Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
231. Berakhir di Pusara


__ADS_3

Di kediaman keluarga Almarhum Aslan Abdurrahman Syatir, kini terlihat ramai di kerumuni oleh para pelayat yang berta'ziyah. Mereka semua hendak mengantarkan jenazah Aslan di pusara terakhirnya. Isak tangis keluarga dan handai taulan membanjiri tak terbendung menyambut kedatangan ambulance dari kantor polisi yang membawa jenazah Aslan dari balik jeruji penjara.


Para anggota kepolisian segera menyerahkan jenazah Aslan pada pihak keluarga, untuk segera di mandikan dan dimakamkan.


Nandini Sukma Dewi beserta Ibu dan Ayahnya nampak terisak-isak dalam tangisnya ketika melihat jenazah Aslan kini terbujur kaku di hadapannya.


"Nak, mengapa begitu cepatnya kau meninggalkan Ayah dan ibu serta adikmu? kami masih membutuhkan dirimu di sini menemani hari-hari kami. Ibu tidak sanggup melepaskan kepergian mu, Nak."


Ibu Ratna Anjani menggoyang-goyangkan tubuh putranya yang sudah tak bernyawa. Di tatapnya wajah tampan nan teduh itu, membuat Ibu Ratna mengusap air matanya ketika melihat wajah putranya nampak tersenyum dan terlihat bersinar seperti orang yang sedang tidur.


Jenazah Aslan begitu nampak tenang membuat siapapun yang melihatnya merasa tersentuh hatinya, seorang pendosa seperti Aslan menemui ajalnya dengan cara yang baik.


"Semoga kau tenang di sisinya, Nak! semoga husnul khotimah!" ucap Ayah Anjasmara sambil mengecup kening Aslan putranya untuk yang terakhir kalinya.


Ibu Ratna Anjani hanya bisa berdo'a di dalam hatinya agar putranya di ampuni segala dosa-dosanya, mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah dan dihindarkan dari segala azab kubur.


"Kak Aslan, Nandini ikhlas melepaskan kepergian kakak! semoga bidadari surga datang menyambut mu dengan sukacita. Nandini yakin kakak adalah orang baik, jika pun kakak pernah melakukan kesalahan itu hanyalah sebuah kekhilafan yang tidak bisa dihindari. Kakak beruntung sebab telah di panggil oleh sang Khaliq dalam keadaan yang mulia, semoga Allah ampuni segala dosa-dosa kakak. Semoga kita dapat berkumpul kembali di Jannah-Nya!" bathin Nandini dengan mengusap air matanya. Agar tidak mengenai jenazah kakaknya.


Nandini mengecup kening dan kedua pipi kakaknya untuk yang terakhir kalinya.😢😢


Semua orang yang hadir turut berdukacita melepaskan kepergian Aslan. Semua terisak-isak dalam tangisnya. Hari ini alam pun ikut berduka melepaskan sosok pemuda yang pernah terjerat dalam lumpur dosa tersebut.


***


Di kediaman orang tua Yusuf di kota S.


Di saat semua orang sibuk mengurusi pemakaman Aslan di Desa XX, lain halnya dengan Yusuf dan Zahrana setiap orang yang hadir di kediaman mereka sibuk mengurusi prosesi walimah Zahrana dan Yusuf yang akan digelar dua hari lagi.


Begitulah kehidupan, ada yang masih bernafas, ada yang dijemput kematian, ada yang baru di lahirkan. Ada yang bahagia, ada yang menangis dan berdukacita. Semua sudah menjadi kehendak yang maha esa, dan yang paling menyakitkan adalah perpisahan setelah kematian, kita tidak bisa bersua kembali dengan orang-orang terkasih, yang ada hanya kerinduan yang membekas di hati. Tiada lagi canda tawa yang bisa di lihat kecuali menatap hampa dalam kekosongan belaka. Mengsedih .😭😭

__ADS_1


"Hubby, aku ikut ya ta'ziyah ke rumah Handini? Zahra tidak apa-apa, Zahra sudah sehat, kak!"


Zahrana mengenakan jubah hitam lengkap dengan cadarnya, ia setengah memelas agar diizinkan oleh suaminya untuk ikut menghadiri prosesi pemakaman Aslan untuk yang terakhir kalinya.


