Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
139 . Bertanggung Jawab ( Pov Arjuna-Nandini )


__ADS_3

Pramuja vs MZ Arkana, sama-sama kecewa mendengar penuturan Buya Harun jika Zahrana hendak dijodohkan dengan santrinya yang sedang menuntut ilmu di negara Piramida itu.


Pramuja kecewa dan menyesali kenapa Zahrana berstatus sebagai sepupunya, hingga ia hanya bisa mencintai Zahrana dalam angannya.


Berbeda dengan Muhammad Zaid Arkana, ia yang telah pun menaruh rasa terhadap Zahrana dan ingin menjadikan Zahrana sebagai makmumnya. Pun harus menelan pil pahit dengan ucapan Buya Harun yang ingin menjodohkan Zahrana dengan Santrinya itu.


"Jodoh, rezeki, maut memang menjadi urusan Allah. Namun, sebelum janur kuning melengkung tidak ada salahnya aku berjuang untuk mendapatkan hati Zahrana!" cicit Muhammad Zaid Arkana yang memang mulai tergila-gila pada Zahrana.


Di tengah keterpakuan mereka, panggilan adzan shalat Ashar pun menggema di penjuru kediaman yang kini ditempati oleh Pramuja Wisnu Baskara.


Sejenak, mereka diam terpaku. Namun, MZ Arkana segera mencairkan suasana hatinya yang tidak tenang lantaran sang dambaan jiwa telah pun di jodohkan oleh Ayah Handanya dengan sosok pemuda Sholih Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Maaf, sudah waktunya sholat Ashar. Saya izin berjama'ah di Mesjid dulu, Buya." Zaid pamit undur diri pada Buya Harun, juga pada semua yang hadir disana.


"Baiklah, Nak Zaid. Ayo kita jama'ah bersama-sama di Mesjid!" Buya Harun pun membersamai Muhammad Zaid Arkana.


"Kamu juga, Pramuja Wisnu Baskara. Mari ikut bersama, kita berjama'ah di Mesjid!" Buya Harun menepuk pundak keponakannya itu.


"Siap, Buya." Pramuja pun bergegas mengambil peci dan baju Koko beserta sarung sholatnya, dan mengenakannya dengan sempurna. Hingga tampaklah tubuh Pramuja yang kekar dan besar tinggi terlihat keren dengan penampilannya yang sangat religius kali ini.


"Hemmm ... anak Ibu, begini baru tampan!" ucap Bu Asma Nadia dengan memeluk putranya yang kini sudah terlihat matang dan dewasa diusianya yang ke 24 tahun.


Pramuja tersenyum manis, hingga nampaklah deretan gigi putih yang berbaris rapi melengkapi kesempurnaan wajahnya yang memang terlihat tampan dan mempesona.


Pramuja pun menyalami Bu Asma Nadia juga Bunda Fatimah, dan tentunya tidak lupa pamit dengan sosok Bidadari terlarangnya yang tidak bisa untuk ia miliki, hanya sekedar mencintainya didalam hati, lantaran ikatan darah saudara sepupu yang mengalir di antara keduanya.


"My sepupu, my bidadari ku! Mas berangkat dulu," ucap Pramuja menatap lekat nanar wajah Zahrana.


"Maa syaa Allah ... ternyata Mas Pramuja, terlihat religius sekali jika seperti ini!" puji Zahrana.


Tak ayal membuat wajah Pramuja nampak berbinar oleh pujian Zahrana, membuat detak jantungnya pun terasa berdegup kencang. Iya, Pramuja benar-benar terpana dan terpikat dengan adik sepupunya itu.


Sehingga, apapun yang diucapkan oleh Zahrana semuanya bermakna dan menyentuh qolbunya yang paling dalam.


"Hey! kok malah bengong, Mas? buruan Kak Zaid, Buya Harun juga Om Nazrul Anwar sudah berangkat. Khawatir nanti kumandang adzan selesai Mas Pramuja jadi masbuk, deh!" cetus Zahrana dengan melambaikan tangannya ke wajah Pramuja yang tidak berkedip memandang kearahnya.


