Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
146 . Aisyah Boutique Collection


__ADS_3

"Robbanaa aatina fiddunya hasanah, wafil aakhirati hasanah waqinaa 'adzaa bannaar."


Artinya:


"Wahai Tuhan kami, anugerahi kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkan kami dari api neraka. Aamiin ... aamiin ... ya Rabbal'alaamiin."


Usai berdo'a, Zahrana pun melanjutkan tilawah Qur'an sampai menunggu masuknya waktu Shubuh yang memang menjadi kebiasaan rutinnya hingga detik ini.


Zahrana pun nampak terlihat bersemangat setelah melakukan serangkaian ibadah di sepertiga malam terakhirnya.


"Ya Allah ... betapa nikmatnya jika hati dan jiwa ini senantiasa di hiasi dengan keimanan dan ketakwaan pada-Mu!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.


Kumandang adzan Shubuh pun menggema di penjuru kota S, membangunkan segenap penduduk yang masih terlelap dalam peraduannya di kota yang saat ini menjadi tempat berpijak Zahrana.


Zahrana tidak memperbaharui wudhunya, sebab wudhunya masih belum batal usai menjalankan ibadah sholat Tahajjud.


Dengan penuh keceriaan dan semangat yang tinggi Zahrana pun kembali menjalankan ibadah sholat Shubuh. Suasana hatinya pun di liputi ketenangan. Sehingga ia begitu menikmati kekhusyukan dalam sholatnya.


"Ya Allah ... ternyata memang benar hanya dengan mengingat Allah Subhanahuwata'ala hati akan merasa tenang," bathin Zahrana.


***


Di pagi hari.


"Kamu sudah sholat?" tanya Sabrina.


"Alhamdulillah, sudah Kak. Zahra sudah bersih, tamu bulanannya sudah pulang!" ucap Zahrana, hingga membuat Sabrina terkekeh geli mendengar penuturan Zahrana yang terdengar lucu menurutnya.


"Hemmm ... lagi masak apa, Kak?" tanya Zahrana.


"Masak sayur nangka santan sama ikan goreng, Dek."


"Zahra bantu, ya Kak."


"Sudah selesai semua, Dek. Kamu kan harus segera berangkat kerja di Aisyah Boutique Collection, setelah berapa hari sebelumnya kamu sudah interview sendiri ke butik Muslimah tersebut."


"Alhamdulillah, Kak. Zahra menyukai tempatnya, suasananya pun nyaman. Ummi Aisyah baik dan lembut sekali, Kak. Dia mengajari Zahra dengan sangat terarah sekali."


"Bersyukur sekali kak Zaid mempunyai sosok Ibu sebaik Ummi Aisyah," ucap Zahrana yang tanpa sengaja memuji Ummi Aisyah. Umminya Muhammad Zaid Arkana.


"Mertua idaman, ya Dek?" goda Sabrina.


"Kakak, bisa saja!" ucap Zahrana dengan wajah bersemu merah.


"Ya Allah ... kenapa jantungku terasa berdebar seperti ini mendengar penuturan kak Sabrina. Aku tidak boleh jatuh hati pada kak Zaid," cicit Zahrana yang mulai gamang dengan perasaannya.


Beberapa hari merajut kebersamaan dengan sosok Muhammad Zaid Arkana seolah-olah mengikis rasanya yang telah pun tertanam di hatinya terhadap Yusuf Amri Nufail Syairazy, yang sudah 4 tahun ini berada di Negara Piramida.


"Ya Allah ... tidak, ini tidak mungkin terjadi! Aku mencintai Kak Yusuf bukan Kak Zaid!" cicit Zahrana dengan menimbang-nimbang perasaannya.


Zahrana mulai dilema, lantaran sudah satu Minggu ini semenjak ia bekerja di Aisyah Boutique Collection, Muhammad Zaid Arkana begitu perhatian terhadapnya.


Selama satu Minggu ini Muhammad Zaid Arkana yang selalu siap siaga mengantarkannya ke Aisyah Boutique Collection tempat Zahrana bekerja.


Muhammad Zaid pun telah merekrut pegawai untuk menjaga toko buah miliknya, agar ia lebih leluasa untuk mengantar jemput Zahrana setiap harinya. Ia benar-benar mendekati Zahrana secara perlahan, hingga kedekatan keduanya semakin hari semakin instens. Hingga keduanya pun hampir saja melupakan jika ada batasan mahram di antara keduanya.


Meskipun sekedar antar jemput, tetap saja dinamakan berduaan jika sudah setiap hari bertemu pandang, meskipun ada jarak diantara keduanya. Namun, hampir setiap hari berduaan dalam satu mobil tentu saja memicu fitnah di antara keduanya, meskipun hanya bertukar kata dan ucapan sekedar bertanya kabar berita.

