Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
169 . Bisikan Hati part 1


__ADS_3

"Nak, Bunda yakin kau pasti sedang memikirkan apa yang telah di ucapkan oleh adikmu Raihan? setidaknya lewat tausiyah ala Raihan Arman Habibie. Yang meskipun terlihat santai dan kocak, semua yang adik mu katakan itu benar adanya, Nak."


"Nak, janganlah dirimu melihat siapa orang yang menyampaikan ilmu terhadap mu! mau ia orang alim atau orang awam sekalipun jika itu adalah hal yang baik. Dengarkanlah, dan ambil hikmahnya! seperti halnya yang di ucapkan oleh adik mu Raihan, jika itu adalah hal yang bermanfaat untuk kebaikanmu, maka dengarkanlah dan renungkanlah demi masa depan mu, Nak! agar dirimu jangan sampai salah dalam melangkah!" ucap Bunda Fatimah dengan memeluk dan mengusap pucuk kepala Zahrana.


Zahrana mendengar untaian nasehat Bunda Fatimah terhadapnya. Bisikan hatinya pun membenarkan apa yang di ucapkan oleh Bundanya tersebut.


"Terimakasih, Bun. Zahra akan menjadikan untaian nasehat Bunda juga Raihan sebagai pedoman agar Zahra bisa menjaga dan memperbaiki diri agar lebih baik lagi. Zahra akan terus berusaha meniti jalan yang di ridhoi Allah!" ucap Zahrana dengan penuh ketulusan.


"Alhamdulillah ... Bunda senang mendengarnya, Nak." Bunda Fatimah pun melanjutkan aktivitasnya menyiapkan makan malam untuk keluarga mereka.


"Zahra ke depan dulu ya, Bun? sambil menunggu kak Zaid dan Buya pulang dari Mesjid, sekalian menaruh minuman dan cemilan untuk kak Zaid di ruang tamu."


"Oh, ya silahkan Nak! Bunda juga hampir kelar menyiapkan hidangan makan malam kita!" ucap Bunda Fatimah dengan senyuman bahagianya. Bahagia sebab bisa berkumpul kembali bersama keluarga kecilnya.


Kehadiran Zahrana dan Raihan di sisinya menjadi pemantik semangat untuk Bunda Fatimah dalam menjalani rutinitasnya saat ini.


"Ya Allah ... terimakasih atas nikmat dan karunia-Mu, terimakasih Engkau telah menyatukan dan mempertemukan hamba dengan kedua buah hati hamba Zahrana dan Raihan!" bisikan hati Bunda Fatimah dengan penuh rasa haru dan bahagia.


***


Di ruang tamu.


Zahrana merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, ia menyenderkan kepalanya melepaskan segala kepenatan yang menderanya. Ia memejamkan matanya sejenak, hati dan pikirannya pun kembali mengingat sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Sedang apakah dirimu disana, Kak?" bathin Zahrana dengan terus merasakan desiran rindu yang mendera jiwanya terhadap sosok Yusuf yang telah 4 tahun terakhir ini berada di Negara Piramida itu.


"Wahai angin dan pekat malam, sampaikan salam rindu ku kepadanya! wahai insan yang di sana mungkin kah kau merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan? rindu ini sungguh menyiksa jiwa ku, sungguh aku tak tahu sampai kapan aku akan sanggup menahan segala rasa ini. Menunggu kehadiran mu, menyambut rasa di hati ku, menjadikan diriku sebagai sosok bidadari dunia dan akhirat mu! terangnya seribu bintang di malam ini, sungguh tak sanggup menerangi hati dan jiwa ku! Yang ku inginkan hanyalah dirimu cinta sejati ku!" bisikan hati Tsamirah Zahrana dengan sorot mata terpejam.


Tanpa disadari beningan cristal pun jatuh membasahi pipi mulusnya.


"Kak Yusuf, aku benar-benar merindukan sosok dirimu, kau yang telah menyentuh segenap hati dan jiwa ku. Kau yang telah mengarahkan ku untuk menjemput hidayah ku yang sempat terhempas oleh noda hitam di masa lalu ku! Aku takut jika kau telah melupakan ku. Semenjak kepergian mu menuntut ilmu di Universitas Al Azhar Mesir, di saat itu pula aku berusaha memperbaiki diri ku dan memantaskan diri ku untuk bisa bersanding dengan dirimu nantinya!" bisikan hati Zahrana.


Bersama bisikan hati dan deraian air matanya, tanpa disadari Zahrana pun terlelap di alam mimpinya ia seolah melihat sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy tersenyum kepadanya.

__ADS_1


Sosok pemuda Sholeh, dengan perawakan tinggi putih bersih. Dengan jubah dan sorban putih yang dikenakannya, menambah kharisma dan pesona dari seorang Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Jambang dan jenggot yang menghiasi wajahnya membuat Zahrana semakin terpana dengan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy. Bola mata yang teduh dan ucapannya yang lembut membuat Zahrana merasa tenang dan nyaman memandangi sosok pemuda tersebut.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, jagalah iman dan taqwa mu kepada Rabb-Mu. Tundukkanlah pandangan mu kepada yang bukan mahram mu. Teruslah perbaiki diri mu agar dirimu terus berada di jalan-Nya. Maafkan aku yang terlalu lama menggantung hatimu, bukan aku tak mencintai dan menyayangi mu! akan tetapi aku berusaha untuk menjaga rasaku terhadap mu. Sampai saat itu tiba, aku akan datang mengkhitbahmu. Tunggu aku kembali Tsamirah Zahrana Az Zahra! aku akan datang menjemput mu, dalam mengarungi bahtera hidup yang berlandaskan iman dan taqwa di atas sajadah cinta-Nya. Sungguh, aku ingin dirimu lah yang menjadi makmum untuk ku dalam mengarungi bahtera hidup dalam naungan cinta-Nya!" bisikan hati Yusuf Amri Nufail Syairazy yang dialam mimpi Zahrana.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, harapan ku semoga dirimu lah sosok bidadari dunia akhirat ku nanti. Semoga dirimu bagian dari tulang rusuk ku yang hilang! sabarlah menantiku dalam cinta dan kesetiaan dengan terus bermunajat kepada-Nya untuk kita bisa bersama-sama dalam menggapai ridho-Nya! Semoga rindu yang menghujam hati kita saat ini, semakin mengukuhkan biduk keimanan kita pada-Nya! bukan hendak meruntuhkan biduk keimanan kita. Karena sejatinya menahan diri dari sesuatu yang belum halal untuk kita akan mendapatkan pahala dan kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wata'alla!" bisikan hati Yusuf yang ditujukan untuk Zahrana ketika berada di alam mimpi.


