Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
188 . Ternyata Hanya Mimpi ( Demam Tinggi )


__ADS_3

Zahrana mengerjapkan matanya, ia tidak menyadari jika ia sudah terlelap lebih dari dua jam.


"Astaghfirullah ... sudah pukul berapa? Aku belum melaksanakan ibadah shalat Dzuhur? adakah customer yang memasuki toko Aisyah Boutique Collection?" ucap Zahrana dengan membuka perlahan netranya yang masih terlihat menyipit.


Kepala Zahrana terasa berdenyut, pasalnya dia sudah terlelap terlalu lama. Antara ada dan tiada ia merasakan kehadiran Yusuf di sisinya, namun disaat ia mengerjapkan pandangannya ke segala arah justru tak ia temui sosok yang dicarinya. Sosok seorang yang sangat dirindukannya dalam kurun waktu 4 tahun terakhir ini.


"Kak Yusuf, dimana dirimu? kenapa kau pergi lagi?" ucap Zahrana setengah putus asa. Ia pun memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


Zahrana ingin bangkit dari duduknya, namun matanya terasa berkunang-kunang, kepalanya terasa berat. Suhu tubuhnya pun semakin tinggi, tubuh Zahrana tiba-tiba panas tinggi. Tepatnya, Zahrana demam. Ia pun terlihat pucat.


Zahrana hampir hilang kesadarannya, antara ada dan tiada Zahrana merasa melihat sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy di hadapannya.


"Kak Yusuf, kau telah kembali? jangan tinggalkan Zahra!" ucap Zahra dengan raut wajah cemas dan pucat pasi.


Zahrana tiba-tiba oleng, ia pun hilang kesadaran. Zahrana pingsan, Zaid yang stand by di Aisyah Boutique Collection sejak 2 jam yang lalu pun dengan sigap mendekap Zahrana agar tidak terjatuh. Ia pun segera membopong tubuh Zahrana yang terkulai lemas.


Zaid membaringkan Zahrana diruangan khusus untuk istirahat yang memang di sediakan khusus di Aisha Boutique Collection.


"Zahra, kau tidak apa-apa?" Zaid menepuk-nepuk wajah Zahrana.


"Astaghfirullah ... wajahmu pucat sekali! suhu tubuh mu panas sekali, ada apa dengan mu? sepertinya kau demam? apa yang harus aku lakukan?" bathin Zaid yang sedang dilanda kecemasan.


Zaid pun mengambil kotak P3K yang memang disediakan khusus di Aisyah Boutique Collection, jika sewaktu-waktu ada yang tiba-tiba sakit dan sebagainya.


Zaid mengoleskan minyak angin aromatherapy dihidung, tengkuk, siku dan kaki Zahrana.


"Bangun, Ra! kau kenapa?" ucap Zaid cemas.


"Sepertinya kita harus kerumah sakit, kau harus segera mendapatkan penanganan!" ucap Zaid dengan mengangkat tubuh Zahrana ala bridal style.


Mata Zahrana masih asyik terpejam, namun mencium aroma therapy yang di oleskan Zaid pada indera penciumannya, membuat Zahrana antara ada dan tiada. Ia bisa mencium aroma terapi tersebut walaupun masih dalam keadaan setengah sadar.


Zahrana selalu menyebut nama Yusuf, disela-sela igauannya. Demam panasnya pun semakin meninggi.


"Kak Yusuf, Zahra merindukan kakak!" gumam Zahrana.


Zaid yang melihat igauan Zahrana pun menjadi sangat prihatin dengan keadaan fisik Zahrana yang terlihat sedang tidak stabil.


"Astaghfirullah ... demamnya semakin tinggi, sebaiknya aku bawa Zahra kerumah sakit dulu!" bathin Zaid dengan penuh kecemasan.


Zaid pun hendak mengemasi barang-barang Zahrana dan menutup Aisyah Boutique Collection. Namun, pergerakannya terhenti, dalam setengah sadar Zahrana tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.


