
Yusuf Amri Nufail Syairazy tidak terlihat lagi dari pandangan Zahrana dan keluarganya. Zahrana masih diam tak bergeming diambang pintu teras rumah mereka, melepaskan kepergian sosok pemuda yang Sholih tersebut.
Zahrana merasa tidak nyaman, sebab sekilas ia tak sengaja melihat Aslan Abdurrahman Syatir mondar-mandir seperti sedang mengukur jalan raya.😁😁
Aslan tak henti-hentinya menatap kediaman Zahrana. Terlihat sekali rasa cemburu masih menguasai relung hati Pria yang dulu pernah menjadi kekasih hatinya.
"Kak Aslan ... " bisikan hati Zahrana. Ia tidak sengaja menatap ke arah Aslan yang sedang melintasi jalan raya didepan rumahnya.
"Maafkan Zahra kak, ini lebih baik untuk kita. Berpaling muka dan tidak pernah saling mengenal itu lebih baik untuk diriku dan juga dirimu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal," cicit Zahrana.
Zahrana kembali mengingat ciuman panasnya dengan Aslan Abdurrahman Syatir ketika di Pantai Indah Kenangan Bersama tempo hari. Bagaimana dengan beringasnya Aslan merenggut paksa ciuman pertamanya. Yang lebih memalukan kejadian tersebut terulang kembali. Ia pun sempat kebablasan mengikuti permainan pria dewasa yang terpaut 7 tahun dengan usianya itu.
"Tidakkkkk!" pekik Zahrana seraya menelungkupkan wajahnya dengan bingkisan yang di berikan oleh Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Spontan Bunda Fatimah keluar menuju teras rumah mereka, ketika mendengar pekikan Zahrana. Pikir Bunda Fatimah ada sesuatu yang terjadi dengan puteri kesayangannya itu.
"Zahra ... kau kenapa, Nak.?" Bunda Fatimah langsung memeluk erat puterinya.
Bunda Fatimah mengusap surai rambut Zahrana. "Ceritakan pada Bunda, Nak. Apa yang terjadi?"
"Ti-tidak apa-apa Bunda. Zahra hanya kaget saja," ucap Zahrana gugup. Ia takut jika Bunda Fatimah bertanya lebih jauh lagi.
"Jangan sampai Bunda mengetahui jika Zahra pernah berhubungan dengan kak Aslan, untung saja kamera Canon kak Priska Prahara waktu di pantai tempo hari sempat dirusak oleh kak Yusuf, jika tidak entah apa jadinya nasibku jika kak Priska nekad menyebarkan foto-foto kemesraan ku bersama kak Aslan."
"Dunia ku akan benar-benar runtuh dan aku pasti akan menjadi bahan cemoohan semua orang."
"Belum lagi Ibu Ratna Anjani yang kentara sekali tidak merestui hubungan kami, tentunya semua itu akan menjadi bumerang untuk diriku dan keluarga ku," cicit Zahrana.
"Ya Allah ... terimakasih Engkau senantiasa melindungi hamba dari segala fitnah dan musibah, terimakasih atas sosok kak Yusuf yang telah Engkau hadir dalam kehidupan ku. Yang ketika aku terpuruk dia selalu hadir untuk mengingatkan ku untuk kembali ke jalan yang Engkau Ridhoi."
Zahrana melerai pelukan Bundanya. Ia pun kembali tersenyum ceria dan ia pun nampak bersemangat kembali.
Bunda Fatimah merasa sangat bahagia melihat puterinya kini pun kembali ceria.
Zahrana masuk kedalam kamarnya, ia pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur miliknya. Spontan ia berkali-kali mengencup bingkisan dari Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"Ya Allah ... jangan bilang jika diriku jatuh hati pada kak Yusuf yang tampan nan Sholih itu, aku tak mau lagi menabur rasa. Aku capek, aku lelah. Lebih baik jadi jomblo saja, lebih enak tidak ada yang mengekang dan aku pun bebas bereksplorasi."
"Tunggu dulu! kenapa jantung ku dari sejak tadi pun terasa dag dig dug, benarkah kak Yusuf ingin mengkhitbah ku seperti yang ia utarakan pada Buya Harun setelah kepulangannya dari Kairo nanti?"
"Aku tidak boleh bermimpi terlalu tinggi, mana mungkin aku yang masih belum menutup aurat secara sempurna ini bisa bersanding dengan kak Yusuf, sosok pemuda Sholih itu?"
"Bangun ... bangun ... Zahrana dari tidur panjang mu! kau ini siapa? hanya lumpur hitam yang ada di comberan, yang kotor dan tidak bermakna."
__ADS_1
"Wajah cantik dan mempesona percuma, jika tidak dihiasi akhlak, juga iman dan taqwa."
Zahrana menggerutuki dirinya sendiri. Ia menyesal sebab pernah menempuh jalan pacaran. Seperti yang pernah ia lakukan bersama Rivandra Dinata Admaja juga Aslan Abdurrahman Syatir yang jauh lebih dewasa darinya.
"Jika aku mendambakan jodoh yang baik. Maka aku pun harus memperbaiki diri ku terlebih dahulu."
"Jika aku mendambakan jodoh yang seperti kak Yusuf, hendaknya aku pun harus memantaskan diriku terlebih dahulu." Zahrana terus menyemangati dirinya sendiri.
Zahrana membuka lemari bajunya, di ambilnya satu baju t-shirt lengan panjang sepinggang. Juga rok Gucci polos berwarna hitam panjang semata kaki. Kemudian ia pun mengenakan pakaian tertutup tersebut.