Yusuf pun tersenyum ke arah Zahrana. Setelah mengucapkan salam kepada sosok bidadari yang di rindukannya itu, Yusuf pun menghilang dari pandangan mata Zahrana bersama seberkas cahaya putih. Zahrana pun berdiri sendiri di alam mimpinya ia memanggil nama Yusuf berulang-ulang kali.


"Kak Yusuf, jangan pergi! Jangan tinggalkan Zahra! Zahra sangat merindukan kakak!" ucap Zahrana dengan meneteskan air matanya.


Namun, seberkas cahaya itu hilang dan lenyap entah kemana? Zahrana menangis di alam mimpinya.


"Kak Yusuf jangan pergi!" ucap Zahrana dalam isak tangisnya. Air matanya pun berderai membasahi pipinya.


"Hiks ... hiks ... hiks! kak Yusuf ... kak Yusuf ... kak Yusuf!" pekik Zahrana di alam mimpinya.


Zahra terus menangis, ia berharap Yusuf kembali padanya. Namun, sesosok pemuda shaleh yang terlihat imut mengenakan jubah hitam dan peci di kepalanya datang menghampiri Zahranan dan mengusap air matanya.


"Kau ... kau ... kau, Muhammad Zaid Arkana! lepaskan aku, pergi dari hadapan ku! bukan dirimu yang aku inginkan! aku mencintaimu Kak Yusuf Amri Nufail Syairazy!" pungkas Zahrana di alam mimpinya.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, aku mencintaimu! Aku tidak akan pernah melepaskan mu!" tegas Muhammad Zaid Arkana di alam mimpi Zahrana.


"Maaf, hati Zahra kini hanya untuk kak Yusuf. Zahra mohon tinggalkan Zahra!" ucap Zahrana di alam mimpinya yang di tujukan untuk Muhammad Zaid Arkana.


"Zahra, aku mencintaimu! jangan pergi!" ucap Muhammad Zaid Arkana dengan menarik pergelangan tangan Zahrana.


"Le-lepaskan, Kak!" ucap Zahrana dengan terus berada dalam igauan mimpinya.


***


"Zahra, hei bangun! kau kenapa?" tanya Zaid menepuk-nepuk pipi Zahrana yang sedang tertidur pulas.

__ADS_1


Zaid baru saja pulang dari menunaikan ibadah shalat Maghribnya bersama Buya Harun Al Aziz.


Mendengar Zahrana menggigau memanggil nama Yusuf di dalam mimpinya. Membuat Zaid tak sampai hati melihat Zahrana dengan mata terjam, menangis pilu terus dan terus memanggil nama Yusuf membuat Zaid berinisiatif membangunkan sosok bidadari yang sedang tertidur pulas di sofa tersebut.


Zahrana pun perlahan mengerjapkan matanya, ketika mendengar suara Zaid yang berulang kali memanggil dan menepuk-nepuk pipinya.


Zahra mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, betapa kagetnya ia ketika melihat sosok Zaid dihadapannya dengan mengembangkan seuntai senyum di wajahnya yang ditujukan untuk Zahrana.


"Astaghfirullah ... ternyata aku cuma mimpi!" ucap Zahrana pelan.


Keringat Zahrana pun keluar sebesar biji jagung, oleh sebab mimpinya barusan.


Zaid memberikan tissue untuk Zahrana. "Kau nampak berkeringat, sebaiknya usap keringat mu dan tenangkan diri mu!" ucap Zaid dengan menatap lekat nanar wajah Zahrana yang masih terlihat kelimpungan oleh sebab igauan mimpinya.


"Ma-af, terimakasih!" ucap Zahrana terbata.


"Alhamdulillah ... ternyata hanya mimpi!" bisikan hati Zahrana setelah menyadari jika ia hanya bermimpi belaka.


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah 👉 "Beberapakali aku menemukan mimpiku sendiri terjerembab di depan pintu. Kuyup oleh hujan. Seperti pakaian kotor berulangkali kucuci dan kujemur di halaman luas. Pada saat saat seperti itu aku selalu ingat wajah dan matamu saat menatapku, selalu teduh dan meneguhkan. Maka aku yakin pada akhirnya jarak hanya memisahkan raga. Tapi ia tak pernah sanggup menjauhkan mimpi, imaji dan kenangan yang kita semat bersama dalam rindu yang paling dalam." ( Bisikan_H@ti Tsamirah Zahrana Az Zahra )


🌺


🌺


🌺


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya author besti dengan cerita yang tidak kalah seru dan menariknya.


Judul karyanya : Penelusuran Gaib Rania


Authornya : Novi Putri Ang

__ADS_1



__ADS_2