"Baiklah, tapi janji kamu harus terlihat kuat dan tidak boleh goyah. Tidak boleh ketakutan dan bersedih seperti sebelumnya. Kakak tidak ingin jika dirimu merasa tertekan seperti sebelumnya."


"Insya Allah aku sudah sembuh dan aku sudah sehat dan kuat, Kak!" ucap Zahrana dengan penuh semangat. Senyuman manis di wajahnya kini terbit di balik cadar hitamnya.


Yusuf dapat merasakan kebahagiaan dan keceriaan sang istri tercintanya. Di sentuhnya pucuk kepala istrinya, dikecupnya kening bidadari hatinya tersebut.


"Mari kita berangkat yaa Zawjatii!" Yusuf merangkul tangan sang istri dengan penuh kasih dan cinta, keduanya pun melesat dengan mobil sportnya menuju rumah keluarga almarhum Aslan Abdurrahman Syatir.


Sementara Ummi Yasmin dan Abi Farhan tetap di rumahnya mengawasi orang-orang yang sedang sibuk bergelut di dapur dan di luar ruangan untuk mendekorasi tenda dan pelaminan yang masih belum tertata rapi untuk walimahan anak menantunya nanti. Hanya Zahrana dan Yusuf yang mewakili ta'ziyah kerumah mendiang Aslan Abdurrahman Syatir.


***


Bagaimana pun juga segala kenangan masa kecilnya tidak pernah hilang dari pikirannya, juga hubungan istimewa yang pernah terjalin ketika masa putih biru mereka masih terus terngiang-ngiang hingga ikatan itu berakhir. Sampai di saat ia beranjak dewasa Aslan terus mengejarnya, namun ia terus menolaknya. Hingga berujung aksi nekad Aslan hendak menodainya, hal tersebut masih membekas di hati Zahrana. Meskipun rasa trauma perlahan menghilang dengan kehadiran sosok Yusuf suaminya yang selalu setia menemani hari-harinya.


"Yaa Zawjatii, kamu sudah berjanji akan kuat apapun yang akan terjadi nanti. Sungguh, kakak tidak ingin membuat mu sedih." Yusuf menatap manik mata isterinya yang telah berembun.


"Maafkan Zahra, Kak. Zahra hanya turut berduka," ucap Zahrana dengan terus menggenggam erat jemari tangan suaminya.


Keduanya pun mengucapkan salam dan menemui tuan rumah. Semula orang-orang merasa kaget dengan sosok wanita bercadar hitam tersebut. Namun, manik mata mereka tertuju pada Yusuf yang juga mengenakan jubah hitam seragam dengan Zahrana istrinya.


"Zahra!" Nandini menghamburkan diri kedalam pelukan sahabatnya, ia tidak bisa berucap apa-apa lagi selain isak tangis yang tiada henti-hentinya membanjiri pipinya.


"Sabar, ya Din. Semuanya sudah kehendak yang maha kuasa, takdir hidup dan kematian seseorang telah Allah tetapkan, meski kita berada di dalam gedung tinggi sekali pun. Sejatinya, setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, termasuk diri kita sendiri. Ikhlaskan semuanya, do'akan yang terbaik untuk almarhum kakak mu, semoga ia tenang di alam sana, semoga diakhirat nanti kita dapat berjumpa kembali dengan beliau." Zahrana memeluk dan mengusap punggung Nandini sahabatnya.


Yang semakin membuat Nandini bertambah sedih dan kehilangan tempat bertumpu adalah suaminya Arjuna Restu Pamungkas suaminya tidak dapat dihubungi. Katanya sedang dinas diluar kota, entah dinas apa Nandini pun tidak ingin terlalu banyak tanya. Mengingat perjalanan bisnis suaminya yang semakin berkembang pesat mengelola bisnis travel keluarganya yang katanya punya cabang di pusat kota, entah benar tidaknya Nandini sama sekali tidak mengetahuinya mengingat banyaknya kegiatan bisnis suaminya semenjak hampir 3 bulan menikah.

__ADS_1


"Jangan bersedih lagi, Din! kami selalu ada untuk mu," ucap teman-temannya yang lain Cinta, Kirana, Fadhilah dan Hafidzah. Mereka semua saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain.


