Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
28 . Di Majelis Ilmu


__ADS_3

Selang berapa menit kemudian Zahrana dan teman-temannya telah tiba di rumahnya.


Sudah ada beberapa orang anak remaja seusia Zahrana yang sudah bersiap-siap belajar mengaji dengan Buya Harun, ada juga yang sudah berusia 15 tahun sampai 17 tahun. Hari ini memang jadwal khusus mengaji anak-anak remaja. Mereka terdiri dari 11 orang remaja wanita dan 9 orang remaja laki-laki.


Di rumah Zahrana memang ada padepokan atau pondok khusus terbuat dari dinding kayu berlantai papan dan beratapkan daun Rumbia, dalam alam terbuka di halaman rumahnya, jika malam hari di terangi cahaya lampu agar para Santri menikmati suasana belajarnya sembari menghirup udara segar dan hembusan angin malam.


"Assalamu'alaikum ... " ucap Zahrana dan teman- temannya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ..." jawab serempak dari para santriwan dan Santriwati yang ikut mengaji.


Zahrana, Nandini, Cinta dan Kirana pun ikut bergabung. Mereka duduk sejajar dengan remaja wanita, hendak memisahkan diri dari remaja laki-laki.


Melihat kehadiran Zahrana remaja laki-laki dibuat terpana oleh keanggunannya, namun Zahrana segera menundukkan pandangannya untuk menghindari bertatapan langsung dengan remaja laki-laki, lantaran suasana yang sangat religius, Zahrana tidak ingin kehadirannya mengganggu ke khusu'kan para santri yang hendak belajar mengaji.


Bunda Fatimah keluar dari dalam rumahnya, hendak mengontrol keadaan para Santri, sebelum Buya Harun pulang dari Mesjid.


"Assalamu'alaikum ... Santriwan dan Santriwati, mohon menunggu sebentar! insyaAllah Buya Harun akan segera kembali, sebaiknya Kalian Muroja'ah dahulu sembari menunggu Buya Harun, agar ilmu yang kalian dapatkan pekan kemarin lebih tertanam dalam hati dan pikiran, sehingga tidak mudah terlupakan!" tutur Bunda Fatimah kepada para Santri.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... siappp Buuu!" ucap para Santriwan dan Santriwati patuh.


Para Santri pun dengan hikmatnya mengkaji dan mentadaburi kembali ilmu pengetahuan dan Al Qur'an yang mereka dapatkan dari Buya Harun pekan kemarin.


Sedangkan Nandini masih kebingungan sendiri melihat para Santri yang begitu fokus dan antusias mendaras Qur'an dan menghafalkannya.


Nandini masih bingung mengartikan kata ' Muroja'ah ', sebab ini hari pertama ia belajar mengaji dengan Buya Harun.


Biasa nya Nandini jarang mendaras Qur'an apalagi Muroja'ah. Surah yang Nandini hafalkan hanya lah berkisar antara Ummul Kitab( Al Fatihah ), three QUL ( Al Ikhlas, Al Falaq dan An nas ), selebihnya Nandini sama sekali belum pernah menghafalkannya, saking minim dan awamnya pengetahuan Nandini tentang ilmu agama.


"Din, ayo mulai belajar! silahkan ambil Mushaf Al Qur'an di rak sana, yang memang sudah di sediakan khusus untuk para Santri." Zahrana memberitahukan Nandini.


"Tapi aku bingung Ra, Muroja'ah itu apa ya?"


"Aku benar -benar bingung, itu Santri datangnya dari mana-mana saja? ada yang auranya masih asing sekali," bisik Nandini pada Zahrana.

__ADS_1


"Itu dari kampung sebelah Din, mereka belajar disini satu pekan dua kali. Hari Senin dan Kamis saja," pungkas Zahrana.


"Oh iya, Din. Murojaah itu adalah kegiatan mengulang kembali pelajaran atau hafalan. Metode ini biasanya dilakukan oleh para hafidz dan hafidzah untuk menjaga hafalan Al-Qur'an mereka agar tetap terjaga dan tidak mudah terlupakan," tutur Zahrana.


Nandini hanya mengangguk penuh arti, kemudian ia pun mulai ikut mendaras Qur'an yang ia mulai dengan surah Al Fatihah.


Sedangkan Cinta dan Kirana terlihat fokus mendaras Qur'an dengan penuh hikmat, sebab mereka pun baru dua bulan lebih belajar mengaji dengan Buya Harun.


Sebenarnya Zahrana ditugaskan oleh Buya Harun untuk membantu membimbing para Santri yang masih kesulitan dalam memahami ilmu pengetahuan dan Al Qur'an.


Zahrana sudah cukup baik dalam menerapkan ilmu tajwid, sehingga sudah cukup mampu membaca Al Qur'an secara Tartil.


Namun dalam ilmu fiqih, Zahrana baru sebatas memahami dasar-dasarnya jika Sholat 5 waktu itu hukumnya adalah WAJIB, yang jika dikerjakan mendapat pahala jika ditinggalkan mendapatkan dosa dan ancaman yang meninggalkannya adalah api neraka.


Sedangkan tentang BERHIJAB atau menutup aurat sepenuhnya adalah wajib sebagaimana wajibnya Sholat 5 waktu, Zahrana belum memahami itu lantaran ia hanya sekolah di sekolah umum biasa bukan di Pondok Pesantren.


Zahrana pun belum memahami jika ' PACARAN ' juga tidak di perbolehkan dalam Syari'at Islam artinya semua itu hukumnya adalah ' HARAM ', jika di tinggalkan mendapatkan pahala namun jika dikerjakan maka ia berdosa.