"I-ya, ma-af my sepupu. Mas berangkat dulu!" ucap Pramuja dengan terburu-buru menuju Mesjid Al Ijtihad.


"OMG! jika begini terus, aku bisa gila oleh pesona mu Tsamirah Zahrana Az Zahra. Kenapa kita harus terlahir sebagai adik sepupu?" bisikan hati Pramuja Wisnu Baskara. Ia pun melangkahkan kakinya ke Mesjid guna menjalankan ibadah sholat Ashar.


Sementara, Bu Asma Nadia merasakan perasaan yang benar-benar tidak baik dari gelagat puteranya, yang begitu kentara sekali memuja sosok Zahrana yang berstatus sebagai sepupu untuk Pramuja.


"Ya Allah ... jangan biarkan putera ku tersesat oleh perasaannya sendiri! jangan biarkan putera hamba jatuh hati pada adik sepupunya sendiri," do'a Bu Asma Nadia didalam hatinya.

__ADS_1


Naluri keibuannya benar-benar kuat, ketika sang putera tunggal satu-satunya berada dalam jalan cinta yang salah.


"Ibu do'akan dirimu selalu berada di jalan yang benar, Nak. Jika biasanya, dirimu selalu bermain hati dari satu hati ke hati lainnya ibu masih bisa sabar dan memakluminya, itu mungkin faktor usia mu yang masih belum menemukan tambatan hati yang sesungguhnya. Namun, untuk mencintai Tsamirah Zahrana Az Zahra lebih dari adik sepupu itu adalah suatu kegilaan!" bathin Bu Asma Nadia yang di tujukan pada anaknya Pramuja Wisnu Baskara.


***


Di Rumah Sakit Medika Stania.


Aslan tergopoh-gopoh masuk ke ruang rawat inap Nandini Sukma Dewi adiknya, pasalnya setelah selesai menunaikan ibadah shalat Jum'at dan mengantarkan teman-teman Zahrana, yakni Cinta, Kirana Larasati dan Fadhillah ke rumahnya masing-masing, Aslan harus kembali ke Rumah Sakit menggantikan Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara untuk menjaga Nandini Sukma Dewi adiknya.


Sedangkan, Toko Sembako dan Counter Aslan Cell miliknya, di jaga oleh karyawan tokonya, yakni Sera dan Raina. Sedangkan, Toko sayurnya untuk sementara di tutup, sebab belum ada karyawan khusus yang menjaganya. Karena biasanya Aslan yang terjun langsung menghandle toko sayurnya.


Aslan hendak membuka handle pintu ruang rawat inap Nandini, namun mendengar pembicaraan antara Ibu Ratna Anjani, Ayah Anjasmara dan Nandini Sukma Dewi serta Arjuna Restu Pamungkas. Aslan urung masuk, ia ingin mendengarkan apa yang dibicarakan oleh ke empat orang tersebut.


"Pokoknya, Ibu tidak tahu kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu. Setelah kelulusan Nandini besok, kau harus memberitahukan kedua orang tua mu untuk segera melamar Nandini. Kalian harus segera menikah sebelum perut Nandini semakin membuncit."


"Ibu malu jika semua tetangga mengetahui jika Nandini hamil diluar nikah. Kemana ibu akan menaruh muka ibu?" cecar ibu Ratna Anjani dengan isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.


"Hiks ... hiks ... hiks ... ibu menyesal sebab terlalu memberikan kebebasan pada mu Nandini, jika ibu tahu akan menjadi begini lebih baik ibu utuskan bodyguard untuk menjaga mu!" ucap Ibu Ratna Anjani dengan terus meratapi kedukaannya.


"Ibu, maafkan Nandini ibu!" ucap Nandini yang juga ikut menangis. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa sebab telah menyakiti hati ibunya dan telah membuat malu dan mencoreng nama keluarganya.