Sementara Yusuf, ia bergabung dengan para jama'ah laki-laki yang mana kini ada Buya Harun Al Aziz mertuanya yang mengurusi dan mengkafani jenazah Aslan. Buya Harun juga yang nanti akan menjadi imam sholat untuk jenazah Aslan sebelum dimakamkan.


Yusuf pun ikut membantu memandikan dan juga mengkafani jenazah Aslan. Ia telah memaafkan semua kesalahan Aslan yang sempat ingin menodai istrinya. Ia tidak ingin aku rasa dendam, iri dengki dan dongkol terhadap Aslan. Sebagai saudara sesama muslim Yusuf merasa mempunyai kewajiban memandikan, mengkafani, menyolati serta mengantarkan jenazah Aslan sampai ke liang lahat.


Teman-teman dan handai taulan lainnya nampak berbondong-bondong ikut menyolati jenazah Aslan di Mesjid Al Hidayah. Virgantara teman kuliahnya dahulu pun ikut menyolatinya. Rangga Sahadewa, Rivandra Dinata Admaja, dan juga teman-teman Nandini lainnya, pun ikut ke pemakaman Aslan. Semua nampak sedih melepaskan kepergian Aslan di pusara terakhirnya.


Ibu Ratna Anjani mendadak tak sadarkan diri ketika Aslan hendak dimasukkan ke liang lahat oleh Buya Harun, suaminya Ayah Anjasmara, Yusuf Amri Nufail Syairazy juga dua orang lainnya.


Zahrana yang berada tak jauh dari ibu Ratna pun menahan tubuh Ibu Ratna semampunya, hingga beberapa orang yang hadir di pemakaman Aslan pun segera membawa Ibu Ratna ke tempat yang lebih teduh.


Zahrana dengan telatennya mengobati Ibu Ratna dengan cara mengoleskan minyak angin aromatherapy kehidung ibu Ratna.


Nandini, Cinta , Kirana juga ibu-ibu yang lainnya sangat cemas dengan keadaan ibu Ratna yang begitu terpuruk dengan kematian putranya.


Ibu Ratna mengerjapkan matanya, ketika melihat Zahrana di sampingnya. Ia pun memeluk erat Zahrana. Tangis ibu Ratna pun pecah dan menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya.


"Nak Zahra, maafkan Ibu selama ini selalu membencimu. Ibu sadar selama ini telah menyakiti mu dan menganggap mu tidak bermakna. Maafkan putra ibu yang telah berniat melakukan hal yang keji kepada mu!" ucap Ibu Ratna disela isak tangisnya.


"Ibu, Zahra sudah memaafkan ibu juga kak Aslan. Tidak ada hal yang harus membuat aku marah atau pun membenci segala hal yang telah terjadi. Dan itu adalah masa lalu yang layaknya untuk dijadikan sebuah pelajaran. Semoga dimasa depan kita bisa berproses menjadi baik dibandingkan hari kemarin."


Zahrana pun balas memeluk ibu Ratna dengan penuh kasih. Kini tinggallah mereka yang masih berdiri menatap hampa gundukan tanah yang telah terpahat batu nisan juga taburan bunga, setelah do'a-do'a di lafalkan. Hari ini cerita kisah kehidupan Aslan berakhir di pusara yang menjadi saksi bisu bahwa kini ia benar-benar telah tiada untuk selama-lamanya. Sampai akhirnya semua orang satu persatu meninggalkan pemakamannya, tiada keluarga yang ikut menemani, tiada harta benda yang dibawa mati kecuali amal dan perbuatan baik yang menyertai.


"Selamat jalan, wahai kasih yang tak sampai! semoga dirimu tenang dialami sana. Sungguh, aku telah ikhlas memaafkan mu. Semoga Allah pertemukan dirimu dengan bidadari surga yang seribu kali mempesona dari pada bidadari dunia!" bathin Zahrana penuh dengan kesedihan yang mendalam.


🌹🌹🌹


Untaian mutiara hikmah 👉 "Tidak ada jaminan sama sekali dalam hidup ini. Tapi kematianlah yang benar-benar menjamin segalanya. Tapi, mengapa kita masih saja terlalu sibuk memperhatikan hidup daripada kematian? Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kepada-Nya kita semua pasti akan kembali. Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan menghampirimu, meski kamu berlindung di dalam sebuah benteng yang sangat tinggi dan kukuh."

__ADS_1


__ADS_2