Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
179 . Mawar Merah Berduri


__ADS_3

"Maa syaa Allah ... begitu sempurnanya engkau diciptakan Tsamirah Zahrana Az Zahra! sungguh, aku semakin mengagumi mu serta ingin memiliki dirimu, jadilah permaisuri ku dan bidadari dunia dan akhirat ku, aku sungguh terpesona pada dirimu!" bathin Zaid dengan memetik setangkai mawar merah yang kuntumnya harum semerbak wangi di indera penciumannya.


Zahrana perlahan membuka netranya, betapa canggung, terkejut sekaligus terpesona, itu lah yang di rasakan Zahrana saat melihat Muhammad Zaid Arkana tepat berdiri di hadapannya dengan memegang sekuntum bunga mawar merah yang hendak di persembahkan untuknya.


"Kak Zaid, kauuu?" pekik Zahrana dengan debaran jantung yang berdegup kencang ketika melihat sosok Muhammad Zaid Arkana semakin mendekat ke arahnya.


Zahrana perlahan mundur selangkah demi selangkah ketika Zaid hendak mendekatinya, detak jantungnya pun terasa bertalu-talu ketika melihat wajah tampan nan imut itu menatapnya dengan penuh arti.


Zahrana tidak menyadari jika dipijakannya yang tinggal selangkah lagi ada bongkahan batu kerikil yang cukup mengganggu jika sampai tersandung di pijakannya.


"Subhanallah ... astaghfirullah!" Zahrana oleng, bagai berdiri di atas angin. Hampir saja ia hilang keseimbangan.


Zaid dengan sigap menarik Zahrana dalam dekapannya, dalam keadaan keduanya saling berputar-putar dan akhirnya bertumpu dalam dekapan Muhammad Zaid Arkana.


Seketika manik matanya keduanya pun saling beradu pandang. Ada rasa yang tak biasa menjalar di sekujur tubuh keduanya, bagaikan besi berani bertemu dengan medan magnetnya, hingga keduanya pun seperkian detik saling memandangi dan mengagumi satu sama lain.


Magnet cinta itu pun perlahan merasuki dan menempel pada sebuah bentuk yang bernama hati. Tak ayal keduanya pun saling terpikat dan terpesona satu sama lain.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, manik mata indah itu dan kecantikan rona wajah mu benar-benar menghipnotis diriku! sungguh pahatan yang sangat indah dan luar biasa dari Sang Maha Kreator yang telah menciptakan dirimu sesempurna ini!" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana.


"Muhammad Zaid Arkana, mengapa diri mu hadir dalam kehidupan mu, ketika diriku sedang memantaskan diriku untuk bersanding dengannya? mengapa dirimu hadir ketika diriku sedang berusaha untuk menjalani proses hijrah ku yang telah 4 tahun terakhir ini aku terus berjuang agar jangan sampai bersentuhan dengan namanya laki-laki? mengapa kau dengan mudahnya menyentuh hatiku seperti ini!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.


Zahrana dan MZ Arkana pun masih terus memandangi satu sama lain, keduanya benar-benar larut dalam perasaan dan pikiran masing-masing. Keduanya tidak menyadari jika dua bocah lugu nan lucu sedang memperhatikan adegan romantis mereka berdua dari balik jendela kamar depan yang berhadapan dengan taman bunga tersebut.


"Kak Yumna, apa cih yang di lakukan oleh Ammah Zahra dan Ammi Zaid itu? meleka lomantis cekali, seperti Ummi dan Abi!" ucap Shaka yang berusia 5 tahun. Ia masih kesusahan menyebut huruf S dan R.😁😁


"Hemmm ... itu apa yach? nanti kakak pikirkan dulu!" ucap Yumna sambil menggaruk kepalanya. Ia khawatir salah ucap dan memberikan jawaban yang toxic pada adiknya.


Bagaimana pun kini usia Yumna sudah menginjak 8 tahun lebih, ia baru naik kelas 4 SD, setidaknya ia sudah sedikit memahami hal yang tabu seperti yang dilakukan Zaid dan Zahrana.


