
Zahrana masih termangu mengingat kembali peristiwa yang menimpanya barusan. Ia masih syok ketika mengingat kembali bagaimana Aslan hendak merenggut paksa mahkota berharganya yang selama ini ia jaga dengan baik.
Meskipun aksi tersebut gagal tetaplah menyisakan trauma disudut hatinya.
"Ra, jangan bersedih dan jangan kecewa atas bagian dari takdir Allah untuk mu. Aku akan secepatnya menikahi mu agar tidak ada lagi yang menyakitimu. Agar kau percaya bahwa ada seorang laki-laki yang begitu setia menanti dan mendampingi dirimu di sepanjang hidup mu!" ucap Yusuf dengan setia menemani Zahrana yang kini terbaring lemah dikamar rumah sakit.
Zahrana hanya menatap sendu ke arah Yusuf, ia seolah tidak ingin memberatkan Yusuf dengan luka bathin yang kini sedang menderanya.
"Maafkan aku kak Yusuf," bathin Zahrana menangis pilu.
Ketika Aslan ditangkap polisi berapa jam yang lalu, Yusuf segera membawa Zahrana kerumah sakit terdekat guna melakukan pertolongan pada Zahrana yang terlihat lemah oleh sebab masih syok dengan kejadian yang dialaminya berapa jam yang lalu.
Zahrana masih terdiam, ia tidak ingin bicara sama sekali. Batinnya merasa sangat tersiksa. Ia pun masih terlihat ketakutan dengan insiden yang menimpanya. Air matanya tiada henti-hentinya mengalir.
Yusuf tidak mungkin memeluk Zahrana dan mengusap air mata di wajah gadis malang itu. Mengingat keduanya belum halal untuk bersentuhan.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh aku tak sanggup melihat mu seperti ini? apa aku harus segera melangsungkan pernikahan kita dirumah sakit ini agar aku bisa mendekap mu dan mengobati luka hati mu!" bathin Yusuf benar-benar tak sanggup melihat kepedihan hati calon bidadarinya.
"Ra, kamu makan dulu ya?" ucap Yusuf dengan menyodorkan sendok makan ke mulut Zahrana. Zahrana pun menerima suapan bubur nasi tersebut. Ia tidak ingin membuat Yusuf kecewa padanya jika terus menerus menyiksa dirinya sendiri.
"Terima kasih, Kak!" ucap Zahrana dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca. Ia merasa bersyukur sebab masih ada pemuda seperti Yusuf yang begitu mengasihinya dengan tulus.
"Kak, jika kakak ingin membatalkan pernikahan kita tidak apa-apa kak! Zahra tidak pantas untuk mendampingi kakak," ucap Zahrana dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca. Ia tidak ingin Yusuf ikut menanggung beban lantaran musibah berat yang sedang di alaminya saat ini.
Yusuf berhenti menyuapi wanita yang sangat dikasihinya tersebut.
"Dengarkan aku Ra, hari ini juga aku akan segera menikahi mu. Di tempat ini juga, aku akan meminta restu dari kedua orang tua kita!" ucap Yusuf penuh keseriusan. Membuat Zahrana terhenyak dan kehabisan kata-kata. Ia tidak pernah mengira jika Yusuf akan melakukan hal yang tabu ini. Padahal, rencana pernikahan mereka sekitar dua bulan lagi. Namun, karena melihat musibah yang menimpa calon istrinya Yusuf pun tidak ingin menunda-nunda lagi ikatan yang sakral diantara mereka, agar ia lebih leluasa untuk mendampingi dan merawat bidadari hatinya tersebut.
"Iya, kami merestui pernikahan kalian hari ini juga!" ucap kedua orang tua mereka yang masuk dari balik pintu. kedua orang tua mereka sudah dari sejak 5 menit yang lalu mendengar percakapan putra dan putri mereka. Mereka sengaja belum ingin masuk ke dalam ruangan tempat di mana Zahrana kini di rawat.
"Umi, Abi!" ucap Yuyuf dengan menoleh ke sumber suara.
"Ayah, Bunda. Kalian!" ucap Zahrana setengah histeris.
Zahrana merasa kaget ketika kedua orang tua mereka kini hadir bersamaan di antara mereka. Dan yang lebih mengejutkan lagi di belakang mereka sudah ada Pramuja dan Zaid, juga Sabrina dan kakak iparnya Fadhan Arkan, juga dua ponakannya Shaka dan Yumna.
"Kami sudah mendengar semua musibah yang menimpa mu, Nak. Bunda tidak menyangka si Aslan anaknya Ratna dan Anjasmara ingin melakukan tindakan asusila pada mu. Bunda akan segera menuntutnya agar mendekam di jeruji penjara dalam waktu yang lama!" ucap Bunda Fatimah geram, ia pun memeluk dan mencium kening putrinya.