__ADS_1


Bermula dari antar jemput, mengantarkan makan siang untuk Zahrana akan tidak mungkin bisa meruntuhkan biduk keimanan jika getar rasa itu pun mulai terpatri di hati keduanya.


"Ra, apa tidak sebaiknya kamu naik angkutan umum atau belajar naik sepeda motor dulu, agar nantinya bisa pergi dan pulang kerja sendiri, tidak perlu lagi diantar oleh teman kakak, Muhammad Zaid Arkana. Tidak baik jika anak gadis dan laki-laki yang masih perjaka keseringan berduaan seperti ini, mengingat status kalian berdua yang masih single dan bukan pasangan suami-istri," ucap Fardhan Arkan kakak ipar Zahrana yang mulai khawatir dengan kedekatan sahabatnya MZ Arkana dan Zahrana adik iparnya.


Zahrana terdiam sejenak, lalu mengemukakan pendapatnya. "Zahra dan Kak Zaid tidak ada hubungan apa-apa, kok Mas. Hanya sebatas rekan kerja saja, insyaAllah nanti Zahra akan belajar naik sepeda motor, Mas!" ucap Zahrana dengan tertunduk mencerna setiap kata-kata kakak iparnya Fardhan Arkan.


"Tin ... tin ... tinnnn ... " bunyi klakson mobil Muhammad Zaid Arkana dari pinggir jalan raya, di kediaman Zahrana saat ini.


"Sepertinya kak Zaid sudah datang menjemput Zahra, Kak. Sudah pukul 07.15 wib, Zahra berangkat dulu, ya kak?"


Zahrana menyalami kakaknya Sabrina dan tidak lupa menelungkupkan tangannya di dadanya, ia pun pamit pada kakak iparnya Fardhan Arkan.


"Iya, hati-hati Dek!" Sabrina mengecup kening Zahrana adiknya.


Zahrana pun setengah berlari membukakan pintu gerbang rumah kakaknya yang masih tertutup rapat dari sejak pagi tadi.


"Assalamu'alaikum ... " ucap Muhammad Zaid Arkana dengan tersenyum manis terhadap Zahrana.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " ucap Zahrana, yang tidak sengaja netranya bertemu pandang dengan Muhammad Zaid Arkana.


"Ya Allah ... kenapa jantung hati ku, jadi berdebar-debar seperti ini!" bathin Zahrana yang semakin bimbang dengan perasaannya sendiri.


"Kenapa bengong, Ra? mari masuk! waktu kita tinggal 15 menit lagi untuk sampai ke Aisyah Boutique Collection," ucap Zaid penuh suka-cita.


"Iya, Kak."


Zahra pun segera masuk ke dalam mobil, setelah pun Zaid membuka pintu mobil dengan sigapnya.


"Terimakasih, Kak!" ucap Zahrana dengan perasaan yang mulai tak menentu.


"Ding!" notifikasi masuk di ponsel Muhammad Zaid Arkana.


Zaid pun membukanya.


...📲 "Bismillah ... jaga adik ipar ku baik-baik! jangan macam-macam! ingat! ada batasan di antara kalian berdua. Jika tidak ingin terjadi fitnah, buruan putuskan! putuskan untuk menikah, don't pacaran!" by Fardhan Arkan....


Zaid mengeryitkan dahinya, ketika membaca pesan dari Fardhan Arkan teman seperguruannya. Tanpa Zaid dan Zahrana ketahui, Fardhan Arkan mengintip dari balik jendela rumahnya. Ia mengintip interaksi kedua anak muda tersebut sebelum masuk ke dalam mobilnya.


...📲 "InsyaAllah ... Mas Fardhan, maaf jika aku harus mendekati Zahrana dengan cara seperti ini. Sejauh ini kita selalu menjaga jarak, tidak pernah terjadi hal-hal yang tidak semestinya, do'akan Zahrana pun memiliki perasaan yang sama terhadap ku, Mas! agar tidak memicu fitnah di antara kami, aku pun tak ingin terus seperti ini." by Muhammad Zaid Arkana....


📲 "Iya." by Fardhan Arkan.


Zaid pun segera melajukan mobilnya menuju Aisyah Boutique Collection milik Umminya.


"Bi, kamu terlalu posesif sekali! Zahra dan Zaid kan sudah dewasa, insyaAllah mereka bisa jaga diri, kok Bi. Terus, Zahra sudah punya sosok lelaki idaman Bi. Yusuf Amri Nufail Syairazy, santrinya Buya Harun."


"Yang benar saja, Um. Itu berarti si Zaid sahabat ku bakal patah hati, dong!" cicit Fardhan Arkan.


Sabrina mengendikkan bahunya.


"Sudah lah, Bi! kita do'akan yang terbaik untuk Zahrana. Mumpung Shaka dan Yumna masih tidur dan sekolah libur. Zahra pun sudah berangkat kerja, lebih baik kita pacaran sehat dulu, kan sudah halal!" ucap Sabrina mengerlingkan matanya pada Fardhan suaminya, sehingga membuat jiwa lelaki Fardhan seketika meningkat menjadi 99,99%.


