
Raihan Arman Habibie, akhirnya nimbrung di Toko keluarga Aslan, asyik berkelakar dengan Nandini sembari menunggu Bis Sekolah.Ia enggan kembali kerumahnya setelah usai mengantarkan surat izin dan surat cinta Zahrana kakaknya pada Nandini dan Aslan Abdurrahman Syatir.
Setelah bergelut dengan aktivitas Toko,Aslan segera menghampiri Nandini dan Raihan, hatinya merasa tidak karuan, penasaran dan tidak sabaran untuk segera membaca balasan surat cinta dari Sang pujaan hatinya Zahrana.
"Dek,mana suratnya!"pinta Aslan dengan raut wajah yang tidak sabaran.
"Eh, tunggu dulu kak!...pulusnya mana?"pinta Nandini pada kakaknya dengan seringai nakalnya, sengaja mengerjai kakaknya.Padahal Nandini sudah mengantongi uang saku dua puluh ribu dari Ibu Ratna Anjani.Ia sengaja ingin mengerjai kakaknya.
"Ya Allah dek, dengan kakak sendiri perhitungan amat", protes Aslan sembari memberikan uang selembar lima ribu untuk Nandini.
"Ya ampun kak,pelit amat sama adek sendiri,only lima ribuan...tambah lagi dong!... Nandini hendak mentraktir teman - teman di sekolah nantinya",pinta Nandini lagi dengan gaya nya yang selalu metal.
Aslan merogoh dompetnya dan memberikan uang tambahan senilai lima ribu rupiah lagi kepada Nandini, jadilah uang saku Nandini bertambah menjadi tiga puluh ribu rupiah.Nandini berdecak kegirangan lantaran dapat uang saku tambahan.
Sedangkan Raihan Arman Habibie, tetap fokus dengan menunggu Bis Sekolah,ia tidak begitu peduli dengan interaksi Nandini dan Aslan.Sebab ia sadar diri jika diDesa mereka keluarga Aslan adalah orang terkaya nomor 2 di Desanya, jadi wajar saja jika Nandini memiliki uang saku lebih, berbanding terbalik dengannya hanya mengantongi uang saku 4 ribu rupiah,2 ribu rupiah untuk ongkos bolak - balik, seribu rupiah untuk jajan, seribu rupiah lagi untuk di tabung, sebab Raihan memang tipekal anak yang hemat, sehingga uang sakunya pun ia sisihkan untuk tabungan masa depannya nanti,' Hemat pangkal kaya,malas pangkal bodoh ',yah...walaupun ' Sedikit lama - lama dikumpulkan akan menjadi bukit '.Begitulah prinsip hidup Raihan, meskipun masih kecil pikiran dan pandangannya sudah jauh ke depan,berkat didikan Buya Harun Al Aziz, Raihan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pandai meminit keuangannya di tengah sederhananya perekonomian keluarga mereka.
Berpatokan dengan kehidupan keluarga Aslan Abdurrahman Syatir, dengan Toko Sembako dan warung sayurnya pun sudah cukup lumayan penghasilannya mengingat pengunjung setiap hari yang tiada pernah habisnya berbelanja di Toko mereka.
Selain itu, keluarga Aslan pun memiliki perkebunan sawit,karet, kelapa, lada dan sayur mayur yang cukup luas dan memiliki penghasilan yang cukup lumayan jika panen sayuran tiba.Mereka juga mengupah pekerja harian ketika panen tiba, baru - baru ini pun mereka membuka usaha TI (Tambang Inkonvensional), yang mana di Bangka Belitung sangat terkenal dengan hasil tambang sehingga menambah pesat lumbung kekayaan keluarga Aslan, jika di tilik dari roda perekonomiannya, sangat bertolak belakang dengan kehidupan Zahrana dan keluarga yang terbilang sangat sederhana.