Di Era 90 an, banyak masyarakat yang masih tabu dan awam tentang ilmu fiqih, mereka masih memahami hal-hal yang mendasar saja. PACARAN menjadi diperbolehkan berbeda halnya dengan Zaman sekarang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih, ilmu Agama mudah di akses namun sulit untuk di amalkan. Banyak yang mengetahui bahwa pacaran dan yang semisalnya itu di haramkan namun tetap di lakukan oleh muda-mudi tanpa mengenal batasan.


Di tengah keheningan para Santri yang sedang fokus belajar, Buya Harun pun sudah pulang dari Mesjid di temani oleh Raihan juga Aslan Abdurrahman Syatir.


"Kamu tidak ikut masuk dulu, Nak Aslan?" tanya Buya Harun.


"Maaf Buya, Aslan pamit dulu sebab di rumah tidak ada siapa-siapa. Aslan mau buka toko dulu. Ibu dan Ayah sedang tidak ada di rumah," tutur Aslan penuh sopan.


"Kalau begitun Buya masuk dulu, Para Santri sudah menunggu di pondok, sudah waktunya Buya membimbing mereka untuk belajar mengaji."


"Iya Buya."


"Assalamu'alaikum ... " pamit Aslan.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab Buya Harun.

__ADS_1


Sebelum melangkahkan kaki untuk kembali ke rumahnya, dari seberang jalan pandangan Aslan kembali tertuju pada sosok Zahrana yang dengan anggunnya mengenakan mukena ke emasannya di bawah temaram cahaya lampu, semakin membuat Zahrana terlihat bercahaya dan mempesona, dengan lantunan ayat suci Al Qur'an yang di bacakannya, membuat Aslan tak berkedip memandang ke arahnya.


Namun, Zahrana tidak menyadari itu, ia hanya fokus mendaras Qur'an dan menghafalnya.


Ketika di Majelis Ilmu Agama, di mana pun itu, Zahrana memang selalu fokus, tidak ada satu detik pun yang terbuang sia-sia.


Zahrana memang sangat menyukai bidang ilmu Agama Islam, satu saat nanti pada saat yang tepat Zahrana pun berniat untuk menutup auratnya secara sempurna, namun untuk saat ini Zahrana belum siap untuk itu, masih banyak hal yang belum ia pahami sepenuhnya.


Kendati pun Buya Harun adalah guru mengaji, ia tidak pernah memaksa Zahrana atau pun para Santri untuk sepenuhnya menerapkan ilmu Agama secara fanatik, sebab semua itu butuh proses, tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Segala sesuatu itu harus berasal dari hati. Niat yang baik. Agama Islam hadir tanpa paksaan, di sampaikan dengan adab dan kelemahlembutan.


Menjalankan kewajiban seperti halnya sholat 5 waktu itu adalah wajib, namun kita tidak wajib memaksakan kehendak terhadap orang lain.


Kewajiban kita hanya lah menyampaikan, bukan merubah orang lain, sedangkan perkara hidayah adalah urusan Allah bukan urusan makhluknya. Itu lah cara Buya Harun membimbing para Santrinya atau siapapun tanpa menyudutkan mereka, sedikitpun tidak ada rasa ujub dan merasa benar sendiri dalam diri Buya Harun.


Buya Harun menyampaikan segala ilmunya dari hati ke hati, agar lebih mudah pula di terima oleh hati pendengarnya dengan ilmu dan hikmah, tanpa sedikitpun untuk menggurui.


"Assalamu'alaikum ... anak - anak," sapa Buya Harun ramah.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... Buyaaa," jawab para Santri serempak.


"Maaf Buya baru kembali dari Mesjid, apa kalian semua sudah sholat Maghrib?"


"Sudah Buyaaa .... "


"Baiklah sekarang kita mulai belajar mengajinya, Zahrana tolong bimbing para Santri wanita yang baru belajar mengaji Al Qur'an juz 1 sampai juz 2, yang sudah juz 3 dan juga Muroja'ah silahkan nantinya bergabung dengan Buya di sini!"


"Untuk para Santri laki-laki silahkan bergabung di sebelah Raihan, agar ada jarak atau batasan antara Santri laki-laki dan perempuan," ucap Buya Harun lembut namun penuh ketegasan.


Malam ini, Santri yang belajar mengaji bertambah menjadi 21 orang dengan Nandini yang baru belajar mengaji.


Buya Harun memang sengaja memanggil murid-muridnya dengan sebutan Santri seperti halnya Pondok Pesantren pada umumnya, tujuannya agar murid-muridnya lebih bersemangat belajar mengaji meskipun hanya di pondok Tahfidz biasa, yang hanya terbuat dari lantai papan, berdinding kayu dan atap biasa, namun cukup nyaman untuk tempat belajar mengajar untuk para Santrinya.

__ADS_1


Metode belajar pun di lalui dengan penuh hikmat, para Santri pun tampak antusias dalam mengkaji ilmu pengetahuan dan Al Qur'an, tak terkecuali Nandini Si gadis metal, juga Cinta dan Kirana mereka tanpa mentadaburi setiap ayat-ayat Al Qur'an yang mereka lantunkan dengan penuh hikmah dan makna yang mampu menenangkan segenap hati dan jiwa dari hiru pikuknya dunia.


Al Qur'an mampu menjadi petunjuk dan cahaya kebenaran bagi jiwa-jiwa yang semula rapuh akhirnya tersirami dengan embun kesejukan yang bermuara dari kebenaran iman dari meyakini bahwa Al Qur'an adalah pedoman hidup bagi manusia dan rahmat bagi semesta alam, beruntunglah wahai jiwa-jiwa yang terus dan terus mendaras Qur'an untuk tujuan hidupnya di dunia hingga akhirat nanti dalam kebenaran iman dan ketaqwaan pada Allah Subhanahuwata'ala semata Sang penggenggam jiwa dan pemilik alam semesta.


__ADS_2