Fardhan pun menggendong Sabrina ala bridal style, mereka pun masuk ke dalam bilik kamarnya. Lingerie berwarna merah menyala yang di kenakan oleh Sabrina, perlahan membangkitkan gairah Fardhan Arkan terhadap istrinya tersebut yang masih sangat terlihat muda di usianya yang ke-24 tahun.


Meskipun Sabrina memiliki dua orang buah hati, namun tubuhnya masih terlihat sangat terawat dan sempurna.


"Kau menggoda ku, isteri ku!" ucap Fardhan Arkan dengan mencium seluruh aroma tubuh Sabrina. Perlahan ia pun mengecup kening istrinya, sambil mengucapkan do'a meleburkan raga antara suami istri, demi memenuhi nafkah bathin agar tercipta lah ketenangan dan kenyamanan antara dua insan yang telah terikat janji suci pernikahan.

__ADS_1


Keduanya pun menyatu dan melebur menjadi satu dalam pemenuhan nafkah bathin yang bernilai ibadah disisi Allah Subhanahuwata'ala. Tanpa merasakan ketakutan akan dosa, sebab keduanya pun telah halal untuk meleburkan jiwa dan raga demi memenuhi kewajiban masing-masing sebagai pasangan suami istri.


Tiga puluh menit dalam peleburannya, Fardhan dan Sabrina pun mencapai puncak kenikmatan surgawi secara bersamaan. Mereka merasa puas menikmati kenikmatan Syurga dunia tersebut, sehingga keduanya pun terbaring lemas di ranjang king size-nya.


"Terimakasih, istri ku untuk semuanya! Terimakasih, selama 8 tahun pernikahan kita dirimu selalu mendampingi ku melalui proses kehidupan dalam suka dan duka!" ucap Fardhan dengan mengecup kening dan pelupuk mata Sabrina.


"Kau adalah imam ku, Bi. Sudah sepantasnya Ummi berbakti pada Abi dan mendukung Abi dalam suka ataupun duka. Harapan Ummi kita akan selalu bersama hingga sampai Jannah-Nya!" ucap Sabrina dengan memberikan kecupan di pipi suaminya.


Fardhan pun balas memberikan kecupan manis di bibir istrinya. Mereka berdua pun terbaring dengan menggunakan satu selimut.


Sabrina pun menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya, hingga ia pun terlelap setelah mencapai puncak kenikmatan raganya.


***


Di Aisyah Boutique Collection.


Zahrana dengan penuh antusias melayani para customernya yang begitu ramainya memilih Jilbab dan pakaian muslim yang sangat mereka minati.


"Dek, tolong bungkuskan mukena ini ya?" ucap salah satu customer.


"Baik, Kak."


Zahrana pun dengan cekatan membungkuskan mukena tersebut dan menaruhnya di paper bag khusus belanja customer.


Semua pakaian muslim yang di jual oleh Aisyah Boutique Collection, merupakan pakaian muslim yang sangat berkualitas. Sehingga banyak kalangan kelas menengah dan kelas atas yang berbelanja di Aisyah Boutique Collection.


Namun, belum menggunakan mesin kasir. Masih beroperasi secara manual. Ada yang beli langsung bayar, no ribet.


"Totalnya Rp 550.000, Kak."


"Baiklah!" customer itu pun memberikan enam lembar pecahan merah untuk Zahrana.


"Kembaliannya, Kak masih 50 ribu!" ujar Zahrana.


"Kembaliannya, ambil untuk mu saja, Dek!"


Zahrana menolak, namun customer tersebut tidak menerima penolakan.


"Tidak boleh menolak, itu rezeki dari Allah, Dek. Maaf, kakak buru-buru!" ucap customer tersebut dengan setengah berlari menuju mobilnya.


"Brukkk ... awww!" pekik customer tersebut.


Customer tersebut bertabrakan dengan dada bidang Muhammad Zaid Arkana yang hendak masuk ke dalam gerai Aisyah Boutique Collection, guna mengantarkan sarapan untuk Zahrana.


"Kau?" ucap customer tersebut.


"Kau?" ucap Muhammad Zaid Arkana.


Seketika mereka berdua pun saling beradu pandang.


Zahrana yang menyaksikan kejadian tersebut pun di buat tak berdaya, entah kenapa perasaannya tiba-tiba tertusuk duri mawar ketika melihat Muhammad Zaid Arkana saling beradu pandang dengan customer tersebut.


"ya Allah ... perasaan apakah ini? Mengapa hati ku terasa tersusuk duri yang tajam ketika melihat kak Zaid bersama customer tersebut?" bathin Zahrana.


🌷🌷🌷


Pencerahan 👉 "Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski sesaat."

__ADS_1


__ADS_2