Jika di Era 90 an menginjak tahun 2000 an, harga timah hanya di banderol seharga 14 ribuan perkilonya, tetapi hasil tambangnya sangat melimpah ruah.Berbeda dengan Era 2022 sekarang harga timah melonjak pesat menjadi 200 ribuan, namun sangat sulit untuk mendapatkannya, lantaran lahan pertambangan telah tergerus habis dimakan oleh zaman, reboisasi atau penghijauan hampir -hampir punah dimana - mana hutan telah gundul, berubah menjadi pasir putih dan berlobang - lobang, bekas tambang timah dan parahnya lagi tidak ada lagi perkebunan yang menghijau seperti tempo dulu,ya..meskipun banyak yang mendadak kaya alias OKB(Orang Kaya Baru) di masa sekarang ketika harga timah melambung tinggi menjadi 200 ribuan ke atas, bayangkanlah banyak yang telah menjadi OKB.😍😍😍
Namun, akhir - akhir ini harga timah kembali merosot menjadi 100 ribuan, berikut harga Kelapa sawit ikut menurun dari 3000 rupiah perkilo menjadi 250 rupiah perkilo, rakyat kecil bisa apa? ikut perkembangan zaman saja, di tengah - tengah kebutuhan pokok sehari-hari yang harganya justru melambung tinggi,cabe pun bisa melonjak menjadi 180 ribu perkilo, tidak sesuai dengan hasil dari mata pencaharian penduduk,hehehe... jeritan hati Author ngelantur kemana-mana.😁😁😁
***
Kembali lagi pada kisah Aslan Abdurrahman Syatir, Raihan Arman Habibie dan Nandini tempo dulu, kisah kehidupan ala 90 an.
"Kak Nandini, itu Bis Sekolah sudah kelihatan, sudah berkelakarnya,buruan cepetan!"pekik Raihan pada Nandini yang masih asyik berkelakar dengan Aslan kakaknya.
Bis Sekolah pun, dari kejauhan sudah bergerak pelan, hendak berhenti ketepian seolah siap siaga menyambut kehadiran Nandini dan Raihan.
Aslan pun bergerak cepat menghampiri Raihan.
"Rai, tunggu!... ini uang saku untuk mu", ujar Aslan sembari menyodorkan uang selembar dua puluh ribu rupiah pada Raihan.
Raihan melongo sesaat, kemudian berujar,"ya Allah...kak banyak amat, tidak terimakasih kak, Raihan tidak terbiasa menerima uang sebesar ini!"tolak Raihan halus.
Tanpa aba-aba,Aslan langsung menyelip uang tersebut disaku samping tas Raihan.
"Sudah, jangan sungkan!...anggap saja ini imbalan untuk Pak Pos dadakan, yang sudah berkenan mengantarkan surat kemari, sudah capek - capek jalan", ujar Aslan meyakinkan.
"Terimakasih kak, semoga Allah memberkahi kakak",ujar Raihan seraya naik kedalam Bis sekolah.
"Ya ampun kak, Nandini kebelet,mana sudah pukul 06.30 wib, Nandini khawatir nanti terlambat kak,mana hari ini ada senam pagi."Tukas Nandini sembari berlari ke toilet yang ada di dalam rumahnya.
"Ya Allah dek,buruan!... repot amat."Ketus Aslan.
__ADS_1
Aslan memberikan aba-aba pada Abang Sopir, jika harus segera jalan, sebab Nandini hendak ke toilet, khawatir lama menunggu.Sebab di Bis Sekolah banyak anak - anak berseragam biru putih yang sedang berpacu dengan waktunya.Kebanyakan mereka,bersekolah di SMP NEGERI 3 XX.
Abang sopir pun,melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sebab khawatir anak - anak terlambat masuk sekolah, lantaran hari itu bertepatan dengan hari Jum'at, hari dimana senam pagi di adakan.
Nandini buru - buru keluar dari toilet, hendak keluar menuju Bis Sekolah.Sebab Nandini kira, Abang Sopir masih menunggunya.
"Yach...telat deh!...Bisnya sudah keburu pergi",ucap Nandini dengan langkah gontainya, wajahnya terlihat sangat kecut antara kesal dan takut terlambat ke Sekolah, takut dihukum oleh Guru BK yang super galaknya yakni Ibu Roshani Manurung,"nggak kebayang jika harus di hukum membersihkan seluruh water close sekolah,"cicit Nandini seraya memanyunkan bibirnya hendak menghampiri kakaknya Aslan, agar sudi kiranya untuk mengantarkannya ke sekolah.
"Ini gara - gara kebelet pipis",gerutu Nandini Sukma Dewi dengan berangnya.
Sebelum Nandini meminta kakaknya Aslan untuk mengantarkannya ke sekolah, Aslan Abdurrahman Syatir sudah siap siaga, hendak mengeluarkan motor gede kesayangannya yang tidak kalah kerennya dengan motor gede Yusuf Amri Nufail Syairazy tempo hari pada saat ia bertandang kerumah Zahrana.