Iya, tepatnya Yumna sudah sedikit memahami di bandingkan dengan Shaka kecil.


"Lama betul jawabna kak, itu namana olang caling cinta, Kak!" ucap Shaka sembari meragakan jemari tangannya berbentuk love atau hati.

__ADS_1


Manik mata Yumna membola sempurna mendengar ucapan si kecil Shaka. Ia mencubit pipi gembul milik Shaka, "Dek, itu area privasi orang dewasa. Shaka masih kecil, jangan berpikir terlalu jauh! itu Ammi Zaid sedang menolong Ammah Zahra yang sedang kesulitan, tadi kaki Ammah Zahra hampir tersandung batu. Nah, Ammi Zaid datang menyelamatkannya!" pungkas Yumna dengan penjelasan yang dapat dimengerti oleh Shaka.


Shaka pun mengangguk mengerti, ia pun turun dari tempat tidurnya. Setelah dari sejak tadi mengintip adegan yang diciptakan oleh Tsamirah Zahrana Az Zahra dan Muhammad Zaid Arkana di mata polosnya.


"Shaka, mau kemana?" tanya Yumna dengan berusaha menahan langkah si kecil Shaka.


"Shaka mau nyampelin Ammah Zahra dan Ammi Zaid. Kasian Ammah Zahra, nanti kakinya beldalah dan tel-luka gala-gala telsandung batu!" ucap Shaka dengan setengah berlari menuju taman depan hendak menghampiri Zahrana dan Zaid yang masih saling berdekapan dan memandangi satu sama lain.


Yumna menepuk jidatnya pelan, ketika melihat tingkah Si kecil Shaka.


"Dek, tunggu! Ammah Zahra baik-baik saja, kok!" pekik Yumna. Pasalnya Shaka berlari membawa kapas dan Betadine untuk mengobati Zahrana.


Shaka mengira Zahrana benar-benar jatuh dan tersandung batu.


"Ammah Zahra, Ammi Zaid! Shaka bawakan obat luka untuk Ammah Zahra, semoga Ammah cepat cembuh!" ucap Shaka dengan tangan mungilnya, segera memberikan kapas dan obat Betadine untuk Zahrana.


Zahrana dan Zaid seketika menoleh pada sumber suara, keduanya pun saling lirik pandang. Zaid pun perlahan melepaskan Zahrana dari dekapannya.


Zahrana berusaha menahan tawanya, ketika melihat tingkah lucu keponakannya tersebut.


"Shaka, dengarkan Ammah Zahra ya? Ammah sedang tidak terluka, hanya Ammah hampir tertusuk oleh mawar merah berduri itu! sebab jika sudah tertusuk lukanya pun akan terasa sangat dalam!" ucap Zahrana dengan sekilas melirik bunga mawar merah yang ada dalam genggaman Muhammad Zaid Arkana.


Zaid merasa tercubit hatinya, ketika mendengar penuturan Zahrana, ia pun meremas sekuntum bunga mawar merah yang masih ada dalam genggamannya, ia sangat mengerti makna ucapan Zahrana. Ada rasa kecewa disudut hati Muhammad Zaid Arkana. Barulah ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Zahrana. Namun, hanya dengan satu patah kata yang di ucapkan Zahrana pada si kecil Shaka sudah mewakili dengan tegas dan jelas jika Zahrana menolak dirinya secara halus.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, aku sungguh telah jatuh hati dan tergila-gila pada mu! mengapa dirimu tega menghempas rasa ku terhadap mu! apa artinya tatapan mata mu, sentuhan lembut ku terhadap mu. Sedikit pun tidak ada diriku di hatimu! andai saja kau mampu memahami dan menyelami dasar hatiku, kau akan tahu betapa dalamnya rasaku terhadap mu yang kini sedang bergelombang di kedalaman hati ku yang paling dalam!" bathin Muhammad Zaid Arkana dipenuhi rasa kecewa pada Zahrana.


