
"Ya Allah ... getaran apakah ini? tolong jaga iman dan hati hamba agar tidak menodai kesucian hati sosok bidadari yang ada di hadapan hamba ini!" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana. Ia pun kembali mengemudikan mobilnya menjaga jarak dengan Zahrana yang terlihat canggung dan spot jantungnya.
"Ya Allah ... jaga dan rahmati nafsu buruk kami ya Rabb, agar terhindar dari bisikan hawa nafsu sesaat yang dapat melemahkan biduk keimanan kami!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.
Di tengah hujan yang masih mengucur deras, kilatan petir pun menyambar membelah angkasa. Zaid terus melajukan mobilnya menuju kota S, mengantarkan Zahrana menuju kediaman kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra.
"Duarrrr!" bunyi kilatan petir menggelegar membelah angkasa, Zahrana pun terperanjat kaget. Ia spontan berpindah tempat duduk dan menyembunyikan wajahnya di bahu Muhammad Zaid Arkana yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Ayah-Bunda, Zahra takut!" ucap Zahrana dengan meringkukkan badannya, ia menutupi tubuhnya dengan jaket milik Muhammad Zaid Arkana.
Satu hal yang paling Zahrana takuti dalam hidupnya adalah mendengar bunyi suara petir yang menggelegar. Ketika dalam keadaan ketakutan seperti itu, mesti ada yang menenangkan dirinya. Jika tidak, maka ia akan terus berada dalam ketakutan.
"Zahra, kau tidak apa-apa?" tanya Zaid penuh kepanikan, saat melihat wajah Zahrana berubah menjadi pucat pasi.
"Zahra takut mendengar suara kilatan petir itu!" ucap Zahrana dengan menyembunyikan wajahnya dipundak Muhammad Zaid Arkana.
Zaid menepikan mobilnya, untuk menenangkan Zahrana.
"Kamu yang tenang, ya? perjalanan kita tinggal satu jam lagi. Kilatan petir itu adalah ciptaan Allah Subhanahu wata'alla juga, jadi Zahra jangan takut! mohonlah perlindungan kepada-Nya ketika mendengar bunyi kilatan petir yang menyambar, dengan do'a yang telah di syari'atkan oleh agama kita agar kita terhindar dari segala bentuk musibah dan bencana yang disebabkan oleh kilatan petir yang menyambar!" ucap Zaid dengan memenangkan Zahrana yang sedang ketakutan ketika mendengar kilatan petir kembali menggelar seolah memekakkan gendang telinganya.
"Duarrr ... duarrr ... duarrr!" kilatan petir kembali menggelegar membelah angkasa.
Zahrana menutup gendang telinganya, ia pun kembali menyembunyikan wajahnya dipundak Muhammad Zaid Arkana.
Zaid refleks memasukkan Zahrana ke dalam dada bidangnya, tanpa sadar ia pun mengusap pucuk kepala Zahrana dengan membimbing Zahrana untuk membaca do'a yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ketika mendengar suara halilintar.
اللَّهُمَّ لا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ، وَلا تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ ، وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ
Artinya, "ya Allah, janganlah engkau matikan kami dengan sebab amarahMu, dan janganlah engkau hancurkan kami dengan azabmu dan selamatkan kami sebelum hal itu terjadi."
Kemudian Zaid pun melanjutkan membaca do'a yang juga berkaitan dengan kilatan petir, agar Zahrana bisa tenang dan berhenti dari ketakutan yang sejak tadi masih terus mendera gadis berjilbab merah itu.
سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ
Subhanalladzi yusabbihur ro'du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih
Artinya: "Maha Suci Allah SWT yang petir dan malaikat bertasbih memuji Allah SWT karena rasa takut kepada-Nya."
Perlahan Zahrana pun memejamkan matanya, setelah Zaid melafalkan do'a-do'a yang mampu menenangkannya. Zahrana pun terlelap dalam dekapan Muhammad Zaid Arkana. Lupa lah ia jika ada batasan mahram di antara dirinya dengan sosok Muhammad Zaid Arkana.
Menyadari tingkah Zahrana yang tidak seperti biasanya membuat naluri kejantanan Zaid tiba-tiba membuncah, apalagi mendengar deru nafas Zahrana yang berhembus di dekat wajahnya membuat birahinya memuncak menjadi 99,99 %.
