Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
117 . Interogasi


__ADS_3

Suara kumandang adzan bergema di kawasan perumahan elite XX. Kirana Larasati bangun lebih awal dari teman-temannya. Ia segera bergegas membersihkan dirinya ditoilet yang super lengkap dan terkesan mewah di kediaman Arjuna Restu Pamungkas, yakni kekasih Nandini Sukma Dewi.


"Ya Allah ... toilet-nya pun mewah seperti ini, apalagi yang lainnya." Kirana Larasati segera menuju wastafel berkumur-kumur dan mencuci wajahnya. Ia pun segera berwudhu guna menjalankan Ibadah Sholat Shubuh.


"Tok ...."


"Tok ...."


"Tok ...."


"Siapa didalam? buruan! Aku sudah kebelet nich," pekik Fadhillah dengan panca indera penglihatannya yang masih terpejam, menghebohkan seisi ruangan kamar, tempat di mana ia dan teman-temannya berada saat ini.


"Iya, sebentar!" Kirana Larasati segera membenahi hijabnya. Ia pun segera beranjak keluar.


"Ceklekkk ... " pintu toilet pun terbuka.


"OMG ... Fadhillah, hati-hati nanti loe nabrak tembok! jangan lupa basuh itu wajahnya biar nggak ngantuk." Kirana pun segera menunaikan ibadah sholat Shubuh.


Fadhillah pun segera membuang hajatnya, ia pun segera membasuh wajahnya.


"OMG ... besar dan mewah sekali Toiletnya, semua tertata rapi. Gimana rasanya berendam di bathtub seperti ini? holang kaya mah begini Toilet saja sudah segede dapur minimalis Ummi ku," cicit Fadhillah yang selalu heboh dengan hal-hal baru yang ia temui.


Selang lima menit kemudian, Kirana Larasati pun selesai menjalankan Ibadah Sholat Shubuhnya. Disusul pula oleh Fadhillah, kemudian Cinta Kiara Khoirani.


Masih tinggal Nandini Sukma Dewi yang belum terbangun dari tidur lelapnya. Ia yang belum menunaikan ibadah sholat Shubuh.


"Ya ampun ... nich anak molor betul, kapan sholatnya. Seperti pengantin baru saja, nyenyak betul tidurnya." Fadhillah bercelutuk semaunya.


"Huss ... kalau bicara jangan ngelantur, Dhil. Memang loe sudah pernah melihat dan merasakan menjadi pengantin baru, baru seumur jagung juga." Cinta menimpali.


"Tahu nich Fadhillah, pagi-pagi pikirannya sudah traveling kemana-mana. Mentang-mentang baru jadian sama Si Doi," pungkas Kirana.


"Yach, itu sich menurut novel yang aku baca. Orang yang habis pengantin baru ya seperti Nandini tidurnya pulas betul," seloroh Fadhillah sembari memainkan jari lentiknya.


"Ya udah, kita bangunin saja Si Dini ntar ia tidak keburu sholatnya," ucap Cinta.


"Nandini Sukma Dewi, bangunnnnn!" pekik Fadhillah, Cinta dan Kirana Larasati.


Kirana menggoyangkan badan Nandini, Cinta menggelitiki telapak kaki Nandini. Sedangkan Fadhillah mentoel-toel hidung Nandini.


Nandini hanya menggeliat kecil, matanya masih terpejam.

__ADS_1


"Hubby, geli. Belum puaskah kau memakan ku semalam?" ucap Nandini dengan bola matanya yang masih terpejam. Ia merasa Arjuna masih berada di dekatnya.


Bayangan bercumbu rayu dengan Arjuna seolah-olah menjelma dalam mimpinya. Gelitikan teman-temannya pun seolah-olah ia rasakan seperti sentuhan Arjuna.


"Whatttt? memakannn? memangnya apa yang sudah terjadi dengan Nandini dan Arjuna? jangan-jangan semalam mereka benar-benar itu--?" celutuk Fadhillah yang mulai menaruh curiga pada Nandini Sukma Dewi.


"Itu apa Dhil? loe mulai su'udzon deh sama teman sendiri," seloroh Cinta sembari menimpuk jidat Fadhilah.


"Sakit tahu, habis ucapan Nandini vulgar betul. Sampai tidur pun terbawa-bawa," ucap Fadhillah tidak puas.


"Sudah ... mungkin Nandini sedang menggigau, dalam mimpinya bertemu dengan Arjuna mungkin." Kirana Larasati mencoba berbaik sangka.


"Din, bangun! loe menggigaunya kemana-mana, membuat kita berpikiran yang bukan-bukan." Cinta mengusap wajah Nandini dengan air dingin yang baru ia ambil dari Toilet.


"Hoammm ... " Nandini menguap. Perlahan ia pun mulai membuka netranya. Dengan matanya yang masih menyipit. Ia baru menyadari jika saat ini ia sedang berada di kediaman Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya.


"OMG ... ternyata aku tidak bermimpi, siapa yang telah membasahi wajah ku dengan air?" Nandini memicingkan matanya. Ia melihat satu-persatu ke arah teman-temannya.