"Hiks ... hiks ... hiks!" Nandini hendak turun dari brankarnya, ia ingin bersimpuh di bawah telapak kaki ibunya. Ia benar-benar menyesali semua perbuatannya.


Nandini mengingat kembali ilmu pengetahuan agama Islam yang di sampaikan oleh Zahrana kepadanya tentang bakti kepada kedua orangtua dan juga ancaman jika sampai menyakiti hati keduanya, terutama menyakiti hati seorang ibu yang telah melahirkannya, tidak tanggung-tanggung akan mendapatkan siksaan yang pedih di dunia hingga akhirat.


Semua ilmu dan untaian kata-kata dari Tsamirah Zahrana Az Zahra sampai detik ini masih terus terngiang-ngiang di telinga Nandini Sukma Dewi hingga detik ini. Nandini terus meratapi kedukaannya.


"Jangan begini, Nak! ibu telah memaafkan mu. Kau masih terlihat lemah," ucap Ibu Ratna Anjani dengan menenangkan Nandini agar tidak nekad lagi turun dari brankarnya. Setelah sebelumnya aksi nekad Nandini membuka selang infus dari tangannya, hingga menyebabkan darah segar menetes dari pergelangan tanganya, hingga menetes di lantai rawat inapnya.


Ibu Ratna Anjani memeluk erat Nandini. Kedua Ibu dan anak itu pun menumpahkan kesedihannya saling menguatkan satu sama lain.


Melihat interaksi antara Nandini Sukma Dewi dan Ibu Ratna Anjani. Arjuna pun segera minta maaf pada Bu Ratna dan Ayah Anjasmara.


"Ibu, Bapak. Arjuna minta maaf sebab telah menodai kesucian Nandini Sukma Dewi," ucap Arjuna dengan bersimpuh di kaki Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara.


Ayah Anjasmara pun segera mengangkat bahu Arjuna. Ia menepuk pundak Arjuna.


"Semuanya sudah terlanjur terjadi, Nak. Bapak harap kamu segera memberitahukan kedua orang tua mu, untuk segera menikahi Nandini anak kami. Sebelum kabar tentang kehamilan Nandini beredar di masyarakat luas," ucap Ayah Anjasmara dengan tertunduk lesu.


Ayah Anjasmara lebih menggunakan nurani dan akal sehatnya, ketimbang menggunakan ototnya.


Ingin marah dan gontok-gontokan percuma sebab itu semua tidak akan pernah menyelesaikan segala masalah yang ada, justru akan menambah masalah jika dihadapi dengan kekerasan.

__ADS_1


Berbeda dengan Ibu Ratna Anjani, hatinya rapuh. Ia lebih menggunakan emosi jiwanya ketika mengetahui Nandini Sukma Dewi telah ternoda.


Ibu Ratna Anjani terdiam, saat ini yang ia harapkan Nandini segera sembuh dan akan menikah dengan Arjuna Restu Pamungkas secepatnya sebelum kandungan Nandini semakin membengkak.


Cukup lama mereka terdiam hingga Aslan Abdurrahman Syatir yang berada dari balik pintu perlahan masuk dan membuka handle pintu yang dari sejak tadi terkunci.


Cukup sudah, Aslan mendengar perbincangan antara kedua orang tuanya, juga Nandini adiknya dan Arjuna Restu Pamungkas yang insyaAllah nantinya akan segera menjadi Ayah untuk anak yang dikandung oleh Nandini Sukma Dewi.


"Ceklekkk ... " pintu dibuka oleh Aslan Abdurrahman Syatir. Hingga membuyarkan lamunan siapa yang kini sedang berada di ruangan rawat inap tersebut.


"Apa kabar, kamu, Dek?" tanya Aslan dengan menggenggam jemari tangan Nandini dan mengecup kening adik kesayangannya itu.


