
Zahrana dan Raihan berjalan beriringan, masing-masing membawa nampan yang berisi aneka camilan untuk disuguhkan pada Yusuf dan keluarganya.
"Silahkan, di cicipi Umm, Abi!" ucap Zahrana mempersilahkan kedua orang tua Yusuf untuk menikmati hidangan yang ada.
"Terimakasih, Nak Zahra!" ucap Ummi Yasmin mewakili Abi Farhan dan juga Yusuf. Mereka pun segera menyeruput teh panas tersebut dengan perlahan juga mencicipi cemilan yang ada.
Kedua keluarga itu pun saling bertukar cerita satu sama lain, mereka terlihat sangat harmonis sekali. Sampai di titik cerita, Abi Farhan pun mengutarakan niat baiknya untuk segera menghalalkan hubungan Yusuf putranya dengan Zahrana yang memang sudah di jodohkan dari sejak kecil.
"Akh Harun, kedatangan kami kemari sebenarnya ingin mengkhitbah putri kalian Tsamirah Zahrana Az Zahra untuk putra kami Yusuf Amri Nufail Syairazy!" terang Abi Farhan dengan binar wajah bahagia. Abi Farhan berharap niat baiknya di terima oleh Buya Harun dan keluarga.
Yusuf dan Zahrana nampak tertunduk malu, namun jauh di lubuk hati masing-masing, keduanya pun merasakan getaran rasa dan bahagia yang teramat sangat, setelah sekian purnama malam ini juga kedua orang tua mereka pun telah pun sepakat mengikat mereka dalam janji suci pernikahan yang memang telah lama keduanya pun saling menunggu dalam penantian yang panjang.
Buya Harun nampak terharu, ia pun menyambut dengan suka cita, niat baik dari keluarga Yusuf.
"Maa syaa Allah ... Akh Farhan, suatu kehormatan bagi kami, jika kalian hendak menkhitbah putri kami Zahrana. Saya sangat menyambut baik rencana perjodohan ini!" pungkas Buya Harun dengan binar mata bahagia.
"Alhamdulillah ... artinya niat baik kami di terima?" timpal Ummi Yasmin dengan raut wajah tak kalah senangnya.
"Iya, kami menerima niat baik Ummi Yasmin dan keluarga." Bunda Fatimah pun ikut menimpali.
Bunda Fatimah dan Ummi Yasmin pun saling berpelukan satu sama lain. Keduanya pun nampak sangat bahagia dengan perjodohan Zahrana dan Yusuf.
"Alhamdulillah, artinya kak Zahra dan kak Yusuf di restui!" pungkas Raihan yang dari sejak tadi hanya menjadi pendengar setia.
Semua mata pun memandang ke arah Raihan, mereka pun melebarkan senyumnya melihat tingkah kocak Raihan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kami semua merestui!" jawab Ummi Yasmin dan Bunda Fatimah hampir bersamaan. Mereka yang dihadir di sana pun tersenyum bahagia.
Ummi Yasmin pun hendak membuka kotak cincin emas, untuk disematkan di jemari Zahrana. Namun, waktu sudah menunjukkan pukul 19.15 wib. Hingga ia pun mengurungkan niatnya untuk sesi selanjutnya.
"Maaf, sepertinya prosesinya kita lanjutkan ba'da Isya, ya Umm?" terang Abi Farhan, sehingga semua pun meng-iyakan ucapan Abi Farhan.
"Subhanallah ... Akh Farhan, terima kasih sudah mengingatkan. Mari kita berjama'ah di Mesjid dulu!" ajak Buya Harun.
Zahrana dan Yusuf pun saling lirik pandang. Detak jantung keduanya pun semakin berdegup kencang. Keringat dingin nampak mengalir deras membanjiri dahi dan pelipis Yusuf. Baru kali ini ia merasakan getaran yang tidak biasanya. Ketika kedua orang tuanya hampir saja menyematkan cincin dijemari Zahrana namun masih tertunda.
"Sabar ya, Nak!" ucap Abi Farhan sambil menepuk-nepuk pundak Yusuf.
"Iya, kamu sholat dulu di Mesjid, Nak! nanti kita lanjutkan lagi prosesinya," ucap Ummi Yasmin menambahkan. Ia pun tersenyum melihat kegugupan putranya.
"I-iya, Ummi." Yusuf terlihat gemetaran.
Ahat
Yusuf nampak tertunduk malu, "Maaf Ummi, terima kasih untuk semuanya. Yusuf sangat bahagia atas restu yang telah diberikan oleh Ummi dan Abi untuk Yusuf dan Zahra, semoga Allah meridhoi niat baik ini!" ucap Yusuf dengan menampakkan senyum khasnya.