Melihat kekecewaan yang tampak di nanar wajah Zaid membuat hati Zahrana merasa sakit dan sangat tercubit.


"Maafkan Zahra kak, sungguh diriku tidak ingin memberikan peluang untuk sebentuk hati yang lain bertumbuh di hatiku. Cukup hanya kak Yusuf seorang yang bertahta di hatiku tiada yang lain!" bathin Zahrana menegaskan.


Shaka terlihat bingung, melihat kedua orang dewasa di hadapannya ini saling diam dan tidak banyak bicara kecuali hanya lirik pandang membuatnya berpikir keras.


"Ammi Zaid, kenapa mawarnya di lemas? untung saja nggak ada duli-nya, kalau tidak tangan Ammi pasti tel-luka!" ucap Shaka dengan polosnya.

__ADS_1


Zaid mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Shaka. Ingin rasanya ia tertawa lebar mendengar ucapan Si kecil Shaka.


Zaid berjongkok di hadapan Shaka, "Hey, anak manis! dengarkan Ammi ya? Ammi tetap menyukai mawar merah berduri itu! suatu saat nanti, Ammi akan memetik kembali bunga mawar itu. Semakin ia berduri, semakin Ammi menyukainya, mawar merah berduri itu sungguh lebih cantik dan anggun jika ia terus bertumbuh dan bermekaran di antara bunga-bunga," ucap Zaid yang dengan mengelus pucuk kepala Shaka, ia pun mengembangkan senyumnya.


Zaid benar-benar bertekad untuk mengejar cinta Zahrana bagaimana pun keadaannya.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra setajam apa pun ucapan mu dan sekuat apapun dirimu berusaha untuk menjauhi ku. Aku tidak akan membiarkan mu berlalu pergi dari hidup ku. Aku benar-benar mencintai mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin MZ Arkana dengan mengalihkan pandangannya pada sosok si kecil Shaka dan menggendongnya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Zahrana yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Kak Zaid, kenapa tekadmu begitu kuat sekali, walaupun dalam bahasa isyarat setangkai bunga mawar yang berduri pun kau tidak menyerah untuk merengkuh diri ku dengan cara mu sendiri yang terkadang sangat sulit untuk diriku menafsirkannya."


Zahrana memijit pelipisnya, "Ya Allah ... kenapa kak Zaid begitu kokoh dengan keyakinannya, aku tidak boleh goyah dihadapannya. Aku tidak boleh sampai terbuai oleh pesona dan caranya yang sewaktu-waktu ia bertekad untuk melakukan hal-hal yang diluar jangkauanku!" bathin Zahrana. Ia menghentikan menyirami bunganya, ia melihat ponselnya sudah menunjukkan pukul 06.30.


"Astaghfirullah ... tinggal 30 menit lagi menuju tempat kerja Aisyah boutique colection!" bathin Zahrana dengan setengah berlari masuk ke dalam rumah. Segenap aktivitasnya menyiram bunga pun ia tinggalkan semuanya lantaran di kejar-kejar waktu.


"Ammah, tunggu!" pekik Yumna, yang dari tadi menjadi pendengar setia antara Zaid, Zahrana dan Shaka.


Zahrana menoleh.


"Yumna!" pekik Zahrana.


🌷🌷🌷


Pencerahan 👉 "Suatu saat akan tiba masanya dimana kau yang menunggu dan aku yang tak pernah datang. Bagian tersulit mencintai seseorang adalah menunggu dia membalas cintamu. Memperbaiki diri jauh lebih baik daripada sekedar menunggu karena jodohmu akan setara dengan kualitas kepribadianmu."


💮


💮


💮


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya Author besti, kak.😊😘, tentunya dengan cerita yang lebih menarikn dan tidak kalah serunya.


Nama Pena : Adindara

__ADS_1


Judul karya : Kurebut Suami Kakak ku



__ADS_2