Merk motor yang kini Aslan miliki adalah Yamaha MTZ 150, salah satu motor gede yang juga sangat digandrungi oleh muda - mudi pada era 90 an, motor yang cukup nge-hits pada zaman itu.Zaman sekarang motor Yamaha MTZ 150 sudah sangat langka, sudah jarang di temui kecuali dimiliki oleh orang tertentu sebab kualitas dan designnya yang klasik sehingga sangat langka sekali untuk didapatkan pada masa kini.
Belum sempat Aslan meraih kendaraannya, tiba - tiba berhenti kendaraan kuda besi yang cukup elegan dan nampak keren sekali berhenti tepat di depan Toko mereka, design nya cukup menarik dengan warna hijau cerah, yakni motor gede Kawasaki Ninja RR atau seringkali disebut Ninja 2-tak.Motor tersebut tak kalah kerennya dari motor milik Yusuf Amri Nufail Syairazy dan motor gede milik Aslan Abdurrahman Syatir.
Nandini terperangah melihat kehadiran sesosok siswa laki-laki berseragam biru putih seperti dirinya, yang sangat terlihat matching sekali dengan motor gede dan helm serta jaket dan tas sekolah yang dikenakannya.
"Maa syaa Allah... Amazinggggg... sekali!"pekik Nandini, membuat sang empunya gaya tersenyum simpul ke arah Nandini dengan gaya yang sangat memikat,seraya membuka kaca helm nya.
Nandini langsung bungkam, sebab sosok siswa laki-laki yang ia sanjung adalah Arjuna Restu Pamungkas, sosok laki-laki arogan Sang Play Boy Kelas Kakap yang sangat dibenci oleh Nandini Sukma Dewi, dengan insiden yang terjadi di Bis Sekolah tempo hari membuat Nandini merasa ilfeel bertemu dengan Arjuna Restu Pamungkas.
Nandini membuang mukanya acuh tak acuh,pura - pura tidak kenal dengan Arjuna.
Arjuna tersenyum manis dengan seringai liciknya,"kak bensin motornya 2 liter!"pinta Arjuna pada Aslan kakaknya Nandini, padahal sejatinya bensin motor Arjuna masih sangat cukup untuk ke sekolah, namun ia berakting seolah - olah ingin membeli bensin.Padahal sejatinya ia ingin menggaet Nandini lewat pura - pura mendekati Aslan Abdurrahman Syatir.
"Dek, nampaknya bensinnya sudah terisi full, hanya mampu menampung satu liter saja untuk tambahan", timpal Aslan.
"Nggak apa-apa kak,aku sengaja isi penuh",tukas Arjuna pada Aslan seraya melirik pada Nandini yang nampak cuek padanya.
Aslan pun mengiyakan ucapan Arjuna,tanpa sedikitpun terpikir dengan akal bulus Arjuna yang ingin memiliki Nandini dengan cara liciknya.
"Awas kau gadis metal,kau akan secepatnya menjadi wanitaku dan kupastikan hari ini kau akan bertekuk lutut di hadapanku", gumam Arjuna dalam hati dengan perasaan nya yang mulai mengebu - gebu terhadap Nandini, ingin sekali ia memakan Nandini dengan nafsunya yang semakin menjadi - jadi, lantaran kecewa dengan penolakan Nandini padanya tempo hari sewaktu di Bis Sekolah.
"Kak, Nandini Sukma Dewi itu adalah adik kelas ku.Aku Arjuna Restu Pamungkas kakak kelasnya.Sepertinya ia akan datang terlambat ke sekolah, sebab hari ini ada senam pagi, sementara jam 7 harus sudah dimulai senam paginya dan gerbang pun akan segera di tutup",sarkas Arjuna dengan aksinya yang semakin menjadi-jadi untuk mengelabui Aslan agar mengizinkannya untuk membawa Nandini ikut bersamanya.
"Apa Nandini ikut bersama aku saja kak!... kita kan searah",sarkas Arjuna lagi.
Aslan nampak tertegun sejenak antara menerima atau menolak tawaran Arjuna untuk membonceng Nandini adik semata wayangnya.
Sedangkan Nandini mendelik tajam ke arah Arjuna dan langsung memotong pembicaraan Aslan dan Arjuna.
"Nandini tidak mau ikut dia kak... Nandini ingin diantar kakak saja!"cercah Nandini sembari bersedekap dada memalingkan wajahnya dari melihat Arjuna Restu Pamungkas.
Pengunjung Toko pun kembali ramai, Aslan kelabakan, sementara Ibu Ratna Anjani masih sibuk didapur,Ayah Anjasmara belum menampakkan batang hidungnya untuk membantu Aslan diToko.
Ibu Ratna Anjani memang sengaja tidak ingin mencari asisten rumah tangga,iya lebih suka berkreasi dengan olahan masakannya sendiri.
