Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
213. Duka Dalam Cinta


__ADS_3

Nandini nampak senang dan bahagia melihat hasil ukiran Nail Henna dari Mua yang nanti akan merias dirinya dihari pernikahannya besok. Ia tak henti-henti tersenyum menatap hiasan Henna yang kini terukir indah di jemari tangan dan kakinya.


Nandini sengaja memilih ukiran Nail Henna yang terlihat menantang, sesuai karakternya yang memang pemberani dan terkesan bar-bar dari Zaman putih-biru dahulu.


"Hemmm ... warnanya sangat menantang!" gumam nandini, ia terus mengembangkan senyumannya, melihat warna cerah yang terukir indah di jemarinya.



Nandini membayangkan hari bahagianya, duduk bersanding di pelaminan bersama Arjuna Restu Pamungkas dengan begitu hikmatnya. Ukiran Nail Henna yang terukir indah di tangannya membuatnya tak henti-henti mengembangkan senyumannya.


Namun, senyuman itu perlahan memudar ketika dirinya kembali teringat dengan sosok Zainal. Sosok laki-laki dimasa putih-birunya dahulu, yang kini telah mencuri hatinya ketika ia akan melangsungkan pernikahannya dengan sosok Arjuna Restu Pamungkas. Ayah dari bayi yang kini dikandung olehnya.


Nandini mengelus perutnya yang kini hampir berusia dua bulanan, "Zainal maafkan aku!" bathin Nandini dengan meneteskan air matanya. Membuat Cinta dan Kirana Larasati merasa cemas dengan keadaan Nandini.


"Kau kenapa, Din?" tanya Cinta yang merasa tidak tenang ketika melihat calon pengantin itu menangis.


"Iya Din, apa yang terjadi hingga dirimu menangis? inikan hari bahagia mu dengan Arjuna, harusnya kalian bahagia." Kirana ikut menimpali.


Nandini bukannya menjawab, namun air matanya semakin menganak sungai oleh sebab luka hati yang kini menderanya.


"Aku teringat Zainal!" pungkas Nandini dengan memeluk erat kedua sahabatnya. Ia terus menangis dalam pelukan sahabatnya.


"Ya Allah, Din. Kamu yang sabar ya? semuanya sudah menjadi takdir Allah, belajarlah untuk ikhlas menerima semua kenyataan yang ada. Ingat! kini dirimu sedang mengandung anak Arjuna dan kalian akan segera menikah. Jangan merusak hati dan pikiran mu oleh hal yang bukan menjadi bagian untukmu," ucap Cinta memberikan support untuk Nandini.


"Benar, Din. Belajarlah untuk melepaskan dan melupakan Zainal. Mungkin ia hanyalah jodoh yang sekedar numpang lewat mewarnai sepenggal kisah dari kehidupan mu, terkadang mencintai memang tak harus memiliki. Memang berat untuk melepaskan apalagi melupakan orang yang sangat kita cintai, namun kita tidak bisa menentang takdir yang telah tergambar dalam kehidupan kita. Do'akan yang terbaik untuk Zainal agar ia pun sabar dan ikhlas menerima kenyataan yang ada. Duka dalam cinta memang sangat menyesakkan dada, namun tidak ada jalan lain yang bisa kita lakukan. Kecuali berusaha menerima semuanya dengan lapang dada," pungkas Kirana Larasati. Ia berusaha untuk menguatkan Nandini sahabatnya.

__ADS_1


Ketiga sahabat itu pun saling berpelukan, mereka saling menguatkan satu sama lain.


***


Di sisi lain, di tengah keramaian dan kesibukan orang-orang yang sedang menyiapkan prosesi pernikahan Nandini dan Arjuna besok pagi. Nampaklah Aslan yang sedang duduk termenung sejenak di kursi tamu yang memang telah ditata rapi di dalam tenda pelaminan Nandini adiknya.


Setelah pulang dari Mesjid ba'da Isya tadi, hati Aslan dirundung nestapa dan gelisah yang teramat dalam. Ia khawatir jika Zahrana, sosok bidadari yang masih dicintainya dari sejak dahulu hingga detik ini benar-benar telah di lamar oleh sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy, pemuda yang telah dijodohkan oleh Buya Harun dengan Zahrana putrinya.


"Ya Allah, semoga saja pikiran dan hatiku ini tidak benar. Sungguh, aku benar-benar tidak rela jika Zahrana sampai di lamar oleh pemuda tersebut. Zahra memang masa lalu ku, tapi bagiku ia tetap sosok wanita yang sangat istimewa di hatiku hingga detik ini nama dan wajahnya tetap terukir indah di hatiku," bathin Aslan dengan seribu tanda tanya.


"Kok melamun, Nak?" tanya Ibu Ratna Anjani sembari melihat orang-orang yang nampak sibuk menghias pelaminan Nandini dan berbagai perlengkapan lainnya, guna mensukseskan resepsi pernikahan Nandini putrinya besok pagi.


Aslan terhenyak dari lamunannya. "Nggak apa-apa, Bu. Aslan lagi merenung saja, Bu." Aslan pun meneruskan kegiatannya membantu menata perlengkapan lainnya yang belum tertata sempurna. Ia tidak ingin ibunya merudungnya dengan pertanyaan yang bukan-bukan.