Zahrana merasa tenang dengan kehadiran orang-orang terkasihnya.
"Sabar ya, Dek. Semoga Allah memberikan mu kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi semua ujian ini. Kakak yakin Zahra adalah wanita yang kuat!" ucap Sabrina dengan memeluk erat tubuh adiknya.
"Iya, Nak. Ummi akan segera mempercepat proses pernikahan kalian hari ini juga. Ummi tidak ingin kehilangan menantu Ummi," ucap Ummi Yasmin dengan meneteskan air matanya.
__ADS_1
Zahrana tidak bisa menolak permintaan Ummi Yasmin, mengingat kebaikan dan kelembutan beliau.
"Kita akan melangsungkan pernikahan putra dan putri kita ba'da Ashar nanti, menunggu kedatangan putra sulung kami dari kota P, Raffa Nauzan Al Fareed beserta anak istrinya!" ucap Buya Harun dengan mengambil keputusan yang sudah bulat.
Buya Harun ingin putrinya ada yang menjaga, dan membalut luka hatinya yang perih. Ia sangat teriris melihat putrinya hendak di lecehkan oleh seorang pemuda yang selama ini dianggap olehnya seperti anaknya sendiri. Mengingat sopan santunnya Aslan selama ini terhadapnya.
Buya Harun menahan tangis dan air matanya, ia tidak ingin putri kecilnya semakin terbebani jika melihat ia bersedih.
"Baiklah, kami akan segera mempersiapkan maharnya. Hari ini juga kita sepakat untuk menghalalkan putra dan putri kita!" timpal Abi Farhan penuh semangat. Ia berusaha terlihat tegar, sebagai seorang laki-laki ia merasa miris dengan musibah yang menimpa calon menantunya. Pikirnya, alangkah tidak berakhlaknya sebagai seorang laki-laki ingin menodai seorang wanita yang belum halal untuk dimiliki.
Fardhan, Zaid dan Pramuja hanya bisa membatin dalam hati. Mereka sangat geram atas perbuatan asusila yang dilakukan oleh Aslan. Sehingga hampir saja merenggut kesucian Zahrana.
"My sepupu my bidadari, maafkan aku tidak bisa untuk menjaga mu. Aku do'akan semoga dirimu berbahagia dengan Yusuf Amri Nufail Syairazy! ia yang terbaik untuk mu!" bathin Pramuja meringis pilu.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, aku ikhlas melepas mu dengan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy. Ia lah pemuda yang telah dipilihkan oleh Allah Subhana wa taala untuk mu!" bathin Muhammad Zaid Arkana. Ia pun segera keluar dari ruangan itu dan memilih untuk duduk di teras rumah sakit. Begitu pun dengan Pramuja ia pun memilih untuk duduk di luar ruangan.
"Kenapa kau ikut-ikutan pilu? harusnya yang patah hati itu aku!" sarkas Zaid dengan mimik wajah sedihnya.
"Aku juga patah hati tahu, asal kau tahu aku pun sangat mencintai Zahrana sepupu ku. Jika saja ia bukan sepupu ku, tentu aku yang akan menikahinya!" ucap Pramuja dengan tak sengaja meluahkan isi hatinya kepada Zaid sahabatnya.
"Apaaaa?" tanya Zaid setengah histeris. Ia tidak menyangka jika Pramuja benar-benar menyukai Zahrana lebih dari saudara sepupunya.
"Tak usah sok kaget, orang patah hati juga!" ucap Pramuja dengan mimik wajah mengsedihnya.
"Awww ... sakit!" ucap Pramuka dengan meringis kesakitan ketika ada yang menjewer telinganya.
Tante Asma Nadia dan Om Nazrul Anwar hendak menjenguk Zahrana di rumah sakit, ketika mendengar Zahrana keponakannya tertimpa musibah.
"Dasar anak nakal! kau akan segera ibu nikahkan dengan anak teman ibu Si Priska Prahara," ucap Ibu Asma Nadia dengan melepaskan jewerannya di telinga putra semata wayangnya itu.
"Hahaha, ternyata gede-gede masih anak ibu!" ujar Zaid spontan. Ia tidak menyadari seseorang menatapnya dari kejauhan, dengan tatapan penuh arti dari ruangan khusus persalinan yang berseberangan dengan ruang VIP tempat Zahrana di rawat.
"Arkana, sedang apa dirinya disini?" gumam Dokter Rufaidah Al Aslamiyah.
Zaid menghentikan tawa renyahnya ketika netranya tak sengaja bertemu pandang dengan sosok Rufaidah yang sejak berapa hari terakhir ini hadir dalam pikirannya.
"Rufaidah!" bathin Zaid dengan tersenyum pada sosok wanita tersebut.
Rufaidah pun berjalan menuju ke arah Zaid yang kini sedang bersama Pramuja, Tante Asma Nadia dan Om Nazrul Anwar.