__ADS_1
"Ya Allah ... kuatkanlah hamba menahan pergolakan batin dan melawan nafsu birahi hamba. Zahra kenapa kau begitu sangat menggoda ku? apa yang hendak ku lakukan?" bathin Muhammad Zaid Arkana dengan terus melawan pergolakan bathinnya.
Zaid pun perlahan merebahkan kepala Zahrana dengan tidur di pangkuannya. Agar Zahrana merasa nyaman. Ia pun menyelimuti tubuh Zahrana yang sedang meringkuk kedinginan dengan jaket kulit miliknya.
Dari sejak di SMP dulu kebiasaan Zahrana memang tidak pernah hilang, jika di dalam mobil selalu terlelap. Seperti saat pertemuannya dengan sosok Rivandra Dinata Admaja tempo dulu, sosok kakak kelasnya yang pernah bertahta di hatinya. Bersyukurlah ia sebab selalu bersama dan terjaga dari orang-orang yang berniat jahat yang mungkin hendak memanfaatkan keadaan. Beruntunglah ia karena selalu di kelilingi oleh orang-orang baik yang selalu mengerti keadaannya.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, jika terus begini aku tidak tahu sampai kapan aku akan mampu melawan birahiku?" bathin Zaid dengan melirik ke arah Zahrana yang masih terpejam lantaran di dera kantuk yang amat sangat.
Zaid melirik jam tangannya, "Sudah pukul 21.00 wib. InsyaAllah satu jam lagi akan nyampai ke kota S, kasian dirimu Ra! kau nampak lelah," ucap Zaid dengan menatap lekat wajah cantik nan ayu yang kini terlelap di pangkuannya.
"Jika tidak mengingat akan kebesaran Rabb-ku, bahwa ia saat ini sedang mengawasi dan memonitoriku, entah apa yang akan terjadi pada ku!" gumam Zaid dengan terus berusaha melawan pergolakan bathinnya.
Zaid pun menelan salivanya ketika melihat bibir mungil Zahrana yang nampak ranum dan merekah terpampang nyata di hadapannya.
"Astaghfirullah ... apa yang sedang aku pikirkan? ya Allah ... aku berlindung kepada-Mu dari godaan dan bisikan syaitan yang terkutuk!" do'a Zaid didalam hatinya.
Di tengah derasnya hujan, dan desiran angin malam Zaid terus melajukan kijang besinya dengan kecepatan sedang. Ia terus fokus menyetir mobilnya, harapannya ia ingin segera sampai ke kota S, untuk mengantarkan Zahrana yang sedang terlelap dalam mimpi indahnya.
Pikiran dan perasaan, juga gejolak hawa nafsu berperang dalam bathin Muhammad Zaid Arkana. Sepanjang perjalanan ia tidak berhenti untuk terus berzikir dan beristighfar kalau-kalau ia sampai melakukan hal yang buruk terhadap Zahrana.
"Subhanallah ... berdua dengan mu, benar-benar membuncah gairah ku. Kenapa nafsu ku ingin sekali memberikan sentuhan manis di bibir mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Zaid dengan mengacak kasar rambutnya. Ia benar-benar berperang melawan nafsunya yang sejak tadi terus meningkat hingga di titik yang hampir tergoyahkan.
"Astaghfirullah ... gejolak apa yang ku rasakan, Tsamirah Zahrana Az Zahra ... dirimu benar-benar membangunkan sesuatu di bawah sana! ya Allah ... dua puluh lima tahun sudah usia ku, baru kali ini kurasakan gairah ku membuncah!" bathin Zaid bergidik ngeri dengan apa yang sedang di alami olehnya.
Zaid kembali menepikan mobilnya, ia hendak berhenti di warung kopi yang ia temui di sepanjang perjalanannya. Ia khawatir benteng pertahanannya bisa roboh jika terus memangku Zahrana.
Zahrana beringsut dalam tidurnya, Zaid hendak mengangkat kepala Zahrana agar berpindah dari pangkuannya dan meletakkan Zahrana di kursi mobil dengan beralaskan jubah miliknya yang telah dilipatkan olehnya sebagai alas bantal Zahrana. Kini, Zaid hanya mengenakan atasan kaos santai, ia rela melepaskan jubah panjangnya demi untuk sanggahan kepala Zahrana yang sedang terlelap tanpa terbangun sedikitpun.