"Kak Yusuf, jangan pergi lagi! Zahra tidak ingin kakak pergi meninggalkan Zahra," ucap Zahra dengan meneteskan air matanya dalam keadaan masih terpejam.


Zahrana menggenggam erat tangan Zaid, tanpa berniat sedikitpun untuk melepaskannya.


"Subhanallah ... Zahra, kenapa dirimu selalu mengigau menyebut namanya. Betapa istimewanya sosok pemuda tersebut didalam hatimu!" bathin Zaid meringis pilu.


Ada rasa perih di ulu hati Zaid, menerima kenyataan jika wanita yang di cintainya menyebut nama laki-laki lain dalam keadaan terbaring lemah sekalipun.


Zaid pun menggenggam erat jemari tangan Zahrana, sebagai mana Zahra menggenggam erat jemari tangannya.


Akal sehat Zaid seolah sedang tidak berfungsi dengan baik, dia pun mengambil kesempatan dalam kesempitan, di kecupnya jemari tangan Zahrana, juga kening Zahrana yang sedang terbaring lemah. Hawa nafsu buruknya lebih mendominasinya, dengan cara apapun ia bersikeras untuk merebut hati Zahrana. Lupa lah ia dengan batasan mahramnya.


"Kita harus kerumah sakit sayang!" ucap Zaid dengan mengalungkan tangan Zahrana di lehernya, ia membopong tubuh Zahrana ala bridal style.


Zahrana yang tidak menyadari jika yang membopong tubuhnya adalah Zaid, ia justru mempererat pelukan Zaid terhadapnya. Di alam bawah sadarnya ia seolah-olah berada dalam dekapan Yusuf, ia bermimpi Yusuf menyelamatkan dari bahaya, sebagaimana insiden terjatuhnya ia di padepokan Buya Harun 6 tahun silam yang lalu.


"Kak Yusuf, kau telah kembali?" tanya Zahrana penuh sukacita.


"Jangan tinggalkan Zahra lagi, Kak! Zahra mencintai kak Yusuf," ucap Zahrana dengan memandangi wajah pemuda yang sangat dirindukannya itu.


Zahrana semakin mempererat dekapannya pada sosok Yusuf. Sementara Yusuf hendak mengusap air mata yang jatuh berderai di pipi Zahrana, namun ia menyadari jika ada batasan mahram di antara mereka, ia pun perlahan melepaskan dekapannya dari sosok wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, maafkan kakak terlalu lama meninggalkan mu! kakak janji, kakak akan kembali padamu, jaga dirimu baik-baik! tetaplah hiasi dirimu dengan iman dan taqwa, kita belum halal untuk saling bersentuhan seperti ini, sungguh diriku pun sangat merindukan mu. Tunggu aku Tsamirah Zahrana Az Zahra!"


"Assalamu'alaikum ... wahai bidadari Sholihah, semoga Allah Subhana wata'ala selalu menjaga mu dalam naungan rahmat dan kasih sayangnya, tetaplah menjadi wanita muslimah yang berakhlak mulia dan mampu menjaga diri dari godaan hawa nafsu dunia yang hanya bersifat semu. Sejatinya, walaupun kita berlainan tempat berpijak, yakinlah bahwa kita masih berada dalam satu naungan cinta Rabb kita, jika kita mampu mengendalikan hawa nafsu kita dan mempertahankan biduk keimanan kita dari tipu daya dunia yang semu!" untaian mutiara hikmah yang di sampaikan oleh Yusuf Amri Nufail Syairazy yang seolah-olah hadir dalam mimpi Zahrana.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, meskipun dirimu jauh dari pandangan mataku, namun ... dirimu sangat dekat dihatiku!" bathin Yusuf, yang kalimat tersebut hanya Yusuf yang dapat mendengarkan dan merasakannya.


Zahrana nampak tertunduk lesu, ia menangis dalam igauan mimpinya. Bayangan Yusuf pun perlahan menjauh dari pandangannya. Air mata Zahrana semakin mengalir deras membanjiri kedua pipi mulusnya.