__ADS_1
"Dek, sebaiknya kamu ikut kakak kelas mu dulu!... lagian kalian satu arah juga,Toko sedang ramai pengunjung sementara Ayah belum tampak untuk membantu",titah Aslan penuh kelembutan pada Nandini.
Nandini melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 06.40 menit.
"Astagaaa..."pekik Nandini
"Ya Allah kak, Nandini berangkat dulu!"pamit Nandini sembari mencium punggung tangan kakaknya dan tak lupa ia pun mengucapkan salam pada kakaknya.
"Cepetan!... nggak usah ge...er...gue terpaksa nebeng sama loe",sungut Nandini dengan wajah juteknya pada Arjuna Restu Pamungkas.
"Dalam waktu 15 menit , harus sampai!"titah Nandini dengan gaya sok merintahnya.
Arjuna Restu Pamungkas tersenyum senang, dengan seringai nakalnya yang sangat kentara dari wajah maskulinnya, nampak sangat senang dan bahagia karena telah berhasil membawa Nandini bersamanya.
"Kak,kami berangkat dulu!"pamit Arjuna pada Aslan sembari melambaikan tangannya ke arah Aslan,Aslan membalas dengan senyumannya sembari sibuk melayani pelanggan Toko.
"Iya hati-hati dijalan!"seru Aslan lagi.
"Oke kak,siappp!"balas Arjuna sembari mengacungkan jempolnya.
Melihat titahnya yang belum dijawab oleh Arjuna, Nandini kembali bersungut.
"Loe denger ngga seruan gue, buruan tahu,15 menit sudah harus nyampai!....gue nggak mau sampai telat."Titah Nandini lagi.
Arjuna memang sengaja tidak menjawab seruan Nandini, sebab ia ingin berbasa - basi dulu dengan Aslan kakaknya Nandini.
"PDKT dulu dengan kakaknya",cicit Arjuna dengan seringai liciknya.
"Oke baby!... aku akan menuruti keinginan mu 15 menit kita akan sampai,dengan syarat kamu harus berpegang erat di pinggang ku!",titah Arjuna pada Nandini dengan tatapan penuh menggoda.
Setelah jauh dari pandangan rumahnya,Nandini pun terpaksa berpegang erat di pinggang Arjuna sebab Arjuna melajukan kuda besinya dengan kecepatan sangat tinggi.
Nandini sempat histeris, namun lama - lama ia pun terbawa suasana, awalnya ia hanya memegang erat pinggang Arjuna, namun lama - kelamaan tanpa sadar ia pun berlanjut menyandarkan tubuhnya pada kedua bahu Arjuna dengan posisi dirinya memeluk erat tubuh Arjuna dengan kedua tangannya dari arah belakang.
"Amboiiii..."tidak bisa di bayangkan dan di ucapkan dengan seribu kata-kata, bagaimana romantisnya ketika kita sedang berduaan dengan orang yang kita cintai misalnya, dengan berboncengan mengendarai sepeda motor, apalagi naik motor gede sejenis Kawasaki ninja RR 2-tak era 90 an seperti yang di alami oleh dua sosok remaja seragam putih biru, yakni Arjuna Restu Pamungkas dan Nandini Sukma Dewi.
"Gara - gara kebelet pipis, aku seperti berasa berada di alam mimpi bisa bertemu kembali dan berboncengan dengan sosok Arjuna Restu Pamungkas", cicit Nandini dalam hati seperti mulai tumbuh rasa benih-benih kagum dihatinya terhadap laki-laki tersebut.
Nandini pun semakin larut dalam suasana, rasa dihatinya semakin melang-lang buana,ia semakin memeluk erat Sang Arjuna, ditengah kecepatan laju motor yang semakin tinggi, membuatnya terasa melayang.
Arjuna mulai mengikuti permainan Nandini, perlahan ia pun mulai berani menarik dan memegang pergelangan tangan Nandini dan mengusapnya penuh kelembutan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya fokus menyetir gas motornya.
Nandini pun membiarkan dan menikmati belaian tangan Arjuna terhadapnya.
"Akhirnya tanpa kau sadari dengan sendirinya kau menyentuhku dan mendekap ku mesra wahai gadis metal", cicit Arjuna dalam hati seolah merasa menang dan tak terkalahkan dari Nandini.
"Ini baru tahap awal, selanjutnya kau akan tergila-gila dan bertekuk lutut pada ku",bisik hati Arjuna kembali dengan seringai liciknya.
__ADS_1