"Tapi, Bu. Zahra adalah wanita yang baik-baik. Ibu telah salah menilainya," sarkas Aslan tak terima jika ibunya terus menerus menjelek-jelekkan Zahrana.


"Turuti saja apa yang ibu katakan, Nak! jika kau terus mengejarnya, jangan salahkan ibu jika melakukan hal-hal yang dapat menyakitinya. Camkan itu!" tegas Ibu Ratna Anjani dengan berlalu pergi dari hadapan Aslan.


"Tapi, Bu--"


Aslan mengacak kasar rambutnya, ibu Ratna Anjani sedikit pun tidak memberikan peluang untuk dirinya bicara, jika hal itu menyangkut tentang Zahrana. Entah apa yang membuat Ibu Ratna begitu membenci Zahrana. Aslan tidak mengerti dengan jalan pikiran ibunya.


Semua orang tampak kaget dan berbisik-bisik kecil melihat keributan yang di ciptakan oleh Aslan dan Ibu Ratna Anjani. Namun, mereka tidak ingin terlalu ambil pusing. Semua orang pun tahu akan kecongkakan ibu Ratna Anjani yang selalu memandang orang lain dengan sebelah mata, jika tidak sesuai dengan keinginan hatinya.


Ayah Anjasmara pun menghampiri putranya, "Nak, turuti saja keinginan ibu mu! itu semua demi kebaikan mu juga Zahrana," sarkas Ayah Anjasmara dengan menepuk pundak Aslan agar melupakan semua tentang Zahrana.

__ADS_1


Aslan masuk ke dalam kamarnya, ia pun mengurung diri di kamarnya. Ia berusaha untuk menetralkan kegalauan hatinya. Di bukanya lemari kamarnya, dilihatnya sebuah kotak kecil yang memang ia simpan rapi sejak lama. Begitu banyak helaian surat yang tersimpan rapi di dalamnya. Surat cinta yang kerapkali di kirimkan oleh Zahrana di masa lalu, untaian kata yang penuh makna. Namun, janji itu terlerai sudah sebab oleh satu kesalahan yang diperbuatnya. Yakni, telah merenggut ciuman pertama Zahrana ketika ia hilang kendali sebab cemburu dengan kedekatan Zahrana dengan Rivandra Dinata Admaja kala itu.


Aslan benar-benar menyesali perbuatannya, "Ya Allah, jika saja kala itu aku tidak egois. Mungkin hubungan antara aku dan Zahrana akan tetap terjalin sampai detik ini!" sesal Aslan dengan meneteskan air matanya.


Kini, untaian kata cinta yang ada di atas kertas tersebut hanya tinggal kenangan, sang bidadari hatinya tersebut kini pun telah jauh meninggalkannya, meskipun tempat tinggal mereka berdekatan, namun penghuninya pun tak bisa untuk terlihat olehnya. Duka dalam cinta di hati Aslan benar-benar menyesakkan dada dan jiwanya.


Air matanya pun semakin berlinang membasahi pipinya, wajah tampan itu pun kini terlihat mendung. Gerimis di hatinya pun kini seolah melebur dalam rasa kecewanya yang teramat dalam.


Di ambilnya kotak kecil berbentuk hati, tangisnya pun semakin menjadi-jadi cincin dan kalung berlian yang ingin ia berikan untuk Zahrana ketika ia berniat untuk melamar Zahrana dalam waktu yang tepat, namun semua itu urung ia berikan. Sebab, hubungannya kala itu gugur dan layu sebelum berkembang. Maksud hati nak peluk gunung apalah daya tangan tak sampai. Mengsedih!😭😭


***


Di kediaman Zahrana.


Sepulang Yusuf Amri Nufail Syairazy dan keluarganya dari kediamannya, Zahrana nampak bahagia. Ia menyandarkan tubuhnya di ranjang empuknya. Ia tiada henti-hentinya mengembangkan senyumannya, di kecupnya cincin di jari manisnya yang menjadi pengikat antara dirinya dengan sosok pemuda yang sangat dicintainya olehnya tersebut.


"Ya Allah, terimakasih atas rasa cinta yang telah Engkau sematkan dihatiku juga dihati kak Yusuf!" bathin Zahrana dengan terus membayangkan sosok yang terkasih.



"Ya Allah senyuman dan tatapannya benar-benar telah memikat hati ku!" bathin Zahrana dengan kembali mengingat tatapan Yusuf terhadapnya. Meskipun yang terkasih jauh dari pandangannya, namun sangat dekat dihatinya, begitulah yang kini dirasakan oleh Zahrana.


💘💘💘


Untaian mutiara hikmah 👉"Cinta sejati terpancar dari tulusnya hati ini walau cinta tak harus memiliki biar hanya ku nikmati dirimu didalam mimpi. Cinta tak harus memiliki, karena kita akan sadar bahwa cinta akan begitu menyakitkan ketika dia sudah menjadi milik orang lain. Jika hati masih ragu untuk mencintai. Mengapa harus yakin tuk memiliki. Dan akhirnya nanti hanya ingkar janji. Padahal Cinta itu suci. Bukan berakhir benci, Dan Cinta sejati itu harus saling melengkapi."

__ADS_1


__ADS_2