Dokter Rufaidah pun menyapa Zaid dan juga menyalami Tante Asma Nadia dan juga Om Nazrul, "Apa kabar Arkana? sedang apa disini? siapa yang sakit?" tanya Dokter Rufaidah.
"Kami sedang menjenguk Zahrana," ucap Zaid.
__ADS_1
Dokter Rufaidah pun mengernyitkan dahinya, sebab kemarin Zahrana terlihat sehat dan baik-baik saja. Namun, tiba-tiba masuk rumah sakit. Sehingga membuat Dokter Rufaidah merasa heran. Tapi, ia tidak ingin terlalu banyak tanya. Ia pun segera menyempatkan dirinya menjenguk Zahrana bersama Tante Asma Nadia, Om Nazrul, Zaid dan Pramuja.
***
Waktu pun semakin bergulir dengan cepat, ba'da Ashar kini semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruangan rawat Zahrana.
Raffa Nauzan Al Fareed kakak sulung Zahrana telah datang bersama istrinya Annisa dan buah hatinya dari kota P. Mereka memang jarang pulang ke Desa lantaran kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan. Selain jarak tempuh yang begitu jauh membuat mereka tidak bisa pulang ke desa sesering mungkin.
Dua orang saksi dari pihak keluarga Yusuf dan juga keluarga Zahrana beserta penghulu pun hadir menjadi saksi ijab qobul kedua anak manusia tersebut.
Semua nampak tegang menyaksikan berlangsungnya proses ijab qobul Zahrana dan Yusuf.
"Apakah semua sudah siap untuk melangsungkan pernikahan Ananda Yusuf dan Zahrana?" tanya Pak Penghulu kepada semua yang hadir di ruangan VIP Zahrana.
Zahrana kini telah mengenakan jubah putih lengkap dengan cadarnya untuk menutupi wajahnya. Ia menyandarkan tubuhnya di brankarnya. Sesuai kesepakatan antara ia dan Yusuf, Zahrana memang berniat untuk mengenakan cadar ketika bersanding dengan Yusuf.
Yusuf pun menggunakan gamis Ikhwan berwarna putih, berpadu dengan warna jubah Zahrana yang di belikan oleh Ummi Yasmin sebelum ijab qobul putra dan putri mereka.
Buya Harun pun turun tangan menikahkan putri kesayangannya dengan sosok santri kesayangannya Yusuf Amri Nufail Syairazy dengan penuh hikmat, di saksikan pula oleh penghulu dan segenap yang hadir di ruangan tersebut.
"Wahai ananda Yusuf Amri Nufail Syairazy, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Tsamirah Zahrana Az Zahra binti Harun Al Aziz dengan seperangkat alat sholat dan 100 gram emas di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Tsamirah Zahrana Az Zahra binti Harun Al Aziz dengan yang tersebut di bayar tunai!" ucap Yusuf dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi? apakah sah?" tanya penghulu yang mendampingi Buya Harun untuk menikahkan putrinya barusan.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
Semua yang hadir nampak terharu ketika menyaksikan proses berlangsungnya pernikahan antara Zahrana dan Yusuf.
Yusuf pun segera memasukkan cincin pernikahan mereka di jemari tangan milik Zahrana yang kini telah sah menjadi istrinya. Tubuhnya terasa bergetar hebat ketika tangannya menyentuh jemari tangan istrinya, begitupun Zahrana ia refleks berangkat dari pembaringannya ketika menyadari ia telah sah menjadi istri Yusuf.
"Kak Yusuf," ucap Zahrana dengan air mata haru yang membasahi cadar yang kini dikenakan olehnya. Ia pun mencium punggung tangan suaminya dengan penuh ketundukan pada sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy yang kini telah menjadi imamnya.
"Zahra istri ku!" ucap Yusuf dengan perasaan yang sangat bahagia sebab kini Zahrana telah halal untuk ia menyentuhnya.
Dengan sekujur tubuh yang masih bergetar Yusuf pun mengecup lembut kening istrinya. Membuat semua yang hadir di sana merasa terharu dan ikut meneteskan air matanya menyaksikan kisah cinta antara Zahrana dan Yusuf. Keduanya harus menikah dengan cara seperti ini. Ketika Zahrana sedang terbaring di rumah sakit, oleh sebab musibah yang tak terduga menimpanya kini.
💟💟💟
__ADS_1
Untaian mutiara hikmah 👉"Menikah adalah sebuah proses menerima kekurangan pasangan yang tidak engkau temui ketika ta'aruf dengannya. Menikah adalah solusi terbaik seorang pemuda karena dengannya sempurnalah separuh agama dan perjalanan hidup. Sesungguhnya menikah memerlukan perjuangan panjang dan lama, akan tetapi terasa indah.