"Alhamdulillah ... Nandini sudah lebih baik, Kak. Ibu sudah memaafkan Nandini," ucap Nandini penuh haru seraya melirik ke arah ibunya.


"Syukurlah, Dek. Kamu cepat sehat ya? biar cepat pulangnya, maafkan kakak karena belum bisa menjaga mu dengan baik. Kakak janji, apapun yang terjadi pada mu kakak akan selalu menyayangi mu!" ucap Aslan dengan tiba-tiba meneteskan air matanya.


Aslan pun merenungi cerita asmaranya dengan Zahrana.


"Selama ini aku selalu fokus memikirkan Zahrana, dengan ambisi agar diriku bisa memilikinya seutuhnya dengan merebut hatinya kembali. Dulu pun aku sempat menodai kepolosannya dengan mencuri ciuman pertamanya. Dan sekarang aku mendapatkan imbasnya, bagaimana rasanya ketika orang yang kita kasihi ternodai oleh pacarnya sendiri," sesal Aslan dengan terus meneteskan air matanya.


"Aku tidak akan pernah mengejar cinta mu lagi Zahrana, jika pun kau adalah jodoh ku. Aku yakin kita pun akan bersatu dalam mahligai indah dan bersanding diatas pelaminan."


"Aku tidak ingin lagi mengecewakan ibu ku, sudah saatnya aku berbakti pada ayah dan ibu ku, juga lebih memperhatikan adik ku Nandini Sukma Dewi. Aku memang mencintai mu Zahrana hingga detik ini, namun apalah daya ibu tidak merestui ku dan kau pun kini nampak acuh pada ku!" bathin Aslan Abdurrahman Syatir.


Akhirnya, Aslan pun menyerah dengan segala keadaan yang ada. Ia lebih fokus untuk mengurusi adiknya Nandini Sukma Dewi dan menjaga perasaan ibu Ratna Anjani ketimbang terus mengejar cinta Zahrana yang tidak pernah pasti alurnya.


"Kenapa, kakak menangis? kakak tidak punya salah apa-apa Kak. Nandini yang salah, Nandini yang tidak pandai menjaga diri. Sehingga semua jadi begini!" sesal Nandini.


Dua kakak beradik itu pun saling merangkul erat dengan posisi Nandini berangkat dari brankarnya dan duduk dengan posisi tubuhnya yang sudah terlihat membaik, setelah semua beban dihati dan pikirannya terkeluarkan.


"Nak, Ayah dan Ibu pulang dulu! kamu cepat pulih, ya? semangat, tidak boleh lemah! gadis metalnya Ayah dan Ibu," ucap Ayah Anjasmara seraya mengecup kening Nandini diikuti pula oleh Ibu Ratna Anjani yang sudah terlihat lebih baik dan tidak emosional lagi seperti awal-awal sebelumnya.


"Nak Juna, kami pulang dulu! tolong jaga Nandini, jangan pernah menyakitinya walau sekecil apapun halnya. Berjanjilah kau akan selalu ada untuknya dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu terhadapnya!" ucap Ayah Anjasmara sebelum pergi.


"Juna berjanji akan bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi dan secepatnya melamar dan menikahi Nandini Sukma Dewi!" ucap Arjuna penuh keseriusan.


Arjuna pun menyalami Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara yang hendak pulang, sampai akhirnya kedua orangtua Nandini hilang dari pandangannya.


Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani merasa lega, sebab Arjuna berkenan untuk bertanggung jawab dengan secepatnya ingin menikahi Nandini Sukma Dewi.


🌷🌷🌷


...Pencerahan 👉 "Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik mereka yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertobat. Jangan menunda taubat, karena semakin lama perjalanan yang ditempuh, kembalinya juga menjadi semakin sulit. Tobat sejati bukan hanya berhenti dari berbuat maksiat, tetapi juga berbalik menuju kebaikan dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tetap berada di jalan kebaikan itu."...

__ADS_1


__ADS_2