Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
32 . Amazing (Seperti Ustadz Gaul di Pesantren Rock n Roll)


__ADS_3

"Buya, sepertinya Yusuf pamit undur diri dulu, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 Wib, khawatir Nenek dan Kakek Yusuf menunggu di rumah dan bertanya-tanya dimana gerangan cucu kesayangannya," ucap Yusuf di selingi senda guraunya.


"Maa syaa Allah ... buru-buru sekali, Nak Yusuf. Sudah hendak pamit," ucap Buya Harun yang terlihat masih kerasan bercengkrama dengan Yusuf.


"Iya Buya, Alhamdulillah ... sudah cukup lama Yusuf bertandang di sini, satu jam adalah waktu yang cukup untuk sekedar bercengkrama, khawatir Buya dan keluarga ingin segera beristirahat. Terlebih Zahrana ia butuh istirahat yang cukup mengingat insiden yang menimpanya butuh waktu untuk pemulihan," tutur Yusuf sembari memandang sekilas ke arah Zahrana.


Zahrana berusaha menundukkan pandangannya agar tidak bersitatap dengan Yusuf, mengingat Aslan Abdurrahman Syatir yang masih duduk tak bergeming tepat berhadapan dengan sofa tempat duduk Zahrana, sangat kentara sekali dari raut wajah Aslan berusaha meredam perasaan yang bergemuruh di hati nya, lantaran di bakar oleh api cemburu, melihat interaksi Yusuf yang dengan mudah sekali mengambil hati Buya Harun dan Bunda Fatimah, orang tua Zahrana. Dengan segala kewibawaan dan kesantunannya terlihat jelas dari perawakan Yusuf, yang memiliki adab dan kelembutan dalam bertutur kata.


Zahrana berusaha menjaga hati, antara dua pilihan yang sangat sulit ia lakukan, antara benar dan salah, mencintai Aslan Abdurrahman Syatir dalam diamnya, yang memang telah mencuri hatinya semenjak kejadian intimnya bersama Aslan di Toko Sembako milik keluarga Aslan yang sampai detik ini tidak bisa untuk Zahrana lupakan.


Berbeda dengan insidennya dengan Yusuf yang tidak di sengaja ketika Mukena Zahrana tersangkut di anak tangga Padepokan, Yusuf secara tidak sengaja menyentuh dan mendekapnya, kemudian memapah dan menggendongnya, lantaran Zahrana sedang kesakitan dan butuh pertolongan, bukan sengaja untuk menabur benih rasa di hati.


Zahrana cukup sadar diri. Tidak mungkin jika Yusuf menaruh rasa terhadapnya yang masih awwam, apalagi dengan penampilan Zahrana yang belum tertutup hijab, akan sangat mustahil Yusuf terpana padanya.


Dalam kepolosanya Zahrana berpikir jika pemuda seperti Yusuf pasti mendambakan Akhwat ( Wanita ) Sholihah yang berbalut hijab syar'i, bukan seperti dirinya yang masih berpakaian terbuka alias belum menutup aurat, layaknya wanita muslimah sejati yang kelihatan anggun dengan balutan hijabnya.


Namun, apa yang di pikirkan oleh Zahrana sangat bertolak belakang, jika sebenarnya Yusuf pun terpesona padanya, akan tetapi Yusuf mampu meminimalisir perasaannya agar tidak terjerumus dalam noda-noda dosa dan kenestapaan yang tak berkesudahan, seperti pacaran misalnya, sungguh tidak ada dalam kamus kehidupan seorang pemuda seperti Yusuf.


Yusuf lebih memilih menjaga hatinya, ketimbang mengutarakan rasanya terhadap Zahrana, yang menurutnya itu tidak halal jika ditilik dari sudut pandang Islam, selama ini mengagumi Zahrana dalam diamnya sudah cukup baginya. Agar ia bisa terhindar dari segala bentuk perzinahan yang dapat menyesatkannya.


Yusuf memang dua kali sepekan berkunjung ke rumah Nenek dan Kakeknya di Desa XXX, Desa yang bersebelahan dengan tempat tinggal Zahrana.


Setiap hari Senin dan Kamis, Yusuf menyempatkan diri berguru di rumah Buya Harun, guna menuntut ilmu pengetahuan dan Al Qur'an.


Ayah Zahrana dan Abi Yusuf adalah sahabat baik dari sejak kecil hingga sekarang persahabatan kedua orang tuanya masih terjalin erat, hingga berujung dengan mengarahkan Yusuf untuk berguru di rumah Buya Harun.

__ADS_1


Abi Yusuf memang berasal dari Desa, namun Ummi nya berasal dari Kota S, sehingga semenjak menikah dengan Umminya, Abi Yusuf pun pindah ke Kota S.


Usut punya usut, tanpa di ketahui oleh Zahrana dan Yusuf. Buya Harun dan Abi Yusuf telah berencana menjodohkan Yusuf dan Zahrana di masa depan nanti, pada saat mereka berdua sama-sama sudah memiliki kesiapan untuk mengikrarkan janji suci pernikahan.


Motif di balik Abi Yusuf mengarahkan Yusuf berguru di Padepokan Buya Harun sebenarnya adalah hendak mendekatkan Yusuf dengan Zahrana, agar kedua anak mereka dapat saling mengenal walaupun hanya sekedar mencuri pandang dan bertegur sapa ala kadarnya.