Zahrana menatap sayu seberkas cahaya yang menghilang dari pandangannya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " hanya untaian kata-kata itu yang Zahrana ucapkan dari lisannya, menjawab salam Yusuf yang kini hanya lah tinggallah bayangan.


"Astaghfirullah!" Zahrana mengerjapkan netranya. Ia baru menyadari jika ternyata semua hanya mimpi.


"Kak Yusuf, tadinya diriku mengira kau hadir disini, namun ternyata semua hanya mimpi. Dirimu pun jauh dari pandangan mataku, di sini diriku benar-benar tersiksa dengan rindu ini. Namun, dirimu entah dimana?" bathin Zahrana.


Zahrana melihat disekelilingnya, ia berada di ruangan ber AC, juga lengkap dengan segala fasilitasnya. Kamar bernuansa hijau muda itu, seolah membuat netra Zahrana menjadi tenang dan tenteram saat melihatnya.


"Aku dimana?" pekik Zahrana saat menyadari tangannya saling bertautan dengan pemuda yang sedang terlelap duduk di kursi sambil menyandarkan kepalanya pada brankar Zahrana, tempat di mana Zahrana kini terbaring lemah.


Zahrana ingin melepaskan tautan tangannya dengan sosok pemuda yang begitu setia menunggunya terbaring tak sadarkan diri dari sejak dua jam yang lalu.


"Astaghfirullah ... kak Zaid, kakak disini?" pekik Zahrana. Ia ingin bergerak leluasa, namun pergelangan tangan kirinya nampak setia digelangi oleh jarum infus.


Belum lagi, jemari tangan kanan Zahrana nampak erat digenggam oleh Zaid yang nampak terlelap di peraduannya.


"Ya Allah ... bagaimana diriku hendak melepaskan tangan kak Zaid, kenapa ia begitu erat menggenggam tangan ku!" bathin Zahrana dengan seribu tanda tanya.


"Ada apa sebenarnya dengan ku!" bathin Zahrana lagi.


Zahrana melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul 17.30 Wib.


Zahrana pun berpikir sejenak, "Astaghfirullah ... bukankah aku belum sholat Dzuhur juga belum sholat Ashar?" pekik Zahrana dengan mode suara agak keras, membuat Zaid terbangun dari tidurnya.


Zaid perlahan membuka netranya, ia melihat Zahrana sudah terbangun dari tidur panjangnya. Tepatnya Zahrana pingsan lantaran demam tinggi, ia tidak kuat menahan panasnya suhu tubuhnya.


Zaid tidak peduli dengan genggaman tangannya, ia tidak begitu saja melepaskan tautan jemarinya, membuat aliran darah Zahrana berdesir hebat.


"Kau sudah sadar, sayang?" ucap Zaid spontan, dengan tangan kirinya mengelus pipi mulus Zahrana, sedangkan tangan kanannya menggenggam jemari tangan Zahrana dengan penuh kasih.


Zahrana yang telah lama tidak bersentuhan dengan laki-laki kecuali tanpa kesengajaan membuat jantungnya berdegup kencang. Zahrana nampak gemetaran dengan perlakuan manis Zaid terhadapnya.


"Ya Allah ... kenapa kak Zaid mendadak romantis seperti ini? apa ia tidak menyadari jika ia telah menyentuh yang bukan mahramnya?" bathin Zahrana dengan sejuta pertanyaan dihatinya.


Zahrana sempat terpana dengan perlakuan Zaid terhadapnya, pasalnya wajah Zaid mengingatkan dirinya pada sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy, namun bedanya Yusuf sangat menjaga batasan terhadapnya, tidak seperti Zaid atau sosok pemuda lainnya kebanyakan ingin menyentuh dirinya sesuka hati, tanpa menjaga batasannya.


"Maaf, kak apa yang terjadi dengan Zahra sebenarnya? kenapa Zahra ada di rumah sakit ini?"


