mu, Honey!" ucap Arjuna. Ia pun menggenggam jemari tangan Nandini kekasihnya. Tak henti-hentinya ia memandang nanar wajah Nandini kekasihnya.


"Ciyeeee ... yang sedang melepas kerinduan, dunia pun terasa milik berdua. Yang lain pada ngontrak, kami semua di anggap serupa angin yang berhembus." Zahrana dan teman-temannya menghampiri dan menggoda Nandini dan Arjuna Restu Pamungkas yang sudah tidak malu-malu lagi memamerkan kemesraannya.


Nandini dan Arjuna pun melerai genggaman tangannya, sebab teman-temannya tiada habisnya menggoda mereka berdua.


"Zahra, Fadhilah, Kirana. Kalian sejak kapan disini? Cinta mana?" tanya Nandini basa-basi. Wajah Nandini merona sebab selalu di goda teman-temannya.


"Cinta lagi mojok tu di warung Bik Nur, sepertinya sedang menghabiskan waktunya bersama kak Rangga Sahadewa. Sebelum nantinya berpisah dan beda Sekolah," ucap Fadhilah.


"Iya nich, sama seperti loe dan Arjuna. Asyik merajut kebersamaan, sementara kami jadi umpan nyamuk-nya." Kirana ikut menimpali.


Rivandra yang dari sejak tadi memperhatikan interaksi Nandini dan teman-temannya. Ia pun segera menghampiri mereka.


"Zahra ... terimakasih ya, tadi sudah berkenan akting bersama ku. Maaf, jika cuplikannya di luar latihan kita kemarin. Aku sungguh benar-benar terbawa perasaan, sebab kharisma dan pesonamu sangat luar biasa," ujar Rivandra jujur tanpa jeda.


"Ia kak, sama-sama. Zahra pun minta maaf, sebab ikut terbawa suasana. Sesuai kesepakatan kita kemarin. Deal, kita sekarang jadi sahabat ya, kak!" ujar Zahrana. Ia pun menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Rivandra sebagai tanda kesepakatan bahwa tidak boleh ada rasa lebih diantara mereka.


Rivandra pun meng-iyakan permintaan Zahrana, meskipun hingga detik ini sebenarnya nama Zahrana masih terukir indah di pita bathinnya. Tak pernah sedetikpun ia berniat untuk melupakan Bidadari kecilnya Tsamirah Zahrana Az Zahra yang dulu pernah merajut kebersamaan dengannya.


Demi untuk menjaga hubungan baik diantara mereka, Rivandra pun rela untuk menjadi sahabat Zahrana. Walaupun sebenarnya berat untuknya.Yang semula berstatus kekasih harus berganti menjadi seorang sahabat.

__ADS_1


Kirana Larasati yang masih mengenakan costum MC-nya, hanya bisa menyimak interaksi antara Zahrana dan Rivandra Dinata Admaja. Ia bungkam tidak tahu hendak berucap apa. Lidahnya pun terasa kelu, ketika berhadapan dengan Rivandra Dinata Admaja. Beda ketika sedang MC ia bisa bebas mengekspresikan diri dan ucapannya.


"OMG ... kak Rivan, ketika melihat dan berhadapan dengan mu entah mengapa aku menjadi bodoh dan terlihat salah tingkah seperti ini," bathin Kirana Larasati.


"Teman-teman, bagaimana jika hari ini sehabis dari sekolah kita kumpul-kumpul di Pantai Indah Kenangan Bersama seperti tempo hari. Sebab, hanya hari ini hari-hari terakhir kebersamaan kita dengan kakak-kakak kelas 3 kita. Setelah ini, tentunya kita akan jarang bersua." Fadhilah melakukan penawaran kepada teman-temannya.


"Ide yang bagus, Dhil. Mari setelah ini kita langsung bersiap-siap untuk menjalankan kesepakatan kita." Nandini nampak ceria dengan ajakan Fadhilah.


"Tapi, aku dan Kirana perginya naik apa, Dhil? sebab, kami tidak punya kendaraan sepeda motor untuk jalan-jalan," keluh Zahrana.


"Iya juga ya, kalau Nandini bisa langsung berduaan dengan Si Arjuna. Si Cinta pun bisa langsung bersama dengan Kak Rangga Sahadewa. Loe sendiri mungkin bisa naik kendaraan bermotor sendiri Dhil, lalu kami dan Zahrana siapa yang memboncengnya," cicit Kirana Larasati seraya menggigit bibirnya.


Rivandra nampak berpikir sejenak, ia pun memberikan usulan pada Zahrana dan teman-temannya. Bagaimana jika Zahrana ikut bersama ku? Kirana Larasati berboncengan dengan Fadhilah," ucap Rivandra memberikan usulan.


Belum sempat Zahrana dan teman-temannya menyetujui ajakan Rivandra Dinata Admaja. Tiba-tiba hadirlah Aslan Abdurrahman Syatir yang nampak berang terhadap usulan yang diberikan oleh Rivandra Dinata Admaja, di susul pula oleh Virgantara Dinata Admaja. Kakaknya Rivandra Dinata Admaja. Virgantara khawatir jika terjadi baku hantam lagi antara adiknya dengan Aslan Abdurrahman Syatir, sebab memperebutkan Zahrana.


Aslan dan Virgantara memang belum beranjak pulang dari SMP Negeri 3 XX, setelah acara perpisahan kelas usai mereka berdua sengaja untuk tidak pulang dulu dan memilih tetap berada di Aula Sekolah sampai semua Siswa-siswi membubarkan diri untuk segera kembali ke rumah mereka masing-masing.


Aslan hendak menemui Zahrana kekasihnya dulu. Sebab ia ingin menumpahkan kekesalannya pada Zahrana yang sejak tadi menderanya. Ia benar-benar cemburu melihat cuplikan pentas di panggung hiburan yang di perankan oleh Zahrana dan Rivandra Dinata Admaja. Aslan benar-benar kecewa dan terbawa emosi yang merindu dendam ketika melihat kebersamaan Rivandra Dinata Admaja dengan kekasihnya Tsamirah Zahrana Az Zahra.


"Tidakkkkk ... Zahrana adalah wanita ku! Aku tidak akan mengizinkannya ikut bersama dengan mu anak muda. Dia milik ku bukan milik mu!" bentak Aslan Abdurrahman Syatir terhadap Rivandra Dinata Admaja. Sehingga membuat Zahrana dan teman-temannya juga Rivandra Dinata Admaja kaget mendengar pekikan dari Aslan Abdurrahman Syatir yang sangat memekakkan daun telinga mereka.


"Kak, kak Aslannn ... " ucap Tsamirah Zahrana Az Zahra gelagapan bercampur panik, ketika melihat wajah berang kekasihnya Aslan yang sekarang benar-benar sedang terbakar oleh api cemburu terhadap dirinya.

__ADS_1


"Ya Allah ... tolonglah hamba-Mu ini! Jangan sampai kak Aslan meluapkan emosinya dan menyakiti kak Rivandra Dinata Admaja, lantaran kecemburuan dan kesalahpahaman-nya," bathin Zahrana didalam hatinya.


__ADS_2