"Maaf, aku yang mengusap wajah mu dengan air. Sebab, kami telah membangunkan mu dengan berbagai cara. Namun, dirimu masih terlelap dengan igauan mimpi mu." Cinta mengakui jika dirinya yang menyirami Nandini dengan air.


"Iya, Din. Loe ngigau, katanya semalam Arjuna telah memakanmu," ucap Fadhillah tanpa filter.


"Katakan itu hanya mimpi kan? kamu dan Arjuna tidak melakukan seperti yang kau ucapkan dalam igauan mu, kan?" Fadhillah mengintrogasi Nandini.


Fadhillah menahan nafasnya.


"Oops ... maaf keceplosan," ucap Fadhillah cengengesan. Ia masih penasaran dengan igauan Nandini. Namun, ia tidak punya bukti yang kuat jika sudah terjadi sesuatu antara Nandini dan Arjuna.


Sebab, semalam Nandini dan Arjuna sempat menghilang dari Kafe XX dalam waktu yang sangat lama. Sehingga mereka harus menunggu kehadiran Nandini dan Arjuna sampai larut malam. Hingga berujung mereka menginap di kediaman Arjuna sebab tidak memungkinkan untuk kembali pulang larut malam.


Nandini membulatkan matanya, ketika mendengar ucapan Fadhillah.


"I-itu ... a-ku, hanya menggigau!" ucap Nandini gelagapan.


"Aku hendak ke Toilet dulu!" Nandini turun dari tempat tidur. Ia ingin menghindar dari interogasi teman-temannya.


Namun, bagian inti Nandini masih terasa sakit akibat adegan panasnya dengan Arjuna. Ia pun berusaha menetralkan perasaannya yang sedang tidak beraturan. Ia khawatir teman-temannya semakin menaruh curiga padanya.


Nandini berjalan pelan. Membuat teman-temannya merasa aneh dengan gaya jalannya, juga tubuh Nandini terlihat masih sangat lemas.


"Apa iya, Nandini sudah begituan?" giliran Kirana dan Cinta yang mulai menaruh curiga dengan gelagat dan gerak jalan Nandini yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Namun, secepat mungkin mereka menghilangkan pikiran yang kotor sebut. Pikir mereka Nandini gadis metal dan tomboy itu tidak mungkin melakukan hal-hal yang di luar jangkauan.


Nandini pun menceburkan dirinya kedalam bathtub. Ia berendam dengan air hangat, sembari merilekskan tubuhnya yang sempat tegang oleh hubungan panasnya semalam dengan Arjuna Restu Pamungkas, juga interogasi teman-temannya membuat Nandini tidak tenang.


"OMG ... alasan apa yang harus ku sampaikan pada teman-teman ku, sepertinya mereka mulai curiga pada ku." Nandini memijit-mijit pelipisnya. Ia benar-benar pusing dengan kejadian yang menimpanya, yang terjadi begitu saja tanpa bisa ia untuk menghindarinya.


***


"Ding ... " notifikasi pesan masuk di ponsel Nandini.


📲 My Hubby : "Honey, sudah bangun belum? Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu? Kau pasti kelaparan, setelah semalam aku memakanmu."


📲 My Hubby : " Kenapa nggak di balas, honey? nanti mie-nya melar lho, cepetan keluar!"


Arjuna mengirimkan pesan pada Nandini. Namun, belum dibalas oleh Nandini. Sebab ia masih membenamkan dirinya di bathtub.


"Kring ...."


"Kring ...."


"Kring ...." belum ada jawaban. Al hasil Arjuna kembali menghubungi Nandini Sukma Dewi kekasihnya.


"Ya ampun ... berisik sekali ponsel Nandini, mengganggu gendang telinga saja!" Fadhillah segera menjawab panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Honey, lama sekali angkat telfonnya. Aku sudah berapa kali mengirimkan pesan pada mu, aku merindukan mu Honey. Aku tidak bisa melupakan hasr*t cinta kita semalam," ucap Arjuna dari seberang telfon. Sehingga membuat tubuh Fadhillah bergetar hebat.


"Whattt? hasr*t cinta semalam?" Fadhillah melihat nama yang tertera di panggilan telfon Nandini.


"OMG ... Arjuna? benarkah mereka sudah--?"


Fadhillah pun mematikan telfonnya, tanpa menjawab pertanyaan Arjuna.


Dengan rasa penasaran, Fadhillah pun membuka dan membaca semua pesan yang dikirimkan Arjuna dan Nandini.


Fadhillah pun di buat terperangah, jantungnya terasa ingin copot dari tempatnya. Setelah mengetahui semua kebenarannya jika Nandini dan Arjuna telah benar-benar melakukan hubungan yang tidak halal.


Fadhillah terkulai lemas, ingin rasanya ia menangis melihat kenyataan yang terjadi.


"Nandini ... Arjuna, kalian--?"


🌷🌷🌷

__ADS_1


Pencerahan 👉 "Kehidupan adalah serangkaian pelajaran yang harus dialami untuk dimengerti. Perjuangan itu bukan proses penderitaan menuju tujuan, tapi proses memantaskan diri untuk meraih tujuan."


__ADS_2