Yusuf pun pamit pada Ummi Yasmin, juga pada Bunda Fatimah dan Zahrana. Ia pun berangkat ke Mesjid mengikuti Buya Harun dan Abi Farhan, menyusul juga Raihan. Ke empat laki-laki berbeda usia itu pun begitu penuh semangat untuk menunaikan ibadah shalat Isya menuju Mesjid Al Ikhlas.
***
Ba'da sholat Isya, Bunda Fathimah, Zahrana dan Ummi Yasmin nampak kompak bergelut di dapur. Mereka menyiapkan makan malam di meja makan sambil menunggu kedatangan para laki-laki sholeh pulang dari Mesjid.
__ADS_1
"Umm, terimakasih sudah berkenan membantu kami menghidangkan makanan ini. Sebaiknya Ummi istirahat dulu di sofa, sembari menunggu Abi Farhan dan Buya Harun dan juga kak Yusuf serta Raihan!" ucap Zahrana tak enak hati ketika melihat calon mertuanya nampak aktif berkutat di dapur.
"Tidak apa-apa, Nak Zahra. Ummi justru senang bekerja sama dengan calon menantu Ummi!" pungkas Ummi Yasmin dengan mengelus pucuk kepala Zahrana yang masih tertutup hijab.
Zahrana nampak tersanjung dengan perlakuan Ummi Yasmin terhadapnya, "Ya Allah ... terimakasih atas nikmat dan karunia mu, telah memberikan calon mertua yang baik untuk hamba!" bathin Zahrana penuh haru.
Zahrana nampak termenung sejenak, betapa dulu di masa lalu ia hampir saja akan menjadi pendamping Aslan Abdurrahman Syatir dan memiliki calon mertua yang galak dan ketusnya luar biasa. Ibu Ratna Anjani jelas-jelas tidak ada manis-manis dan baiknya pada dirinya. Zahrana merasa sangat bahagia bisa lepas dari jerat cinta Aslan Abdurrahman Syatir, jika tidak mungkin ia akan selalu berada dalam kemaksiatan yang seakan menjeratnya kedalam jurang nestapa yang lebih dalam lagi.
"Nak, kok melamun? Jika sudah capek, biar Bunda saja yang melanjutkan pekerjaannya. Tinggal sedikit lagi!" terang Bunda Fatimah yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Zahrana dan Ummi Yasmin.
"Iya, Nak Zahra. Mari duduk di sini!" Ummi Yasmin ikut menimpali, ia pun mengajak calon menantunya itu duduk disampingnya.
"Zahra tidak apa-apa, Bun, Umm. Zahra tiba-tiba terpikir sesuatu," terang Zahrana dengan berusaha setenang mungkin, agar tidak kentara jika ia sedang memikirkan masa lalunya.
Zahrana pun nampak ceria, ia dengan Ummi Yasmin saling bercengkrama. Keduanya pun terlihat sangat akrab, tidak ada rasa canggung sama sekali.
"Umm, terima kasih atas restu yang telah diberikan oleh Ummi untuk Zahra dan kak Yusuf. Zahra merasa beruntung bisa mendapatkan calon mertua yang baik seperti Ummi Yasmin." Zahrana pun memeluk erat calon mertuanya itu, Zahra benar-benar merasa haru dan bahagia.
"Sama-sama, Nak Zahra. Ummi pun merasa bahagia bisa memiliki calon menantu seperti Zahra," ucap Ummi Yasmin dengan mengecup kening Zahrana.
Melihat interaksi Zahrana dan Ummi Yasmin, membuat Bunda Fatimah pun merasa terharu. Ia pun perlahan mengusap air matanya yang mulai berembun. Bunda Fatimah tidak ingin Zahrana dan Ummi Yasmin melihatnya sedang meneteskan air matanya.
"Ya Allah ... ya Rabbi, terimakasih atas nikmat kebahagiaan yang telah Engkau berikan pada putri hamba!" bathin Bunda Fatimah dengan rasa syukur yang teramat sangat atas nikmat dan karunia Allah Subhanahu wata'alla kepada dirinya dan keluarga kecilnya.
💝💝💝
__ADS_1
Untaian mutiara hikmah 👉 "Ketika kamu menggenggam restu, maka kamu akan menggenggam kebahagiaan. Sebaik-baiknya hubungan akan terasa hampa tanpa adanya restu. Memperjuangkan restu menjadi pembuktian keseriusan hubunganmu. Meraih restu adalah salah satu tantangan yang perlu dilalui dalam lika-liku cinta. Ketika kamu bisa mendapat restu, maka kamu akan mendapatkan cinta seutuhnya."