Zahrana berusaha menetralkan perasaan dan detak jantungnya yang kini sedang tak karuan. Sebab, Zaid masih terus menggenggam jemari tangannya.


"Kamu tiba-tiba demam tinggi dan hilang kesadaran, kau pun sempat mengigau. Melihat panas suhu tubuh mu semakin tinggi, jadi kakak langsung membawa mu kerumah sakit."


Zaid menerangkan kronologis penyakit Zahrana dengan menatap lekat wajah sayu Zahrana, yang masih terlihat pucat pasi.


"Maaf, Zahra telah merepotkan kakak!" ucap Zahrana dengan tertunduk malu, ia memikirkan kembali tentang igauan mimpinya.


"Bukankah aku tadi bermimpi bertemu kak Yusuf!" bathin Zahrana.


"Sayang, kamu tidak merepotkan, kok. Justru kakak senang berada di sampingmu," ucap Zaid dengan mengelus pucuk kepala Zahrana yang tertutup hijab, tak lupa pula ia menggenggam jemari tangan Zahrana, seolah enggan melepaskannya.


"Maaf kak, tidak begini. Kita bukan mahramnya," ucap Zahrana dengan perasaan yang sulit di artikan. Ia pun melerai genggaman tangan Zaid dengan tertunduk malu.


"Ya Allah ... jangan sampai iman ku goyah oleh perlakuannya terhadap ku, jangan sampai aku jatuh hati pada kak Zaid hanya karena wajahnya mengingatkan ku pada sosok kak Yusuf," bathin Zahrana dengan terus menundukkan pandangannya.

__ADS_1


Zaid pun dengan perasaan yang tak karuan, terpaksa melepaskan genggaman tangan Zahrana. Ia pun sekilas menatap rona wajah Zahrana tiba-tiba bersemu merah.


Menyadari itu semua, membuat perasaan Zaid terhadap Zahrana semakin bergelora. Apalagi melihat rona wajah Zahrana nampak bersemu merah, membuat hati Zaid semakin berbunga-bunga karenanya, lupa lah ia dengan keadaan, ia semakin berambisi untuk memiliki Zahrana, tidak peduli jika hati Zahrana kini pun telah terisi oleh sosok pemuda yang bernama Yusuf.


Sumpah demi apapun, kini Zaid nampak terpesona dengan kecantikan dan keindahan yang ada dalam diri Zahrana. Meskipun Zahrana sedang dalam keadaan sakit pun, tidak mengurangi kecantikan alami yang ada dalam diri Zahrana.


Berduaan dengan sosok bidadari cantik yang ada di hadapannya saat ini, seolah semakin menggoyahkan biduk keimanannya.


Pikiran Zaid pun traveling entah kemana, apalagi ketika mengingat Zahrana sedang mengigau, Zahrana begitu erat mendekap tubuhnya. Yang Zahrana kira itu adalah sosok Yusuf, sosok pemuda yang sangat dirindukannya. Namun, pada kenyataannya itu adalah dirinya. Membuat Zaid merasa prihatin dengan keadaan Zahrana hingga ia pun membiarkan Zahrana mendekapnya mesra.


Bukannya Zaid mencuri kesempatan dalam kesempitan, namun sejatinya ia memang benar-benar mencintai Zahrana. Hingga kerap kali terbesit hasratnya ketika sedang berdekatan dengan Zahrana.


πŸ“πŸ“πŸ“ Flash back on πŸ“πŸ“πŸ“


Zaid dengan terburu-buru membopong tubuh Zahrana yang sedang menggigau menyebut nama Yusuf dalam igauan mimpinya, ketika itu Zahrana sedang demam tinggi. Tepatnya, antara ada dan tiada. Zahrana setengah sadar, hingga akhirnya ia benar-benar pingsan untuk yang kedua kalinya dalam dekapan Zaid, yang sedang membopongnya ala bridal.