Sebab jika ingin menempatkan Yusuf di Pondok Tahfidz yang lebih baik sangat mudah sekali, sebab di Kota S juga sudah banyak sekali Pondok Tahfidz resmi yang metode pembelajarannya lebih tinggi tingkatannya, di bandingkan Pondok Tahfidz Buya Harun yang di dirikan dalam bentuk kesederhanaan, hanya Padepokan biasa untuk kegiatan belajar mengajar dengan tujuan membuat para Santri lebih bersemangat untuk mengaji, bukan Padepokan resmi seperti Pondok Tahfidz pada umumnya.


***


Yusuf pun undur diri. Ia menyalami Bunda Fatimah dan Buya Harun secara bergantian.


Kemudian berpamitan dengan Zahrana, Yusuf tidak berjabat tangan dengan Zahrana. Dia langsung menelungkupkan kedua tangannya di dadanya, menandakan jika Yusuf tahu batasannya, jika Zahrana bukan mahramnya.


Yusuf pun beralih ke Aslan. Ia menyalami Aslan dan merangkul bahu Aslan layaknya saudara seiman, saudara sesama muslimnya dengan segala kerendahan, kesantunan dan kelembutan hatinya.


Yusuf sama sekali tidak ambil hati dengan sikap Aslan yang terlalu mengintrogasinya mengenai hubungannya dengan Zahrana.


Yusuf selalu berbaik sangka, dia sama sekali tidak memahami jika Aslan cemburu padanya, sebab dalam pandangannya Aslan dan Zahrana layak di sebut seperti adik kakak, mengingat perbedaan usia mereka yang sangat signifikan. Jadi, akan sangat mustahil jika Aslan menaruh rasa sepertinya terhadap Zahrana.


Aslan berusaha nampak tenang, dan menyambut uluran tangan Yusuf.


Zahrana seakan di buat terkesima oleh kesantunan Yusuf terhadap Aslan, yang tanpa Yusuf ketahui, Aslan sebenarnya sangat cemburu padanya.


"Kak Yusuf, maaf ... jaket kakak bagaimana? khawatir nanti kakak kedinginan di jalan," ucap Zahrana tiba-tiba. Ia baru menyadari jika jaket Yusuf masih di kenakan olehnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kamu lebih terlihat anggun dengan pakaian tertutup seperti itu dan akan sangat terlihat lebih indah jika berbalut hijab," tutur Yusuf tanpa jeda.


Zahrana semakin tertunduk malu. Malu dengan auratnya yang masih terekspos tanpa hijab, yang bisa saja menjadi bahan tontonan bagi kaum Adam yang melihatnya dan akan sangat mustahil jika mereka sampai tidak tergoda dan terpana dengan pesona dan kecantikan Zahrana yang sangat terekspos sempurna.


Buya Harun dan Bunda Fatimah sangat tertegun dengan sikap Yusuf yang nampak santun dan lembut namun penuh penegasan terhadap puterinya.


Yusuf pun segera beranjak dari rumah Zahrana dan keluarganya. Tak lupa ia pun mengucapkan salam kepada Buya Harun dan keluarga.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab Buya Harun dan keluarga juga Aslan dengan bersamaan.


Yusuf pun segera mengendarai motor Honda NSR 150 berpadu dengan helm dan tas sandang hitam bermerk di bahunya, dengan gayanya yang sangat elegan berbalut gamis marun dan celana hitam cingkrang di atas mata kakinya, menampakkan gayanya yang sangat Agamis sekali, namun dengan motor gede yang di gunakannya, menampakkan jika Yusuf layak di sebut seperti ' Ustadz gaul '.


Motor Honda NSR 150 yang Yusuf kenakan adalah motor yang paling trend pada era 90 an, motor yang menjadi incaran para remaja di Zaman itu. Salah satunya Yusuf, dia terlihat kharismatik sekali dengan motor yang ia kenakan, sampai sekarang pun motor Honda NSR 150 masih menjadi incaran para remaja karena modelnya yang sangat trendy, dan harganya pun masih terbilang fantastis, kira-kira di banderol dengan harga 26 jutaan ke atas untuk zaman sekarang, mengingat kualitasnya yang masih sangat tinggi di pasaran.


Raihan pun buru-buru keluar dari kamarnya, sebab mendengar Yusuf akan segera pulang. Ia ingin sekali sekedar bertegur sapa dengan Yusuf, sebelum Yusuf beranjak pergi, namun Yusuf telah stand by di motor gede nya, untuk segera kembali pulang ke rumah Neneknya, Raihan pun setengah berlari hendak keluar dari teras rumahnya.


Melihat penampilan Yusuf yang sangat terlihat keren di matanya, Raihan pun spontan berteriak, "Kak Yusuf ... wowwww! kakak terlihat sangat Amazinggggg sekali!" pekik Yusuf.


"Kakak keren sekali! seperti Ustadz gaul, kayak di film-film ' Pesantren Rock n Roll '. Raihan merasa kagum terhadap sosok Yusuf sembari mengangkat kedua jempol tangannya ke arah Yusuf.


Yusuf pun menampakan senyum manisnya, seraya melambaikan tangannya ke arah Raihan dan keluarganya, kemudian Yusuf pun hilang dari pandangan mata dengan motor gede yang di kendarainya.


Siapa pun kaum hawa yang memandangnya kala itu. Pasti akan terpana dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2