Zahrana berkaca di depan cermin ia terus menatap penampilannya tersebut dengan penuh percaya diri. Di ambilnya jilbab putih polos bermotif bunga yang pernah di bingkiskan oleh sahabatnya Hafidzah dahulu, sebelum Hafidzah pindah ke Pesantren di Kota P.
Zahrana pun mengenakan jilbab segiempat tersebut, di ambilnya peniti dan jarum pentul ia pasangkan di dagunya. Jarum pentul tersebut ia tusukan di jilbabnya, satu dipelipis kirinya dan satu dipelipis kanannya.
Tak lupa Zahrana memasangkan aksesoris bross di dadanya untuk mempermanis model jilbabnya.
"Nah, begini lebih anggun!" Zahrana tersenyum menatap dirinya didepan cermin.
"Ternyata ... menjadi wanita muslimah itu indah dan sangat mempesona," gumam Zahrana sembari terus menatap wajahnya didepan cermin.
Zahrana tidak menyadari jika gerak-geriknya sejak tadi di perhatikan oleh adiknya Raihan yang selalu tiba-tiba melinyap masuk ke dalam kamarnya.
Bagi Raihan tiada hari yang paling menyenangkan selain usil pada kakaknya.
Meskipun masih berpadu dengan t-shirt lengan panjang dan belum mengenakan gamis atau pun jubah syar'i Zahrana tetap terlihat cantik dan mempesona dengan hijab yang di kenakannya.
"Raihan ... sejak kapan kamu disini? kenapa senang sekali jahilin kakak?"
Zahrana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa malu dilihat oleh adiknya, sebab sejak tadi ia begitu semangat bergaya di depan cermin dengan hijab yang di kenakannya.
"Hemmm ... Raihan sudah sekitar 10 menit tadi disini kak. Kalau untuk kebaikan tidak perlu malu, Kak. Berjilbab itu wajib lho kak untuk wanita yang mengaku dirinya muslimah."
"Ya Allah ... tahu darimana kamu, Dek. Masih kecil juga pikiran menyamai orang dewasa."
"Ya belajar kak, itu banyak buku islami di padepokan Buya Harun itu mengenai wajibnya seorang wanita muslimah menutup auratnya."
"Di buku tersebut pun di jelaskan di dalam kitab suci Al-Qur'an wajibnya seorang wanita muslimah itu berhijab," ucap Raihan penuh dengan keseriusan.
"Yang benar saja, Dek? kakak hanya tahu jika Sholat 5 waktu wajib. Sedangkan jika berhijab itu wajib kakak baru dengar, Dek."
"Astagfirullah ... kak, makanya jangan pacaran muluk. Ilmu Agama itu wajib di tuntut kak, jangan tertipu dengan secuil kenikmatan dunia yang semu."
"Dunia ini hanya di ibaratkan kepakan sayap nyamuk, tidak ada nikmat-nikmatnya, kak. Kesenangan didunia ini hanya sementara, yang kekal hanyalah kehidupan akhirat."
__ADS_1
"Maa syaa Allah ... Dek, darimana dapat untaian kata-kata seindah itu?"
"Belajar kakak, banyak-banyak baca buku! itu diPadepokan Buya Harun sudah banyak buku-buku Islami jika kakak berkenan untuk membacanya."
"Insya Allah, Dek. Nanti kakak membacanya. Mana tahu lewat membaca buku-buku Islami kakak tersentuh hatinya, dan segera terpikirkan Ingin hijrah.
"Aamiin ya Rabb," ucap Raihan.
"Ehemm ... itu bingkisan dari siapa, Kak? Sepertinya isinya mempunyai makna yang luar biasa," ucap Raihan.
"Itu dari kak Yusuf, Dek."
"Memangnya tadi ada kak Yusuf ya? kok Raihan nggak lihat."
"Sudah pulang. ia hanya sebentar, untuk pamit pada kita semua Dek. Insya Allah ... besok ia akan berangkat ke Kairo Mesir, guna mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar.
"Maa syaa Allah ... amazing sekali kak Yusuf, Raihan pun ingin mengikuti jejaknya, Kak."
Zahrana mengembangkan senyumnya, ia bahagia sekali sebab Raihan begitu bersemangat sekali untuk menuntut ilmu pengetahuan dan Islam.
"Kak, ayo dibuka dong! Raihan penasaran isi Bingkisannya," rengek Raihan.
"Iya, kakak juga penasaran apa isinya, Dek."
Perlahan Zahrana membuka bungkusan dari bingkiskan tersebut. Ia pun dibuat terperangah dengan isinya.
"Maa syaa Allah ... Bingkisannya, Dek. Semuanya syarat makna."
"Apa kak, isinya?"
"Buku-buku Realigi semua, Dek. Ada mukena sama jilbab juga," ucap Zahrana penuh rasa haru.
"Maa syaa Allah ... judul buku-bukunya nyaris bermakna semua. Aku jadi penasaran ingin membacanya isi yang terkandung didalamnya," ucap Zahrana penuh keseriusan.
Raihan pun ikut membaca judul-judul buku tersebut, diantaranya Fiqih Wanita Muslimah, Figur Wanita Muslimah, Beginilah Seharusnya Wanita Bersikap, Pernikahan Yang di Dambakan menurut Al Qur'an dan As Sunnah dan yang terakhir judulnya di Bawah Naungan Cinta.
Sebagai pelengkapnya di selipkan pula satu potong jilbab dan juga Mukena putih berkilauan.
"Maa syaa Allah ... kak Yusuf dirimu romantis sekali!" cicit Zahrana.
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉"Akan selalu ada laki-laki yang baik-baik untuk perempuan yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Juga, akan selalu ada perempuan yang baik-baik untuk laki-laki yang selalu berusaha memperbaiki dirinya." (Bisikan_H@ti)
__ADS_1