Zaid pun hendak meletakkan tubuh Zahrana dalam mobilnya, namun dalam keadaan tidak sadar Zahrana begitu erat mendekap Zaid. Dalam alam mimpi Zahrana seolah-olah memeluk sosok pemuda yang di rindukannya, yakni Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Namun, di dunia nyata yang di peluk oleh Zahrana adalah sosok pemuda yang bernama Muhammad Zaid Arkana. Mengsedih .... 😒😒


Hembusan nafas Zahrana dan buliran air matanya yang sedang menangis dalam igauannya membuat Zaid yang hendak membawa Zahrana kerumah sakit pun urung sejenak.


Di dalam mobilnya, Zaid membiarkan Zahrana bersandar di dada bidangnya, ia membiarkan Zahrana memeluk erat tubuhnya dalam keadaan gadis itu masih belum sadar dari igauan mimpinya.


Sepuluh menit, Zaid membiarkan Zahrana bersandar dan terpejam didada bidangnya.


Melihat air mata Zahrana menetes dan mendekapnya erat dalam keadaan netranya yang masih terpejam membuat naluri Zaid sebagai laki-laki pun tiba-tiba bangkit. Ia pun refleks mengusap air mata yang mengalir di sudut mata dan pipi Zahrana.


Birahi Zaid pun tiba-tiba sampai di ubun-ubunnya, melihat Zahrana yang masih terpejam dan memeluk erat tubuhnya membuat Zaid hampir saja lepas kendali, ia ingin mengecup bibir mungil Zahrana.


Namun mendengar Zahrana terus menyebut nama Yusuf di dalam igauan mimpinya, membuat birahi Zaid seketika meredup. Ia pun perlahan melepaskan Zahrana dari dekapannya.


"Siapakah sebenarnya sosok pemuda bernama Yusuf yang telah mencuri segenap hati dan jiwa mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Zaid dengan mengacak kasar rambutnya.


Zaid membaringkan tubuh Zahrana di kursi mobil dan menjadikan pangkuannya sebagai alas kepala Zahrana. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Medika, membawa Zahrana yang kini terbaring lemah.


πŸ“πŸ“πŸ“ Flash back off πŸ“πŸ“πŸ“


***


Di ruang rawat inap Zahrana.


Zahrana dan Zaid nampak diam terpaku, pasalnya keduanya pun sama-sama canggung dan malu oleh sebab refleksnya Zaid menggenggam jemari tangannya dan menekankan kata 'SAYANG' terhadap Zahrana hingga membuat keduanya pun tampak bungkam oleh sebab hal yang tak seharusnya mereka lakukan, mengingat keduanya pun sama-sama dalam proses hijrah dan membenah diri.


Ceklek ... pintu kamar rawat inap Zahrana di buka, hingga membuat keduanya pun menoleh pada sumber suara.


Tampaklah, Sabrina dan suaminya Fardhan Arkhan tergopoh-gopoh menghampiri Zahrana yang sedang terbaring di brankarnya. Ketika mendapat kabar Zahrana di rawat di rumah sakit membuat kakaknya Sabrina nampak cemas dan tidak tenang karenanya.


"Assalamu'alaikum, Dek. Kamu sakit apa?" tanya Sabrina dengan memeluk dan mencium kening Zahrana.


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah πŸ‘‰"Cinta bukan hanya sekedar ucapan, namun harus dibarengi dengan pengorbanan. Mencintai dan dicintai itu adalah anugerah terindah dari AllahΒ subhanahu wata'ala. Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama. Kalau sayang cukuplah doakan dunia dan akhirat untuknya, kalau cinta bimbinglah ia ke jalan yang benar. Bukan malah diajak kencan bareng. Siapa pun bisa jatuh cinta, tapi hanya orang yang kuat yang akan menjaga cinta itu tetap halal. Cinta sejati berarti saling membantu untuk menggapai surga, bukan saling berpegangan tangan dan berjalan menuju api neraka."


πŸ“


πŸ“


πŸ“


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya author bestie kak! tentunya dengan cerita yang tak kalah menarik dan serunya😊😘


Judul karyanya :Doctor and Love

__ADS_1


Authornya : Rya Kurniawan



__ADS_2