Zaid hendak turun dari mobil, namun Zahrana kembali beringsut dan menarik tangannya seolah-olah tidak ingin ditinggalkan. Walaupun dalam keadaan terpejam Zahrana seolah tenang dalam pangkuan Muhammad Zaid Arkana sebagai alas tidurnya.
Zaid terdiam sesaat, ia tidak ingin membangunkan bidadari yang sedang tertidur pulas tersebut.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra! Aku tidak kuat lagi menahan birahiku, jika kau terus seperti ini. Walaupun kau dalam keadaan tertidur pulas, namun kau benar-benar sangat menggoda ku!"
Zaid menelusuri bibir Zahrana yang merekah dengan jemari tangannya, ia pun mengelus pipi mulus Zahrana.
"Zahrana ... maafkan aku!" ucap Zaid yang hendak menempelkan bibirnya di bibir mungil Zahrana.
Namun, ia kembali teringat dengan firman Allah dalam kitab suci Al-Qur'an dan juga hadits yang pernah ia pelajari dan ia bacakan berulang-ulang kali. Bahkan ia pun sering menyampaikan ayat dan hadits tersebut ketika ia sedang berdakwah di atas mimbar pada saat kegiatan realigi khusus para anak muda yang sering ia ikuti berapa tahun terakhir ini, membuat Zaid mengurungkan niatnya untuk menyentuh bibir Zahrana.
Cukuplah firman Allah tersebut menjadi peringatan untuk seorang Muhammad Zaid Arkana yang kini sedang melawan keinginan nafsu buruknya.
__ADS_1
(وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ ******سَبِيلًا******)
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. al isra :32)
Dan hadits Nabi -صلى الله عليه وسلم- yg cukup menggetarkan jiwa seorang Muhammad Zaid Arkana sehingga ia pun perlahan meredam hawa nafsu buruknya.
لِأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمَخِيْطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ
Sesungguhnya andai kepala seseorang kalian ditusuk dengan jarum yang terbuat dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR ath-Thabarani).
"Astaghfirullah ... aku yang mengajak saudara sesama muslim ku untuk terus menerus menahan diri dari pacaran dan segala bentuk perzinahan, namun kenapa justru aku yang sekarang terlihat lemah, ternyata bisikan syaitan itu luar biasa menjerumuskan hati dan jiwa!" bathin Zaid dengan menggerutuki kebodohannya.
Zaid pun turun dari mobilnya, ia pun meninggalkan Zahrana sendirian di dalam mobil.
Dengan perasaan bersalah dan sedikit ketakutan serta sekujur tubuh terlihat gemetaran, Zaid pun setengah berlalu menuju warung kopi.
Tak peduli hujan masih turun, ia pun menerobos masuk ke dalam warung kopi tersebut.
Melihat Zaid setengah berlari dan nampak seperti orang yang sedang tidak baik-baik saja. Pemilik warung kopi tersebut pun menyapa Zaid.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas? sepertinya Mas sedang membutuhkan sesuatu?" tanya pemilik warung kopi tersebut.
"Saya pesan kopi hangat satu gelas! cuaca sedang dingin mencekam," ucap Zaid dengan nafas yang tak beraturan.
"Baiklah, silakan tunggu di meja, akan segera saya buatkan!" ucap pemilik warkop itu.
"Terimakasih, Pak!" Zaid pun memilih meja paling ujung, ia hendak merenung sejenak. Setelah ia hampir ingin merusak kesucian hati Zahrana.
"Alhamdulillah ... jika bukan karena Allah, mungkin aku sudah melakukan hal yang terburuk padanya!" bathin Muhammad Zaid Arkana dengan termenung sambil menunggu pesanan kopinya.
🌷🌷🌷
...Untaian mutiara hikmah 👉"Semakin kuat dorongan hawa nafsu yang menyuruhmu berbuat dosa, semakin besar pula pahala yang akan kamu peroleh dari meninggalkan dosa tersebut karena Allah. Hasrat duniawi menjadi sedikit seiring keimanan yang tumbuh lebih besar. Memiliki hawa nafsu buruk itu manusiawi. Melawan dorongan hawa nafsu, itulah seorang Muslim."...
🌱🌱🌱
Sambil menunggu update selanjutnya, author punya rekomendasi novel yang bagus untuk mu, tentunya dengan kisah yang menarik dan tak kalah serunya.😊😘
Judul karyanya : Belenggu Pernikahan Semu
Authorny :Teh Ijo
__ADS_1